The Degree

The Degree
Tawaran Eric



“Bisakah aku meminjam sedikit bantuan kalian?”


“Bantuan apa?” tanya Ray. “Aku tidak yakin bisa menyelesaikan permasalahan sepasang kekasih.”


Ray tidak akan memahami permasalahan internal antara hubungan yang dijalin dua orang. Bahkan jika ia mengerti, pilihan terbaik adalah tidak ikut campur ke urusan tidak menguntungkan.


“Sudah kubilang dia bukan pacarku. Dia adikku.”


Ray terkejut mendengarnya, “Dia adikmu, Eric? Umur kalian tampak tidak jauh berbeda.”


Eric tersenyum masam. Ia sendiri sadar bahwa umurnya tidak terpaut jauh dengan adiknya itu. Sudah menjadi hal umum bahwa orang-orang salah mengira mereka sepasang kekasih dan bukannya saudara.


“Yah, meski kami tidak benar-benar terikat hubungan darah.”


Mereka memiliki ibu yang berbeda. Eric kehilangan ibunya saat melahirkan sementara adiknya kehilangan ayah ketika ia masih kecil. Entah bagaimana caranya, ayahnya Eric dan ibu dari adiknya bertemu sampai akhirnya membuat komitmen.


Eric dan adiknya hanya berbeda satu tahun. Meski bukan saudara kandung, hubungan mereka sedekat saudara kandung pada umumnya.


“Apa yang memangnya bisa kami bantu?” tanya Terumi.


Eric mulai menjelaskan situasinya dengan rinci. Permasalahan diantara keduanya ada pada esok hari. Adik Eric berniat pergi sendirian dan tak mau lagi berada di bawah perlindungan Eric.


Sejak memasuki tempat ini dan ketika memiliki Degree, adiknya mulai bertingkah semena-mena dan merasa kuat untuk berjuang sendirian.


Eric tentunya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Di lima tugas awal, Eric menggantikan adiknya untuk mengotori tangan dengan membunuh orang.


“Chelsea— adikku masih belum memahami seberapa mengerikan tempat ini. Aku selalu membuatnya tidak melihat kebusukan tempat ini. Terutamanya di Open World.”


Eric terlihat menyesal akan sesuatu yang tak bisa ia tarik kembali. Tentunya Ray tahu apa penyebabnya. Sejak awal semua ini terjadi karena kesalahannya sendiri.


“Jujur aku katakan. Kamu cukup bodoh.” Ray tidak segan menyampaikan kalimatnya, “Tidak membiarkannya melihat seberapa mengerikan tempat ini adalah kesalahan besar.”


“Kamu harusnya memiliki asumsi bahwa semua uji coba ini tidak akan berakhir dengan cepat ataupun hanya beberapa tahap,” ujar Terumi, ikut menjabarkan kesalahan fatal yang dibuat Eric.


Eric tampak terpukul oleh kata-kata tersebut. Ia jelas menyadari kesalahan yang membawanya ke situasi seperti ini.


“Ya. Aku tahu itu. Namun pernahkah kamu berpikir untuk membiarkan adik yang kamu sayangi mengetahui hal-hal mengerikan seperti pembunuhan dan pengkhianatan?”


Terumi dan Leo tentunya diam, mereka mungkin tahu perasaan yang dimaksud oleh Eric. Hanya Ray yang berbeda. Dia sama sekali tidak mengerti hubungan rumit seperti itu.


Ray lebih berpikir realistis. Ketimbang tidak membiarkannya melihat realita kejam tempat ini, lebih baik membuatnya melihatnya. Agar ia tahu bahwa tempat ini tidak seperti yang ada di dalam benaknya.


“Apapun itu. Kamu ingin kami melakukan apa?” tanya Leo, mengalihkan pembicaraan, “Aku ingatkan bahwa kami tak bisa membantumu berbaikan.”


Leo mempertegasnya. Meskipun Terumi mungkin tidak setuju oleh hal itu namun ia memilih diam. Di tempat ini mereka tidak bisa menjadi orang yang benar-benar baik hati.


Bahkan tidak ada jaminan kalau semua ini mungkin saja sudah dirancang. Jika harus mengungkapkan pendapatnya apakah Ray akan membantu atau tidak. Ia sendiri masih belum menentukan.


“Tenang saja. Aku juga tidak berniat memiliki hutang yang terlalu besar,” Eric tentu sadar bahwa posisinya dengan Ray dan lainnya adalah musuh yang sedang gencatan senjata. “Adikku, dia berencana menangkap si pembunuh belakangan ini.”


Terumi dan Leo terkejut. Selama ini tidak ada orang yang cukup bodoh menyatakan langsung untuk menangkapnya. Alasannya sederhana karena si pembunuh ini meninggal jasad korbannya dengan mengerikan.


Bahkan jika itu menguntungkan membersihkannya pada tahap ini, tetap saja itu bukan pekerjaan mudah.


“Mengapa ia ingin menangkap orang gila seperti itu?” tanya Ray.


Eric menjelaskan kalau adiknya ingin membuktikan bahwa dirinya lebih dari mampu menghadapi berbagai kesulitan sendirian. Dengan menangkap si pembunuh ini, adik Eric akan menggunakan hasil itu agar bisa lepas dari tangannya.


Tentunya Eric menentangnya dengan keras karena pelaku pembunuhan ini sendiri tidak jelas siapa orangnya. Bahkan jejaknya sama sekali tidak diketahui. Mustahil mencari ataupun menangkap orang seperti itu.


“Adikku juga takkan mampu melawan orang gila ini. Di memang percaya diri dengan bela dirinya, tetapi ia lupa bahwa di tempat ini dia bukan satu-satunya yang spesial.”


“Semua orang memiliki Degree.” Leo tahu apa yang dimaksud spesial oleh Eric.


“Degree membuat orang lemah bisa menjadi sangat kuat. Bakat tak lagi berguna di sini.” Bahkan Terumi sendiri mengerti. Dirinya adalah salah satu dari banyak orang seperti itu.


“Jika begitu, apa kamu berniat meminta bantuan kami untuk menangkap si pembunuh ini?” tanya Ray.


Jika begitu adanya Ray harus mempertimbangkan permintaannya baik-baik. Disatu sisi ia tahu dalang dari pembunuhan ini dan tak seharusnya terlibat lebih jauh. Namun di sisi lain Ray penasaran mengapa orang itu sampai melakukan pembunuhan.


“Tidak.”


Ray sedikit membelalakkan matanya. Ia tak menduga kalau Eric tidak akan meminta hal itu.


“Sudah kubilang kalau aku tidak ingin membuat hutang yang terlalu besar,” ujar Eric. “Yang kuinginkan dari kalian adalah tidak pergi ke kamar dan menunggu di luar blok tempat tinggal kalian.”


Itu permintaan yang aneh namun sedetik kemudian Ray mengerti maksudnya. Niat Eric mungkin samar namun itu cara yang efektif. Sangat efektif.


‘Orang ini tajam dan pintar. Aku tak tahu dari generasi berapa dia namun Eric adalah orang berharga untuk dijadikan rekan,’ pikir Ray.


“Menunggu di luar blok? Memang apa gunanya bagimu?” tanya Terumi, menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Jika kita menunggu di luar blok, andaikan si pembunuh ada di blok tempatmu tinggal. Mau tidak mau kamu akan pergi menemuinya karena tak ingin menjadi tersangka.”


Contohnya, di lorong panjang blok A. Ray berdiri di satu-satunya pintu masuk dan keluar dari blok tersebut dan mengabaikan adanya pembunuhan bahkan jeritan dari dalam bloknya. Jika itu terjadi, orang-orang dari A yang mendengar akan pergi keluar untuk mencari pelaku pembunuhan.


Terumi terlihat terkejut, ia merasa itu cara yang licik untuk meminta bantuan.


Meski begitu harusnya tidak ada kekhawatiran karena mereka belum menjawab akan membantu.


Eric hanya tersenyum karena rencananya terbongkar. Hanya saja yang membuat Ray heran adalah pria ini tidak khawatir sama sekali tawarannya ditolak.


“Aku akan membayar kalian dengan informasi. Ini tentang teman kalian pria bernama Arthur.”


Ray sedikit mengangkat alis mendengar nama tak terduga itu. Entah apakah Eric pernah melakukan kontak dengannya atau tidak namun Eric tidak mungkin menawarkan sesuatu yang tidak berharga.


“Ada apa dengan Arthur? tanya Terumi, memiringkan kepalanya.


“Aku mengenalnya sebelum tiba di tempat ini. Kami berasal dari tempat yang sama.”


Eric mengungkapkan informasi tidak terduga. Memang bukan hal yang mengejutkan jika ada orang dari tempat yang sama. Namun apa yang dikatakan Eric selanjutnya adalah bagian paling mengejutkan.


“Ini kisah yang menarik. Aku yakin kalian ingin mendengarkannya,” Eric tersenyum getir saat melanjutkan kalimatnya. “Ini tentang bagaimana dia membunuh keluarganya sendiri.”


Kisah tentang masa lalu yang dimiliki Arthur. Ray dan yang lainnya tidak mungkin tidak tertarik tentang apa yang dikatakan Eric. Bahkan jika yang lain bisa mengabaikannya, Ray tidak demikian. Ia tidak bisa melewatkan kesempatan ini.


Mau bagaimanapun, Degree juga terbentuk dari masa lalu dan kisah hidup yang dimiliki seseorang.


...****************...


“Dasar orang menyebalkan. Mengapa dia terus saja melarangku ini dan itu? Aku bukan anak kecil!” Seorang wanita berjalan menghentak lantai dengan kesal selagi mengumpat.


“Aku bisa melindungi diriku sendiri, Degree-ku juga tidak lemah namun mengapa dia tetap mengekangku?!”


Wanita ini adalah adik Eric yang sebelumnya bertengkar dengannya. Chelsea namanya. Dia telah muak kepada Eric yang terus saja melarangnya sehingga kebebasannya terenggut.


Chelsea kemudian pergi ke bioskop dan menonton film secara acak untuk memperbaiki suasana hatinya. Ia memilih kursi spesial yang berada di paling belakang. Alasannya sederhana, itu karena Chelsea membenci jika ada orang di belakangnya. Hal itu membuatnya sangat risih.


Film hendak dimulai dan orang-orang mulai menempati kursi mereka. Chelsea awalnya cukup terkejut karena ada cukup banyak yang menonton film ini.


“Entah mereka ingin mengganti suasana hati sepertiku atau ini memang film yang populer.”


Chelsea tidak tahu jika ini film yang populer. Mungkin juga dikarenakan hari ini adalah yang terakhir untuk rehat, mereka memanfaatkannya sebaik mungkin.


Film dimulai, dari alur ceritanya tampaknya ini bukan sekuel pertama. Chelsea menyaksikannya sampai seperempat cerita. Bahkan jika ia belum menuntun sekuel pertama dan lainnya, kisahnya menyenangkan dan masih bisa dimengerti.


“Ini kisah fantasi, kah. Sleeping Prince, mungkin ini terinspirasi dari putri tidur,” gumam Chelsea.


“Ini kisah yang menarik. Pangeran yang malas itu tak terduga mengemban takdir yang besar. Terutama ketika ia menolak bantuan dari dewa luar bernama Rigel ini.”


Seorang pria di sampingnya menjawab gumamnya. Chelsea tidak menoleh ke arahnya karena tak peduli meski ia tertarik melakukan percakapan kecil tentang film ini.


“Dewa luar?” tanya Chelsea.


“Ya. Tampaknya si penulis memasukkan tokoh dari kisah lain yang ia buat ke dalam ceritanya.”


“Begitu.”


Chelsea menyelesaikan percakapannya. Ia tak mau terlalu banyak berbicara karena film yang ia tonton cukup menarik. Bahkan, Chelsea berpikir ingin menonton atau setidaknya membaca novelnya dari awal.


Pada pertengahan cerita memasuki bagian menarik di mana dunia yang ditinggali tokoh utama jatuh dalam kekacauan. Disaat itulah asal-usul kemampuan si tokoh utama diungkapkan dengan megahnya.


Kemudian tiba di akhir kisah, saat si tokoh utama menghilang untuk membalaskan dendam yang ia miliki. Sampai akhirnya setelah beberapa tahun, dia kembali menemui gadisnya.


“Sungguh kisah yang luar biasa. Aku semakin jatuh cinta dengan ini.” Pria itu kembali mengucapkan kesenangannya. Untuk kali ini, Chelsea setuju.


Ia belum mengetahui kisah awalnya namun dia sama seperti semua orang, menangis akan akhir dari cerita ini.


“Ya. Aku ingin mengetahui kisah ini dari awal.” Chelsea mengusap air matanya.


“Sayangnya itu tidak mungkin. Ini mungkin kisah terakhir yang bisa kita saksikan.”


Untuk pertama kalinya Chelsea memandang langsung orang itu. Ia menemukan pria tampan dengan rambut hitam. Chelsea mengenal orang ini bahkan sejak sebelum datang ke tempat ini.


Ia tidak mengenal dari suaranya meskipun itu akrab. Mungkin karena terlalu menikmati film tersebut.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Chelsea.


“Sama sepertimu, aku datang untuk menonton ini.” Pria itu menjawabnya dengan acuh tak acuh.


Chelsea curiga bahwa itu mungkin bukan niat sebenarnya namun orang ini tahu kisah yang baru saja mereka saksikan sehingga hal tersebut tidak terdengar seperti bohongan.


“Aku memiliki penawaran untukmu, Chelsea. Apa kamu tertarik bergabung denganku?”


Chelsea curiga namun ia juga tertarik karena yang dikatakannya.


“Apa yang kamu inginkan dariku, Arthur?”