
Ray dan Terumi telah melakukan beberapa diskusi sebelum ia memulai percakapan dengan Ordo. Semuanya berjalan mulus, meski tak sampai Ray melakukan negosiasi, namun setidaknya ia berhasil mengambil langkah aman.
Seandainya memang perlu negosiasi maka ia akan mengamankan baik-baik Erina dan terpaksa membuat kebohongan tentang posisinya saat ini. Yah, lupakan hal-hal yang takkan lagi terjadi.
Ketika semuanya berjalan begitu mulus. Ray dan Terumi dikejutkan dengan tindakan yang dilakukan Ordo.
“Bagaimana mungkin hal itu bisa?”
“Bisa. Jika itu Degree maka bukanlah hal mustahil untuknya terjadi.”
Tak ada yang terlihat mustahil jika Degree menjadi poin utama maka bukan suatu hal mustahil seseorang mampu melompat setinggi itu.
Dalam satu lompatannya Ordo mampu mencapai lantai dua sekejap mata. Ia bergelantungan di celah kecil dari jendela lantai dua. Dan, kembali lagi melompat ke lantai tiga lalu empat sampai tiba di atapnya dalam sekejap mata.
Ia berdiri di sisi gedung dengan gagahnya. Ray memandang takjub bahwa kekuatan ketua serikat Blueeast sangat luar biasa.
Apa Degree-nya adalah sejenis manusia super? Jika begitu adanya seharusnya langkah mudah baginya menghancurkan serikat Redwest sendirian. Pikirnya.
Jika ia tak melakukannya maka pasti ada satu hal yang menjadi penghalang mengapa dua orang itu tidak melakukannya. Kenyataan bahwa selama dua tahun kondisinya tetap sama menjadi pendorong asumsinya.
“Di mana wanita itu?”
Ray segera menghalangi Ordo untuk menuju ke tempat Erina yang untungnya sudah dia pindahkan dari tepi.
“Apa yang akan kamu lakukan? Sayangnya aku takkan membiarkanmu melakukan apapun yang bisa membahayakannya.”
Erina masih dibutuhkan oleh Ray dalam beberapa hal. Ia tentu takkan melepaskannya begitu saja. Seperti halnya ia memiliki berlian dan seseorang berniat mencurinya. Ray tentunya akan melindunginya segenap tenaga tanpa membiarkannya mengambil dengan mudah.
“Tenang saja. Aku takkan melakukan apapun kepadanya. Aku akan membawanya turun karena ini lebih mudah.”
“Ya, andaikan ada satu cara yang membuat kata-katamu tak berbalik arah.”
“... kamu, siapa memangnya kamu? Wakil ketua Redwest adalah Mein. Dan, aku tahu betul wanita itu karena aku mengenalnya. Tak ada satupun ingatanku pernah melihatmu.”
“Aku Ray Morgan. Rookie yang baru-baru ini bergabung dengan Redwest. Takkan ada siapapun aku biarkan melukai ketua serikatku. Terutama kamu, saingan besar kami.”
Terumi yang melihat tegangnya situasi tersebut tak tahu harus melakukan apa. Di satu sisi ia ingin membela Ray, namun di sisi lain Ordo adalah ketuanya. Andaikan ia membantu Ray maka dirinya akan dicap pengkhianat.
Maka yang bisa ia lakukan hanyalah berdiam diri dan tetap berada di pihak netral. Baik atau buruknya ia akan tahu nanti. Jika saatnya tiba waktu untuk bergerak memihak satu sisi, disitulah ia akan bergerak.
“Maka kamu hanya seorang newbie. Kamu bisa berpindah sisi ke pihakku. Tentunya kamu akan mendapatkan hak yang sama tanpa perlu bagiku memberi pemberat untukmu.”
Ray memikirkannya. Bukan pilihan buruk untuk berganti sisi karena ia takkan mendapatkan keuntungan apapun dari Redwest.
Namun sayangnya ia harus memilih opsi paling aman ketimbang paling menguntungkan. Satu hal yang tak bisa ia tinggalkan adalah rencana jangka panjang yang ia miliki.
“Sayangnya aku bukan orang yang akan bergerak karena hal sepele seperti. Maaf namun ada beberapa hal yang tak bisa kamu beli dengan harta benda.”
Ordo melebarkan matanya. Ia terkejut bahwa Ray tak tergerak. Meski begitu bukan berarti ia menilai Ray sebagai orang yang setia.
“Sayangnya tak ada apapun yang aku inginkan saat ini selain tetap hidup.”
“Aku akan melindungimu dengan segala cara.”
“Faktanya kamu takkan mengerahkan seluruh pasukan untuk menjadi kereta kuda yang menarikku.”
“Itu memang tidak mungkin, namun situasinya lebih baik ketimbang Redwest yang telah runtuh.”
“Ya, namun pada akhirnya tak ada cara apapun menyelamatkanku dari tugas, andaikan tugas ke lima berhasil diselesaikan.”
Setelah perdebatan panjang tersebut Ordo akhirnya terdiam. Bukan menerima sebuah kekalahan dari perdebatan, namun ia justru tersenyum lembut.
“Kamu memiliki bawahan yang setia, Erina. Bahkan tanpa belenggu dari Degree-mu ia tetap di sisimu.”
Ray tak tahu mengapa reaksinya demikian. Apakah ia ingin menghancurkan Erina atau justru peduli kepadanya?
Ia tak percaya dengan reaksi yang kontradiksi dengan hal yang tampil di permukaan.
“Kamu tampak peduli dengannya. Aku telah beberapa kali memikirkannya bahwa kalian tak benar-benar bermusuhan.”
Ordo menatap langit dengan senyuman yang sedih dan kesepian. Itu wajah yang lembut dan tak seperti image yang biasanya ia tampilkan.
“Yah ... sesuatu yang kamu lihat di permukaan saja takkan mampu menjadi penentu baik-buruknya. Ini bukan hal penting. Aku akan membawa Erina bersamaku. Andaikata aku coba macam-macam dengannya. Maka tembak saja kepalaku. Aku berjanji pasukanku takkan menyerangmu.”
Ordo memberikan tanda dan menyampaikan dengan keras bahwa jangan coba menyerang Ray dan Terumi bahkan setelah dirinya terbunuh.
Andaikan Ordo mati maka posisi ketua akan dimiliki Sebastian. Dan, orang tua itu takkan melakukan hal-hal apapun kepada Ray ataupun Terumi.
Terumi juga menjelaskan bahwa Ordo dan Sebastian adalah orang yang memegang perkataannya. Ia bisa menjamin bahwa takkan ada kebohongan diantara mereka.
“Baiklah, untuk berjaga-jaga bawalah bom ini.”
Ray membawa bom persegi yang akan meledak jika ia menekannya. Ordo tak menolak sama sekali. Andaikata ia membunuh Erina maka bom akan langsung membunuhnya. Dan, Ray takkan berani meledakkannya sembarangan karena Erina juga akan terkena akibatnya.
“Ini hanya kekhawatiranku bahwa kamu berperan menjadi orang yang setia. Untuk lebih adilnya, meski menyakitkan, namun biarkan Terumi yang memegangnya.”
Terumi bukan tipe orang yang akan terpedaya dan mampu dikendalikan oleh orang lain. Hal itu sudah jelas karena Ordo tak ragu menyerahkan tombol hidup-matinya kepadanya.
Terumi tampak enggan dan merasa bermasalah namun ia tak menolaknya sama sekali. Ordo mengangguk dan membawa Erina turun bersamanya. Ia mengandalkan satu tangannya untuk bergelantungan kepada dinding. Terus melakukannya sampai ia berhasil turun dengan selamat.
Ordo hanya berjalan santai, ia bahkan tak coba menyingkirkan bomnya. Dan, Terumi merasa sedikit lega karena ia tak perlu melakukan pembunuhan.
“Aku akan turun lebih dulu sementara kamu di sini memantau kalau saja ia melakukan hal-hal yang tak sejalan dengan kata-katanya.”
“Kamu terlalu waspada Ray. Namun baiklah, aku akan melakukannya untukmu.” Tak menolak dan menerimanya dengan lapang dada. Ia coba mempercayai Ordo yang takkan meninggalkan kata-katanya.
Ray tak coba membuang waktu dan melangkah untuk turun. Meski ada beberapa hal yang mengganggu namun bisa diabaikan.