The Degree

The Degree
Orang Berbahaya



Butuh beberapa waktu untuk mencapai pantai, selepasnya mereka pergi ke toko baju agar Ray bisa menggantinya. Meski sia-sia namun Ray beruntung bisa menjualnya dengan harga tertentu.


Dia dan Indri pergi ke mall untuk membeli beberapa pakaian. Sebagai ganti karena menyelamatkannya, Ray telah berjanji akan memberikan Indri beberapa pakaian.


Tampaknya hal itu menjadi keputusan buruknya, tak hanya membeli pakaian saja, tetapi sekarang mereka melakukan hal lain yang tidak seharusnya. Bahkan, Indri sendiri menganggapnya bukan hanya berbelanja.


“Aku tak menyangka kamu akan mengajakku kencan seperti ini, Ray. Fu fu, aku harus memanfaatkannya dengan baik,” ujar Indri, mendekap tangan Ray ke dadanya, “Kamu tampaknya sangat ahli dalam berpakaian, ya? Itu sangat cocok untukmu.”


Ray hanya mengambil kemeja putih, celana hitam panjang dan juga kemeja dengan saku di dalamnya. Meski yang dia ambil hanya pakaian murah namun entah mengapa Indri tampak terpesona olehnya.


“Hal itu juga berlaku untukmu,” ujar Ray.


Indri tampil dengan pakaian formal, celana pria hitam panjang, kemeja putih dan juga rompi berwarna abu-abu. Dia juga menggunakan dasi berwarna kuning bergaris hitam.


“Ho? Kamu tampak kecewa,” ujar Indri. “Apa kamu berharap aku menggunakan sesuatu yang lebih terbuka?” Indri menggoda Ray dan menusuk pipinya, tetapi Ray menepis tangannya.


“Aku tak peduli tentang hal itu. Sekarang prioritas utama adalah tentang peniru ini.”


Mencarinya tidak akan mudah, Ray tahu dengan jelas akan hal ini. Selain itu dia tak memiliki petunjuk apapun dan di kota yang amat luas jelas sulit mencari seseorang yang tak jelas siapa identitas aslinya.


Keduanya pergi ke karaoke dan memesan makanan dan juga minuman. Untuk melakukan pembicaraan mendalam, mereka perlu tempat yang sedikit tertutup.


Setidaknya di ruang karaoke tak ada telinga lain selain yang ada di dalam ruangan tersebut.


“Apa kamu tertarik untuk membawakan satu lagi selagi menunggu makanan, Ray?” tanya Indri sambil menyodorkan mikrofon.


Ray tahu bahwa tujuan Indri adalah membuatnya untuk lebih rileks dan santai. Habisnya ini adalah kebebasan setelah sekian lama, sungguh sia-sia untuk dilewatkan.


“Aku tak tertarik pada sesuatu yang aku tahu tak bisa kulakukan.” Ray menolak tawaran Indri dengan lembut.


Indri tidak tampak kecewa, dia justru membuat wajah yang riang seakan-akan baru menemukan hal menyenangkan, “Ho? Tak hanya berenang namun kamu juga tidak bisa bernyanyi? Ini berita menggembirakan.”


Ray tak tahu apa yang membuatnya begitu senang. Memangnya dia pikir Ray orang seperti apa? Bahkan Ray memiliki banyak hal yang tak bisa dilakukannya seperti berenang dan bernyanyi.


“Bahkan aku memiliki kekurangan. Apapun itu, aku takkan bernyanyi. Kamu bisa melakukannya sendiri.”


“Yah, tak ada salahnya bersenang-senang sebelum makan dan melakukan pembahasan serius.” Indri mulai mencari lagu yang dia suka.


Ray tidak keberatan tentang ini. Selama ini mereka telah melakukan banyak hal yang membuat sakit kepala, sesekali tidak ada hal buruk dari melepaskan stres.


Dengan melepaskan stres yang bertumpuk setelah sekian lama, kinerja otak manusia akan kembali menjadi optimal dan mampu berpikir dengan baik.


Indri mulai bernyanyi dengan baik, dia membawakan lagu bertemakan cinta yang mana itu tidak cocok dengan dirinya. Meski begitu Ray akui suaranya cukup merdu dan nyaman di telinga.


Lagu yang dibawakan juga sangat cocok terhadap suaranya yang lembut. Bertepatan dengan Indri selesai membawakan lagunya, makanan yang mereka pesan tiba.


Ray memesan roti lapis daging sementara Indri lebih memilih dessert. Selesai menghabiskan santapan tersebut keduanya memulai diskusi serius.


“Kita hanya memiliki dua bulan untuk menyelesaikan ini atau setidaknya mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini.” Ray memperjelas situasinya meskipun tahu tidak diperlukan.


“Ya. Aku telah menyuruh Ben dan yang lainnya untuk melakukan penyelidikan menyeluruh tentang orang ini. Akan butuh waktu tak sedikit sampai penyelidikan membuahkan hasil.”


Bahkan jika Indri menggerakkan penyelidikannya, Ray berpikir mustahil untuk bisa melakukannya. Di kota yang luas dan padat akan jadi medan tempur merepotkan.


Kerugian terbesar dari tugas terakhir ini adalah sulit untuk menemukan keberadaan orang tertentu. Bisa dikatakan bahwa penyelidikan lebih lanjut tidak perlu.


Meski begitu situasi ini bukan tanpa harapan. Jika orang yang menyamar jadi Ray adalah tipe orang yang cerdik, maka dia takkan lepas dari pengamatan Ryouma. Oleh karena itu, sekarang waktu yang tepat untuk melakukannya.


“Sebelumnya aku akan membagikan satu hal padamu. Tentunya, ini adalah sesuatu yang aku rahasiakan dari siapapun. Kamu tahu harus apa, kan?” tanya Ray dengan dingin.


Indri tak cukup bodoh tentunya untuk tidak memahami hal tersebut, “Aku tahu. Tenang saja, rahasia ini akan aman sampai mati.”


Ray tak percaya oleh lisan belaka namun untuk sekarang dia tak memiliki banyak cara untuk menghindari untuk mencoba percaya. Selain itu, ini bagus untuk menggertak Indri tak macam-macam dengannya.


Ray mengeluarkan buku yang ia simpan di tasnya, beruntung bahwa bukunya tak hancur saat dia tenggelam dan mengapung di laut.


“Itu ...,” Indri tampak tertarik dengan buku usang yang Ray keluarkan.


Saat Ray membuka halaman pertama, Indri terkejut bahwa buku tersebut berisi sebuah informasi dari pengguna Degree. Belum lagi, informasinya terangkum dan mudah dipahami.


“Ini, dari mana kamu mendapatkan semua ini?!” Indri lebih terkejut lagi ketika memperhatikan setiap lembar berisi informasi dari orang yang berbeda.


Ray mengabaikan hal tersebut dan membaliknya hingga ke halaman belakang. Di sana dia memperlihatkan informasi seseorang yang tidak asing. Tentu saja, itu karena Ray menunjukkan informasi tentang Indri.


Wajar baginya untuk terkejut karena dia merasa tak menyadari jika Ray bisa mendapatkan informasi sebanyak ini. Padahal keduanya jarang bahkan mungkin baru kali ini bersama dalam waktu yang lama.


“Patut kamu tak mau menerima tawaranku karena kamu memiliki informasi ini.”


Indri selalu bertanya-tanya mengapa Ray tak berusaha mencari tahu Degree miliknya. Meskipun Indri telah membuat penawaran untuk membeberkannya asalkan Ray mau melakukan satu keinginannya, namun Ray terus melewatinya.


“Bagaimana menurutmu? Bukankah ini cukup mendekati jawabannya?” tanya Ray, tak sedikitpun melewati kesempatan untuk memahami reaksi Indri.


Di sisi lain Indri justru tak menyiapkan jawaban yang diharapkan Ray, “Sekarang, bagaimana jika kamu melakukan satu hal yang aku mau? Sebagai gantinya aku akan mengkonfirmasi apakah semua di sana benar atau tidak.”


“Kalau begitu aku takkan pernah tahu jawabannya.”


Ray akan menolaknya lagi dan lagi jika diperlukan. Pada saat ini dia tidak ingin membuat kesepakatan yang begitu meragukan dengan orang yang masih tak bisa dipercayai sepenuhnya.


“Yah, sangat disayangkan,” ujar Indri.


Mengabaikan wanita itu, Ray menyempatkan diri untuk membacanya. Dari informasi yang dirangkum di buku tersebut, Indri terkadang tertidur tanpa tahu tempat.


Dia bisa tidur di manapun dan kapanpun dia mau. Tak peduli siapapun itu, seseorang akan dianggap aneh jika bisa tidur tanpa tahu tempat. Ray berkemungkinan akan menganggapnya aneh jika saja tak ada catatan lebih lanjut.


Di buku tersebut dituliskan bahwa;


‘Ketika dia tertidur justru Degree-nya bekerja. Saat Degree-nya aktif tubuhnya menunjukkan respon. Mulai dari keringat berlebih, gemetaran, menggigil, menangis, marah bahkan terakhir kalinya dia tertawa.’


Ray kemudian segera membalik ke halaman lainnya, di mana nama-nama dengan tinta merah berada.


“Apa kamu keberatan?” ungkap Ray kepada Indri, memberikan tanda untuk wanita itu tak lagi membaca bersamanya.


“Kamu pria yang pelit meski aku telah memberikan banyak dukungan padamu. Setidaknya biarkan aku membaca bersamamu,” ujar Indri dengan nada bercanda.


“Sayangnya bahkan jika kita rekan, aku tetap takkan membagikan sesuatu yang tidak perlu dibagikan.”


Ray bahkan tidak membagikan apapun kepada Terumi dan Erina, dua orang yang dipastikan keamanannya. Meski begitu, Ray tidak pernah menerapkan kepercayaan penuh kepada manusia selain dirinya sendiri.


“Yah, bukan Ray jika tidak pelit, namun tidakkah kamu takut aku akan menggunakan Degree-ku untuk melakukan sesuatu kepadamu? Aku tak tahu siapa yang membuat itu, namun bahkan jika apa yang tertulis di sana benar, kamu tak benar-benar tahu apa yang bisa aku lakukan.”


Apakah yang tertulis di buku benar atau tidak, Indri tentu mengatakan berbagai hal dengan hati-hati. Bahkan selagi memberikan gertakan ini dia tak mengungkapkan benar atau tidaknya informasi yang Ray miliki.


Ray menutup bukunya dan menghela napas panjang sebelum menatap Indri dengan datar, “Tidakkah kamu bertanya-tanya tentang mengapa aku tak berusaha mengetahui tentang Degree yang kamu miliki?”


Indri tampak sedikit tertegun oleh tatapan Ray namun dia mengangguk.


“Kamu harusnya tahu itu. Siapapun akan menganggapmu aneh jika tak ingin mengetahui Degree dari orang yang menawarkan diri mengungkapkannya. Apa alasanmu melakukannya?”


“Sederhana saja. Itu karena sejak awal aku tidak pernah berpikir kamu akan sanggup menyaingiku.”


“Fu fu fu, jika orang lain yang mengatakan itu maka aku akan menembak kepalanya.” Indri bergetar dan tertawa dengan senang.


Di sisi lain Ray merasa bingung, dia jujur dari lubuk hatinya tentang apa yang ia katakan dan sama sekali tak ada lelucon.


Ray tak menganggap Indri sebagai ancaman besar yang akan mampu menguburnya. Bukan karena Indri seorang wanita, tetapi Ray amat percaya diri tentang kemampuannya. Bahkan jika Ray tak pernah bisa menggunakan Degree-nya, dia masih bisa memakai otak.


...*********...


Setelah melakukan pembicaraan di karaoke keduanya pergi berkeliling mall terlebih dahulu. Banyak pria dan gadis memperhatikan ke-duanya karena terpesona.


Ray takkan terkejut jika Indri menarik banyak perhatian. Dia cantik dan bahkan bisa dibandingkan dengan Erina.


‘Namun ini aneh ... mengapa aku juga menarik perhatian?’


Entah mengapa tatapan para gadis tertuju ke arahnya. Itu sedikit membuatnya tidak nyaman namun Ray akan berusaha mengabaikannya. Hal yang patut disyukuri adalah Indri memiliki perasaan tidak nyaman yang sama. Dia bahkan mulai mengacuhkannya.


“Hey, Ray,” panggil Indri tiba-tiba. “Apa kamu melihat pria yang tinggi di sana?”


Tampaknya Ray salah paham. Indri tidak mengabaikan perhatian di sekitarnya, tetapi dia mengamati pria di depan mereka saat ini.


Ray ikut menatapnya, mudah menemukan pria yang dimaksud Indri. Selain keduanya, pria itu sangat mencolok.


“Wajahnya jelas bukan orang Indonesia, dia tampaknya dari Korea,” ujar Ray.


“Ya, namun yang lebih penting bukan itu. Apa kamu tak terganggu dengan tubuh dan tingginya itu?” Indri tampak bermasalah, mungkin tinggi badan termasuk hal yang sensitif bahkan bagi wanita sepertinya.


Ray memilih diam terlebih dahulu dan mengamati pria itu. Keduanya saling berpapasan dan mata mereka tidak sempat bertemu karena pria itu tidak memperhatikan Ray.


Meski begitu, Ray mengamati pria tersebut dan menemukan satu hal menarik.


“Sial! Aku merasa sangat pendek. Ini mungkin pertama kalinya aku sangat kesal,” ujar Indri, mendecakkan lidahnya.


“Ya, bahkan aku harus mendongak untuk melihatnya.”


Tinggi Ray dikisaran 180cm, bisa dibilang dia orang yang cukup tinggi. Dan, Indri tidak terlalu pendek, Ray tak yakin namun semestinya dia ada di antara 160 - 170cm.


Namun ketika dihadapkan oleh pria sebelumnya, keduanya terasa kecil.


“Tingginya pasti lebih dari dua meter. Aku kurang percaya orang asia bisa memiliki tinggi seperti itu. Bahkan badannya kekar dan besar.”


Ray mengangguk setuju. Bahkan jika ada genetik campuran barat dan asia, Ray cukup meragukannya karena orang itu tidak terlihat memiliki wajah blasteran.


“Selain itu apa kamu melihatnya? Dia memiliki jam yang sama dengan kita.”


“Apa?” Indri tercengang dan menatap Ray tak percaya.


Jam yang mereka miliki adalah sesuatu yang hanya bisa didapatkan melalui Secret. Ray cukup yakin bahwa tak ada jam dengan model seperti itu di manapun selain Secret.


“Ya, aku yakin tidak salah lihat.”


“Itu artinya ... dia pengguna Degree.”


Ray mengangguk atas tanggapan Indri. Hanya saja, keduanya memiliki kebingungan yang sama.


“Ini pertama kali aku melihatnya,” ujar Indri. “Jika ada orang dengan penampilan mencolok seperti itu harusnya kita pernah melihatnya setidaknya satu kali.”


Pria itu tidak pernah terlihat baik di Open World ataupun Asgardian. Ada keanehan yang jelas tentang pria besar itu.


“Ya. Mungkin saja ada alasan tertentu mengapa dia bisa tidak terlihat selama ini.”


“Tetap saja ... andaikan kita harus melakukan pertarungan fisik dengannya, tidak ada keraguan tentang kekalahan,” ujar Indri.


Untuk yang satu ini, Ray setuju. Bahkan jika Ray menggunakan beberapa trik, kemungkinan dia akan kalah tidaklah kecil. Dengan tubuh sebesar itu, sudah wajar kekuatan fisiknya akan besar.


Selain itu, Ray tahu siapa identitas pria itu andaikan buku pemberian Ryouma benar adanya.


Pria itu tidak termasuk ke dalam redlist namun sebelumnya Ray telah membaca sedikit tentangnya. Dari yang dituliskan, ciri-cirinya sama persis dengan rangkuman tentangnya.


‘Tak salah lagi. Dia adalah Maa Dong Wok. Namanya tercantum di buku ini. Meski informasinya belum tentu benar, setidaknya bagus untuk mengetahui namanya. Dia mungkin harus diwaspadai penuh.’


Ray tidak mau menganggap informasi yang tercantum di buku pemberian Ryouma benar sepenuhnya. Andaikan itu benar, maka Maa Dong Wok adalah orang yang berbahaya.