The Degree

The Degree
Kesepakatan



“Gunakan Degree kalian. Serang dia jika macam-macam.”


Lima orang yang mengepungnya mulai mengaktifkan Degree.


Ray tak bisa melawannya begitu saja karena setiap dari lawannya berbahaya.


Si wanita tampak memiliki Degree gunting dan yang satunya adalah pensil.


Sementara para pria adalah palu, tali, dan yang patut diwaspadai adalah pria yang menggunakan tangan kosong.


Ray mampu menebak Degree milik yang lainnya namun pria satunya sulit.


Kemungkinan besar dia mendapatkan Degree berupa "Ahli Bela Diri" atau semacamnya.


Dirinya mungkin terdesak namun berkat hal ini Ray mendapat informasi tambahan mengenai hal yang membuatnya bertanya-tanya.


Dari penjelasan, Degree memiliki makna sama yakni, gelar. Mereka yang telah disuntikkan Serum D akan memiliki gelar tertentu.


Gelar mengikuti kepribadian atau tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang. Dan gelar tersebut kemudian disebut dengan Degree.


Degree bisa bermacam-macam dan tergantung apa yang didapatkan, kegunaannya juga bisa bermacam-macam.


Misal saja seseorang menerima Degree "Menempa Senjata." orang tersebut akan mampu menempa senjata apapun. Entah seberapa jauh batasannya dan tujuan Secret adalah mencaritahu batasan tersebut.


Tak peduli seberapa banyak hipotesis yang dia buat Ray tak benar-benar mengerti Degree.


Wanita dengan gunting adalah contoh paling mudah. Gadis sepertinya berkemungkinan besar ingin menjadi penghias rambut atau semacamnya sehingga memiliki gunting. Pastinya selain gunting dia bisa mewujudkan benda lain tergantung keperluan dan kegunaannya. Pikirnya.


Ray tak lagi memiliki keraguan, maka jika seseorang menerima Degree bela diri, besar kemungkinannya bahwa semua dasar dan bagian dari seni bela diri telah dipelajari secara tidak langsung.


“Sepertinya kalian telah menjalin hubungan kuat sebelum atau ketika tugas pertama berlangsung.”


Ray coba mengulur waktu dengan berbicara.


Kepalanya terus memutar otaknya selagi mulutnya melakukan pekerjaannya.


Bukannya dia tak menemukan cara keluar, apa yang dipikirkan Ray adalah sesuatu yang benar-benar lain.


“Apa pedulimu? Lagi pula kamu akan mati. Sebaiknya jangan banyak bicara.” Pria dengan tangan kosong berkata jengkel.


Fakta bahwa mereka memiliki orang lebih banyak dan lengkap menjadi pembuktian kuat. Seperti halnya Misa dan Tyson yang telah saling mengenal, kelima orang tersebut pasti sama.


“Itu akan menyulitkan kalian. Ini hanya pemikiran pribadiku saja. Sesuatu seperti ikatan pertemanan adalah senjata paling kuat dan kelemahan utama yang dimiliki manusia.”


Dibeberapa tempat hubungan antar manusia adalah senjata terkuat. Seperti solidaritas antar negara yang memperkuat posisi mereka, dan jalinan kerja sama dalam mendorong maju teknologi.


Namun hubungan kuat seperti itu nyatanya yang paling mudah untuk hancur.


“Kata "Rekan" lambat laun akan menyeret kalian ke dasar neraka. Dengan premis seperti itu aku membunuh orang dari tugas pertamaku. Ini menyedihkan. Kalian telah bersusah payah untuk hidup meski kenyataannya kalian adalah orang yang akan jatuh. Jika tidak hari ini maka akan terjadi besok bahkan lusa.”


“Tutup mulutmu.”


Ray memegang hak miliknya sepenuhnya. Jika ada cara apapun yang mampu membuatnya menuruti orang lain maka dia menantikan hari itu terjadi.


“Dalam kelompok kecil kalian akan selalu ada beban. Akan ada perasaan terhadap lawan jenis. Lambat laun hal-hal remeh tersebut akan menarik kelompok menuju kehancuran.”


“Sudahi ocehanmu dan langsung saja, apa yang ingin kamu katakan?!”


Mereka terlihat tidak puas. Marah, geram, dan jengkel.


Otak kecil di kepala mereka pasti mencerna fakta perkataan Ray. Kenyataannya hubungan seperti itulah yang membuat manusia sulit maju.


Andai kata semua perasaan tersebut dihilangkan, manusia akan menjadi keberadaan mutlak yang terus berkembang.


“Singkatnya ... tak peduli apa yang kalian lakukan, kalian akan tetap mati. Mati di hari ini atau hari lainnya, itu pasti akan terjadi.” Ray mengangkat kedua tangannya seakan menyerah.


Mengambil kesempatan kecil tersebut Ray mengayunkan kakinya kepada pria dengan tangan kosong.


Tendangannya berhasil ditangkis seperti dugaan. Dikarenakan tindakan tiba-tiba tersebut, pria tangan kosong tak sempat membuat posisi sehingga terhempas dan jatuh dengan bokong.


Ray takkan menunggu. Dengan cepat setelah memberikan tendangan, dia membungkuk dan menerjang wanita dengan gunting.


Kekuatan wanita lebih lemah dari pria. Dengan mudah Ray mencekiknya dan mengayunkan gunting milik si wanita ke kepala wanita itu.


“Kalian tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika nekat menyerangku.”


Aku akan membunuh wanita ini ... Ray menanamkan kata-kata itu melalui tatapannya.


Wanita yang menjadi sandra mulai menangis ketika ujung guntingnya melukai sedikit pelipisnya, “T-tolong ... aku!”


Hubungan manusia sangatlah rapuh dan kerap menjadi beban.


Ray telah membuktikannya, menjadikan salah satu dari mereka sandra cukup membuat empat orang terdiam tanpa tindak menyerang.


Mengubah posisinya menahan sandra, Ray mengambil langkah perlahan selagi dengan hati-hati mengambil kembali pistolnya, Ray kemudian berjalan mundur dan membuat posisinya menguntungkan.


“Keparat, bisa-bisanya kamu menyandra wanita!”


“Lepaskan dia dan hadapi kami dengan adil, dasar pecundang!”


“Pengecut, bajingan, rendahan! Kamu menyebut dirimu pria dengan membuat sandra?!”


“Aku akan membunuhmu!”


Ray takkan termakan provokasi murahan. Namun mereka cukup lucu untuk mengatakan hal-hal yang kontradiksi dengan tindakan mereka.


“Adil? Tampaknya lima melawan satu adalah keadilan bagi kalian. Bagiku kalian lebih cocok menyandang gelar pecundang.”


Ray menyaksikan raut wajah mereka dengan seksama dan satu persatu.


Melihat rintangan yang ada di depannya, itu tidak mudah. Neraka masih saja berlanjut dengan lebih kacau dan mengerikan.


Aku takkan bisa melaluinya sendiri. Ini memang trik rendah, namun mari coba sebuah gertakan. Pikirnya.


Situasinya sudah cocok sehingga akal sehat mereka takkan mencapai kesimpulan mudahnya. Ray takkan ragu menggunakan berbagai cara untuk mencapai keinginannya, bahkan jika harus menipu dunia.


Ray memiringkan kepala wanita di tangannya dan membuat lehernya terekspos. Tanpa penundaan Ray segera menggigitnya dan membuat bekas yang butuh waktu lama untuk hilang.


Mereka tak memahami tindakan Ray sama sekali. Bahkan wanita yang digigit terlihat tidak mengerti dan semakin takut.


Ray menyelesaikannya dalam hitungan detik. Dengan sisa darah di mulutnya, dia tersenyum tipis.


Senyuman yang terlihat menakutkan di beberapa sisi.


“Degree-ku adalah racun. Aku bisa memberikan racun kepada targetku. Baik menggigit atau cara apapun bisa aku lakukan. Wanita ini telah aku racuni, hanya aku yang bisa memberi penawar dan menghilangkannya.”


“Bajingan, apa yang kamu mau?!”


“Kesepakatan.”


Mereka terdiam seribu bahasa. Mereka membatu dan tak mengerti sama sekali. Penawaran yang dibuat Ray tentangnya sesuatu yang sama sekali tidak bisa mereka pikirkan.


Ray bisa membunuh mereka namun akan disayangkan mengingat kondisi di paruh tengah benar-benar sulit.


“Apa maksudmu?” Pria dengan tangan kosong bertanya penuh kecurigaan. Dia yakin memiliki posisi menguntungkan namun sebenarnya Ray memegang penuh kendali di sini.


“Aku bisa melenyapkan kalian kapanpun. Orang yang tak pernah membunuh takkan bisa mengalahkan pembunuh. Mustahil aku akan kalah dengan kalian. Karena itu, sampai paruh akhir, aku ingin gencatan senjata. Bagaimana? Ini sangat menguntungkan kalian.”


Seandainya bisa Ray ingin sesekali tertawa keras sebagai sutradara yang menciptakan situasi saat ini.