
Mobil yang tampak seperti kendaraan militer namun memiliki panjang seperti bus mengelilingi sekitar.
Perkiraan kasarnya mobil itu mampu menampung empat puluh orang, dan ada lima puluh mobil serupa dengannya.
Kemungkinan besar Blueeast mengangkat dua ribu orang untuk berperang sementara sisa anggotanya mungkin sudah bersiaga di tempat lain.
Dari salah satu mobil keluar seorang pria muda dengan rambut merah gelap yang hampir hitam. Mata yang biasanya selalu mengantuk tak lagi dia miliki. Sorot mata yang ia miliki saat ini adalah tajam dan marah.
Di sisinya terdapat seorang pria yang menggunakan jas berekor dan sarung tangan putih.
Keduanya berjalan memimpin menuju gedung tertinggi dan sangat berantakan.
Kedua orang itu adalah Ordo Maguire, dan wakil ketua Blueeast, Sebastian.
“Tampaknya ada orang di atas sana.” Sebastian menggunakan tangannya untuk menghalau sinar matahari hingga dia mampu melihat ke atas tanpa masalah.
“Ya. Orang yang sama yang menembak sebelumnya.” Ordo tahu betul bahwa orang di atas sana tak berniat memulai perkelahian, namun dia perlu berjaga-jaga, “Ini untuk keamanan kita.”
Sebastian mengangguk dan segera menepuk tangan sebanyak dua kali. Orang-orang yang bersembunyi di dalam mobil keluar dengan tergesa-gesa.
Sebagian menggunakan seragam militer seperti rompi anti peluru berwarna abu-abu. Menggunakan helm dari besi dan kaca anti peluru di sekitar wajah. Senjata dengan laras panjang di tangan mereka dan penuh dengan kesiagaan.
Sementara sebagian orang lainnya hanya menggunakan rompi anti peluru. Meski bukan senjata dengan laras panjang, dan hanya senjata kuno seperti pedang serta lainnya. Orang-orang tersebut justru terlihat lebih berbahaya.
Empat orang yang memiliki tinggi dua meter dan berbadan besar mengambil langkah untuk membarikade Ordo dan Sebastian. Di tangan mereka sudah siap kaca khusus untuk mencegah peluru.
Pengamanan yang super ketat. Hanya orang bodoh yang mencoba melakukan serangan terhadap pasukan tersebut.
“Ini mungkin terkesan sedikit berlebihan.” Sebastian tertawa kecil saat mengencangkan sarung tangannya.
“Ya, namun ini juga cocok untuk gertakan.”
Beberapa meter lagi dari gedung tersebut. Ordo menghentikan langkahnya, seketika pasukan yang bersiaga juga melakukan hal yang sama.
Ia menatap atas gedung kepada pria yang tampak tak takut ataupun gentar setelah melihat pasukan bawaannya.
Ordo menyimpulkan dua hal. Antara ia sama sekali tak takut karena tidak memiliki niat permusuhan, atau ia juga memiliki pasukan yang menunggunya.
“Apakah kamu kawan atau lawan? Katakanlah sejujurnya atau gedung ini akan ditembak jatuh.”
“Jika aku menyebut bahwa ‘Aku adalah musuh' kamu takkan melepaskanku, namun jika aku mengatakan sebaliknya apa ada jaminan kamu takkan menangkapku?”
Ordo tak mengharapkan jawaban seperti itu. Harusnya ia hanya perlu menjawab posisinya kawan atau lawan, namun orang itu memiliki nyali mengatakannya.
“Itu tergantung pada apa yang akan kamu lakukan setelahnya.”
“Artinya jika aku melakukan satu hal yang mencurigakan maka kamu akan memusuhiku. Itu artinya tidak ada jaminan bahwa aku akan benar-benar selamat, ya.”
Ordo mengerutkan alisnya. Orang itu memiliki nyali lebih besar dari yang dia harapkan.
“Jangan mengulur-ulur. Katakanlah apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan.”
Meski dari kejauhan Ordo tahu pria itu menunjukkan senyumannya. Seakan-akan kalimat itu adalah hal yang dia nantikan.
“Ini akan cepat, namun sebelumnya aku akan memastikan bahwa aku bukan musuhmu.”
Ordo hendak menentang hal tersebut. Takkan ada orang yang cukup bodoh akan mempercayai perkataan orang asing.
Jika dia menjalani hidup seperti itu maka Ordo takkan pernah berada di posisinya saat ini.
“Itu ... Terumi? Sedang apa dia di sana?” Bastian tak mengerti situasinya. Memang, ia ingat betul bahwa Terumi tidak menghadiri pertemuan sebelumnya.
Ia sempat bertanya-tanya apa alasannya namun nyatanya wanita itu berada di TKP lebih dulu dari mereka.
“Tuan Sebastian! Tolong rawat Leo di sana. Aku yakin setidaknya dia masih hidup!”
Tak diragukan lagi suara tersebut adalah milik Terumi. Tanpa rekayasa apapun.
“Jadi begitu. Secara tak langsung dia mengatakan bahwa yang mengusir serikat Rebellion adalah dia. Tampaknya pria ini cerdas, dia memiliki suatu tujuan tertentu.”
Ordo dengan mudah mampu menebak bahwa akhir dari percakapan ini adalah sebuah negosiasi.
Ia ingin menolaknya karena itu seperti dia menari di telapak tangannya, tetapi ada hal yang tak bisa segera ia lepaskan begitu saja.
“Sebastian. Segera cari Leo dan rawat dia. Kita tak boleh kehilangan kekuatan tempur berharga di situasi sekarang ini.”
Sebastian mengangguk dan segera pergi. Dia membawa dua orang yang bisa memberikan pertolongan pertama.
Ordo kembali menatap pria yang berdiri di sisi Terumi dengan tertarik.
“Karena Terumi bersamamu, dan fakta bahwa kamu masih hidup membuktikan bahwa kamu bukan orang yang akan ia bunuh. Mengapa kamu tidak turun ke sini?”
Ordo tak memiliki niat menyakitinya, namun dia cukup penasaran dengan wajahnya. Wajah orang itu sulit dilihat dari jarak yang jauh, meski ia mampu mengenali Terumi karena suaranya yang khas.
“Sayangnya tidak bisa karena kami memiliki orang terluka di sini. Jalan turun ke bawah sangat rumit sehingga mustahil melakukannya.”
“Benar, ketua. Kami berhasil menyelamatkan ketua serikat Redwest, namun kondisinya buruk sedemikian rupa! Jika bisa tolong kirimkan regu perawat!”
Ordo terkejut karena hal itu. Tujuannya datang ke sini adalah untuk Erina dan andaikan wanita itu ada bersama mereka maka tak perlu melakukan tindakan bodoh.
Meski ada kemungkinan itu kebohongan, namun Terumi bukan orang seperti itu. Selain itu ...
Ordo memandang sekitarnya. Ada cukup banyak orang terluka termasuk mayat yang berserakan. Tak ada satupun dari mayat tersebut adalah anggota serikat Redwest karena mereka identik dengan logo merah polos di pakaiannya.
“Orang-orang ini mestinya anggota Rebellion. Itu artinya Leo yang ditinggalkan menjadi umpan sementara dua orang itu menyusup. Ini taktik paling besar kemungkinannya.”
Ordo meyakini bahwa tak ada kebohongan dari perkataan mereka. Situasinya juga sudah ada di dalam kepalanya sehingga ia tak ragu.
“Tangkap mereka yang masih hidup dan kumpulkan mayat mereka di satu tempat.”
“Ya!”
“Kalian berempat juga bantu mereka. Aku akan pergi ke atas sana.”
Empat orang yang membarikade dirinya segera mengangguk dan melakukan perintahnya. Ordo berjalan menuju gedung sendirian dan mengamati ketinggiannya.
“Ini cukup tinggi. Gedung empat lantai.” Ordo coba menghitung berapa ketinggiannya.
“Apa yang kamu lakukan, ketua?” Terumi berseru karena penasaran. Dia menatap terlalu jauh ke bawah sehingga bisa saja jatuh. Namun pria yang bersamanya segera menarik bahunya
“Kamu bisa saja jatuh. Semuanya akan jadi merepotkan.”
Ordo mengabaikan percakapan mereka dan mulai meregangkan tubuhnya.
”Mari kita mulai.”
Tindakan yang ia lakukan selanjutnya cukup untuk memberikan kejutan kepada Terumi dan pria yang bersamanya.