The Degree

The Degree
Pembagian Tim



Ray kembali menemui Terumi dan yang lainnya. Dia menjelaskan bahwa baru saja berbicara dengan Ryouma tanpa topeng. Tentunya Ray tak menjelaskan pembicaraannya, dia hanya beralasan bahwa Ryouma datang untuk menanyakan siapa yang membunuh Virgo.


Selain itu, Ray membuat ancaman palsu kepada rekannya bahwa Ryouma bisa saja mengincar mereka atas tuduhan membunuh Virgo. Kebohongan seperti ini sangat diperlukan sekarang.


“Aku tak menyangka dia satu-satunya yang tersisa dari eksekusi Rebellion,” ujar Leo dengan wajah prihatin sekaligus sedih.


“Terlepas dari tindakannya yang keji, di sisi ini sia tampak begitu menyedihkan.” Bahkan Terumi setuju akan hal itu, hanya Eric yang bertentangan.


“Bukankah itu bagus? Para bajingan akan terus berkurang. Selain itu, bukan hal buruk membuatnya mengincar bajingan Arthur itu!”


Eric berhasil menekan kesedihannya akan kematian adiknya meski emosi tersebut bisa saja lepas kapanpun. Meski berhasil menekan sedih, kemarahan dan kebenciannya tak terelakkan. Melihat dia bisa tetap berpikir jernih patut untuk disyukuri.


“Mari kita kembali pada tugas terakhir. Bisa dibilang kita sudah sangat dekat dengan pintu keluar menuju kebebasan. Hanya saja ada banyak hal yang mungkin belum terungkap tentang The Degree ini.” Ray sekali lagi memperingatkan mereka untuk tak berleha-leha.


“Ya, tugas ini juga tampaknya akan meluas dan menjadi yang terpanjang. Mulai dari masalah keuangan, anggota dan kecakapan dalam menyembunyikan rahasia akan menjadi hal yang penting,” ujar Terumi, mengulang penjelasan yang telah dijabarkan oleh Ray.


“Selain itu melindungi kunci selagi mencari kunci adalah jalan utama untuk menyudahi permainan ini. Dikarenakan kunci hanya dimiliki ketua, maka sangat mungkin aliansi sulit dilakukan,” ujar Leo, ikut menjabarkan.


Ray mengangguk puas karena semuanya tak lupa. Dia sudah merencanakan beberapa hal sebelum keberangkatan. Ini tentunya akan menjadi langkah awal yang sulit.


“Aku, Terumi dan Leo adalah ketua dari satu kelompok. Tampaknya di tahap awal ini kita tak bisa pergi melalui jalan yang sama.”


Terumi cepat memahami situasinya, “Kita harus berpisah, ya?” dia terlihat sedih saat mengatakannya.


Mungkin karena dia takut seperti saat pertama kali berpisah yaitu di tugas pertama. Ada banyak hal yang terjadi. Saat pertama tak ada berat hati untuk berpisah karena baik Terumi ataupun Leo belum mengenal Ray dengan baik.


Namun situasinya saat ini berbeda. Meski belum terbilang lama, hari-hari yang mereka jalani dari Open World hingga sekarang sudah terasa seperti pertemanan bertahun-tahun lamanya. Berpisah di lingkungan yang diciptakan Secret sungguh berat rasanya. Parahnya lagi setiap tugas darinya selalu menuntut kematian.


Ray melihat kegelisahan Terumi dan Leo akan hal itu. Dia perlu meredakan kecemasan tersebut.


“Tenang saja, ini berbeda dengan saat terakhir kali. Meski aku bilang kita akan bergerak sendiri, sebenarnya ini hannyalah masalah penempatan. Secret tentunya tidak mungkin membuat jarak antara ketua kelompok saling berdekatan.”


Bahkan jika mereka membangun aliansi sekarang Secret bukan sosok toleran yang akan menempatkan mereka di tempat yang sama.


“Itu artinya mustahil membangun kelompok besar yang terdiri dari beberapa ketua di tahap awal ini, kan?” tanya Leo dengan wajah terkejut.


“Itu perhitungan yang masuk akal,” ujar Eric yang juga mulai memahami. “Jika semua ketua kelompok dipisahkan agar tak langsung bertemu di awal maka itu akan menghindari keberadaan kekuatan mutlak di tahap awal tugas ini.”


Jika ada lima ketua kelompok dengan anggota maksimal membangun aliansi dan ditempatkan di tempat yang sama, maka mereka akan jadi yang terkuat. Perburuan besar-besaran pasti akan terjadi dan kekacauan tak terhindarkan.


Bahkan jika tidak begitu, sangat mungkin memonopoli wilayah bagian tertentu dan mengeliminasi ketua kelompok di sekitar wilayah tersebut.


“Selain itu, ada keuntungan dari penempatan secara acak ini. Salah satunya adalah kita tak perlu terburu-buru karena khawatir ada orang yang berhasil mendapat sepuluh kunci di tahap awal,” lanjut Eric.


Ray mengangguk, sekarang dia mulai menyukai Eric karena cara berpikirnya yang tajam. Bahkan, orang itu menemukan ada keuntungan besar dari penempatan secara acak ini.


“Eric benar. Ini keuntungan yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya.”


“Keuntungan seperti apa yang kamu maksud?” tanya Terumi.


Ray tersenyum dan menjelaskan bahwa dengan pemecahan ini akan menguntungkan bagi mereka untuk memahami situasi di tempat lain. Mengamati ada berapa banyak kemungkinan pengguna Degree di sana, dan berbagai hal tentang wilayah itu sendiri.


“Jakarta adalah kota yang besar. Aku ingin masing-masing dari kalian mengamati, dan mencari informasi yang bisa berguna tentang wilayah tempat kalian akan ditempatkan nantinya. Dan, aku ingin kalian untuk tak melakukan pemborosan terhadap DP. Tak masalah menggunakannya untuk makan, tempat tinggal dan pakaian. Hanya saja jangan berlebihan, terutamanya kamu, Terumi.”


Terumi menunduk dan pipinya sedikit memerah, “Y-ya.”


“Memangnya apa yang akan kita dapatkan hanya dengan informasi wilayah?” tanya Leo.


“Aku yakin tak sedikit orang akan memikirkan hal ini jika mereka memahami alasan dibalik konversi DP ke uang tunai dengan nominal yang lumayan gila. Yah, aku tak bisa mengatakan rinciannya. Untuk saat ini tahap awal rencanaku adalah membangun perusahaan khusus.”


Terumi, Leo bahkan Eric diam seribu bahasa. Mereka mungkin kesulitan mencari korelasi antara tugas terakhir dengan perusahaan. Perusahaan dan DP adalah dua hal yang sangat jauh. Wajar bagi mereka tak mengerti apa-apa.


“Mengapa ... perusahaan?” tanya Leo.


“Apa kamu ingin mendapatkan uang lebih tanpa menukarkan DP secara berlebihan?” tanya Eric.


Ray tersenyum, “Kamu tepat sasaran. Kita masih tidak tahu dengan jelas apakah DP hanya berfungsi sebagai penukaran tunai atau ada tujuan lain dari keberadaannya.”


Meski uang tunai bisa ditukarkan dengan DP, nyatanya mereka hanya bisa mendapatkan lebih sedikit ketimbang dari tugas yang tersedia. Untuk alasan itu mereka perlu memiliki sesuatu yang akan mendatangkan uang secara konsisten.


Tak hanya menjaga DP tetap aman, mereka juga dapat menambahkannya sedikit demi sedikit jikalau menukarkan tunai dengan DP. Selain itu, memiliki perusahaan akan membuat Ray bisa melakukan sesuatu yang besar tanpa menggerakkan bokongnya.


“Aku mengerti. Memang benar bahwa mungkin tidak akan mudah mencari pengguna Degree yang bersembunyi di dunia luar nantinya. Itu langkah yang tepat mengingat besar kemungkinan tugas terakhir takkan selesai kurang dari satu tahun,” ujar Eric.


Bahkan Ray sendiri memiliki keyakinan besar bahwa tugas terakhir takkan selesai dalam waktu yang cukup singkat. Tentunya, jika orang-orang yang menjadi ketua cukup pintar maka semuanya akan berlangsung lambat, namun lain cerita jika ada sekelompok orang bodoh yang bertindak mencolok.


Setelah memahami tujuan Ray ingin membangun sebuah perusahaan, Ray mengganti pembicaraan tentang titik pertemuan mereka nantinya dan pembagian kelompok.


“Terumi dan Eric terluka, maka mereka harus memiliki rekan yang akan membantunya. Kalau begitu, Erina, kamu akan pergi bersamamu Terumi. Jaga dan ikuti dia dengan baik, ya.”


“Ya.”


“Sementara Eric, kamu akan bersamaku. Apa keberatan?” tanya Ray, memandang Terumi dan yang lainnya.


Terumi tampak tidak keberatan dan tentu saja Erina hanya bisa menurut padanya. Sementara disisi lain tampaknya Leo menjadi pihak yang keberatan.


Leo mengangguk, “Aku tak pernah ke Indonesia dan bahkan tak memahami bahasanya. Kita bisa berkomunikasi seperti ini karena teknologi Secret. Bahkan jika nantinya aku mengerti apa yang dikatakan orang-orang di luar sana, belum tentu mereka akan memahamiku.”


Secret membantu para pengguna Degree memahami bahasa satu sama lain, namun itu mungkin hanya berlaku bagi mereka yang mendapatkan teknologi Secret saja.


Jika di dunia luar, memang mungkin memahami apa yang orang lain katakan tak peduli di negara manapun itu. Hanya saja apakah pihak lain akan memahami apa yang akan pengguna Degree ucapkan nantinya?


“Kamu ada benarnya. Eric, apakah kamu pernah ke Indonesia atau setidaknya memahami bahasanya?” tanya Ray.


“Aku pernah berlibur ke bali sebelumnya. Sedikit-banyak aku bisa mengerti bahasanya.”


Itu menenangkan karena Ray tak perlu melakukan hal merepotkan untuk menolong Leo nantinya.


‘Namun jika Eric pergi bersama Leo, ada hal yang mengkhawatirkan.’


Ray teringat tentang pengamat yang dikatakan Ryouma. Ada kemungkinan salah satu dari rekannya adalah pengamat yang bisa saja membahayakannya.


‘Terumi akan berada di bawah pengawasan Erina. Awalnya aku akan menyelidiki Eric namun tampaknya itu telah tidak dimungkinkan.’


Dia tak khawatir tentang Erina karena sudah ada di bawah kendalinya. Meskipun ada kemungkinan Erina memainkan peran atau acting, Ray tak peduli karena selama dia masih melakukannya Erina takkan bertindak aneh selama belum mendapatkan apa yang mungkin dia incar.


“Kalau begitu Eric akan bersama Leo,” ujar Ray. “Selanjutnya kita akan menentukan titik pertemuan kita.”


“Tunggu, Ray,” Terumi menghentikan diskusi. “Apa kamu tak masalah bergerak sendirian?” tanya Terumi dengan khawatir.


“Bukan masalah. Tempat itu bukannya asing bagiku. Selain otu aku cukup percaya diri dalam menjaga diri.”


Ray tak perlu mengkhawatirkan shock culture ataupun tak memahami bahasa. Dia berasal dari Indonesia, bisa dibilang kampung halamannya.


“Begitu. Ya, tidak masalah jika kamu tak keberatan.”


“Untuk titik pertemuan adalah monas. Tempat itu salah satu yang sering dikunjungi wisatawan, tak perlu khawatir ada serangan dari pengguna Degree karena itu tempat umum. Selain itu, mari kita bertemu setelah dua bulan dari sekarang.”


Ray menjelaskan selama dua bulan nantinya mereka akan bergerak sendiri-sendiri. Mulai dari mengumpulkan informasi, memulihkan diri dan bersembunyi sampai waktu yang ditentukan tiba.


Dia juga meminta Terumi, Leo, Eric dan Erina untuk tidak melakukan apapun yang akan memancing perhatian publik.


“Aku yakin setidaknya kita cukup dikenal oleh para pengguna Degree karena pernah menjadi tokoh penting di paruh terakhir Open World. Oleh karena itu mengganti penampilan adalah hal yang penting untuk menyamar.”


Terumi dan yang lainnya mengangguk, mereka memahami penjelasan Ray. Sesaat kemudian Eric mengangkat tangannya.


“Bagaimana cara kita akan berkomunikasi nantinya? Media sosial memang populer namun sulit mencari satu sama lain dan ada kemungkinan pengguna Degree lainnya menemukan kita.”


Jika berhubungan dengan dunia luar dan media sosial, maka peretasan adalah hal yang menyusahkan. Mereka harus menghindari sebaik mungkin penggunaan media sosial di beberapa tempat.


“Tak perlu khawatir. Jika sesuatu terjadi kalian bisa mengirim surat ke alamat ini,” Ray menyebutkan alamatnya dan yang lain menghapalkannya. “Aku pasti akan datang menemui kalian jika terdapat kesulitan tak teratasi.”


Tak hanya alamat itu, Ray juga meminta mereka memeriksa tempat tertentu secara berkala agar mereka bisa berkomunikasi tanpa melakukan pertemuan.


Memang menggunakan telpon seluler akan mempermudah segalanya namun untuk sekarang hal tersebut bisa direncanakan nanti.


...****************...


Setelah melakukan perencanaan dan beristirahat selama beberapa jam, mereka mulai memutuskan jalan yang akan mereka pilih. Tak terasa nyatanya hampir semua orang sudah meninggalkan tempat ini.


Mungkin tidak sedikit orang yang merasa tidak sabar untuk pergi keluar dan menghirup segarnya udara. Tentunya pergi keluar sangat besar kemungkinannya menjadi hal yang paling dinantikan ketimbang menyelesaikan tugas itu sendiri.


Hanya ada sedikit orang yang tersisa di tempat tersebut.


“Kalian boleh pergi duluan. Ada hal yang ingin kupikirkan lebih dahulu,” ujar Ray, berhenti berjalan saat tiba di depan lorong.


Terumi dan yang lainnya tentu bertanya-tanya namun mereka tak mau mengganggu Ray lebih jauh. Tidak, itu karena mereka tahu apa yang menahan Ray.


Selain mereka hanya ada satu kelompok besar yang telah menunggu dengan sabar. Orang itu jelas menunggu waktu agar bisa bicsra dengan Ray.


Terumi, Leo dan Erina harus melakukan yang terbaik agar Eric tidak menyadarinya. Jika tahu Ray akan berbicara dengan orang itu, seratus persen Eric akan menjadi sangat marah. Yang terburuk dia memulai perkelahian yang tak diizinkan.


Setelah Terumi dan yang lainnya tak lagi terlihat, Ray akhirnya berbicara.


“Wajahmu tampak sangat membenciku. Apa aku melakukan kesalahan sampai membuatmu begitu marah dan membenciku, Arthur?” tanya Ray dengan santai.


“Kamu bajingan sialan. Menggunakan Degree Erina untuk memerintahku dan Mona melakukan hal yang bertentangan dengan keinginan kami. Kamu sungguh menyelam dengan baik sebagai musuh dalam selimut, ya!” ujar Arthur selagi menahan amarahnya meski sulit menahan ekspresinya.


Ray mengangkat alisnya seakan-akan terkejut, “Apa yang kamu bicarakan? Aku melakukannya karena kamu duluan yang coba menguburku dengan menuduh aku melakukan pembunuhan. Aku hanya membalasmu, itu saja. Kamu tahu, kan? Takkan ada api jika tak ada pemantik.”


“Teruslah beromong kosong!” Arthur berkata kesal seraya meludah.


Ray hanya tersenyum tipis seperti yang biasa ia lakukan, “Kau tahu? Aku bisa saja meminta Erina membuatmu menembak Mona kala itu. Bukan hal yang mustahil membuat situasi di mana seakan-akan kamu salah tembak. Jika aku melakukan itu, aku sangat yakin kamu akan depresi dan bunuh diri.”


Meski mungkin tidak sampai bunuh diri, Ray cukup yakin tentang Depresi.


“Lalu mengapa kamu tak melakukannya?” tanya Arthur dengan tatapan dingin.