
“Yo, kita berjumpa lagi.” Ben yang untuk beberapa alasan tak diketahui menggunakan pakaian pantomim, berbicara menyapa Ray dengan riang.
Bahkan jika ia tak merias wajahnya, Ray bisa melihat beberapa jejak bedak yang terlewat. Tampaknya ia habis melakukan sesuatu sampai harus berdandan.
Orang itu seperti biasa memiliki selera makan yang besar. Bahkan dari kejauhan saja, Ray bisa melihat pria itu tengah memakan satu ekor ayam kalkun.
Bahkan jika orang itu menjaga tubuhnya dengan baik. Satu ekor tetap porsi yang berlebihan. Ada terlalu banyak protein yang masuk ke dalam tubuhnya. Ray cukup tertarik untuk mengetahui ke mana semua itu pergi.
“Kemarilah, Ray. Tak ada salahnya kita berbicara sebentar
Ray ingat terakhir kali ia bersama bajingan ini direstoran, Ben meninggalkan hadiah yang luar biasa untuknya yakni tagihan dari apa yang dimakan keparat ini.
“Aku ingin melakukannya namun sebaiknya aku mencari meja lain. Khusus untuk diriku sendiri.” Tentunya Ray akan menolak satu meja dengannya.
Ia takkan pernah memiliki kemauan untuk jatuh di lubang yang sama.
Ben terlihat menggaruk kepalanya dengan wajah bingung, orang itu ... apa dia bersungguh-sungguh tidak ingat tentang apa yang diperbuatnya?
“Memangnya apa yang salah dengan berada di meja yang sama? Sebelumnya juga tak ada masalah,” Ben sedikit berpikir sebelum menemukan sesuatu di kepalanya. “Apa kamu khawatir temanmu mengetahui bahwa kita berhubungan? Tenang saja, aku akan menggunakan jaket.”
Ray tidak tahu apakah orang ini benar-benar lupa atau hanya bermain bodoh. Jika yang terakhir adalah kesimpulannya, maka takkan ada obat untuk mengobati kebodohannya.
“Aku tak tahu apa kamu benar-benar lupa atau berpura-pura. Terakhir kali kita semeja, kamu meninggalkan bon untukku.”
Ben ternganga karena terkejut, mulutnya tak menutup selama beberapa detik sebelum dia menunduk minta maaf.
“Maaf! Ini kebiasaan buruk yang aku miliki. Aku memiliki kebiasaan aneh untuk melupakan hal-hal semacam itu saat perutku kenyang. Bahkan di masa lalu aku sering makan diberbagai restoran tanpa ingat memberikan bayaran”
Ray hampir tak percaya dengan apa yang orang ini katakan. Dari pada kebiasaan, Ray mungkin akan menganggapnya berbakat. Makan tanpa bayar atau membiarkan orang lain membayarnya. Tak semua orang bisa melakukannya, dan hanya orang menjengkelkan yang bisa melakukannya.
Melihat bahwa orang ini menyesalinya, tentunya meragukan namun Ray memilih duduk bersama bajingan itu. Ada hal yang perlu dilakukan oleh Ray.
Ini berkaitan dengan hasil kesepakatan dengan Virgo. Meski Ray menyampaikan dengan mulut bahwa ia menolak dan meminta kondisi tertentu. Virgo secara samar juga menyampaikan bahwa ia tak keberatan dengan kondisi itu.
Ray harus membuat kondisi di mana Virgo memiliki kemungkinan untuk mengatasi Mona tanpa campur tangan Arthur. Bahkan jika rencananya sungguh sesuai, Ray akan mampu melenyapkan Arthur.
Setelah memesan sandwich daging Ray memulai pembicaraan dengan Ben yang melahap paha kalkun dengan dua kali gigitan besar.
“Aku benci basa-basi. Pembicaraan kita beberapa waktu lalu, apakah kamu bersungguh-sungguh?” tanya Ray dengan wajah datar.
Tentunya ia hanya menyampaikannya secara samar karena ada kemungkinan pemahamannya salah. Orang ini mungkin tidak secerdas yang Ray pikirkan.
“Kamu mengerti maksudku. Ya, aku ingin bekerjasama denganmu dan bersedia mengulurkan tangan.”
Seperti yang diduga, orang ini mengakuinya tanpa membuat tanda penolakan.
“Apa ini instruksi Indri?” tanya Ray.
Ben mengangguk tanpa keraguan. “Ya. Ketua memintaku untuk menjadi kaki tangan untuk membantu rencanamu. Aku ingin menyampaikannya secara langsung, tetapi atas keegoisanku sendiri. Aku sengaja hanya meninggalkan jejak-jejak dari pembicaraan sebelumnya.”
Ray mengabaikan kalimat Ben yang terakhir, ia jauh lebih tertarik dengan hal lainnya.
“Rencana? Apa maksudmu?” Ray terlihat bingung. “Bahkan aku belum mulai memikirkan apa yang harus dilakukan.”
“Aku sendiri tidak mengerti. Namun aku telah melihat kemampuan Indri dan tak ada alasan untuk meragukannya.” Ben terus berbicara selagi menyantap makanannya.
Bahkan jika Ben berkata demikian, Ray tak terlalu tertarik. Pada akhirnya Indri pasti akan meminta hubungan timbal balik jika Ray ingin mengetahui Degree-nya.
“Yah, aku tak peduli tentang itu.” Dikarenakan Ben sudah tahu bahwa Ray memiliki rencana tertentu, maka pembicaraan akan jadi lebih mudah.
“Mari kita mulai diskusi. Singkatnya, aku ingin mengeliminasi setidaknya lima puluh persen orang-orang di tempat ini.”
...****************...
Arthur masih terjebak di Mall bersama Mona. Berkali-kali ia mencoba berbagai alasan agar terlepas dari neraka belanja ini namun wanita itu sangat keras kepala.
“Rencana awal adalah berpura-pura belanja. Namun siapa yang menduga Mona belanja sungguh-sungguh.” Arthur hanya bisa menghela napas dalam-dalam.
Ini nasib yang sial karena Arthur tak bisa mengubah apapun yang sudah terjadi seperti saat ini.
“Apa dia masih lama?” gumam Arthur selagi menunggu Mona membeli es krimnya yang ke lima.
Arthur kemudian mengingat-ingat kembali tentang pertemuannya dengan Ray. Orang itu jelas memiliki sesuatu yang disembunyikannya. Sikapnya aneh dan belum lagi tentang hal-hal yang dikatakannya tentang Erina.
“Aku telah diam-diam mengunjunginya. Memang benar bahwa wanita itu mengurung diri, tetapi tidak sampai pada tahap sedingin itu.”
Arthur pernah mengunjunginya dan respon yang ia dapatkan berupa; ‘Pergilah. Jangan ganggu aku. Kamu tak ada urusannya. Aku ingin sendiri. Kamu hanya orang luar’ dan berbagai tanggapan dingin lainnya.
“Erina harusnya memiliki mental yang kuat. Dia bukan wanita yang akan jatuh terlelap ke dalam depresi. Bagaimana bisa aku tidak curiga?”
Masih mendapatkan respon darinya adalah bukti bahwa Erina tidak bunuh diri dan masih hidup, tetapi Arthur memikirkan ada hal lain di balik sikap anehnya itu.
“Aku harus menyelidiki ini,” gumam Arthur. “Ada rencana besar yang berjalan di belakang layar.”
Arthur bukan orang bodoh, ia tahu bahwa tempat ini memiliki banyak sekali musuh berkeliaran. Baik yang pernah ia hadapi langsung atau orang-orang yang belum muncul di permukaan.
Mulai dari tahap ini segalanya akan semakin sulit, bahkan Arthur takkan bisa memilih siapa yang benar-benar teman dan bukan.
“Maaf membuatmu menunggu lama, Arthur!” Mona datang dengan kedua es krim di masing-masing tangannya.
Satu rasa coklat dan yang lainnya vanilla. Mona duduk dan mencicipi rasa vanilla sebelum melihat es krim coklat di tangan lainnya.
“Aku membelikannya untukmu!” Mona dengan riang menyerahkan es krim di tangannya.
“Mengapa memberiku es krim yang telah kamu jilat?” Arthur tentu bermasalah karena Mona tak memberikan rasa coklat yang belum tersentuh, tetapi memberikan vanilla yang sebelumnya dijilat Mona.
“Aku bosan rasa itu. Jadi, aku memilih coklat saja!”
“Huh, sesukamu saja,” Arthur menyerah untuk mendebat. “Mona, mulai sekarang jangan percayai siapapun kecuali aku.”
Mona yang memakan es krim dengan riang mulai memiringkan kepalanya, “Termasuk Terumi dan yang lainnya?”
Arthur mengangguk tanpa keraguan, “Mulai sekarang segalanya akan menjadi sulit. Open World sungguh membuka mataku bahwa tidak ada yang benar-benar bisa dipercaya.”
“Apa karena itu kamu ingin kita berpura-pura belanja dan membeli barang-barang itu?” tanya Mona.
Selama keliling mall mereka tak hanya membeli pakaian, lebih tepatnya pakaian hanya untuk samaran. Arthur justru memesan hal lain yang Mona tak mengerti akan digunakan untuk apa barang.
“Ya,” Arthur menatap tajam sesuatu yang jauh. “Aku akan mengungkapkan Degree seseorang.”