
“Mari lenyapkan mereka!” Chelsea mengatakan perkataan yang liar dan tak cocok untuk wanita sepertinya.
Ray hanya diam mengamati situasinya dan tak mengatakan apa-apa. Alasan ia tak khawatir karena sejak awal Indri bukan rekannya. Selain itu wanita ini tidak bodoh untuk menjatuhkan dirinya ke kandang singa tanpa persiapan apapun.
“Kamu betina yang mengerikan. Sungguh, tidak bisakah kamu menjadi feminim bahkan untuk seukuran betina kera?” ujar Indri dengan sarkasme yang biasa.
“Hah? Orang yang akan mati tak perlu banyak bicara,” Chelsea berkata dengan emosi yang tertahan.
Indri hanya mendengus, wajahnya seakan mengatakan bahwa kematiannya belum pasti.
“Apakah kamu tahu? Manusia hidup dengan mengetahui bahaya. Dan, aku manusia dengan kecerdasan. Tentunya aku tidak akan masuk ke lautan hiu tanpa menyiapkan sangkar.”
Kata-katanya sulit untuk dipahami namun Ray tahu bahwa wanita ini memiliki rencana. Disaat itu juga Ray mencium bau tidak sedap datang dari tempat yang cukup jauh.
Itu bukan bau sesuatu yang terbakar, tetapi lebih ke gas yang Ray tak tahu bagaimana cara menjelaskan aromanya.
Mendadak sesuatu berbunyi seakan sedang berguling, sedetik kemudian gas menyusup di tengah-tengah kerumunan. Itu adalah granat asap tebal yang membuat Ray dan yang lainnya batuk-batuk.
“Dari mana datangnya ... uhuk—” Terumi tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena asap yang menusuk hidungnya.
Ray segera menutup hidung dan menyampaikan, “Ini bahaya, semuanya menjauh dari asap!”
Kemungkinan adanya serangan ketika indra mereka dilumpuhkan sangat besar. Jalan aman yang bisa mereka ambil adalah pergi dari sini.
Ray keluar dari kepulan asap disusul dengan Terumi, Leo Eric dan Arthur serta rombongannya.
“Tidak ada siapapun selain kita,” ujar Ray memandang sekitar dengan bingung.
Arthur juga melakukan hal yang sama dengannya, “Lalu siapa yang melakukannya? Aku tak melihat ada sosok selain kita.”
Ray sendiri tidak tahu siapa pelakunya namun jika harus menebaknya besar kemungkinan ini bagian dari rencana Indri. Faktanya wanita itu sudah tidak ada di manapun. Chelsea coba mencarinya namun tidak menemukan apa-apa.
“Mereka telah menghilang. Aku yakin mereka masih di sekitar sini, lebih baik kita cari!” ujar Chelsea.
“Tidak, kamu tak boleh melakukannya, Chelsea!” Eric lekas menarik tangan adiknya.
“Mengapa kamu selalu menghentikanku, kak?!” Chelsea membentak dan mengibas tangan Eric dengan kesal.
“Tidak. Dia benar, Chelsea. Kamu tak perlu mengejarnya karena orang itu sangat berbahaya,” ujar Arthur, mendukung Eric untuk tak membiarkan Chelsea pergi.
Ray hanya menyaksikan pertukaran kecil itu dalam diam, ia kemudian memandang sekitar sebelum menatap jam tangannya. Waktu yang ditentukan telah tiba.
‘Ini dia,’ pikir Ray.
BOM!
Ledakan keras terdengar dari blok barat, asap hitam mengepul dan membuat blok tempat mereka berada bergetar.
“Ada apa ini? Semacam serangan?!” seru Leo dengan panik.
Ledakannya tak hanya sekali, tetapi datang berkali-kali banyaknya. Seiring dengan berjalannya waktu ledakannya semakin dekat. Butuh waktu tak sedikit untuk semuanya menyadari bahwa tempat mereka berada saat ini mungkin menjadi lokasi ledakan juga.
“Sial! Apa ini ulah wanita itu atau mungkin Secret?!” Bahkan Eric yang biasanya tenang tak bisa mempertahankan sikapnya.
“Entahlah! Untuk sekarang prioritas kita adalah mengungsi!” seru Arthur selagi memimpin jalan pelarian. “Taman adalah tempat teraman untuk saat ini!”
Di taman yang luas tersebut mereka tidak perlu khawatir akan bangunan runtuh sehingga tempat itu layak dikunjungi.
“Sial ledakan itu juga sampai sini!” ujar Leo dengan tergesa-gesa.
Mereka bisa melihat setiap jalan yang sudah dilalui meledak dan hancur. Ledakannya cukup keras untuk membangunkan semua orang dan mereka lekas mengungsi.
Ada terlalu banyak orang di satu tempat, Ray hampir tak bisa melihat Arthur lagi.
“Ray!” Terumi melawan arah dan meraih tangan Ray, “Kita tak boleh terpisah.”
“Ya.”
Di satu sisi Ray cukup lega karena Terumi memperhatikannya namun di sisi lain keberadaannya hanya mengganggu saja.
Ramainya orang yang berbondong-bondong mengikuti Arthur untuk ke taman, Ray merasa tak ada pilihan selain mengambil jalan lain. Mau bagaimanapun dia sangat tahu tempat-tempat yang akan meledak.
‘Jika daerah ini juga meledak, maka artinya Degree Ben bisa digunakan untuk ini.’
Ray sebelumnya telah bekerja sama dengan Ben tentang ini. Percakapan terakhir mereka saat Ben mengetahui Ray memiliki rencana sendiri, Ray menguak rencananya untuk menghancurkan beberapa blok dan mengeliminasi separuh peserta.
Mari mundur ke beberapa minggu sebelum rencananya dilaksanakan.
...****************...
“Apa rencanamu, Ray? Nona memberitahuku kalau kamu sudah memiliki rencana untuk dijalankan.”
“Aku berencana mengeliminasi separuh orang di tempat ini.”
Ben membuat wajah yang terkejut, “Bagaimana caranya?”
“Ini bukan tempat yang layak untuk membicarakannya. Mari kita pindah.”
Tempat sepi dan tak banyak dikunjungi orang di mall ini hannyalah bagian terbelakang di mana tempat pembuangan sampah berada. Tidak ada yang akan mau mengunjungi tempat menjijikkan seperti ini.
“Jadi, apa rencanamu?” tanya Ben dengan tergesa-gesa dan tak sabaran.
“Yah, singkatnya aku ingin menghancurkan tempat ini. Jika aku meletakkan beberapa bom dan menghancurkan beberapa blok, bukan mustahil membunuh mereka yang ada di dalamnya.”
Itu rencana yang amat sederhana namun jelas mematikan. Ada banyak celah dari rencana tersebut namun Ray tak peduli karena ia tahu Indri akan coba melibatkan dirinya.
Dengan Ben datang untuk menyampaikan ia berniat mengulurkan tangannya sudah cukup untuk Ray yakin akan rencananya.
“Itu rencana yang besar dengan kemungkinan berhasil kecil,” ujar Ben, mengelus dagunya.
Ray tahu mengapa rencananya bisa dibilang memiliki keberhasilan sukses yang kecil. Salah satunya adalah dinding besi yang membuat tempat ini berdiri.
“Aku yakin Secret sudah mempertimbangkan hal-hal seperti ini. Bisa saja mereka menambahkan besi baja yang sangat kuat agar tidak hancur oleh ledakan,” ujar Ben. “Melakukan uji coba juga mustahil karena akan menarik perhatian.”
Ray mengangguk setuju, sejak awal ia tak berniat melakukannya karena tahu ada kemungkinan rencananya terkuak. Mungkin hanya segelintir orang yang bisa meramalkannya namun dari segelintir orang itu ada sosok yang tak boleh mengetahuinya.
“Tentu saja itu benar. Namun bahkan jika ledakannya tak cukup untuk mengeliminasi separuh orang di tempat ini, setidaknya aku akan mengeliminasi kelompok menyebalkan.”
Kata-kata Ray memancing kecurigaan dari Ben. Ben mengerutkan alisnya dan sedikit marah.
“Apa maksudmu itu kelompok kami?” tanyanya dengan dingin dan tak percaya.
Ray bersandar dan menatap langit-langit, “Jika harus jujur aku memang belum mempercayai kalian sepenuhnya. Namun untuk saat ini kalian belum ada di daftar orang yang harus dilenyapkan. Setidaknya, kalian belum pernah menghambatku.”
Indri dan kelompoknya memang termasuk ke dalam variabel yang bisa membahayakan. Belum lagi mereka tidak memiliki visi yang jelas. Ray tak percaya dengan omongan mereka hanya ingin membantunya.
Namun Ray bisa mengecualikan mereka untuk sekarang karena sejauh ini belum ada tanda kalau mereka akan melakukan pengkhianatan.
“Begitu, kah. Yah, tak ada diantara kami yang cukup bodoh untuk mencari permusuhan darimu. Ketua juga tak ingin menjadi musuhmu.”
Ben berkata datar namun Ray tahu ia tak berbohong. Setidaknya untuk saat ini saja.
“Mengenai rencanamu, aku pikir bisa memberikan beberapa bantuan berarti.”
“Apa itu?’ tanya Ray dengan tertarik.
“Dengan Degree-ku bukan hal yang mustahil membuat bom ataupun semacamnya. Tentu ada beberapa syarat yang harus aku patuhi namun kekuatanku sangat berguna untuk rencana seperti ini.”
“Hanya saja ada kelemahan fatal tentang kekuatanku. Aku tak bisa membuat banyak benda untuk ditinggalkan dalam waktu yang lama.”
Ray penasaran tentang berapa lama waktu yang bisa Ben miliki untuk mempertahankan kekuatannya. Tentu mau bagaimanapun orang ini mungkin akan menjadi musuh yang merepotkan.
“Aku berencana melakukannya di penghujung penutupan tempat ini. Apa kamu bisa menggunakan kekuatanmu satu minggu sebelumnya hari penutupan?” tanya Ray.
Ben terlihat kesulitan untuk menjawabnya, “Itu tentu saja ... mustahil. Aku tak bisa mempertahankannya selama itu.”
Ben menghela napas panjang dan lelah, “Rencananya akan dijalankan ketika waktu penutupan tiba? Maka akan jadi beberapa jam sebelum waktu yang ditetapkan.”
Ia mulai mengelus-elus dagunya seakan-akan sedang memikirkan sesuatu. Setelah beberapa menit hening akhirnya Ben menatap Ray dan menyampaikan isi pemikirannya.
“Aku akan menyiapkan bom dari kekuatanku di waktu tertentu. Kamu tak perlu khawatir karena saat waktunya tiba semua akan selesai. Bagaimana?”
Ray berpikir kalau itu akan sangat meragukan. Belum lagi Ben tidak cukup bodoh untuk mengungkapkan waktu kapan ia akan memasang bom dari kekuatannya. Ray sedikit menyesali hal ini namun apa boleh buat.
‘Aku harus menunjukan kalau aku tidak memiliki kecurigaan besar kepada mereka saat ini,’ pikir Ray.
“Itu cukup baik. Aku tidak keberatan dengan hal itu namun dengan satu syarat.”
Ben sedikit mengerutkan alisnya karena Ray meminta sebuah syarat, “Apa itu? Tergantung pada syaratnya aku mungkin akan menolak berpartisipasi.”
Ray tidak yakin apakah Ben dapat berbicara atas nama Indri. Pemimpinnya adalah Indri. Ben tidak memiliki tempat untuk menyatakan apakah dia dan rekannya akan membantu Ray atau tidak.
“Aku hanya ingin mengadakan pertemuan denganmu, Indri dan semua rekanmu itu saat persiapannya selesai. Ini jaminan untukku apakah kerjasama ini tersampaikan kepada semuanya atau hanya kamu seorang.”
Ray tentu saja berbohong. Ia ingin pertemuan itu untuk tujuan lain, yaitu membongkar berapa lama batas kekuatan Ben untuk mempertahankan benda yang ia buat.
Ben tampak berpikir keras. Ray tidak tahu apakah Ben menebak niatnya atau tidak namun setidaknya orang itu tidak memiliki banyak opsi sekarang ini.
“Huh,” Ben menghela napas panjang dan tersenyum ketir. “Baiklah. Saat persiapannya tiba kami akan mengundangmu untuk pertemuan. Tentunya jika tak ingin mencolok kamu harus rutin pergi ke mall atau tempat lain yang mudah dikunjungi.”
“Mustahil bagi kamu menjemputmu ke kamar,” Ben menambahkan.
Tertangkap melakukan kontak di tempat Ray tinggal lebih mencurigakan ketimbang kontak di luar. Pilihan bijak adalah bertemu di tempat yang ramai orang.
Tidak akan ada orang yang mencurigakan apakah daun yang berserakan di tanah berasal dari pohon sekitar atau tempat yang lebih jauh. Tempat paling cocok menyembunyikan rahasia adalah dikeramaian.
“Tentu. Kalau begitu kita sudahi ini. Aku harus mengkoordinasi beberapa hal. Ini akan jadi hari yang sibuk,” ujar Ray perlahan meninggalkan tempatnya.
Ben tampak menatap punggungnya dengan tajam. Sebelum Ray benar-benar menghilang dari garis pandangnya, Ben menyampaikan;
“Ingatlah bahwa kami tidak ingin menjadi musuhmu. Justru sebaliknya, kami ingin menjadi rekanmu.”
Itu kalimat yang terus ditegaskan baik oleh Ben ataupun Indri. Ray tentunya tidak peduli dan mengabaikan hal tersebut. Rekan terbaik yang ia miliki adalah dirinya sendiri.