
“Apa kamu sungguh-sungguh tentang itu, Leo?” tanya Ordo, ia masih tak percaya bahwa keberadaan benda itu ada di tempat ini. Tersembunyi di Open World.
Tentunya siapapun takkan percaya akan hal tersebut. Namun tak ada gunanya Leo membuat kebohongan seperti itu. Lantas pilihan mereka hanya bisa mempercayainya.
“Di Market tak tersedia senjata termonuklir. Namun, siapa yang bisa menduga bahwa Secret menyiapkannya pribadi untuk tugas yang ia buat.” Arthur bahkan mulai berkeringat dingin saat tahu bahwa benda itu mampu meledak kapan saja.
“Aku tak bermaksud meragukan Leo. Pada awalnya aku ingin menyampaikan hal ini setelah melihatnya langsung. Selain itu, aku harap tidak ada dari orang-orang di sini coba menguasai untuk dirinya sendiri.”
Inilah situasi yang ingin Ray hindari. Tak diragukan lagi mereka yang menguasai senjata ini akan mampu menjadi pemimpin mutlak di Open World.
Semua orang saling menatap satu sama lain dan tersenyum. Mereka kemudian menatap Ray dengan lembut serta keyakinan.
“Tenang saja. Aku sudah memutuskan untuk menyelesaikan semua ini. Kita akan menyimpan rahasia ini diantara kita. Tak ada tempat untuk berkhianat,” Ordo berkata tanpa keraguan, dia sedikit tertunduk saat mengatakan 'Akan menyelesaikan semua'.
“Bagiku tidak ada gunanya menguasai tempat yang sempit ini. Jika ada yang aku inginkan ... aku ingin segera pergi ke dunia luar setelah mendapatkan apa yang aku inginkan,” ujar Arthur yang tersenyum masam.
Semua orang datang ke tempat ini dengan tujuan yang berbeda-beda dan dari belahan dunia berbeda.
Masing-masing dari mereka memiliki banyak hal yang tidak bisa diungkapkan. Sama seperti Ray dengan masa lalunya. Semua orang di sini serupa.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Terumi untuk mencairkan situasinya.
Namun sangat disayangkan bahwa pembicaraan ini takkan berakhir dalam waktu dekat. Melihat Ordo, Ray tahu bahwa orang itu memiliki pemikiran yang sama dengannya.
“Retsuji Arthur adalah Rookie terkenal dan kuat, ia juga memiliki idealisme kuat. Aku tak meragukan posisinya. Begitu juga Terumi, Leo, dan Sebastian. Untuk Ray. Dia yang membawa kita ke kesimpulan sebenarnya dari tindakan Rebellion jadi kemungkinannya berkhianat kecil. Selain itu ia adalah pria pilihan Erina,” Ordo memejamkan matanya dan menarik napas, ia membuka matanya dan menatap tajam gadis yang sejak tadi diam. “Hanya kamu, Mona. Cuma kamu yang tidak memiliki posisi jelas.”
Ordo menekankan kata 'Tidak' dalam kalimatnya. Meski ia mengaku tawanan Rebellion, siapa tahu bahwa itu kebohongan yang mereka buat untuk meletakkan pengkhianat diantara mereka.
“Tunggu dulu! Dia—” Arthur hendak membelanya, tetapi Ray segera menyela.
“Hanya karena kamu memiliki kekuatan dan posisi yang jelas, bukan berarti kepercayaan terhadapmu bisa dibagikan kepada wanita ini, Arthur.”
“Kamu mungkin bersedia menjadi penjamin untuknya, tetapi apa guna jaminan jika kelak karena wanita ini, semua yang ada di sini lenyap?” Sebastian memberikan dukungan kepada kata-kata Ray.
Hanya karena orang-orang mempercayai bahwa Arthur takkan berkhianat. Bukan berarti orang yang dipercayai Arthur juga tidak mungkin berkhianat.
Ini bukan tempat untuk kisah pertemanan yang indah, tetapi ini adalah tempat dengan kisah penuh duka dan pengkhianatan. Pikir Ray.
Kenyataannya Ray tak menanamkan kepercayaan penuh kepada siapapun yang ada di ruangan ini.
Kepercayaan selalu memiliki harga paling mahal di dunia ini seperti halnya harga diri.
“Namun—”
“Tak apa, Arthur. Aku tahu akan seperti ini jadinya, dan karena itu aku sudah siap dengan apapun yang akan terjadi.” Mona menunjukkan senyuman lembut selagi memegang jemari Arthur dengan lembut.
Arthur mulai kembali tenang dan mengangguk. Tak ada lagi tanda penolakan atau perlawanan darinya.
“Sekarang ... waktunya interogasi.” Saat Ordo menutup matanya. Baik Leo, Terumi dan Sebastian menodongkan pistol tepat ke arah Mona.
“Oi-!”
“Tidak apa-apa, Arthur!” Mona menghentikan Arthur meskipun tubuhnya gemetar.
Ray terkejut dengan kekompakan mereka dalam hal ini. Sebelumnya tidak pernah ada pembicaraan seperti ini. Tampaknya Ordo memang sudah terbiasa melakukan interogasi.
Ini menenangkan karena aku tak perlu mengungkapkan diriku lebih banyak.
Dengan ancaman seperti ini, seseorang yang berada dalam rasa takut dan panik takkan bisa membuat kebohongan sempurna. Sekalipun jawabannya sudah disiapkan, akan sulit menghindari kebocoran melalui bahasa tubuh.
Penodongan senjata tersebut adalah gertakan dan ancaman bagus disaat bersamaan.
“Sekarang, mari kita mulai dari mana kamu bertemu Arthur.”
Ordo memulai dengan pertanyaan ringan.
“Aku bertemu dengannya di tugas ke dua dan tiga. Kami bersama-sama menyelesaikan puzzle pintu di tugas kedua, dan menghindari rintangan di tugas ke tiga.”
“Itu benar, ketua. Aku dan Leo ada di tugas ketiga yang sama dengan mereka.” Terumi memastikan kebenarannya.
“Di masa lalu aku juga pernah menyelesaikan tugas tentang puzzle. Itu bukan kebohongan,” Ordo mengangguk setelah memastikannya.
Ray mulai bertanya-tanya apakah hanya dirinya yang mengalami tugas-tugas berbahaya selama ini. Yah, ia merasa tak pantas menanyakannya karena akan mengganggu.
“Lalu apa yang terjadi setelah tugas tersebut?”
“Aku berpisah dengan Arthur dan menjalani tugas berbeda. Aku harus memanjat dinding yang penuh gangguan di tugas ke empat.”
“Jadi kamu hanya bersama Arthur hingga tugas ke tiga, kah. Aku sedikit meragukannya," ujar Ordo.
“Tenang saja, dia tak bohong. Aku berada di tugas yang sama. Abaikan detil tugasnya, hanya ada enam orang yang selamat dari tugas itu. Dan, aku tak ingat ada wanita itu.”
Ray masih mengingat dengan jelas orang-orang yang menduduki kursi. Memang ada satu wanita lainnya, namun Ray yakin itu bukan Mona.
“Enam orang? Sudah kuduga bahwa tugas tutorial sama sekali tak berubah. Memperebutkan kursi adalah bagian paling menyakitkan.”
Ordo juga mengalami hal tersebut di masa lalu. Terpampang jelas dari wajahnya dan tindakannya yang mengetahui itu.
“Tampaknya Erina dan Mein juga ikut andil di sana," Sebastian menambahkan.
“Lalu, apa yang kamu lakukan setelah tiba di Open World?”
“Aku menari.”
“Hah? Kamu bercanda.”
“Ini sungguhan.”
“Menari untuk apa?” Ordo terlihat bermasalah saat Mona terlihat sungguh-sungguh akan hal itu.
“Ini memalukan. Awalnya aku berpikir bahwa entah bagaimana berhasil keluar dari semua tugas menyakitkan dan kembali ke tempat asalku. Aku—”
“Kamu terlalu bahagia sampai-sampai menari-nari, kan? Singkatnya kamu idiot dan konyol.”
Ordo tak ingin mendengarnya lebih lanjut. Lagi pula tanpa perlu Mona berbicara banyak semua orang tahu apa yang terjadi padanya saat itu.
“Saat aku tengah menari saat itu. Di sanalah Virgo muncul dan mengundangku bergabung dengannya.”
Saat itu malam gelap dan diyakini tak ada orang lain selain mereka berdua.
Ditemani dengan sinar bulan yang memberikan penerangan. Kala itu, Mona tak memiliki banyak opsi untuk dipilih.
“Ini bukan tempat yang kamu harapkan. Ini adalah tugas lain buatan Secret. Kamu takkan bebas jika seperti ini terus,” Virgo mengulurkan tangannya seakan-akan memberikan bantuan, “Ikutlah bersamaku. Bersama-sama mari kita memberontak dan keluar dari tempat ini. Neraka ini.”
Mona masih mengingat kata-katanya dengan jelas dan bagaimana cara Virgo mengundangnya saat itu.
“Pada akhirnya ia mengetahui masa laluku dan memaksaku menunjukkan Name Card. Setelah mengetahui apa Degree-ku, ia mulai menggunakanku sesukanya. Untungnya tak ada pelecehan apapun.”
Dan, sampai waktu itu tiba. Bertepatan dengan hari penyerangan tanpa sengaja Mona mendengar sesuatu yang harusnya tak ia dengar. Bukan hanya itu, dosa terbesar yang ia lakukan adalah melihatnya.
“Lalu apa alasannya mengejarmu dan coba membunuhmu?”
“Pastinya karena itu,” Mona memeluk dirinya dengan gemetar. Rasa takutnya tidak ada pada pistol yang ditodong, tetapi ia takut dengan hal lain. “Itu adalah ketika aku melihatnya membuka helm sekaligus topeng yang menutupi wajahnya.”
Entah yang ke berapa. Sekali lagi, semua orang kembali dikejutkan dengan hal lainnya. Seakan-akan ini adalah hari khusus untuk semua orang terkejut.
Ray penasaran apakah ada fakta lain yang akan membuat semua orang terkejut lagi.
“Wajahnya ... apa kamu berhasil melihatnya?” tanya Terumi karena ia sangat penasaran akan hal itu.
“Sayangnya tidak. Aku tak bisa mengkonfirmasi apakah ia pria atau wanita. Namun yang aku tahu, ia memiliki rambut pirang yang panjang.”
Rambut pirang. Ray yakin bahwa jawabannya antara orang barat ataupun eropa. Meski tak menutup kemungkinan bahwa ia juga orang asia, untuk saat ini gambarannya masih abu-abu.
“Apa hanya itu? Aku tak yakin Virgo akan mengerahkan banyak tenaga untuk membunuhmu.”
“Ya. Aku memiliki satu hal lain yang mungkin tak diketahui oleh kaki tangannya.”
“Dan, apa itu?”
“Itu ...” Mona enggan untuk mengatakannya. Ia tentunya takut sesuatu akan terjadi kepadanya.
Bagaimana tidak? Hal itu bisa saja terjadi, andaikata Virgo sudah menyiapkan ancaman mendalam kepada Mona.
“Tenang saja. Aku sudah berjanji akan mengerahkan orang untuk melindungimu. Aku takkan pernah mengingkari janji yang kubuat,” Ordo berusaha meyakinkan Mona.
Hal ini tak bisa ia lakukan dengan paksaan karena sesuatu yang berhubungan dengan psikologis sangatlah rumit. Salah dalam penanganan akan membuat semuanya jadi sulit.
Sudah kuduga, orang ini sudah terbiasa di bidang ini. Ia lebih hebat dari yang terlihat. Pikir Ray saat mengamati Ordo.
“Tenang saja, Mona. Apapun yang terjadi aku akan melindungimu. Bahkan tugas takkan memisahkan kita.” Arthur menunjukkan senyumannya yang lembut selagi menepuk kepala Mona.
Dari senyuman tersebut ia membuat Mona terkesima. Matanya terbuka lebar dan hampir tak berkedip sama sekali. Ia benar-benar sudah terhipnotis oleh wajah rupawan tersebut.
Sedikit jerit 'Kyaa!' datang dari Terumi. Bagi para gadis tampaknya hal itu adalah kejadian romantis yang mereka idamkan. Sementara Leo, Ordo dan Sebastian entah bagaimana menunjukkan wajah mual campur iri.
Itu hampir seperti mereka iri karena tak bisa mengatakan itu kepada seorang gadis, dan mual dengan hal-hal alay.
Aku sama sekali tidak memahaminya. Apa yang bagus dari sebuah kata-kata yang jelas bohong dan tepukan kepala?
Ray tahu bahwa kata-kata bisa menipu dan memanipulasi. Dan, karena dia tahu hal tersebut Ray tak pernah mempercayai kata-kata orang sepenuhnya.
Sementara itu, tepukan kepala tetaplah sebuah tepukan kepala. Entah seberapa besar dampaknya bagi psikologi seseorang, tetap saja itu hanya tepukan kepala.
Ray mulai berpikir bahwa sebenarnya Arthur adalah orang mengerikan. Ia mampu menaklukkan gadis dalam tindakan seremeh itu.
“Kamu sungguh?”
“Ya.”
“Kalau begitu ...,” Mona mulai menunjukkan keteguhan hatinya dan mengatakan apa hal lain yang dia ketahui.
Sebuah pertanyaan muncul dalam benak Ray:
Apa benar-benar semudah itu untuk memanipulasi seorang gadis?