The Degree

The Degree
Dua Minggu



Media berita menjadi begitu ramai, reporter dan pemadam kebakaran serta ambulan mengerumuni lokasi ledakan seperti semut yang tertarik kepada gula.


Di sana terdapat beberapa orang yang terluka, namun ada juga kematian di sana. Ray, Indri dan Ben adalah salah satu orang yang terluka parah dan cukup kritis keadaannya.


“Minggir! Ini darurat jadi cepat menyingkir!”


Di rumah sakit para perawat sibuk membawa Ray dan yang lainnya, pertolongan pertama mungkin sudah dilakukan, tetapi nyawa mereka masih memiliki kemungkinan tidak terselamatkan.


“Bagaimana keadaannya?”


“Buruk! Dia kehilangan tangan kiri dan kulitnya terbakar. Ada kemungkinan kepalanya ikut terbentur dan menyebabkan pendarahan di dalam!”


“Persiapkan untuk operasi segera!”


“Ya!”


Di dalam situasi yang kacau tersebut, Ray masih mempertahankan kesadarannya. Rasa sakit menyelimuti tubuhnya dengan penuh kasih sayang, meski begitu Ray tak bisa menyambutnya dengan baik.


‘Ah ... ini sungguh ... sakit.’


Ray tak mampu menggerakkan mulutnya untuk berbicara, hal yang bisa ia lakukan hannyalah mengerang kecil.


“Beri dia obat bius!”


Segera perawat menyuntiknya, Ray mulai merasa ngantuk berat yang berkepanjangan, tak bisa dilawan. Hanya satu yang bisa dilakukan yakni, menerimanya sepenuh hati.


...[******************]...


Di tempat lain, Terumi dan Erina berada di hotelnya. Keduanya memilih diam di sana untuk hari itu karena telah melakukan hal-hal berat belakangan.


“Aku tidak menyangka bahwa situasinya akan berjalan secepat ini,” gumam Terumi selagi menyikat giginya.


Dia telah berjalan keluar untuk memantau situasi seperti yang diinginkan oleh Ray. Mengejutkan bahwa ada beberapa pengguna Degree yang bergerak terang-terangan di sekitarnya.


Bahkan ada beberapa kekacauan seperti kasus pemerkosaan, pembunuhan bahkan pencurian yang terjadi dengan cara yang aneh. Tak perlu ada keraguan, semua itu besar kemungkinan disebabkan oleh pengguna Degree.


“Aku harap Ray akan baik-baik saja. Tampaknya ada beberapa kelompok yang memulai pergerakan. Selain itu, ada kabar tak menyenangkan dari grup Arthur.”


Terumi telah mengirimkan suratnya ke alamat yang ditentukan oleh Ray. Ada hal besar yang terjadi di dalam waktu singkat tersebut. Tak ada yang berharap bahwa perkembangan situasinya akan secepat itu.


“Umm, Terumi ... .”


Terumi berbalik dan menemukan Erina memperlihatkan separuh wajahnya di pintu. Dia terlihat risau dan sedikit takut entah bagaimana.


“Ada apa, Erina? Apa ada yang mengganggumu?” tanya Terumi dengan lembut.


Satu minggu belakangan ini ada banyak yang berubah dari Erina. Terumi tidak tahu dengan jelas apa yang terjadi dan penyebab Erina kehilangan semua ingatannya.


Awalnya sangat merepotkan karena Terumi perlu memberikan penjelasan yang mudah dipahami. Mulai dari identitas Erina sampai dengan Degree dan berbagai hal penting lainnya.


“Anu, itu ... ada berita yang cukup aneh ... di TV,” ujar Erina, seperti anak kecil yang takut dimarahi orang tuanya.


Terumi tersenyum masam dan berjalan menghampirinya, dia pergi untuk melihat TV dan menyaksikan berita yang dimaksud.


Terumi cukup terkejut dengan berita yang diduga bom bunuh diri di sebuah kostan yang cukup jauh dari tempatnya.


“Itu kasus mengerikan ... apa mungkin serangan *******? Namun bisa jadi ini kasus yang disebabkan oleh pengguna Degree.”


Tak ada orang yang cukup bodoh melakukan serangan di tempat semacam itu, maka besar kemungkinan kalau hal itu terjadi karena pengguna Degree.


Terumi mengerutkan alisnya untuk melihat dengan lebih jelas. Sesaat kemudian dia menjatuhkan sikat giginya dan tercengang. Dia memegang layar TV, melihat orang yang ditunjuk oleh Erina. Seseorang yang dikenalnya dengan baik.


“Tidak ... itu tidak mungkin dia ...”


Mustahil yang ada di sana adalah orang yang dikenalnya. Ada banyak orang yang terkadang memiliki kemiripan sekilas. Mungkin saja, apa yang dia lihat hannyalah mirip.


Hanya saja, entah mengapa rasa-rasanya pria di sana adalah asli. Selain itu, Terumi tak bisa memikirkan kemungkinan lain selain kenyataan bahwa yang terkapar di sana adalah Ray.


“Ray ... tidak ... apa yang terjadi padamu ... Ray?!” Terumi berteriak dan menangis selagi memegang layar TV-nya.


...[**********************]...


Dua minggu sejak ledakan tersebut, Ray telah sadarkan diri dan sedang dalam masa pemulihan.


“Kamu memiliki kemampuan memulihkan diri yang luar biasa. Luka bakarmu sudah mengering yang mana harusnya membutuhkan waktu satu bulan.”


“Bagaimana dengan mereka?” tanya Ray dengan acuh tak acuh.


“Mereka?” dokter memiringkan kepalanya sedikit karena bingung. “Ah! Maksudmu dua temanmu itu? Mereka juga mengalami luka yang parah awalnya namun sekarang sudah baik-baik saja, meskipun teman wanitamu belum siuman.”


“Begitu.”


“Ya. Kalau begitu aku akan meninggalkanmu, panggil suster jika sesuatu terjadi.”


Setelah dokter tersebut pergi, Ray hanya diam dan memandang tangan kirinya— lebih tepatnya tempat yang seharusnya tangan kirinya berada. Dalam insiden tersebut Ray harus kehilangan tangan kirinya.


Saat ledakan terjadi, Ray berhasil meloloskan diri melalui jendela, tetapi dia tak sepenuhnya meloloskan diri. Dampak dari ledakannya cukup besar, Ray harus menerima beberapa luka karena puing dan api ledakannya.


Ketika itu terjadi, langit-langit mulai runtuh dan tangan Ray tertimpa dengan mengerikan. Api juga mulai membakar segalanya, pilihan terbaik yang Ray buat adalah mengorbankan tangan kirinya. Alhasil, dia memotong tangannya sendiri.


Dia melompat keluar dan jatuh diantara tumpukan kardus juga sampah. Entah apa yang terjadi setelahnya karena Ray langsung tak sadarkan diri setelahnya.


“Ledakan itu menghasilkan banyak kerugian. Kehilangan tangan kiri ... ini menyakitkan, sialan!”


Ray menutup matanya dengan tangan kanan miliknya. Giginya menggertak dengan kuat dan tubuhnya mulai sedikit gemetar. Sebelum hal itu berlanjut, Ray mendengar pintu diketuk.


“Siapa?” tanya Ray.


“Ini aku.”


Ray sedikit mengangkat alisnya karena dia tak menduga akan bertemu sekarang, “Terumi? Silahkan masuk.”


Wajah yang terlihat lesu, khawatir dan bersyukur di waktu yang sama. Dia berlari selagi menangis ke arah Ray. Terumi untungnya sadar bahwa kondisi Ray tidak begitu baik sehingga ia tidak datang untuk memeluknya.


“Dari mana kamu tahu aku di sini?” tanya Ray dengan penasaran. Dari pintu, dia juga melihat Erina yang entah bagaimana hanya mengintip dan tak berani masuk.


“Aku melihatmu di TV dua minggu lalu. Butuh waktu selama itu bagiku mencarimu dan datang ke sini!”


Ray tidak tahu apa yang dilakukan Terumi belakangan ini. Tentunya Ray ingin menanyakan beberapa hal penting berhubung dia sudah berada di depannya, tetapi kondisi Terumi sekarang membuatnya sulit melakukan pembicaraan berat.


Meskipun Ray sungguh penasaran tentang mengapa orang yang membawakan hadiah mengerikan berupa bom tersebut memiliki wajah serupa dengan Terumi.


“Kamu bodoh! Sudah kubilang untuk tidak bergerak sendiri namun kamu tidak mendengarkan!” Terumi mulai mengeluarkan keluh kesahnya.


Ray hanya mengelus lembut kepala Terumi dan menyampaikan, “Maafkan aku.”