The Degree

The Degree
Kesepakatan II



“Akan aku katakan sekali lagi. Kalian tidak memiliki pilihan menolak jika tidak ingin gadis ini mati.”


Melihat wajah mereka sudah jelas bahwa tidak ada yang berniat menentang.


Meski pahit kenyataannya mereka tak bisa membiarkan rekannya tewas. Seperti yang dikatakan Ray bahwa hubungan manusia itu senjata yang kuat dan paling rapuh.


“Katakan ... apa maumu?” Pengguna tangan kosong tampaknya adalah pemimpin kelompoknya.


Ray telah yakin bahwa mereka bisa dimanfaatkan dan takkan menolaknya. Lagi pula Ray takkan memberi kesempatan mereka untuk menolak.


“Gencatan senjata. Sampai paruh terakhir aku ingin kita bekerjasama melalui paruh tengah. Ketika kita sampai pada paruh terakhir, aku akan menghilangkan racunnya.”


Itu tawaran yang cukup menguntungkan untuk mereka.


Mereka akan memiliki kesempatan besar mendapatkan kursi dengan bantuan Ray karena mau bagaimanapun bukan perkara mudah melalui rintangannya.


Sekedar catatan belaka, tak ada cara apapun untuk mereka selain menerimanya.


“Hanya ada tiga kursi yang tersisa. Andai kata kita berhasil mencapainya, dengan kamu duduk di sana hanya akan menyisakan dua kursi.”


Itu artinya mereka akan kehilangan tiga orang dari kelompoknya.


Sebagai rekan yang mementingkan keuntungan bersama pastinya itu menjadi langkah merugikan. Namun sayangnya Ray sudah membuat perhitungan. Memahami perkataan dan tugas adalah kuncinya.


“Tidak perlu khawatir. Dalam aturan dan tugas yang diberikan, tidak ada larangan mengeliminasi orang yang telah duduk. Dengan begitu masalah kursi terselesaikan.”


Tugasnya hanya menyebutkan untuk menduduki kursi. Tak ada larangan yang mengharamkan membunuh orang yang telah duduk.


Jika teori tersebut adalah kebenaran maka tak ada keraguan mereka takkan menerima kerugian. Masalahnya di sini adalah kepercayaan.


“Kamu telah membunuh orang-orang dari kelompokmu pada tugas pertama, tidak ada jaminan bahwa peristiwa itu tidak terulang di tugas kali ini.”


“Itu karena mereka mengkhianatiku. Di manapun kamu hidup penghianat harus dihukum. Selama kalian tak mengulangi tindakan mereka, aku takkan membunuh kalian dengan alasan penghianatan.”


Faktanya, Ray tak berniat membunuh mereka di tempat pertama. Dia membunuh bukan tanpa alasan atau sekedar premis belaka.


Saat awal Justina menggunakan Ray untuk memahami pola serangan dari jebakan yang ada. Jika Ray mentolerir soal itu, bukannya tidak mungkin kejadiannya akan sama di masa depan dan karena itu Ray mengeliminasinya.


Sementara Misa dan Tyson sudah jelas penghianat. Memang kenyataannya Ray telah menyiapkan perangkap lebih dulu sehingga bisa saja dia membunuh Tyson meski dia tak berkhianat.


Hal itu didasari oleh kenyataan bahwa tindakan Misa sejak awal telah mencurigakan. Ketimbang melepaskan sesuatu yang bisa menggigitnya akan jauh lebih bijak menyingkirkannya.


“Selama kalian tidak menunjukkan indikasi penghianatan maka kalian akan baik-baik saja. Akan aku ingatkan bahwa kalian takkan bisa menentangku.”


Mereka hanya diam dan tak tahu harus berkata apa. Tindakan yang bisa dilakukan hanyalah melihatnya gadis di pelukan Ray menangis dan menderita.


Pria dengan tangan kosong yang tampaknya adalah pemimpin kelompok menggigit bibir dengan pahit.


Ray yakin orang itu telah sampai pada kesimpulan yang diharapkannya namun masih ada hal yang menahannya.


“Aku tak bisa mempercayaimu sama sekali. Kamu memiliki kemampuan yang hebat bahkan mampu tenang disituasi seperti ini. Seharusnya dengan kemampuanmu tak ada keraguan berhasil melaluinya sendiri.”


Orang yang bisa begitu tenang disituasi apapun sangatlah sedikit.


Hanya orang yang percaya dengan kemampuannya bisa mengatasi apapun atau orang yang menyerah untuk hidup. Posisi Ray jelas yang pertama.


“Namun kamu membuang semuanya dan memilih melaluinya bersama kami. Aku khawatir bahwa pada akhirnya kamu akan berakhir dengan membuang atau menggunakan kami. Selain itu, tak ada jaminan apakah Degree-mu benar-benar racun atau bukan. Apapun pilihannya tak ada yang terbaik.”


Antara mengorbankan teman wanitanya yang menjadi sandra dan menyelamatkan sisanya. Atau menyelamatkan sandra dan berakhir kehilangan segalanya.


Bagi orang biasa itu adalah pilihan yang sulit karena dengan mengorbankan rekan sama artinya mereka membunuh rekan untuk keselamatan diri.


Sejak awal posisi mereka sama sekali tidak menguntungkan. Namun posisi Ray juga sama dengan mereka.


Mereka jelas meragukan apakah Degree milik Ray benar-benar racun atau bukan. Cepat atau lambat mereka akan menyimpulkan bahwa Ray hanya menggertak.


“Kondisiku juga serupa. Singkatnya ini adalah pertaruhan antara kamu mempercayaiku dan aku mempercayai kalian. Bukannya tidak mungkin bahwa kalian akan menusukku dari belakang.”


Ray mengambil sesuatu dari sakunya dan menunjukkannya kepada mereka.


“Cairan di dalam botol kecil ini adalah racun yang aku keluarkan. Seperti yang aku bilang, caranya bermacam-macam. Aku bisa memproduksinya secara masal.”


Mereka kemudian tertegun saat melihat cairan di dalam botol kaca kecil. Si pemimpin menggigit bibirnya dengan kuat. Dia menatap rekan lainnya yang segera mengangguk dan membuat keputusan.


“Baiklah ... kami akan mengikuti rencanamu. Namun pastikan kamu mengangkat racun di tubuh Diana.”


Jadi wanita ini namanya Diana, kah.


Ray melepaskannya wanita di pelukannya dengan sedikit dorongan dan mengatakan, “Keputusan yang bijak. Kalau begitu mari atur formasi sebelum melangkah semakin jauh.”


Kelompok kecil tersebut segera mengelilingi Diana dan menunjukkan tatapan kebencian kepada Ray.


Mereka tampak akan menggigit kapanpun seandainya Ray tak meracuni Diana.


Si pemimpin tampak ragu untuk mengikuti saran Ray namun begitu mengamati sekitarnya dia tak menolak.


Semua peserta sibuk bertarung dan menghindari jebakan jadi tak ada yang peduli dengan apa yang akan mereka lakukan.


Sekalipun mereka duduk dan bersantai takkan ada yang mempedulikan. Mereka akan dengan yakin berpikir bahwa Ray telah menyerah merebut kursi.


“Sebelum aku membeberkan rencana, tolong, untuk kenyamanan berikan nama kalian. Aku Ray Morgan, cukup panggil Ray.”


Satu persatu mereka mulai memperkenalkan dirinya.


Si pemimpin dengan tangan kosong bernama Edward. Degree palu bernama Steve, pria tali bernama Jack dan wanita lainnya adalah Jane.


Setelah perkenalan singkat tersebut Ray meminta semuanya membeberkan formasi mereka, otak kelompok dan apa yang bisa mereka lakukan. Hal tersebut didorong oleh kenyataan bahwa Ray takkan bisa membuat rencana jika tak tahu kemampuan mereka.


“Aku takkan bertanya Degree apa milik kalian dan hanya butuh apa yang kalian bisa lakukan dengannya. Itu sudah cukup.” Ray mengangguk dengan cukup puas dan mengamati jalan di depannya, “Kalian bisa melihatnya di sana bahwa neraka akan dimulai begitu kita memasukinya.”


Mereka berada di garis start paruh tengah sehingga kengeriannya tak bisa dirasakan.


Ada begitu banyak orang yang terjebak di tengah dan hanya segelintir yang berhasil mencapai paruh akhir namun terjebak oleh jebakannya yang kian rumit.


“Mereka bertarung satu sama lain seakan benar-benar kehilangan akalnya.” Edward berkata dengan nada simpatik.


“Mereka pasti berpikir "Jika tak bisa melewati jebakan maka buat orang lain tak bisa mencapainya" sesuatu seperti itu. Terlihat naif dan bodoh namun itu cara yang ampuh untuk menghambat.” Jane yang adalah otak dari kelompok kecil mereka menyampaikan pemikiran.


Ray teramat setuju dengan pemikiran tersebut. Alasan mereka bertarung adalah untuk mengeliminasi dan menghambat selagi mencari orang berkemampuan untuk dimanfaatkan.


Seperti katanya, pemikiran yang sederhana namun ampuh. Ray juga memiliki pemikiran tersebut namun bedanya dia memiliki cara yang lebih halus dan tidak bodoh.