The Degree

The Degree
Akhir Dari Open World



Pilar raksasa yang berdiri di setiap sisi Open World. Empat jumlahnya. Pilar tersebut memiliki pelataran yang amat luas sehingga tak perlu khawatir orang-orang akan berdesak-desakan.


Lantai dan dinding di desain warna hitam beton yang dingin dan tebal. Meski hanya ada beton misterius dan tak ada pencahayaan seperti lampu, anehnya tempat ini tak terkesan gelap, seakan-akan ada sumber pencahayaan yang tersembunyi.


Wajah semua orang menampilkan hal yang sama, mereka gelisah dan ragu apakah Shelter ini mampu menahan ledakan nuklir yang maha dahsyat. Di perang dunia ketiga yang terjadi lebih dari setengah abad lalu, sepertiga umat manusia tewas karena perang nuklir.


Banyak tanah tak lagi dapat ditumbuhi tanaman, tak sedikit tempat yang rata oleh tanah, dan tak jarang juga orang mati karena kelaparan yang melanda.


“Di mana Ray?” tanya Terumi dengan khawatir lantaran tak kunjung menemukan orang yang dicari.


Hiroshi masih memejamkan matanya, ia mengunyah rumput yang diambilnya dalam perjalanan, “Tak perlu khawatir. Bahkan jika orang yang kamu cari tak berada di tempat ini, setidaknya dia akan aman.”


“Aku tak tahu dari mana kepercayaan dirimu berasal.” Mona tampak ragu dengan apa yang dikatakan Hiroshi dan menatapnya tajam.


“Aku adalah seorang samurai yang memiliki prinsip untuk tak berbohong. Jika aku sampai melakukannya, maka sumpahku adalah mengakhiri hidup ini dengan seppuku.”


Terumi lekas menghentikan Mona untuk tidak mendebatnya lebih jauh. Meski ia ragu bahwa ada orang yang masih memiliki penyakit chuuni seperti ini, lebih baik menghindari orang aneh sepertinya karena tak ada yang lebih merepotkan selain chuuni untuk dihadapi.


“Terumi! Mona! Kalian baik-baik saja?!” Dari jauh Leo berlari dengan gembira selagi mengangkat tangan kanannya.


Terumi dan Mona senang karena Leo datang dengan selamat meski penampilannya tampak kacau, mereka kemudian mengerutkan alisnya saat menemukan bahwa Leo datang dengan orang asing.


“Kami baik-baik saja, syukurlah kamu juga tampak demikian.” Terumi menyampaikan syukurnya.


“Namun siapa orang ini? Wajahnya entah bagaimana mengesalkan.” Mona menatap pria pirang dengan jengkel.


“Hentikan itu, cantik. Ketampananku memang luar biasa, tolong jangan membuatku salah tingkah dengan membicarakanku di depanku langsung.”


“Namaku Guren Marckwel. Bisa dibilang aku satu kelompok dengan bocah samurai ini.”


Terumi tampak ragu sesaat dan melihat Hiroshi dengan penuh arti. Hiroshi tentu menyadari tatapan itu, ia sedikit menatap Terumi sebelum mengangguk dan memejamkan matanya lagi.


‘Sungguh, siapa orang-orang ini dan mengapa mereka membantu kami?’ Pertanyaan tiada henti muncul di kepala Terumi.


Baginya mendapatkan pertolongan dari orang asing semacam ini sungguh tidak dimengerti. Seingatnya di persekutuan Redwest dengan Blueeast, tak ada orang-orang seperti ini.


“Aku tahu kamu cemas dengan ketampananku, tetapi sayangnya aku lebih menyukai wanita jenis kakak perempuan.”


Terumi semakin jengkel karena orang ini mengambil kesimpulan aneh seenaknya. Meski begitu ia tak mau mencoba berpendapat karena tampaknya jika ia perang kata-kata dengan pria ini, besar kemungkinan dirinya kalah.


Orang yang banyak membicarakan omong kosong adalah yang paling merepotkan untuk dihadapi.


“Apa kalian hanya berdua saja? Di mana yang lainnya?” Leo mengalihkan topik dalam rangka mencairkan suasana, sejujurnya ia sendiri tidak ingin berurusan terlalu jauh dengan Guren dan lainnya.


Jika Terumi dan Leo mengkhawatirkan Ray yang terluka pergi bersama orang terluka lainnya, maka Mona lebih mengkhawatirkan Arthur. Pria yang menghadapi orang berbahaya seperti Virgo sendirian.


Meski ia tak mengetahui apa Degree-nya, Mona yakin bahkan tanpa Degree, Virgo lebih dari mampu menjadi orang yang membahayakan nyawa Arthur.


Selang waktu beberapa menit kemudian Ray datang dengan seorang wanita dengan pembawaan seperti pria namun begitu anggun seperti tuan putri.


“Arthur!” Mona lekas melompat ke pelukan Arthur dan sedikit menangis, ia tak lagi memikirkan pendapat orang di sekitarnya, “Syukurlah kamu baik-baik saja!”


Arthur menepuk lembut kepalanya selagi tersenyum penuh kehangatan. “Ya. Maaf telah membuatmu cemas.”


“Omong-omong di mana yang lainnya?” Arthur lekas bertanya setelah memberikan tepukan lembut pada Mona. “Aku tidak menemukan Ray ataupun Erina dalam perjalanan. Sementara Ordo, kita harusnya tahu apa yang terjadi padanya.” Arthur menyampaikannya dengan pahit.


Orang yang terluka seperti Ordo namun bertarung dengan sangat keras melawan Sebastian, dengan luka di perutnya tidak sulit membayangkan bagaimana orang itu berakhir.


Bahkan jika Ordo berhasil membunuhnya, pada akhirnya ia akan tetap mati karena kehabisan darah dan stamina karena menggunakan Degree-nya. Menggunakan Degree-nya disaat terluka seperti itu, bagi Arthur tak ada bedanya dengan Ordo memotong umurnya sendiri.


“Begitu, ya. Ordo mengorbankan nyawanya untuk kita.” Terumi mengepalkan erat tinjunya karena merasakan frustasi. “Tentang Ray, ia juga belum ada di sini. Aku dan Mona yang pertama sampai di Shelter.”


Arthur mengerutkan alisnya dan memandang Indri dengan penuh kecurigaan, “Apa kamu telah melakukan sesuatu kepadanya? Bahkan jika ini tempat perlindungan, tak ada peraturan tertulis yang melarangku membunuhmu.”


Meskipun hanya gertakan, Arthur jelas memperlihatkan kesungguhan di wajahnya. Dengan situasi seperti ini bahkan Indri takkan mengambil risiko.


Guren dan Hiroshi kemudian berjalan dan mengambil posisi di depan Indri seakan untuk melindunginya. Sontak hal itu membuat Terumi, Leo dan Mona bersiap andaikan pertempuran akan pecah.


“Fufu, dasar kera berdarah panas. Hanya karena satu rekan kalian tak kunjung datang membuat kalian berniat bertengkar? Sangat bodoh.” Kata-kata itu tak ditujukan untuk Arthur saja, tetapi juga kepada Hiroshi dan Guren.


“Aku hanya bersiap saja kalau orang-orang ini bertindak bodoh.” Guren tersenyum masam.


“Membiarkan tuannya terluka adalah aib bagi samurai. Ketimbang menjalani hidup dengan memalukan karena membiarkanmu terluka, kelak aku akan melakukan seppuku.”


Indri tak menanggapi pernyataan keduanya, “Yah, meski aku tahu kamu takkan memulai perkelahian mengingat orang itu ada di sini juga. Monyet dan teman-temannya pasti telah melepaskan topengnya.”


Hanya satu kelompok yang bisa dijelaskan dengan topeng yakni, Rebellion. Tak diragukan lagi bahwa orang-orang itu ada di sini untuk berlindung. Mereka melepaskan topengnya untuk membaur dengan pengungsi lainnya.


“Sembunyikan daun di dalam hutan, kah," ujar Mona.


“Yah, mengenai pria Ray ini. Aku yakin ia akan baik-baik saja. Ben bersamanya jadi tak perlu dikhawatirkan.” Indri tampak tak peduli sama sekali tentangnya.


Sikapnya yang seperti itu membuat Arthur semakin curiga tentang wanita ini. Belum lagi pertanyaan terbesarnya adalah mengapa orang-orang ini menolongnya.