The Degree

The Degree
Kesempatan Emas



Malam hari telah tiba, situasinya sama sekali belum bergerak maju dan stagnan tanpa perubahan yang berarti. Warga kota sudah dievakuasi sehingga tak akan ada korban jiwa tidak perlu.


Polisi hingga tentara telah mengepung monas, bahkan awak media nekat dan mulai berbondong-bondong untuk wawancara serta membuat dokumentasi tentang situasi bersejarah ini.


Situasi stagnan tanpa jalan penyelesaian, seperti halnya Ray yang belum tahu harus pergi ke mana. Meski begitu dia memiliki tujuan jelas; mengakhiri semua permainan ini.


“Terumi dan kelompok kita telah ada di sini meski kesulitan untuk bergabung. Meski tahu ini akan berbahaya, aku akan ikut rencanamu,” ujar Roid dengan penuh ketegasan.


Tak ada jaminan mereka akan berhasil, dan tak ada jaminan pula mereka akan gagal.


“Aku yakin ini akan jadi pertarungan terakhir kita.”


Ray telah memiliki beberapa kunci bersamanya. Mulai dari kunci miliknya, Terumi, Roid, dan Leo. Hanya satu kunci lagi yang dibutuhkannya untuk mendapatkan kunci emas dan membuka teka-teki terakhir.


Dan, untuk kunci terakhir Ray telah bertekad untuk meraih punya seseorang.


“Kamu benar. Aku yakin Leo dan Eric tahu bahwa diriku akan berpartisipasi. Alhasil mereka juga ada di sini. Oleh karena itu, kita tidak lagi perlu untuk ragu.”


Ray memanggil Terumi sekali lagi, panggilannya diangkat dalam waktu singkat. Di waktu tersebut Ray mengatakan akan menaruh segalanya pada kesempatan ini.


“Terumi, gunakanlah sekitar 80% DP yang kita miliki.”


Roid yang mendengarnya tercengang lantaran itu bukan jumlah yang kecil. Semua DP yang dimiliki anggota mereka telah diserahkan kepada Terumi, sebagai bendahara mereka.


Bahkan Terumi yang berada di panggilan terdengar menahan napasnya, dia pasti ikut terguncang.


“... kamu yakin, Ray? Jika kita menggunakan terlalu banyak, ke depannya pasti akan sulit.”


DP berperan sangat penting di ujian kali ini. Meski Ray memiliki uang tunai yang tidak sedikit, tetap saja nilainya tak bisa dibandingkan dengan DP.


Meski begitu Ray telah bulat dengan keputusannya. Selain mempertaruhkan segalanya di sini untuk mengakhiri tugas, Ray juga berencana melakukan uji coba kepada dirinya sendiri.


“Ini akan sebanding. Selain itu, aku yakin DP tidak akan berguna jika semua ini berakhir.”


“Berakhir ... maksudmu?”


“Ya. Aku akan menyelesaikan semua uji coba ini. Sekali untuk selamanya.”


Meski begitu Ray tidak berpikir ini semua akan cukup. Mungkin dia harus menjalankan rencananya bersama Indri dan Ben, tetapi yang berbeda adalah targetnya.


“Selain itu beritahu Yan Hoki. Rencana untuk menjatuhkan pesawat akan dijalankan. Targetnya adalah monas.”


***


“Hey, prajurit! Ini giliran kalian berdua untuk istirahat.”


“Ya!”


Dua orang tentara meninggalkan pos mereka, ke kantin dan mengambil makanan mereka. Namun mereka tak membaur bersama tentara lainnya, tetapi memisahkan diri ke tempat sepi yang mana tak banyak orang di sana.


“Situasinya sungguh tidak bagus. Hampir tidak ada cara bagi kita masuk ke dalamnya. Aku penasaran apa yang dipikirkan para bajingan itu.”


“Kita tak bisa menebak mereka seperti halnya Ray. Bajingan yang satu ini bahkan berhasil membuat kita hampir mati.”


“Apa yang akan kita lakukan? Haruskah menggunakan cara kasar dengan menerobos langsung? Aku yakin Degree-ku mampu melakukannya.”


“Jangan terburu-buru, Ben. Selama situasinya tetap stagnan maka kita bisa memanfaatkannya untuk mencari solusi.”


Sebelumnya saat sedang dalam pertemuan dengan Ray, Indri mendapatkan panggilan dari Hiroshi tentang orang yang nyaris membunuhnya, Jung Haiyan.


Orang itu memiliki anak buah mafia dan juga pengguna Degree. Selain itu, Hiroshi juga menyampaikan kalau dia dan Hiromi ketahuan memata-matai.


Indri dan Ben tentu akan menyelamatkan mereka namun terlambat karena keduanya sudah tertangkap. Meski begitu Indri mendapatkan pesan dari Haiyan, jika ingin menyelamatkan Hiroshi maka dia harus datang ke monas.


“Solusi, ya?” gumam Ben, memandang monas yang sudah di barikade, “Aku tidak melihat ada solusi dari situasi ini.”


“Setuju.”


Indri tidak tahu apa yang akan orang-orang itu lakukan. Tentu, membarikade diri hanyalah defensif sementara yang tak bisa dipertahankan selamanya.


“Haruskah kita turun tangan dengan membantu mereka?” tanya Ben dengan sedikit bercanda.


“... mungkin kita harus melakukannya.”


“Ya, itu adalah—” Ben tercengang dan menatap Indri. “Apa yang baru kamu katakan?”


“Kita mungkin harus mempertimbangkan untuk bergabung dan membantu bajingan itu.”


Indri tahu bahwa ini bukan dirinya, dia takkan pernah mau menjadi bawahan seseorang. Bahkan dengan Ray, Indri menjalin hubungan sama rata yang mana segala rencana dipertimbangkan. Tidak ada yang memerintah sesuka hati.


Alasan Ben terkejut jelas karena hal itu. Tidak ada siapapun yang paling memahami Indri selain Ben.


“Situasi kita sulit, Ben. Ini bukan waktunya aku memikirkan harga diriku.”


Melawan mereka bukan sebuah pilihan terkemuka. Ada dua orang rekannya yang ditahan, dan Indri tidak ingin kelihatan siapapun lagi.


“Itu ... mungkin benar. Kehilangan Guren, Rani dan Rina sudah menjadi pukulan keras untuk kita.”


Tak hanya itu, jika Hiroshi dan Hiromi juga gugur maka Indri akan berada di posisi di mana dia tak lagi memiliki kemungkinan mendapatkan kunci emas.


Mau tak mau Indri harus bergabung dengan orang lain untuk menyelesaikan tugas.


“Selain itu, tergantung pada bagaimana perkembangan situasinya nanti. Kita harus memilih posisi yang jelas dan tepat.”


Saat keduanya berbicara dan menyantap makanannya, pria tak diundang datang dan menyela percakapan mereka.


“Sepertinya aku bisa membantu kalian memperjelas situasi yang ada saat ini. Bahkan jika kalian menyusup seperti itu, tidak seratus persen informasi sampai pada kalian.”


Indri dan Ben terkesiap dan siap bertempur jika memang dibutuhkan. Suara tersebut tentunya tidak terdengar asing bahkan oleh Indri.


“Tidak aku sangka kita akan segera bertemu di sini. Aku berpikir kamu akan membuat pilihan untuk terlibat oleh hal ini,” ujar Indri, tersenyum ketir.


‘Sial, dia muncul di waktu tidak tepat. Ben sedang tidak mampu menggunakan kekuatannya.’


Untuk menggunakan pantomim, Ben perlu membuat riasan wajah dan bahkan tak membuka mulutnya atau berbicara. Bahkan jika dia melakukannya sekarang, kekuatannya takkan segera bisa aktif begitu saja. Dibutuhkan jeda delapan jam agar Ben bisa menggunakannya.


“Aku tidak pernah bilang tidak akan bergabung dengan situasi apapun terkait persaingan ini. Terutamanya insiden besar seperti ini.”


Indri tidak berpikir pria itu bodoh tentunya. Mungkin tidak semua orang bisa mengerti bahwa ini adalah kesempatan emas untuk menyelesaikan tugas.


Ada banyak pengguna Degree di sini, yang artinya kunci juga ada. Kunci yang perlu mereka kumpulkan untuk mendapatkan teka-teki terakhir.


“Ha ha ha, karena kamu sudah di sini sekarang. Apa kamu akan membocorkan kami sebagai penyusup dan memulai pertarungan, Arthur?”