
Ray tahu bahwa Arthur akan bersikeras akan hal ini namun ia tak menduga akan jatuh seperti ini.
‘Sekarang aku harus memikirkan bagaimana cara mengeksekusinya tanpa dicurigai.’
Ray tidak berharap akan ada orang-orang yang ia kenal di sini, akan sulit menjalankannya rencananya. Meski begitu bukan berarti dia akan menghentikannya, rencananya akan tetap berjalan.
“Tak pernah ada jaminan kalau keyakinanmu benar adanya!” Leo segera melepaskan diri dan mencengkram kerah Arthur.
“Kamu tahu? Terumi sudah seperti kakak perempuan bagiku. Jika ada yang melukainya, aku takkan segan menghancurkannya!”
Tak ada perasaan cinta antara Leo dan Terumi. Mereka lebih merasa seperti kakak dan adik, bahkan Leo mengakuinya secara tak langsung. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki ikatan di empat tugas awal.
Toleransi antara saling tolong menolong di tahap awal beradaptasi dengan tempat ini amat kuat sehingga keduanya menumbuhkan perasaan seperti itu tanpa sadar.
Berbeda dengan Ray dan Terumi, yang mana wanita itu memandang Ray sebagai lawan jenis. Meski belum yakin, Ray sendiri ingin belajar mencintai lawan jenis. Terumi adalah kurikulum spesial untuknya belajar hal itu.
“Aku tahu. Mari pikirkan langkah selanjutnya setelah kita mendengar situasinya,” Arthur memantapkan tekadnya, ia sadar bahwa tergantung jawaban Mona, situasinya tidak akan berubah. “Untuk sekarang sebaiknya kita membereskan semua kekacauan ini.”
Seperti kata Arthur bahwa semua ini belum berakhir. Meski para orang gila yang membakar manusia telah ditumbangkan, api tetap berkobar dengan liar.
Mereka beruntung berada di tempat terbuka seperti taman namun hanya sebagian yang memiliki nasib bagus. Ada begitu banyak korban jiwa dari insiden ini.
“Lebih dari itu aku terkejut bahwa Secret sama sekali belum bertindak akan hal ini,” ujar Eric selagi memandang kekacauan di sekitarnya.
Tak hanya properti yang disediakan Secret dan berbagai bangunannya, tetapi manusia juga terbakar di sini. Sangat aneh jika Secret masih belum bergerak atas kejadian ini.
“Kamu benar juga.” Arthur mulai memikirkan kemungkinan yang terjadi. Firasatnya saat ini tidak mengatakan apa-apa yang artinya peristiwa ini masih sangat abu-abu.
“Mungkin bajingan itu yang merancang malapetaka ini.”
Perkataan Ray mengejutkan semua orang yang mendengarnya. Leo yang awalnya murka akhirnya berhasil menahan emosinya dan bergabung ke dalam diskusi.
“Apa maksudmu penutupan tempat ini dilakukan dengan penghancuran besar seperti Open World terakhir kali?” tanya Leo dengan sedikit terkejut.
Ray mengangguk setuju, “Ya. Secret adalah organisasi aneh yang tujuan aslinya tidak kita ketahui. Antara mencari data atau berusaha mengeliminasi kita secara perlahan. Tindakannya merujuk pada hal ini.”
Cara terbaik menutupi kesalahan dan kecurigaan adalah dengan mengarahkan orang-orang ke jalan lain yang benar-benar berbeda.
Eric mengerutkan alisnya, ia merasakan ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
“Aku tak benar-benar tahu situasinya kala itu, namun bukankah Open World hancur karena seseorang mengaktifkan nuklir?”
“Ya, namun faktanya Secret sudah menyiapkan hal itu. Bahkan dia membuat Shelter untuk berlindung,” ujar Ray.
Arthur untuk beberapa hal setuju dengan asumsi ini, “Itu benar adanya. Jika Secret memang tak berencana menghancurkan atau ingin tak ada kematian, sejak awal mereka tak perlu melakukan sesuatu seperti ini.”
Ray tentunya terkejut kalau Arthur bisa sampai pada kesimpulan itu. Sungguh orang yang mengerikan karena tepat sasaran.
Sejak awal Ray sudah menerka tujuan Secret berkat sebuah pertanyaan yang pernah Ray ajukan kepadanya di masa lalu. Perkataan Secret sendiri menuju tepat pada asumsi Arthur.
“Namun bagaimana dengan para bajingan Rebellion itu? Mereka memanfaatkan kesempatan ini dengan baik bahkan menggunakan perlengkapan penuh,” ujar Leo.
Tentunya itu adalah anomali karena Virgo bertindak dengan tepat waktu. Semua orang akan berpikir hal itu amatlah aneh.
“Aku pikir itu tidaklah aneh mengingat dia sosok yang membuat sesuatu seperti sepuluh orang dengan Degree berbahaya. Seperti halnya tugas bonus yang gagal didapatkan semua orang di Open World, mungkin ada sesuatu seperti itu yang Virgo miliki,” ujar Ray.
Untuk sekarang mari limpahkan semua malapetaka ini. Buat Secret menjadi pelakunya, Secret adalah pendosa sesungguhnya, Secret adalah pembunuh. Semuanya harus disalahkan pada Secret secara perlahan.
Bahkan Ray sendiri yakin bahwa semua yang ada di sini sangat membenci organisasi aneh ini. Bagaimana tidak? Jika bukan karena mereka mengadakan tugas tak masuk akal, pengalaman menyakitkan takkan terjadi.
“Itu ... masuk akal.” Eric setuju pada kemungkinan ini, “Secret memang selalu memberikan indikasi mengerikan tentang eliminasi atau semacamnya. Mungkinkah dia berniat mengurangi sebagian besar orang di sini?”
“Itu sungguh tak bisa diterima,” ujar Arthur, dia seakan merasakan sakit di kepalanya. “Yah, kita bisa lewati hal ini. Untuk sekarang mari anggap Secret sebagai pelakunya dan Virgo memanfaatkan informasinya untuk melakukan penyerangan.”
Arthur tak bisa memikirkan hal-hal yang menyebabkan sakit kepala lebih dari ini sekarang.
Arthur dan yang lainnya mulai meminta orang-orang untuk memeriksa sekitar kalau saja ada orang yang selamat atau terjebak.
Di sisi lain Ray hanya mengamati sekitarnya dengan diam, ia menemukan kalau dari kejauhan ada orang yang mengamatinya. Tampaknya dia sengaja agar Ray sadar keberadaannya dan lekas tersenyum saat Ray menatapnya.
‘Apa yang Indri lakukan di sana?’ pikir Ray selagi mengamatinya dengan diam.
Indri tak sendirian, di sana dia bersama dengan Hiroshi dan Guren yang entah mengapa terlihat kebasahan. Sesaat kemudian, Indri menyampaikan sesuatu. Ray tak bisa mendengarnya namun ia memahami dari gerak bibirnya yang menyatakan:
“Lakukan yang perlu kamu lakukan. Akan kubantu.”
Ray berasumsi kalau Indri tahu dia sedang merencanakan sesuatu. Namun ada hal yang mengganjal Ray selama ini tentang Indri. Satu hal yang sejak pertama kali bertemu dengannya yang ingin diketahui Ray.
‘Bagaimana caranya mengetahui segala sesuatu tentangku? Bahkan dia selalu tahu setiap kali aku mulai menjalankan rencanaku.’
Sudah lama sejak Ray curiga namun awalnya ia akan mengabaikannya, tetapi setelah Ben datang dan memberikan uluran tangannya. Ray sudah semakin curiga sejak saat itu. Padahal dia tak mengungkapkan ataupun menunjukkan indikasi apakah ia memiliki rencana atau tidaknya.
Saat Ray mulai sibuk pada pemikirannya sendiri, Ray menemukan Ben yang membaur di kerumunan. Tak hanya itu, Rani dan Rina juga ada bersamanya.
“Apa yang mereka rencanakan?” gumam Ray.
Ray yakin mereka akan melakukan sesuatu, saat itu juga Ray mengerti apa yang dimaksud oleh Indri. Ray menghampiri Erina dengan santai agar ia bisa melakukan sesuatu nantinya.
Ben mulai mengeluarkan sesuatu dan menariknya. Segera dia melemparkannya ke tempat Arthur dan yang lainnya. Sontak hal tersebut membuat mereka gempar dan benda itu meledak, mengeluarkan asap yang mengepul tebal.