
Dua minggu, waktu yang dijanjikan untuk mengakhiri semua ini akan tiba esok. Semua orang menantikan hari itu dengan takut dan gugup.
Tak bisa tidur dengan nyenyak. Pemikiran tentang apakah mereka masih bisa melihat hari esok atau tidak menghantui semua orang.
Wajar saja karena perang bukanlah sebuah pertarungan kecil dan keren seperti di film. Perang adalah tentang bagaimana cara seseorang membunuh dan dibunuh. Tak pernah ada yang namanya kebahagiaan ataupun kesenangan dalam peperangan. Hanya orang bodoh yang akan mendukung peperangan.
Menyadari bahwa orang-orang merasa demikian maka pertemuan diadakan atas permintaan Arthur. Ia menyampaikan bahwa setidaknya ingin memberikan hiburan untuk meringankan pemikiran dan meningkatkan moral.
“Aku pernah membaca beberapa buku tentang sejarah peperangan. Umumnya mereka akan mengadakan pesta atau pertunjukan sebelum pergi berperang. Hal itu akan mendorong orang-orang untuk bersemangat menantikan pesta setelah perang berakhir.”
Ray tahu apa yang dimaksud oleh Arthur. Di banyak kisah menceritakan pesta atau pertunjukan sebelum pergi berperang akan membantu menurunkan ketegangan tentara sebelum menuju medan perang.
Bahkan ada yang menawarkan hadiah besar bagi mereka yang bertahan setelah perang dengan tujuan meningkatkan moral dan menurunkan ketegangan.
Rasa tegang bukan sesuatu yang baik saat berperang karena ketika melihat kekacauan di medan perang ada kemungkinan mereka jadi tak berguna.
“Singkatnya itu adalah jamuan terakhir, kan?” Ray mengambil kesimpulan dari perkataan Arthur.
Arthur melihat Ray dengan tajam, “Aku enggan menggunakan kalimat kasar seperti itu namun itu memang faktanya itu kalimat yang tepat.” Arthur jelas tidak suka karena perjamuan terakhir seakan-akan mereka takkan lagi hidup untuk hari esok.
Ordo mengangguk mengerti apa yang coba disampaikan Arthur, “Kamu ada benarnya. Saat peperangan moral tentara sangatlah penting. Sekarang aku paham bahwa orang yang tidak takut mati amatlah menyeramkan.”
Setelah berpikir selama beberapa detik Ordo tersenyum dan menyarankan untuk mengadakan semacam pesta. Untuk hal itu mereka perlu anggaran DP yang tak sedikit karena menolak menggunakan perbekalan untuk perang.
Meski pesta besar akan membuat mereka lengah saat itu tiba namun Ray berinisiatif untuk mengemban tanggung jawab mengurus keamanan. Tak hanya dia namun Terumi, Leo, dan Mein ikut andil atas dasar keinginan pribadi.
Ray tidak tahu dengan yang lainnya namun ia bertindak karena memiliki rencananya sendiri dan ini kesempatan bagus.
Tak ada satupun yang menolak saran Ordo sama sekali sampai seseorang mengetuk pintu dan memasuki ruangan diskusi.
“Aku hanya sedikit mendengarnya namun kurang lebih aku memahami situasinya. Tak ada masalah aku ikut bergabung, kan?”
Erina muncul dari balik pintu dengan senyuman lembut. Semua orang terkejut dengan kehadirannya namun tak mempertanyakan mengapa ia bisa ke sini setelah melihat Erina duduk di kursi roda elektronik.
Wajah semua orang tampak menanyakan hal yang sama dan Erina tentunya cukup tajam untuk menyadari.
“Kondisiku lebih baik dari yang diharapkan. Serum D nyatanya benar-benar meningkatkan kemampuan pemulihanku, meski aku belum bisa melakukan aktivitas berat.” Erina memainkan tangan dan jari-jarinya yang bisa bergerak meski masih sangat terbatas.
Setelah membiarkan Erina bergabung dan menjelaskan rinciannya dari awal. Erina menyuarakan persetujuannya.
Tak ada yang menolak rencana mendadak tersebut namun Ray memperhatikan bahwa Arthur mengamati Erina dengan tatapan yang curiga.
Apa dia telah menyadari tanda-tanda itu?
Ray tak bisa memastikannya karena tidak ada bukti terkait, tetapi mengingat tindakannya besar kemungkinannya.
Pertemuan dibubarkan dan Ray berjalan bersama Leo serta Terumi.
“Rasanya sudah lama kita tidak bersama seperti ini, ya?” Terumi melipat tangan di punggungnya dan sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat Ray di sampingnya, dan Leo di sisi lainnya.
“Ah, untuk beberapa alasan misteri aku ingin menghajar seseorang.” Terumi menyela dengan senyuman yang terlihat menakutkan. Tangannya sudah membentuk tinju dan Terumi menggulung lengan bajunya.
Leo memasukkan tangan ke sakunya dan berjalan santai seakan tak ada apapun yang terjadi. Ia juga mulai bersiul meski tak ada suara yang keluar.
Jika dibiarkan berlanjut situasinya mungkin akan buruk sehingga Ray memilih mengalihkannya.
“Semuanya disibukkan tentang hal-hal yang harus dilakukan. Bahkan aku hampir tidak memiliki waktu istirahat.” Ray menghela napas panjang.
Kenyataannya selama masa persiapan ini ia hanya tidur sebanyak dua jam. Tugas yang ia tanggung bisa dibilang sangat banyak dan tidak ringan. Hampir semua eksekutif lainnya memiliki nasib sama. Seingat Ray, Sebastian hampir tidak tidur sama sekali.
Bahkan Ordo yang terkenal oleh sifat pemalas dan tukang tidur tidak menunjukkannya selama masa-masa ini. Hal itu cukup untuk menunjukkan keseriusannya menanggapi Rebellion.
“Itu pasti berat untukmu, Ray. Aku harap kamu takkan sakit atau semacamnya karena kecerdasan dan kecakapanmu sangat dibutuhkan,” kata Terumi. “Untuk pesta malam ini, apa kamu sungguh yakin akan menjadi sukarelawan membantu mengurus keamanan?”
Leo menyandarkan kepalanya di kedua tangannya, “Benar, mengapa kamu tak istirahat saja mengingat kamu sudah bekerja terlalu keras? Selain itu tak ada jaminan hari besok akan ringan.”
Segera setelah pagi hari esok mereka sudah harus berangkat untuk menghancurkan Rebellion. Bahkan kekhawatiran terbesar adalah mereka lenyap karena misil. Meski hanya spekulasi namun itu tetap ancaman yang perlu diperhitungkan.
Selain itu tak dapat dipungkiri bahwa Open World adalah tugas paling berat untuk dilalui.
“Aku sendiri menikmatinya. Bagaimana dengan kalian? Kalian juga ikut mengemban tanggung jawab menjaga keamanan.”
Ray memiliki alasannya sendiri untuk memilih mengurus keamanan. Sejujurnya pesta ini sudah ia ramalkan pasti akan terjadi dan ini adalah waktu yang bagus bagi Ray melakukan langkah terakhir.
Terumi dan Leo harusnya tak memiliki alasan apapun untuk meninggalkan pesta namun malah ikut membantu urusan keamanan.
“Aku bergabung karena merasa tidak enak hati. Disaat orang-orang bekerja sangat keras namun aku tidak melakukan banyak hal yang berarti. Selain itu ...,” ujar Terumi selagi memanyunkan bibirnya selagi melirik Ray sesekali.
Alasanku adalah kamu, Ray. Lanjut Terumi di dalam hatinya.
Ia enggan mengatakannya dengan lantang sehingga Ray tak mengetahuinya. Terumi juga tidak sadar bahwa Leo seja tadi memperhatikannya dan tahu tanpa harus diberitahu.
Andai aku membocorkannya pada Ray, seberapa banyak luka yang akan diberikan Terumi di wajahku? Aku tak mau memikirkannya. Pikir Leo.
“Yah, aku pribadi tidak begitu suka pesta ini karena ada lebih banyak orang yang tak membuatku nyaman. Tentunya kalian berdua dan eksekutif lain tidak termasuk ke golongan itu.” Leo tersenyum cerah dan mulai cekikikan.
Terumi akhirnya menunjukkan senyuman lebar yang sama, “Kita sudah mengenal cukup lama namun waktu yang kita habiskan bertiga seperti ini amatlah singkat. Aku harap kita bisa tetap bersama seperti ini!”
“Aku setuju. Bagaimana menurutmu, Ray?” tanya Leo dengan penasaran. “Kamu tak merasa keberatan mengetahui bahwa kami ingin terus di sekitarmu?”
Terumi juga sangat menantikan jawaban Ray mengingat kepribadiannya yang lebih pendiam.
Ray menatap langit-langit dan tersenyum kecil, “Aku pikir ... itu ide bagus.”
Keduanya bisa diandalkan dan mereka juga saling mengandalkan. Ray tentu merasakan kenyamanan saat bersama mereka karena tak ada tipu muslihat seperti yang dilakukan Erina.