The Degree

The Degree
Tragedi Pencurian III



Sudah dua jam sejak situasi monas menjadi begitu kacau. Mulai dari barikade dan bahkan tentara berdatangan. Helikopter, kendaraan berlapis dan berbagai hal lainnya, perlengkapan militer skala penuh.


Kota telah diisolasi, tak ada siapapun bisa keluar ataupun masuk untuk menghindari bala bantuan musuh dan musuh yang melarikan diri. Memang berisiko karena warga sipil tak bisa ke manapun.


“Ini sungguh gila. Mengapa para bajingan itu justru menetap di dalam dan bukannya melarikan diri?” gumam Roid dengan sedikit khawatir.


Saat ini Roid dan Ray tengah bersembunyi di sebuah gedung yang tak jauh dari TKP. Hal itu karena keduanya tak yakin bisa tetap bersembunyi tanpa dicurigai.


“Entah apa yang mereka rencanakan. Aku tak yakin orang-orang itu berniat bunuh diri. Selain itu...”


Ray menyadari hal yang ganjil dari situasi ini. Tentara negara ini sungguh kuat, harusnya bisa menyelesaikan situasi ini. Mereka memang mengepung monas, tetapi tidak terlihat melakukan banyak gerakan berarti.


“Kemungkinan besar ada sesuatu di dalam sana yang membuat mereka tak bisa bergerak sembarangan.”


Meski akan diberikan kecaman dan jalan terakhir yang bisa ditempuh, tentara harusnya bisa memberikan gertakan dengan memberikan tembakan peringatan atau apapun.


Namun sejauh ini tidak ada peringatan apapun yang dilakukan aparat negara. Mereka bertindak seperti tidak mau memprovokasi para pengguna Degree di dalamnya.


“Apa mungkin ada orang penting di dalam sana?” tanya Roid.


Itu memang kemungkinan, jika ada orang penting di dalamnya maka wajar tidak memprovokasi adalah tindakan penting.


Kring! Kring! Kring!


Handphone Ray berdering, menunjukkan panggilan datang dari Terumi. Ray izin sebentar kepada Roid dan mengangkatnya.


“Ada apa, Terumi?”


“Aku sudah tiba bersama semua orang dan berada di tempat evakuasi. Tentunya, dengan penyamaran yang pasti. Hanya saja kami kesulitan untuk bergabung denganmu dan Roid.”


Terumi menjelaskan bahwa tentara membuat barikade dan pengamanan yang sangat ketat. Persenjataan lengkap, mobil dan bahkan beberapa tank digunakan untuk menjaga.


Tampaknya situasi ini dianggap dengan sangat serius sampai-sampai negara harus menggerakkan alat berat untuk menanganinya. Ray tak menduga akan seperti ini, kemunculan helikopter saja sudah mengejutkan baginya, namun tidak sampai berharap tank akan digerakkan.


“Aku penasaran apa yang membuat mereka bertindak demikian,” gumam Ray.


Monas dan emasnya memang sangat berharga dan sebuah bukti sejarah. Bahkan jika negara ini tak mempedulikan harganya, mereka sangat peduli kepada sejarah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.


Mungkin untuk alasan itu juga mereka tak mau melakukan sesuatu yang berisiko membuatnya hancur.


“Kamu tak tahu?” tanya Terumi. “Cobalah liat berita terkini. Dari yang dikatakan pemimpin tertinggi negara ini juga disandera.”


Ray tercengang, dia kemudian menatap Roid dan membuatnya membaca berita terbaru. Dari raut wajah Roid yang tercengang, tampak benar bahwa sanderanya adalah petinggi negara ini.


“Ini sungguh gila ... mereka benar-benar sembarang,” gumam Roid dengan tak percaya.


Pengguna Degree memang sekelompok orang spesial mengingat mereka diberkati kemampuan, tetapi bahkan dengan kekuatan itu mereka perlu menyembunyikannya. Keberadaan Degree harus menjadi rahasia untuk saat ini.


Ray bahkan tidak berani mengambil tindakan dengan sembarangan. Namun para keparat ini membuat pergerakan tanpa keraguan sama sekali.


Ray sejujurnya setuju dengan hal itu, dia tidak berekspektasi kekacauannya akan separah ini. Awalnya Ray berpikir jika semua ini hanya sampai pada polisi militer, namun jika tentara nasional telah turun tangan langsung maka tak perlu baginya campur tangan.


Namun Ray penasaran, sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan orang-orang itu untuk melarikan diri. Jika mereka memilih membarikade seperti itu, maka hanya butuh waktu saja agar mereka tertangkap.


‘Sayangnya ini adalah pengguna Degree.’


Pengguna Degree telah terlatih untuk bersikap licik dan menilai tenang segala situasi. Bagi orang-orang itu, berhadapan dengan penduduk selain pengguna Degree adalah hal mudah.


Selain itu, Ray menantikan hal seperti apa yang akan terjadi. Meski berisiko, baginya itu akan setimpal jika mendapatkan sesuatu yang berharga. Hidup ini selalu dipenuhi oleh risiko.


“Kabur dan memantau situasi dari televisi adalah jalan yang aman, namun sayang aku tak terbiasa hanya dengan menonton. Jika harus melakukannya, aku ingin kejadiannya terjadi langsung di depan mataku,” ujar Ray.


Hal itu membuat Terumi yang mendengarnya dari handphone terdiam, sementara Roid di sisi kain mengerutkan alisnya.


“Kamu pasti bercanda. Itu sama saja dengan bunuh diri!” bentak Roid. “Berhentilah egois, Ray. Kita tak bisa melakukan apapun tentang situasi saat ini.”


Roid jelas mulai naik pitam dikarenakan tindakan Ray yang begitu keras kepala untuk tetap berada di tempat.


Di sisi lain Ray sama sekali tak peduli dengan hal itu. Namun mengabaikan Roid juga bukan pilihan tepat lantaran akan menimbulkan perpecahan dari dalam.


“Tenang saja, aku telah memikirkan beberapa hal. Selain itu, selamat di hari ini tak memastikan kita selamat di esok hari.”


Roid mengerutkan alisnya, “Apa maksudmu?”


Ray memandang langsung ke matanya, “Apa kamu memiliki kepercayaan diri bahwa insiden ini akan berakhir tanpa ada pertumpahan darah?”


Tidak ada yang bisa mengatakan dengan pasti. Bisa dibilang pengguna Degree memiliki kebanggaan diri yang besar. Dari pada tertangkap dan dihukum mati, mereka lebih memilih melawan dan mati dalam prosesnya.


“Selain itu, aku meramalkan bahwa identitas Degree tak lagi bisa disembunyikan. Bahkan jika mereka belum tahu nama 'Degree', aku yakin mereka akan tahu bahwa ada manusia yang memiliki kekuatan.”


Saat pihak negara berhasil mengkonfirmasinya, maka manusia dengan kekuatan super akan terungkap kepada dunia. Perburuan akan dimulai segera setelahnya.


Harusnya Secret sedang kerepotan dan perlu membuat beberapa rencana agar keberadaan Degree tetap aman, atau mungkin, sejak awal Secret tidak berencana menyembunyikannya.


“Itu memang benar namun bukan berarti kita harus memilih bunuh diri di sini!” ujar Roid.


Mati sekarang atau nanti memang tak ada bedanya namun tidak ada yang salah dari mencoba tetap hidup selama mungkin.


Ray menghela napas, dia tidak mempunyai pilihan selain mengungkapkan pemikirannya kepada Roid dan Terumi yang mendengarkan dari balik handphone.


“Kau tahu bahwa ada pengguna Degree yang bisa meniru wajah seseorang, kan? Aku curiga bahwa bajingan ini juga terlibat dengan insiden ini.”


Ray menjelaskan bahwa dia memiliki keyakinan penuh bahwa tak ada satupun kelompok besar yang mau melewatkan kesempatan ini untuk mengumpulkan kunci, bahkan Secret mendukung dengan memberikan hadiah hanya dengan berpartisipasi.


“Maksudmu ...” Roid tertegun dan mengambil beberapa langkah mundur.


“Ya. Kita gunakan insiden ini untuk menyelesaikan permainan Secret. Sekali untuk selamanya.”