The Degree

The Degree
Terungkapnya Tugas!



Sebagian perkemahan mulai terbakar bersama dengan hutan. Hal itu menyebabkan kepanikan karena sumbernya tidak diketahui sama sekali. Meski begitu Erina tak meminta mereka untuk memadamkannya karena ia tahu dari para intel bahwa Rebellion tiba lebih cepat untuk beberapa alasan.


Lokasi perbekalan dan persenjataan telah dipisahkan jauh dari tempat mereka. Erina menempatkan beberapa orang di sana.


Saat semua petinggi sudah berkumpul namun hanya Mein dan Ray yang belum tiba.


“Ke mana Ray dan Mein? Apa ada diantara kalian melihatnya?” tanya Erina dengan penasaran dan khawatir.


“Aku ingat Mein pergi untuk melihat perbekalan sebelumnya.” kata Leo. “Namun aku tidak melihat Ray sama sekali.”


Melihat ekspresi yang lainnya tampak jelas bahwa tidak ada yang mengetahui keberadaan Ray. Erina mungkin khawatir namun ia tak mengejarnya lebih jauh karena ia tahu bahwa keduanya cukup kuat dan dipercaya olehnya.


“Kalau begitu mari kita mulai diskusi tanpa kehadirannya—” Erina berniat memulai diskusi namun dihentikan oleh dering jamnya.


Tak hanya dirinya yang memiliki dering jam namun semua orang di ruangan tersebut mendapatkan hal yang sama.


Mereka sama-sama menemukan pemberitahuan yang sudah cukup lama tak pernah datang yaitu tentang tugas selanjutnya.


—Seseorang mengaktifkan nuklir. Tugas ke lima berhasil terungkap.–


—Tugas ke lima. Hancurkan seluruh Open World dengan nuklir dan selamatkan diri menuju Shelter.–


—Waktu peluncuran. 60 menit dari sekarang.–


Bersamaan dengan pemberitahuan tersebut empat pilar biru muda muncul di empat arah berbeda dan saling berlawanan. Tampaknya pilar-pilar tersebut adalah shelter yang dimaksud dalam tugas.


“Apa-apaan ini ... mengapa di situasi seperti ini?” Arthur berdecak kesal karena Secret hanya memperburuk segalanya.


Situasi sekarang sangatlah kacau sehingga berlindung di shelter sekalipun tidak menjamin keamanan mereka. Banyak orang yang mungkin masih tidak waras dan barang kali ada anggota Rebellion di salah satu shelter yang mereka kunjungi.


“Dari yang tertulis tampaknya ada yang mengaktifkan benda berbahaya itu.” kata Terumi dengan sedikit panik. “Bukankah seharusnya ada orang-orang yang sudah menjaga di sana?! Mengapa ini bisa terjadi?”


Kemungkinan terbesar adalah adanya penyusup diantara orang-orang yang mendapatkan tugas menjaga air terjun di mana satu-satunya pintu masuk menuju nuklir.


Jika entah bagaimana benda tersembunyi itu berhasil diaktifkan seseorang maka hanya ada dua kesimpulan.


“Aku ragu jika ada pengkhianat di sana namun sangat mungkin ada orang yang mengalahkan semua orang.” Leo mengungkapkan pendapatnya selagi berusaha tetap berkepala dingin.


“Masalahnya adalah siapa yang melakukannya? Orang-orang dari Rebellion tidak mungkin melakukannya mengingat mereka menginginkan hadiah utama dari tugas bonus.” Mona tampak coba memahami situasinya dengan lebih jelas.


Setelah semua yang dilakukan Rebellion sangat tidak mungkin untuk mereka memilih mengorbankan tugas bonus yang selama ini sudah jadi perebutan besar-besaran.


“Aku curiga ada kelompok lain yang bermain dan berusaha menyelesaikan ini sendiri.” Arthur terlihat yakin dengan kesimpulannya sendiri.


Tidak ada kesimpulan lain yang bisa diambil selain ini. Arthur telah menyangkal kemungkinan bahwa Secret menyabotase tugas buatannya sendiri.


Lagi pula situasi stagnan sebelumnya telah berjalan selama dua tahu dan mustahil Secret kehilangan kesabarannya. Jika bukan karena adanya pihak lain maka mustahil mereka akan menjatuhkan tugas sekarang ini.


Menang dalam perang namun mati setelahnya takkan menjadi hal membanggakan dan bisa diartikan sebagai langkah bunuh diri. Jika mereka memaksakan diri untuk berperang maka Arthur menyampaikan tak ragu untuk meninggalkan mereka.


“Itu benar, kemenangan sesungguhnya adalah ketika kita tetap bisa melihat hari esok.” Terumi mendukung pendapat Arthur.


Erina diam untuk beberapa waktu dan memikirkan baik-baik kondisinya. Tugas ini jelas merepotkan karena mau bagaimanapun ia tahu Rebellion sudah tiba lebih cepat dari yang seharusnya.


“Kalau memang mau mundur maka kalian harus membantuku memikirkan caranya.” Erina menguatkan suaranya, kata-katanya membuat Mona dan Terumi bingung.


“Apa maksudnya? Jika ingin mundur maka kita hanya harus mundur saja.” Mona menatap Arthur selagi mengatakannya.


“Itu akan sulit, Mona.” kata Arthur. “Rebellion sungguh sudah di dekat kita. Otomatis shelter tujuan kita adalah shelter terdekat. Mau ataupun tidak, suka atau tidak, kita tetap akan melakukan bentrokan dengan Rebellion.”


Meskipun bentroknya tidak sebesar perang namun tetap perlu ada tindakan perlawanan dari mereka atau mereka akan berakhir dilenyapkan.


”Selain itu kesulitannya adalah baku tembak yang sangat mungkin untuk terjadi. Sayangnya kita tak memiliki tameng anti peluru.”


Bahkan jika ada sekalipun tidak benar-benar menjamin keamanan mereka. Bergerak dengan orang sebanyak ini bukanlah hal yang mudah dan tidak diragukan lagi akan ada banyak yang mati.


Erina tahu bahwa mustahil pergi ke Shelter tanpa korban jiwa namun yang ia inginkan adalah meminimalkan korban yang jatuh.


“Selain itu masih ada aku, Ordo dan orang terluka lainnya.” Erina mengepalkan erat tangannya dan merasa kesal akan ketidakmampuan dirinya sekarang.


“Ini mungkin cara yang kejam untuk dilakukan. Mungkin, kita harus membuat dinding manusia untuk membawamu dan yang lainnya pergi.” Leo berkata dengan wajah yang pahit.


“Tidak! Aku akan dengan lantang menolaknya!” Terumi menaikkan suaranya dan memukul dinding dengan kuat, “Bukankah itu tidak ada artinya mengorbankan orang lain untuk orang lain?!”


“Lalu apa? Jika kamu tak menyetujuinya maka apa kamu menyetujui meninggalkan orang-orang yang terluka di sini?” Arthur berkata dengan dingin.


“Itu ...” Terumi ingin menentangnya lagi namun ia kehabisan kata-kata karena tak menemukan kalimat yang tepat untuk melawannya.


Argumen Leo dan Arthur mengarah ke hal yang sama. Tidak peduli apa yang mereka pilih pada akhirnya pengorbanan tetaplah dibutuhkan. Tidak ada yang namanya pilihan benar di situasi sekarang ini.


“Kamu harus bisa menerimanya, Terumi.” Leo menepuk lembut bahu Terumi dengan wajah menyakitkan, “Jika kita berhenti karena penolakanmu akan ada semakin banyak waktu terbuang. Setiap detik yang berlalu menentukan masa depan kita.”


“Tapi! Pasti ada satu jalan lain yang tidak perlu melakukan hal kejam seperti ini! Kita pasti bisa mencarinya!”


“Memang kita bisa menemukan jalannya asalkan ada waktu lebih banyak yang kita miliki!” Arthur merasa muak dengan pertentangan Terumi dan menaikkan suaranya, “Masalah yang kita miliki adalah waktu yang terbatas, apa kamu pikir semua orang menginginkan hal ini?!”


Mendengar Arthur yang marah seperti itu membuat suasananya canggung tanpa ada yang bisa berkata-kata.


“Aku sendiri tidak menyukainya namun tak ada jalan lain!” Arthur mengepal erat tinjunya dengan geram sampai ia disadarkan oleh ketukan pintu dan seseorang masuk.


“Maaf atas keterlambatanku.” Ray masuk ke dalam tanpa ragu.


Semua orang merasa senang atas kedatangannya namun kondisinya membuat mereka kehilangan kesenangan tersebut.