The Degree

The Degree
Penemuan Arthur



Butuh lebih dari tiga puluh menit untuk menyelesaikan baku tembak yang terjadi. Meskipun Sebastian berhasil melarikan diri namun nyatanya ada sekitar lima ratus orang penyusup yang tertinggal.


Tentunya mereka mencoba melarikan diri setelah kehabisan peluru karena menembaki orang namun hanya ada sedikit dari mereka yang berhasil pergi.


Meski serangan sudah berakhir namun kedamaian tidak kunjung datang. Itu karena pemandangan yang terjadi saat ini tampak seperti neraka. Ada lautan mayat yang tumbang karena serangan mendadak tersebut.


Beberapa menangisi orang terdekatnya, bahkan ada orang yang meminta maaf karena menggunakan mayat orang sebagai tameng melindungi diri.


“Sungguh pemandangan mengerikan.” Ray bergumam selagi menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ray mungkin sudah memiliki pemikiran tentang kejadian seperti ini namun dia tak pernah menyangka akan separah ini. Selain itu ia juga tak bisa berbuat banyak untuk membantunya karena yang ada di pikirannya hanya solusi agar dirinya tetap hidup.


Ia tak peduli tentang bagaimana cara orang lain akan mati dan terluka. Bagian terpentingnya adalah keselamatan dirinya sendiri.


“Bagaimana bisa ... Sebastian menjadi pengkhianat? Lebih tepatnya ... sejak kapan ini terjadi?”


Ray menyadari bahwa Mein dan Erina sungguh terguncang atas pengkhianatan orang terdekat mereka. Bagaimana tidak? Orang yang bisa dibilang sebagai orang terdekat mereka nyatanya musuh di balik selimut.


Selain itu Sebastian sudah dua tahun bersama Ordo. Meski tidak melakukan kontak dengan Mein dan Erina selama itu namun hal tersebut tak menjadikan hubungan mereka buruk.


“Ini kesalahan besar. Aku salah membidik.” kata Erina selagi menggigit bibirnya.


Sebelumnya Erina mencurigai bahwa Ordo akan membelot dan melenyapkannya sesuai dengan tanda-tanda yang disampaikan Ray saat percakapan mereka.


Untuk alasan itu Erina diam-diam memberikan perintah untuk memisahkan persediaan dan senjata mereka dengan Blueeast sebagai langkah antisipasi. Namun siapa yang bisa menebak bahwa orang terdekat merekalah pengkhianatnya.


Saat ini semua orang sedang berkumpul di depan perkemahan yang sibuk merawat luka Ordo. Orang-orang dengan Degree dokter dan yang memiliki kemampuan medis sedang coba menyelamatkan nyawanya.


“Baik-baik sajalah untukku, kakak,” ujar Erina untuk pertama kalinya memanggil Ordo 'kakak' setelah sekian lama.


Ray hanya menyentuh bahunya untuk menenangkannya. Erina menatap Ray dengan sedih dan penuh kecemasan.


“Kamu tidak perlu khawatir. Ordo tampaknya memiliki Degree unik yang membuatnya lebih kuat dari orang biasa. Selain itu, kamu sudah merasakan sendiri khasiat Serum D.”


Erina mampu menggerakkan tangannya hanya setelah beberapa waktu pemulihan yang pada dasarnya memerlukannya setidaknya dua bulan. Peningkatan penyembuhan tersebut jelas takkan dimiliki manusia.


Jika bukan karena khasiat Serum D itu semua akan mustahil terjadi.


“Setidaknya aku yakin bahwa lukanya tak menghancurkan organ vital. Paling banyak hanya sedikit melukai. Harapan kita ada pada bagaimana pengguna Degree kedokteran dan kualitas penyembuhan Serum D.”


Meskipun hanya melukai sedikit organ vitalnya hal itu tetap menjadi ancaman dikarenakan nyawa Ordo bukan berarti sudah terselamatkan. Setidaknya dia telah kehilangan banyak darah.


“... kamu benar. Terima kasih, Ray.” Erina sedikit tenang namun bukan berarti ia tidak khawatir.


Arthur yang melihat semua hal ini hanya mengepalkan tinjunya dengan erat, “Sial! Andai aku mengetahuinya lebih awal semua ini tidak akan terjadi!”


“Arthur ...,” Mona meriah tangan Arthur dengan khawatir dan berusaha menenangkannya meski terkesan sia-sia.


Mendengar apa yang dikatakannya membuat Ray sedikit ingin tahu.


Jika aku tak salah lihat Arthur dan Mona adalah orang pertama yang menghampiri Ordo selagi menyampaikan tentang Sebastian seorang pengkhianat. Pikirnya.


Ray ada cukup jauh dari panggung dan TKP saat itu namun ia yakin melihat Arthur dan Mona berlari ke arah Ordo.


“Kamu mengetahuinya? Apa maksudmu?” tanya Mein yang sedikit menguatkan suaranya.


Arthur sedikit diam dan tampaknya memikirkan sesuatu. Tentunya Ray takkan membiarkannya menyusun apapun di dalam kepalanya.


“Diam hanya akan membuat posisimu buruk. Disituasi seperti ini besar kemungkinan siapa saja bisa jadi penyusup,” kata Ray dingin dengan tatapan tajamnya. “Aku harap kamu tak terlalu banyak berpikir, Arthur. Bahkan jika yang lain sangat mempercayaimu, aku tidak akan bersikap demikian.”


Arthur membalas tatapan Ray dengan tajam. Ia merasa sedikit tersinggung oleh kata-katanya namun apa yang disampaikan Ray adalah kebenaran.


Wajar saja karena situasi ini pasti mengejutkan semuanya. Pikir Arthur.


Arthur menghela napas panjang, “Huh, baiklah. Aku akan mempersingkatnya.”


Menurut ceritanya Arthur sudah curiga ada sesuatu yang terjadi sejak tiga hari yang lalu karena persiapannya berjalan lambat. Harusnya jika tidak ada yang terjadi persiapannya akan tiba tiga hari lebih cepat.


Selain itu di dorong fakta bahwa Virgo juga memberikan jadwal serangan di waktu yang tepat mendorong Arthur menguatkan kecurigaannya.


Secara pribadi dia sendiri melakukan penyelidikan dan menyuruh beberapa orang untuk memastikannya.


“Aku menemukan keganjilan pada sikap Redwest belakangan ini. Mereka yang awalnya coba mendekatkan diri dengan anggota serikat Blueeast mendadak menjauhinya. Tentunya aku memfokuskan penyelidikanku kepada kalian.” Arthur menatap Mein, Erina dan Ray secara bergantian.


Melihat reaksinya Ray justru tampak terkejut sementara Erina dan Mein datar. Arthur bisa menyimpulkan bahwa Ray mungkin tidak tahu apa-apa atau bisa juga hanya sandiwara.


“Aku memerintahkan mereka memisahkan persediaan untuk kami pribadi ... karena aku curiga, kakak akan membelot.” Erina masih tampak bersedih sehingga tak berpikiran dingin.


Arthur kemudian mengangguk, meskipun ia tak mempercayainya sepenuhnya namun dia tak mengejar lebih jauh, “Saat aku hendak melakukannya tanpa sengaja aku melihat sekelompok orang bergerak diam-diam.”


Di dorong oleh rasa keingintahuannya Arthur mengikuti secara diam-diam dan menemukan ada beberapa persenjataan yang disembunyikan. Pada saat itu fokusnya teralihkan dari Redwest ke kelompok kecil itu.


Sampai beberapa jam yang lalu Arthur tak sengaja menemukan Sebastian pergi mengendap-endap dengan sangat waspada. Arthur tak mampu mengikutinya dikarenakan Sebastian bergerak cepat dan sangat waspada.


“Pada akhirnya aku memutuskan menunggunya namun ia tak kunjung kembali sehingga aku harus pergi ke tempat lain. Sampai ketika aku kembali, Mona membeberkannya padaku.” Tatapan Arthur berganti kepada Mona yang mengangguk.


“Aku tidak sengaja melihat Sebastian sedang memberikan arahan kepada beberapa orang dengan persenjataan lengkap. Awalnya aku pikir mereka anggota keamanan pesta namun ketika itu aku mendengar Sebastian menyampaikan ‘Virgo mempercepat rencana dan akan tiba jam dua belas hari ini’.”


Mein mengambil satu langkah mundur karena kejutan yang ia terima. Bahkan Ray sendiri tak menyangka Virgo akan bergerak secepat ini.


“Jam dua belas ... itu artinya masih ada kurang dari dua jam lagi sebelum mereka tiba. Ini waktu yang sangat singkat mengingat banyak orang memiliki guncang mental besar.”


Ray tak yakin bahwa mereka akan berhasil melaluinya. Dilihat dari sisi manapun Ray memastikan bahwa ini adalah akhir dari Redwest dan Blueeast.


Satu-satunya hal yang bisa Ray lakukan hannyalah melakukan rencananya secepat mungkin. Ray tak lagi meragukan fakta bahwa akan ada banyak korban jiwa.


“Kita harus segera mengabari ini. Mein, mari kumpulkan orang-orang. Pada situasi di mana Ordo takkan bisa andil lagi, maka hanya kamu yang bisa memimpin mereka, Erina.” Ray memegang tangan Erina dan berusaha menyadarkan secara perlahan.


Erina mengangguk dan segera pergi untuk melakukan persiapan begitu juga Ray dan Mein. Arthur dan Mona hanya diam melihat kepergian mereka.


“Apa yang harus kita lakukan, Arthur?” Mona bertanya dengan khawatir.


Arthur hanya mengerutkan alisnya dan terlihat kesulitan. Ia mengingat kembali saat ketika dirinya berjalan kembali setelah menyerah menunggu Sebastian.


Saat itu Arthur juga menemukan keanehan lainnya. Keberadaan seseorang yang bukan dari Redwest, Blueeast ataupun Rebellion. Jelas saat itu keduanya saling berpandangan mata.


Arthur hendak memanggil dan mendatanginya namun saat pria itu melalui sebuah pohon, keberadaannya tak lagi ditemukan seperti halnya hantu.


Siapa orang itu? Apa mungkin ada kelompok selain Rebellion yang bergerak di balik layar? Entah mengapa aku merasakan tak ada hal baik yang akan terjadi di masa depan. Pikirnya.