The Degree

The Degree
Kremasi



Robot unik berbentuk kapsul yang terbang dengan mekanisme serupa seperti drone. Robot itu datang mengantarkan pesanan Reid yang ia beli melalui Market.


Keberadaan teknologi ada untuk mempermudah pekerjaan manusia. Bahkan robot pengantar barang seperti ini bukan sesuatu yang asing di dunia luar.


“Aku cukup penasaran mengapa Secret tak membuat hal ini di Open World.”


Menggunakan robot pengantar barang jauh lebih efisien ketimbang harus pergi ke ruang bawah tanah setiap kali ingin membeli barang dari Market.


Ray bisa menebak alasan sederhananya. Salah satunya adalah menghindari robot disabotase pihak lain sehingga barang itu tak sampai ke pembeli. Meski begitu, perlu diragukan apakah Secret orang yang baik hati.


Bertepatan dengan Ray yang menerima pesanannya, Eric datang membawa kantong plastik lainnya. Namun bedanya ia tak sendiri kali ini.


Dua gadis yang terlihat murung selagi sesekali menahan muntah membawa satu kantong plastik masing-masing.


Ray menatap Eric, secara tak langsung ia mempertanyakan kewarasan pria ini untuk membiarkan gadis lemah seperti mereka melakukannya. Selain itu, proses kremasi yang akan mereka lakukan akan membuat kedua gadis ini, mungkin ketakutan.


Kremasi bukan sesuatu yang asing, tetapi prosesnya amat berbeda dengan seharusnya.


“Mereka memaksa untuk membantu. Aku tak bisa menahan mereka.” Eric terlihat menyesal karena gagal menghentikan Terumi dan Mona.


Ray tahu bahwa keduanya mungkin keras kepala. Namun Ray tak tahu apa alasan mereka memaksakan diri melakukan pekerjaan menjijikkan ini.


“Kalian tidak harus melakukan ini. Aku dan Eric lebih dari cukup,” ujar Ray.


“Tidak,” Terumi menggelengkan kepalanya. “Aku harus bisa menghadapi ini. Di masa depan, mungkin aku harus melihat yang lebih buruk.”


Terumi pernah melihat orang mat, orang yang kehilangan kaki tangan hingga kepalanya. Namun hal tersebut tidak bisa dibandingkan dengan organ dalam manusia.


“Aku kagum dengan kalian berdua bisa baik-baik saja melihat ini.” Mona menyerahkan kantung plastiknya sebelum berbalik menjauh lalu muntah.


“Bahkan ini tidak mudah bagiku,” ujar Eric dengan senyuman pahit dan wajah menyakitkan.


Organ dalam manusia bukan sesuatu yang orang akan mudah terbiasa dengannya. Entah bagaimana dengan Eric yang membuatnya baik-baik saja.


Ray sendiri mengalami beberapa dampak tak mengenakkan dari melihat hal-hal ini. Kepalanya terasa sedikit pusing dan perutnya seakan ingin mengeluarkan isinya. Untungnya Ray mampu menahan semua hal tersebut sehingga ia tampak kuat dipermukaan.


Eric mengumpulkan semua plastik di satu tempat yang sama. Melihat dirigen yang Ray miliki, Eric tahu bahwa Ray sungguh-sungguh akan melakukannya.


“Kamu sebaiknya menjaga jarak dari ini. Lagi pula, kamu tak harus menyaksikannya.” Eric khawatir bahwa pemandangan ini akan membuat para wanita ketakutan sampai terbawa ke dalam mimpi.


“... kamu mungkin benar.” Terumi tentunya tidak mau melihat langsung proses pembakaran tubuh manusia. Bahkan jika ia tak melihatnya, imajinasinya lebih dari mampu menggambarkan hal yang terjadi.


Ray menuangkan minyak tanahnya sampai habis ke seluruh kantong plastik juga sekitarnya. Ia lupa untuk memesan korek api. Tentu sebenarnya ia memilikinya namun Ray telah meninggalkan di kamar Erina sewaktu datang menemaninya.


Tak ada pilihan lain, Ray mengeluarkan pistolnya dan menembakkan satu peluru. Peluru mampu memercikkan api dan panah sehingga minyak tanah akan ikut terbakar. Meski tindakannya adalah sebuah pemborosan, Ray takkan menganggapnya tak sepadan.


‘Dengan ini, aku memiliki rencana sempurna untuk dijalankan.’


...****************...


Satu minggu setelah insiden besar tersebut. Rumor dengan cepat beredar tentang penemuan mayat yang termutilasi dengan mengerikan.


Sejak insiden itu orang-orang mulai mejadi waspada dan tak membaur seperti biasa. Bahkan malam hari menjadi sangat sunyi yang mana biasanya orang akan datang melihat kunang-kunang.


Di waktu yang krusial ini Ray mendapatkan jadwal pertemuan dari orang yang tidak bisa diabaikan. Ray pergi ke kebun teh yang mana tidak ada siapapun di sana.


“Kamu datang, Ray Morgan.”


“Alexis Sanchez, kah,” Ray tidak menduga bahwa orang ini yang akan menjadi penyampai pesannya. “Langsung saja tanpa basa-basi. Berikan apa yang aku butuhkan.”


Ray tak mau kontak ini diketahui oleh siapapun karena akan membahayakan posisinya. Rebellion adalah kelompok kuat yang dimusuhi oleh hampir semua orang.


Tentunya tidak ada siapapun yang lupa tentang Open World. Banyak orang meninggal di sana karena pertempuran ataupun dikorbankan.


‘Rebellion adalah penyebab hancurnya Open World’ berkat stigma tersebut Virgo memiliki posisi tidak menguntungkan meskipun yang mengaktifkan nuklir adalah Indri.


Pencemaran nama baik jelas sesuatu yang sangat membahayakan di tempat ini.


“Sebelumnya aku mau bertanya tentang kejadian satu minggu lalu. Apa kamu memiliki keterkaitan tentang insiden itu?”


Tentunya pertanyaan ini sudah diharapkan. Mau bagaimanapun pasti ada beberapa saksi yang mengenal Ray bertindak.


“Aku ada di lokasi kejadian saat itu terjadi.”


“Jadi kamu ikut andil dalam pembakaran jasadnya?” tanya Fexis tajam.


“Aku hanya membantu memindahkan. Selebihnya adalah tanggung jawab pria pirang itu.”


Alexis mungkin menggunakan topeng namun Ray bisa menebak bahwa orang ini menatapnya dengan tidak percaya.


“Begitu. Namun aku dengar bahwa kamu adalah orang yang menyarankan membakarnya.”


Tentunya itu adalah kebohongan yang dibuat oleh Alexis. Mau bagaimanapun, di lokasi tersebut hanya ada Ray dan Eric saja. Jika memang itu bocor maka hanya Eric yang perlu dicurigai.


“Itu aneh karena aku tak ingat mengatakannya.”


“Begitu. Maka biarlah.” Alexis kemudian melemparkan sesuatu ke arah Ray.


Sebuah benda seukuran genggaman tangan diterima oleh Ray. Ia menemukan bahwa benda itu adalah flashdisk. Tampaknya apa yang Ray butuhkan ada di dalamnya meskipun tidak ada kepastian apakah ini benar atau tidak.


Namun tak perlu dikhawatirkan bahwa Ray juga memegang kartunya sendiri.


“Kamu harus tahu bahwa besar konsekuensinya jika mencoba memberikan barang palsu untuk menipuku. Satu hal yang bisa aku janjikan padamu jika itu terjadi. Kalian akan menemukan akhir menyedihkan.”


Selain itu kondisi yang diinginkan oleh Virgo takkan terpenuhi jika pada tahap ini Ray tidak mendapatkan setidaknya separuh data tentang Arthur.


Alexis tentunya tahu akan hal itu. Ia tidak akan bertindak bodoh dengan memberikan tipuan dangkal.


“Tenang saja. Data di dalamnya akan melebihi ekspektasi milikmu,” ujar Alexis dengan tenang.


Ray mau tak mau harus mempercayainya karena tak ada pegangan lain yang bisa ia gunakan.


“ Sebelum fajar hari terakhir waktu istirahat berakhir. Di waktu itulah kondisi yang diinginkannya akan terpenuhi.”


Ray memberikan sedikit penjelasan untuk keamanannya sendiri karena isi flashdisk ini tidak diketahui. Biarkan mereka mewaspadai apa yang akan terjadi nantinya.


“Itu absurd namun sudah cukup. Anggap pertemuan ini tidak pernah terjadi.”


“Tentunya.”