
Siang hari keenam telah tiba. Besok adalah waktu di mana istirahat berakhir dan bertepatan dengan eksekusi rencana milik Ray. Kini ia sedang bersama dengan Terumi untuk membahas beberapa hal.
Kolega yang bisa Ray bagikan beberapa hal amat sedikit. Tentunya Mona dan Arthur tidak termasuk karena keduanya bukan orang yang mampu Ray percaya.
“Omong-omong apa kamu baik-baik saja, Ray?” tanya Terumi. “Belakangan ini sering terjadi kasus pembunuhan di malam hari.”
“Pembunuhan?” tanya Ray dengan terkejut. “Aku tidak pergi ke manapun belakangan ini sehingga tidak tahu apa-apa.”
Terumi menganggukkan kepalanya, “Belakangan ini ada kasus aneh di mana saat malam hari seseorang mengetuk pintu. Tidak ada yang tahu siapa itu namun setiap kali pintu seseorang membukakan pintu maka ia akan mati dengan menyedihkan.”
Cerita bermula enam hari yang lalu di mana tiba-tiba ada penemuan darah keluar dari salah satu kamar. Korban-korban mati dengan menyedihkan di mana tangan dan kaki mereka putus.
Hal tersebut kemudian disangkutpautkan dengan kejadian ketika Ray menemukan mayat yang termutilasi.
“Ada yang mengatakan kalau sisa-sisa anggota Rebellion adalah dalang dari semua ini. Namun tak sedikit juga yang mengatakan bahwa ada psikopat gila di tempat ini.”
Orang yang suka melakukan pembunuhan tanpa alasan jelas. Keberadaan orang seperti itu sangatlah berbahaya.
“Kalau begitu kita tidak perlu membukakan pintu, kan?” tanya Ray.
Terumi mengangguk setuju. Jika membukanya berarti kematian maka sejak awal lebih baik tidak pernah membukanya. Itu adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan.
“Aku dengar dari beberapa orang kalau pintunya tidak selalu diketuk. Terkadang suara seorang wanita memanggilnya dan membuat para pria bersemangat. Dan, para wanita yang katanya mendengar suara lembut dari pria.”
Dari cerita tersebut tampaknya ada beberapa orang yang mendengarnya atau menjadi target pembunuhan namun gagal karena mereka tak membukakan pintunya.
Meski begitu kekhawatiran tidak akan berakhir bahkan jika tidak sulit untuk membuat langkah pencegahannya.
“Sekarang orang-orang mulai tinggal di satu kamar yang sama. Jika sesuatu terjadi mereka akan menang dalam jumlah.” Terumi memandang dengan serius. “Tidak mungkin jumlah pelaku pembunuhan ini akan banyak.”
“Kemungkinannya hanya pria dan wanita, kah. Jika itu situasinya maka tidak akan terjadi pengeroyokan.”
Ray yakin bahwa banyak yang berpikir seperti itu. Ruangan yang disediakan oleh Secret untuk beristirahat cukup besar untuk ditinggali dua sampai tiga orang.
“Ya,” Terumi melirik Ray beberapa kali selagi menggeliat aneh. “Berbicara tentang itu ... m-maukah kamu—” Terumi ragu untuk menyampaikannya dan merona.
Setelah beberapa detik menunggu Ray mendapatkan apa yang diinginkan gadis ini.
“M-maukah kamu berbagi kamar denganku?!”
Ray sudah memiliki beberapa kemungkinan dalam pikirannya namun ia tidak menduga hal seperti itu yang jadi permintaan. Wanita yang jatuh cinta terkadang memang tak masuk akal.
Bukan hal yang buruk tinggal bersama karena dia akan mendapatkan perlindungan penuh dari Terumi. Hanya saja jika pelaku pembunuhan ini memanglah orang lain.
Sayangnya Ray tahu siapa pelakunya sehingga ia tidak perlu merasa khawatir sama sekali. Sedikitpun tidak perlu khawatir.
“Itu memang bagus namun aku akan menolaknya.”
Terumi terlihat kecewa karena jawaban Ray, “Mengapa?” lanjut Terumi.
“Baik aku dan kamu bisa menjaga diri masing-masing. Kamu kuat karena Degree-mu luar biasa. Sementara aku bisa menjaga diriku sendiri tanpa kesulitan.”
“Selain itu jika orang ini akan bertindak, aku yakin mereka takkan coba menyerang kita. Orang-orang sudah sadar bahwa pentingnya rekan satu kamar sehingga para pembunuh ini mungkin tidak akan bertindak gegabah.”
“Kamu ada benarnya.”
Tentunya itu benar. Ini adalah hari terakhir yang bisa mereka nikmati karena besok adalah berakhirnya waktu istirahat.
“Yo! Lama tidak berjumpa kalian berdua!” Seorang pria datang dengan riang ke arah keduanya.
Itu suara yang akrab bagi Ray dan Terumi. Mengingat pria ini sama sekali tidak terlihat dua bulan ini.
“Leo!” Terumi menyambutnya dengan riang. “Ke mana saja kamu belakangan ini?”
“Ah, aku kembali ke kebiasaan lamaku.” Leo terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aku seorang pengurung diri. Mungkin karena itulah aku memiliki Singa Tidur.”
Ray hanya menatapku dan menyampaikan senyuman tipis di bibirnya untuk menyambut Leo.
‘Pria ini jelas penuh kebohongan,’ pikir Ray.
Ray telah berkeliling ke berbagai blok namun sama sekali tidak melihat orang ini. Bahkan jika Leo benar-benar mengurung diri, mustahil dua bulan tidak keluar.
Di tempat ini game tidak tersedia, hanya ada tetris dan sejenisnya. Jika ada orang yang dua bulan mengurung diri tanpa keluar dan tanpa bosan, itu hal aneh yang luar biasa.
“Begitu. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Leo.”
“Aku juga turut senang,” ujar Ray dengan lembut.
Leo tersenyum masam, “Tampaknya aku telah ketinggalan banyak hal selama mengurung diri. Apa saja yang terjadi?”
Mengurung diri dua bulan. Leo jelas akan ketinggalan banyak hal hanya karena itu. Entah apa saja yang dilakukan orang ini namun Ray akan mewaspadainya.
Setidaknya belum ada tkau-tkau kalau Leo akan bergerak untuk membelot untuk saat ini. Bahkan jika begitu bukan berarti Ray akan melepaskannya.
Terumi kemudian mengangguk dan mulai menyampaikan informasi segala hal yang terjadi satu persatu. Meski tidak menyampaikannya dengan detil, garis besarnya mudah untuk ditarik.
Tentunya peristiwa yang terjadi di kamar Ray akan menjadi rahasia. Ray juga mengubah arah pembicaraan untuk menghindari Terumi menyampaikannya hal tentang Erina.
Dengan memberikan umpan besar seperti apa yang terjadi sekarang ini akan membawa minat Leo ke arah ini.
Saat mereka terus berbicara, Ray mendengar suara yang juga ia kenal dari tempat lain.
“Dengarkan aku dulu. Kamu tak bisa bertindak seenaknya!”
“Aku? Tidak bisa? Persetan denganmu! Kamu sendiri melakukan hal-hal sesukamu. Mengapa hanya aku yang dikekang seperti ini? Aku membencimu!”
Tampak seperti pertengkaran sepasang kekasih yang wajar di tempat tak wajar seperti ini. Ray awalnya akan mengabaikan hal tersebut karena tidak ada manfaat ataupun keuntungan yang bisa ia dapatkan dari ikut campur.
Hanya saja orang itu menemukan Ray dan yang lainnya. Dia mulai berjalan ke arah Ray dengan wajah yang pahit.
Terumi mungkin pernah melihatnya sekali mengingat keduanya pernah terlibat dalam waktu singkat. Sementara Leo yang baru keluar dari gua tentu tidak akan mengenalinya.
“Sepertinya kamu berkelahi dengan kekasihmu,” ujar Ray.
“Dia bukan kekasihku,” katanya dengan wajah pahit. “Bisakah aku meminta sedikit bantuan?”