The Degree

The Degree
Pemberontakan



Semua orang diam dan mengamati Ordo yang naik ke panggung untuk menyampaikan sambutan. Di tangan kanannya ia juga memegang segelas minuman.


Ordo bukan tipe orang yang akan mampu memberikan harapan palsu namun ia bisa memberikan kata-kata yang bagus untuk saat-saat seperti ini.


“Malam ini kita berkumpul bersama. Bukan sebagai pemimpin dan bawahan tetapi sebagai kawan yang akan pergi berperang besok.”


Di medan perang modern pangkat hampir tak berguna karena pada akhirnya mereka hanya harus membunuh musuhnya jika tak ingin terbunuh.


“Sebagian dari kalian pasti sudah mengetahui bahwa ini mungkin kedamaian terakhir yang kalian miliki. Bahkan bisa jadi ini hari terakhirku untuk bisa melihat indahnya bintang dan rembulan. Bahkan aku takkan terkejut jika besok adalah hari kematianku.”


Semua orang jelas tahu bahwa besok hari besar yang bisa merenggut nyawa mereka. Besar kemungkinan bahwa mereka yang berkumpul sekarang takkan bisa berkumpul lagi di masa depan.


Ordo menyadari kegelisahan semua orang dan rasa takut mereka. Itu bukan hal yang mengejutkan karena mau bagaimanapun ini adalah perang pertama dalam hidup mereka.


“Perjamuan terakhir memang kata yang tepat untuk situasi kita. Perang di esok hari takkan ringan mengingat lawan kita juga memiliki Degree.”


Degree menjadi faktor besar yang akan mampu membalikkan keadaan. Sekalipun mereka bisa mengatasi peperangan selama beberapa waktu namun perbedaan besar diantara kekuatan Degree akan membalikkan keadaan dengan mudah.


“Aku tak suka berbohong. Sejujurnya aku tak yakin bisa menang melawan orang yang bahkan tak kita ketahui jumlah dan kekuatannya.” Ordo tersenyum pahit dan menerima kenyataannya.


Ia tidak takut dengan kematian namun tentu Ordo masih tidak ingin mati. Ada banyak hal yang belum ia capai dan selesaikan sehingga jika nantinya dia mati, akan ada banyak penyesalan yang tertinggal.


“Namun, meskipun kita akan mati suatu saat. Meski kita takkan bisa menghindari kematian, aku yakin, tempat kematian kita bukan di sini. Kita akan mati di tempat yang lebih baik. Setidaknya, tidak di tanah Open World ini!”


“Ya!”


Itu bukanlah kata-kata untuk memberikan semangat atau sejenisnya. Seperti yang ia ucapkan di awal bahwa Ordo tak begitu suka menyampaikan kebohongan namun lain halnya dengan sebuah harapan.


Ordo sedang menanamkan kepada orang-orang bahwa harapan masih ada. Setidaknya Ordo bertujuan membuat semua orang membuat tekad untuk tetap hidup sampai seluruh tugas dan uji coba ini berakhir.


“Mari bersulang, untuk mendeklarasikan bahwa kita menolak kematian di tempat ini!” Ordo mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Anggur yang tersimpan di dalamnya sedikit tumpah. Ordo tak menunda waktu dan meminumnya dalam satu tegukan besar.


Tindakannya diikuti semua pasukan yang bertindak sama. Mereka minum dengan rakus seperti orang yang kehausan karena baru melewati padang pasir yang kering dalam waktu yang lama.


Ordo mengisi ulang gelasnya dam tersenyum lebar. Ia menyodorkan kembali gelasnya ke udara dan berteriak dengan keras.


“Mari mulai kegilaan yang akan bertahan hingga besok!”


“YA!”


Semua orang tertawa dan membuat senyum yang sama. Mereka pasti coba menghilang kegelisahan yang menghantui mereka.


Disaat orang-orang mengangkat gelasnya lagi ke udara, ledakan besar terjadi.


Tidak hanya sekali namun terdengar sebanyak beberapa kali yang asalnya dari perkemahan yang menyimpan perbekalan.


Asap mengepul ke udara. Orang-orang yang baru saja menikmati pesta menjadi hening dan siaga saat melihat hal itu. Sebagian bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Ada juga sebagian yang menganggap itu kejutan yang disiapkan Ordo.


Namun tidak sedikit juga orang-orang yang menyadari bahwa ada serangan. Kelompok khusus yang menjadi sukarelawan menjaga keamanan mulai berkumpul di sekitar mereka.


Ada juga banyak orang yang datang sudah menggunakan perlengkapan lengkap seperti rompi anti peluru dan senjata laras panjang. Orang-orang itu mengelilingi kelompok yang tengah menikmati pesta.


Ordo memandang hal tersebut dengan aneh. Dari pakaian mereka tak ada yang aneh namun firasatnya sangatlah buruk. Situasi saat ini tidak bisa disebut baik.


“Ordo!” Sebastian datang dari belakang Ordo dengan tergesa-gesa.


Ordo berdecak kesal dan wajahnya terlihat benar-benar marah. Seharusnya ia sudah meminta orang-orangnya untuk menjaga keamanan seketat mungkin.


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?!” Ordo berteriak dengan keras saat hendak menoleh ke arah Sebastian. Namun saat itu juga perhatiannya kembali teralihkan oleh suara lain.


“Menjauh darinya, Ordo!” Arthur dan Mona datang dari sisi lain dengan tergesa-gesa. “SEBASTIAN ADALAH PENGKHIANAT!”


Ordo tak bisa memahaminya selama beberapa detik. Ia tentu akan menanyakan kebenarannya mengingat Sebastian sudah cukup lama bersamanya.


Saat menoleh ke arahnya, Ordo menemukan bahwa Sebastian berdecak kesal dan menambah kecepatan larinya sampai Ordo tak sempat bertindak.


Akan tetapi Ordo memiliki refleks yang cukup cepat dan berhasil meraih tangannya. Sebastian menggertak giginya, kesal sekaligus menahan rasa sakit. Kekuatan fisik Ordo tiga kali lebih kuat dari manusia biasa sehingga cengkramannya mampu menghancurkan tangan.


“Ini sudah diramalkan!” Sebastian tak menyerah dan memunculkan pisau lain dengan tangan kanannya. Ia sulit mengincar jantung dan karena itu pilihannya adalah perutnya yang penuh celah.


CRUCH!


Suara pisau yang mengiris daging dan membuat darah muncrat menggema. Semua orang terdiam oleh pemandangan yang sama sekali tidak terduga itu.


Darah yang menetes dari perut dan mulut Ordo seakan-akan menjadi satu-satunya suara yang berbunyi. Ordo memandang Sebastian dengan tidak percaya. Ia mulai kehilangan tenaganya dan melepaskan tangan Sebastian.


“Meng ... apa?” kata Ordo selagi menatap Sebastian dengan sedih dan air mata. “Mengapa ... kamu ... berkhianat?” Ordo benar-benar terluka tak hanya secara fisik namun hatinya.


Baginya Sebastian sudah seperti ayah pengganti karena saat pertama kali datang ke tempat ini. Sebastian adalah orang terdekat mereka yang memimpin Ordo, Mein dan Erina ketika mereka begitu naif saat pertama kali tiba.


“Maaf. Aku melakukannya untuk diriku.” Sebastian berkata dengan dingin, ia memegang bahu Ordo dan mendorongnya mundur menjauh.


Mona berlari cepat dan menahan jatuhnya Ordo. Ia kemudian berusaha menahan pendarahannya.


Disaat itu Arthur melompat dan memberikan tendangan kuat namun Sebastian berhasil menahannya dengan kedua tangan. Meski begitu Sebastian tampak menderita karena tendangan Arthur sama sekali tidak ringan.


Sebastian kemudian mengambil sesuatu dari kerah tangannya dan dengan ajaib pistol muncul. Sebastian mengarahkannya ke udara dan menembakkannya dua kali.


“Kamu memanggil kawan?!” Arthur berkata dengan geram.


Sebastian hanya tersenyum dingin dan memberikan tatapan tajam, “Coba pikirkan siapa yang bertugas mengidentifikasi anggota?”


Arthur melebarkan matanya dan menatap orang-orang yang sudah menggunakan persenjataan dan perlengkapan tempur yang lengkap.


Sebelum bisa memberikan peringatan, Sebastian sudah berteriak dengan keras.


“TEMBAK!”


Orang-orang dengan senjata sudah mengelilingi pasukan yang awalnya berpesta dan dalam kondisi rentan tanpa perlindungan apapun. Mereka saat ini sudah benar-benar terkepung dalam bentuk persegi panjang besar.


“Hentikan para pemberontak—” Sebelum menyelesaikan kalimatnya, para pemberontak yang membuat kurungan persegi panjang besar sudah mulai menembak.


Puluhan, ratusan orang mati dalam sekejap dan jumlahnya terus bertambah setiap detik. Ada segelintir orang yang cakap dan bertindak cepat sementara banyak yang gila karena rasa takut.


“Tugasku selesai di sini!” Sebastian kembali mengambil benda lain di sakunya.


“Arthur! Degree-nya adalah pesulap! Orang itu akan segera melarikan diri dengan kekuatannya!” Mona memberi peringatannya. Matanya terlihat bercahaya keemasan saat mengatakannya.


Sebastian melebarkan matanya dengan terkejut namun hanya bertahan selama kurang dari satu detik. Situasinya berbahaya karena Arthur tidak lemah.


Sebastian mengeluarkan dua bola hitam dan membantingnya ke tanah sehingga memunculkan asap putih yang membutakan. Arthur berusaha yang terbaik untuk menyingkirkannya namun terlambat karena Sebastian sudah menghilang.


“Tch! Aku tidak bisa mengejarnya!” Arthur terpecah perhatiannya oleh para pemberontak yang terus menembak dengan penuh kegilaan.


Dalam kekacauan tersebut dia melihat bahwa ada banyak yang coba melawan mereka. Meski begitu kekacauan ini tidak selesai sampai sini. Setidaknya, ini mungkin baru awal.


...****...


Nama: Sebastian.


Umur: 39 tahun.


Asal: Australia.


Degree: Pesulap.


Pesulap mampu melakukan hal-hal menakjubkan dengan menunjukkan sejenis ilusi kepada orang yang menyaksikannya. Pesulap mampu menyembunyikan berbagai benda di tempat-tempat tertentu dari tubuhnya selama berat benda masih masuk akal. Tidak akan ada kegagalan seperti benda jatuh ataupun hilang demi pertunjukan sulap yang sempurna. Pesulap juga mampu melakukan hal hebat yang tampak seperti ilusi dan mampu mempengaruhi mental audiens untuk menggiringnya ke arah tertentu.