
Entah berapa lama waktu telah berlalu namun Ray yakin bahwa sudah banyak waktu yang terlewat sejak dua saudari kembar tersebut datang mengunjunginya bersama dengan permintaan anehnya.
Selama waktu itu Ray tak lupa mengintrogasi keduanya selagi melakukan hal-hal yang tak perlu dijelaskan lagi.
Dari sebuah buku yang Ray baca di masa lalu, wanita kerap melupakan akal sehatnya saat berhubungan intim. Lebih baik lagi, akal sehat wanita takkan aktif ketika mereka mulai melakukan hal-hal atas dasar cinta.
Meski Ray tak melakukannya atas dasar tersebut, setidaknya bagian dalam hubungan tersebut lebih dari cukup untuk membuat akal sehat keduanya melayang karena sesuatu yang orang sebut ‘Kenikmatan Surgawi’.
Ray memakai kembali pakaiannya dan menatap dua gadis itu Mereka tanpa busana dan hanya ditutupi selimut untuk menutupi tubuh keduanya, tertidur dengan nyenyak seakan-akan sedang bermimpi indah.
“Mereka sangat lengah. Cukup bodoh untukku berpikir bahwa mereka cukup berbahaya untuk mengancamku.” Ray memulai evaluasi ulang kepada Rani dan Rina.
Awalnya Ray yakin dengan kombinasi dari kedua Degree itu akan berbahaya baginya karena selalu ada kesempatan untuk mereka mencuci otaknya. Namun setelah kejadian ini, semua kekhawatiran itu bisa diyakini mendekati mustahil untuk terjadi.
Ray tak lupa membersihkan kamarnya dari berbagai hal yang tidak lagi diperlukan sebelum pergi meninggalkan kamarnya.
“... aku tidak tahu apakah ada tempat sampah di sini.”
Selama ini Ray tak melihat adanya robot pembersih atau sejenisnya, ia bahkan belum menjelajahi tempat ini karena memfokuskan diri untuk pemulihan fisiknya.
“Tampaknya tidak ada di sekitar sini.” Ray menatap plastik hitam yang berisi beberapa pengaman yang telah terpakai.
Ia bahkan mau menyia-nyiakan DP untuk membeli plastik hitam mengingat benda-benda itu bukan sesuatu yang bisa dibawa dengan tangan kosong.
Ray kemudian memeriksa Market. Jika alat kontrasepsi ada di sana, maka bukannya tidak mungkin hal remeh lainnya tidak ada. Dengan DP-nya Ray membeli korek dan sedikit minyak tanah untuk membakar barang bukti tersebut.
Setelah membakar semua benda tersebut di lorong Ray lekas pergi untuk menjelajahi tempat ini. Kondisi fisiknya sudah baik-baik saja meskipun Rani dan Rina cukup menguras tenaga.
Ray pergi ke taman di mana banyak orang menikmati waktunya. Tak hanya tanaman, kupu-kupu, dan air mancur. Tempat ini juga tampaknya memiliki matahari yang masuk dari lubang di langit-langit yang tinggi.
Selain itu, sulit dipercaya bahwa Secret membuat hal-hal yang bisa disebut tidak penting seperti ini.
Ray kemudian ingat tentang kata-kata Secret. Singkatnya, Secret meminta para partisipan untuk memulihkan kondisi fisik dan mentalnya. Kurang dari dua bulan ke depan tidak akan ada tugas apapun dari Secret.
Meski begitu bukannya tidak mungkin untuk melakukan beberapa hal seperti, pembunuhan hingga sabotase misalnya.
“Kunang-kunang mulai menerangi taman ... Maka artinya sudah malam hari. Kedua bocah itu menyita waktuku hampir setengah hari.” Ray berdecak sedikit kesal sebelum pergi ke tempat yang membuat ia tertarik yakni, mall.
Diantara banyaknya hal yang ada di tempat ini seperti taman hingga wahana rekreasi, mall menjadi salah satu tempat paling populer karena banyak sekali hal di dalamnya.
Mulai dari pakaian, aksesoris, restauran hingga bahkan bioskop yang semuanya bisa diakses dengan DP. Meski tidak ada alat seperti handphone, komputer dan televisi, selain alat-alat yang memiliki kemungkinan mengirimkan pesan ke dunia luar, segalanya tersedia di Mall dan sistem Market.
“Tidak sedikit yang menyadari bahwa ini hanya ketenangan sebelum badai. Meski begitu aku yakin semua orang menyadarinya.”
Semuanya pasti menyadari bahwa ini bukanlah akhir dari hal-hal menyakitkan yang mereka alami, tetapi masih tahap pertengahan dari peristiwa yang lebih menyedihkan nantinya.
Reid cukup tertarik dengan restoran karena tidak ada penghiburan terbaik selain makanan lezat. Tentunya ia bisa menonton film namun Reid kurang suka karena setiap kali Ray mengetahui masalah dalam cerita dan seluruh konfliknya, secara tidak langsung otaknya akan menemukan ending cerita.
Hal tersebut tidak lagi menarik bagi Ray sampai pada suatu titik menonton film jadi hal yang membosankan. Namun makanan tentunya berbeda.
Tidak peduli seberapa banyak buku yang telah dibaca dan tak peduli seberapa cerdas otak Ray, pada akhirnya kedua hal tersebut akan dikalahkan oleh makanan enak.
Setiap kali membiarkan berbagai makanan meresap ke lidahnya, sesuatu yang benar-benar lain dan berbeda dari yang tertulis juga bayangkan akan mematahkan semuanya.
Ray tak pernah membenci rasa seperti itu, rasa di mana semua pemikiran dan asumsinya salah.
“Aku juga bosan makan ransum, sesekali tidak apa aku melakukannya.”
Saat Ray berniat melangkah ke dalam restauran, suara seseorang datang untuk memanggilnya. Tentunya Ray mengenal suara tersebut meski belum lama ini.
“Tidak kuduga kita akan bertemu di sini,” pria tinggi itu tersenyum dan mengangkat tangannya sebagai sapaan, “Lama tidak berjumpa, Ray.
“Ya. Lama tidak berjumpa,” Ray mengangguk dan menatapnya dari atas sampai bawah, “Penampilanmu sangat berbeda ketika tidak berdandan, Ben.”
Ben memang orang yang tinggi dan cukup tampan tanpa riasan di wajahnya. Ia memiliki paras seperti pria lembut dan tak berdosa, meski begitu bukan berarti ia tidak memiliki bagian lain dari dirinya.
“Banyak yang mengatakan itu. Bahkan Indri dan dua bocah itu juga sama.” Ben menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan sedikit tertawa, ia kemudian menyadari bahwa Ray berniat makan di restauran.
“Kamu sepertinya berencana untuk makan. Apa tidak masalah jika aku bergabung?”
Ray tak perlu berpikir untuk menjawabnya, “Ya, silahkan saja.”
“Terima kasih.”
Keduanya berjalan ke restauran bersamaan dan duduk di pojok ruangan. Ray memesan daging steak dan pasta karena ia cukup merindukannya, sementara Ben memesan hamburger dan juga pizza.
Ray menatapnya dengan takjub, itu porsi yang terlalu besar untuk dihabiskan seorang diri. Meski begitu ia tidak mau berkomentar mengingat dirinya juga sama. Daging steak dan pasta bukan kombinasi yang menyehatkan.
“Tidak ada yang lebih menghibur selain makanan enak,” Ben bergumam ketika menyantap makanannya dengan harmonis.
Ray sendiri tidak banyak bicara namun ia diam-diam setuju dengan Ben akan hal itu. Tak ada percakapan diantara keduanya selama menyantap makanan mereka.
Setelah menyantap makanannya Ray lekas memesan jus alpukat sementara Ben masih menyantap pizza-nya yang baru habis separuh.
“Ini kedamaian yang berharga.” Ben tiba-tiba berbicara dan menatap sekelilingnya. “Kedamaian yang sementara ini dan entah kapan akan bisa kita rasakan lagi.”
“Mungkin setelah semua ini berakhir, kedamaian akan kembali didapatkan.” Ray menjawabnya tanpa berpikir panjang.
“Harusnya begitu, tetapi aku tidak cukup percaya diri dengan masa depan itu.”
Ray cukup terkesima dengan Ben. Pria ini tampak seperti orang baik yang lembut, tetapi ia juga tipe orang yang menatap jauh ke masa depan. Fakta bahwa ia tidak mempercayai kedamaian di masa depan membuat Ray yakin akan hal itu.
Ben kemudian terus berbicara.
“Bayangkan saja, ketika kita para pemilik Degree dilepaskan ke dunia, seberapa banyak kekacauan yang akan timbul?”
“Akan ada orang-orang seperti kita yang diam dan tak menyalahgunakan kekuatan. Namun, orang bodoh yang bertindak gila akan ada. Mereka akan menyalahgunakan dan menyebabkan keberadaan kita terungkap.”
Jika keberadaan manusia yang bisa menggunakan kekuatan seperti itu dan diketahui bahwa ada beberapa manusia berevolusi, sangat mustahil negara-negara akan diam saja.
Andaikan fakta ini terungkap ke negara-negara besar, maka perburuan manusia dengan Degree akan terjadi secara besar-besaran. Jika itu yang terjadi maka tak pernah ada ketenangan dalama hidup bahkan jika berhasil keluar dari semua tugas ini.
“Kamu mungkin ada benarnya tentang itu. Sangat sulit membayangkan masa depan di mana keberadaan Degree tidak terungkap kepada dunia.” Ray setuju oleh asumsi tersebut. Bahkan pada tahap ini, Ray tak pernah membayangkan kedamaian setelah keluar.
Dari tatapan tajam tersebut Ben jelas mencoba mempelajari Ray. Orang ini harus tahu bahwa ada rencana besar yang Ray ingin lakukan ketika semua ini selesai. Belum lagi, Ray adalah satu-satunya di tempat ini yang tahu tujuan utama Secret.
“Aku belum memikirkannya sampai sejauh itu. Secret mungkin saja tidak akan pernah membiarkan kita berkeliaran pada tahap ini sampai Degree dipasarkan.”
“Itu memang salah satu kemungkinan yang masuk akal untuk terjadi. Menutup keberadaan kita dari dunia adalah salah satu cara terbaik untuk hidup tanpa perburuan.”
Masalahnya adalah jika itu terjadi bukannya mustahil sistem hierarki akan muncul dan bahkan keberadaan para pemberontak. Virgo adalah salah satu variabel yang memungkinkan menjadi pemimpin pemberontak.
“Bagaimana menurutmu, Ben? Apakah ada cara untuk keluar tanpa mengungkapkan Degree?” Ray kini melempar pertanyaannya ke Ben.
Seolah menantikan hal tersebut Ben tersenyum dingin, “Ada,” katanya, “Jika kita mengeliminasi orang bodoh dan menyisakan mereka yang berakal, bukan mustahil mengubur keberadaan Degree hanya dengan kita.”
Ray sedikit terkejut, ia sudah tahu kalau Ben memiliki wajah lain namun tidak terduga akan sangat gelap seperti ini. Orang jahat akan selalu menemukan rencana jahatnya.
“Itu sesuatu yang cukup sulit untuk dilakukan. Bukan mustahil namun hampir dekat dengannya.”
“Ya. Itu adalah langkah yang sulit, tetapi aku yakin kita bisa melakukannya jika mau melakukannya.”
‘Hm? Apa yang diinginkan pria ini?’ pikir Ray.
Sejak tadi entah mengapa Ray merasakan sesuatu bahwa Ben berusaha menyampaikan sesuatu secara samar-samar. Meski belum jelas apa itu, namun Ray bisa memikirkan satu hal.
“Kamu pria yang cerdas, Ray. Aku tahu bahwa kamu akan mengerti maksudku.” Ben bangkit dari kursinya dan berniat pergi, tetapi ia berhenti sebentar, “Omong-omong bagaimana dengan wanita itu?”
“Saat kita melakukan pembicaraan, seorang wanita mengendus kehadiranku. Aku tentu berhasil melarikan diri, namun ...”
“Aku sudah membunuhnya.” Ray memotong perkataan Ben.
Wanita yang ia maksud semestinya adalah Mein, orang yang paling setia dan ada di sisi Erina. Sejak awal Ray memang ingin membunuhnya bersama Ordo untuk menghancurkan dinding mental Erina dan menjadikannya budak yang akan mematuhi semua perkataan Ray.
Mengapa ia mau melakukan hal yang tampak mustahil? Itu tentu saja karena Degree. Perlahan dan sedikit demi sedikit Ray mulai mengerti hal-hal yang bisa dilakukan oleh Degree miliknya.
“Begitu. Itu hal yang bagus karena wanita itu cukup berbahaya.” Ben tak berbicara lebih banyak dan lekas pergi meninggalkan restoran.
Ray diam cukup lama karena ada beberapa hal yang mengganggunya, salah satunya perkataan Ben dan hal-hal yang tersirat darinya.
‘Aku bisa menyimpulkan satu hal namun masih ada variabel yang perlu diperhatikan.’
Ray menghela napas lelah karena memikirkannya pada tahap ini tidak akan berguna. Ia kemudian menatap piring bekas dan pizza tak habis milik Ben sebelum mengerutkan alis.
“Aku tahu ia memiliki wajah yang gelap, namun tak kuduga akan seperti ini.”
“Bajingan ini meninggalkanku bersama dengan tagihannya.”
Ben pergi tanpa membayar makanannya. Sebagai orang yang duduk di kursi yang sama, maka Ray akan menjadi orang yang harus membayarnya. Bahkan tindakannya itu lebih jahat dari orang jahat.
Ray hanya menghela napas dan menerima nasib sial yang disebabkan oleh kebodohannya sendiri. Sebelum pulang Ray memesan beberapa makanan seperti salad dan buah-buahan.
Ia tak segera kembali ke kamarnya, tetapi pergi ke tempat lain yang cukup jauh dari tempatnya. Ray mengetuknya beberapa kali.
“Ini aku. Bukakan pintu.”
“... ya.” Suara dari balik pintu menjawabnya dengan lesu.
Ray menemukan penampilan wanita dengan rambut kemerahan, wajah cantik dan tubuh sekelas model. Itu adalah Erina.
“Kamu tampaknya sudah lebih baik, pemulihannya juga cepat.”
Meski belum boleh banyak bergerak, setidaknya Erina sudah bisa melakukan hal-hal ringan seperti berjalan dan lainnya. Serum D terbukti juga cepat dalam menyembuhkan patah tulang.
Ray masuk dan mengunci pintunya sebelum duduk di kasur, ia meminta Erina untuk duduk di sisinya.
“Kamu masih anak yang penurut.” Ray berkata demikian namun sejujurnya ia memiliki kecurigaan. “Makanlah ini.”
“... ya.”
Ray memberikan buah-buahan dan sayuran yang ia beli kepada Erina. Wanita itu memakannya perlahan. Ray terus menyaksikannya dalam diam sampai Erina selesai makan.
Wanita itu tidak melakukan apa-apa selagi diam dan menatap Ray dengan wajah kosongnya. Ray kemudian menghela napas dan menatap langsung Erina
Dalam waktu singkat Ray mencengkram leher Erina dan membantingnya ke kasur. Ray kemudian menindih Erina dan membuatnya tak bisa banyak bergerak. Tenaga yang ia keluarkan cukup kuat, tetapi Erina sama sekali tidak terlihat menderita.
“Jangan berpura-pura, aku tahu kamu sadar.” Ray berkata dingin dan menguatkan cengkramannya.
Erina tak bersuara meski ia menderita karena kesulitan dalam bernapas.
“Aku tak ragu membunuhmu sekarang, Erina. Lebih baik kehilanganmu di tahap ini ketimbang membiarkanmu diam-diam menodongkan pistol di belakangku.”
Kehilangan Erina akan menjadi kerugian besar yang akan didapatkan oleh Ray. Namun itu tidak akan sebanding jika pada akhirnya Erina akan menjadi pengkhianat.
Meski paru-parunya terasa seperti terbakar, meski ia menderita karena sesak, wajah Erina tidak membuat perubahan apapun bahkan meski perlahan nadinya sedikit melemah.
Ray kemudian melepaskan cengkramannya yang meninggalkan bekas tangan di leher Erina. Kecurigaannya tampaknya salah.
“Kamu masih dalam kendali. Bagus.”
Ray menganggukkan kepala dan berencana membiarkan Erina beristirahat, tetapi untuk beberapa alasan wanita itu meraih tangannya. Entah apa arti dari tindakannya namun secara samar Ray menemukan kesedihan di mata Erina.
“Sepertinya mentalmu masih terguncang karena kematian Ordo dan Mein.”
Itu bukan hal yang baik. Ray tak terlalu mengerti tentang cara kerja kekuatan si kembar itu. Ada keperluan untuk tidak membuat hal-hal yang bisa mematahkannya.
“Kamu tidurlah. Aku akan ada di sampingmu dan memegang tanganmu.”
“... ya.”
Erina mulai berbaring dan memejamkan matanya, Ray memegang tangan wanita itu dan merasa hangat. Tentunya, ia tidak memikirkan hal-hal yang tidak rasional. Meski begitu, ini kali pertama Ray merasakan gejolak di dadanya.
“Perasaan apa ini?”
“Ini pertama kalinya bagiku. Bukan hal yang buruk, justru sebaliknya. Ini menyenangkan.” Ray memegang dadanya selagi tersenyum tipis.