The Degree

The Degree
Pembicaraan



Dua tahun bermusuhan dan dalam status yang bisa saja runtuh andaikan salah satu pihak mengambil langkah.


Ray tak pernah mempercayai bahwa situasi tersebut benar-benar nyata tanpa alasan. Seperti yang sudah ia duga, bahwa ada konspirasi lain di balik ini semua.


“Kalian berdua saudara?” tanya Ray. “Aku terkejut bahwa kalian tidak terlihat mirip.”


Penampilan mereka benar-benar berbeda sehingga sulit mempercayai bahwa keduanya benar-benar terikat hubungan darah.


Melihat reaksi Mein yang datar sepertinya ia sudah mengetahui kebenarannya. Jika begitu sudah jelas seberapa dekat hubungan Mein dengan Erina sampai mengetahuinya.


Aku juga takkan terkejut jika Sebastian mengetahuinya. Pikirnya.


“Ini pasti membuatmu terkejut. Namun, aku hampir tak lagi menganggapnya kakak laki-lakiku. Tidak sampai pada hari itu,” Erina menatap tajam dan penuh kebencian.


Sepertinya pertengkaran yang terjadi diantara keduanya mungkin bukanlah sesuatu yang benar-benar bisa disebut ringan. Yah, Ray takkan memahami pertengkaran seperti itu karena ia tak pernah memiliki saudara.


“Kamu hanya melebih-lebihkannya. Aku akan memberikanmu penjelasan lengkap mengapa itu terjadi. Dan, aku harap kita menyelesaikan semuanya. Kita tak bisa membiarkan semua orang tertahan di tugas ke lima karena kita.”


“Itu karena kamu! Jika kamu tidak keras kepala, semua ini takkan terjadi!” Erina berteriak marah, ia tampak sedikit menangis.


Ordo menggertak giginya dan memiliki kemarahan yang sama, namun ia tampak lebih dewasa dan mampu menahannya.


“Aku muak denganmu. Tinggalkan aku sendiri!” Erina membuang mukanya dan tak mau menatap Ordo.


Emosinya jelas belum stabil. Terutama setelah apa yang ia alami, aku pikir ini wajar. Pikir Ray.


Pada akhirnya Ray turun tangan dan menepuk lembut bahu Ordo. Ia menggunakan isyarat mata untuk meminta Ordo pergi keluar bersamanya.


Tindakan Ordo hannyalah mematuhinya. Lagi pula gadis yang ingin ia ajak bicara memintanya demikian. Tak ada gunanya diam lebih lama.


“Aku harap ... setelahnya kamu mau mendengarkanku.” Ordo meninggalkan kata-kata tersebut sebelum menutup pintu dan pergi bersama Ray.


Keduanya pergi ke taman untuk membiarkan Ordo menenangkan pikirannya. Ray bersandar di kursi taman tampa mengatakan apa-apa.


Meskipun ia cukup penasaran dengan apa yang terjadi kepada mereka, namun ini bukan sesuatu yang bisa ia paksakan untuk diungkapkan.


Ordo tampak gelisah untuk waktu yang lama. Kata-kata dan tindakan Erina pastinya masih membekas kuat dalam ingatannya. Jika memang ada yang ingin dikatakannya, maka Ray takkan segan membantunya.


“Tak masalah untuk membicarakannya denganku. Meski tak bisa membantu apa-apa, bertukar perasaan dengan seseorang akan membantu meringankannya.”


Sesuatu yang ia baca dari buku dan tidak Ray ketahui kebenarannya secara langsung.


“Kamu mungkin benar. Namun, sebaiknya kamu mendengarnya nanti saat Erina baik-baik saja.” Ordo menatap semut yang berjalan di depannya.


“... aku takkan memaksa.” kata Ray. “Sejujurnya aku masih tidak percaya bahwa kalian adalah saudara kandung. Tak ada kemiripan apapun diantara kalian berdua. Mungkin hanya keras kepala kalian yang serupa.”


Ray tak mengenal Ordo dengan baik, namun ia tahu orang ini sangat keras kepala. Setiap kali selesai memutuskan sesuatu, ia takkan menariknya sebelum memahami sendiri alasannya.


Pemahaman dari orang lain takkan bisa ia terima terkecuali pemahaman tersebut ia yakini faktanya.


Ordo tersenyum masam, “Banyak yang bilang begitu. Meski kami saudara kandung, sifat kami nyatanya sangat berbeda.”


Ordo adalah seorang pemalas yang tak memiliki ambisi apapun dalam hidupnya, namun di sisi lain ia adalah tipe orang berbakat yang akan mendapatkan apapun jika serius. Mungkin sebenarnya ia adalah orang yang pekerja keras andaikan tidak memiliki kemalasan luar biasa itu.


Sementara Erina adalah tipe orang yang sangat aktif diberbagai bidang dan penggoda. Selain itu, ia bukan orang yang terlihat memiliki kemalasan apapun di dalam dirinya. Andaikata ia bukan orang berbakat seperti Ordo, Erina mampu mengimbanginya dengan usahanya.


Berkelahi antara kakak dan adik adalah hal yang sudah biasa terjadi. Meski begitu, perkelahian yang biasa tersebut adalah cara bagi keduanya menunjukkan betapa akrabnya mereka.


Ordo sebagai kakak, terkadang melakukan tindakan usil kepada Erina. Bukan karena ia membencinya, justru tindakan tersebut adalah cara seorang kakak menunjukkan cintanya.


“Ini semua dimulai sejak hari itu. Ketika kami tiba pertama kali di Open World.” Ordo mengepalkan jarinya dengan erat.


Awal dari pertengkaran mereka terjadi ketika tiba di Open World. Dan, pertengkaran tersebut jugalah yang membuat generasi pertama terpecah sampai-sampai tugas ini tidak bisa diselesaikan selama dua tahun lamanya.


“Aku tak tahu detilnya, namun yang perlu kamu lakukan hannyalah berkata jujur dan apa adanya. Di dunia ini, hubungan darah adalah sesuatu yang tidak bisa dilupakan atau diputuskan begitu mudahnya.”


Yah, aku mungkin bukan orang yang pantas mengatakannya. Mengingat aku memutuskan hubungan darah dengan membunuh Ayahku. Pikirnya.


“Niatku begitu. Namun, apa jadinya jika ia sudah memiliki kebencian kesumat padaku? Aku tak meminta untuk dimaafkan. Yang aku inginkan hannyalah menyudahi perkelahian ini.”


“Justru untuk itulah kamu harus berkata jujur padanya.” Ray menekankan.


Ordo menatapnya dengan bingung, “Apa maksudmu?”


Ray memejamkan matanya, “Yang kalian butuhkan sesungguhnya adalah kejujuran dan saling membuka hati. Selain itu, aku tahu bahwa kalian berdua sangat krisis tentang saling berbicara. Kalian mungkin menahan diri untuk mengatakan apapun yang terjadi kala itu untuk tujuan tak membiarkan pihak lain terluka.”


Kata-kata bisa menjadi pisau yang memberikan luban tak kasat mata. Banyak sekali pepatah yang menyampaikan pada seseorang untuk menjaga lisannya.


Senjata paling ampuh di dunia ini bukan nuklir, ataupun informasi. Namun, kata-kata seseorang merupakan senjata yang berbahaya untuk seseorang.


“Aku tidak tahu apa yang membuat kalian bertengkar. Namun, andaikan kalian— setidaknya kamu terus terang pada apa yang kamu yakini saat itu, aku yakin ini takkan terjadi. Erina memang keras kepala, namun itu juga berlaku untukmu.”


Ray kemudian membuka matanya dan menatap Ordo dengan penuh makna.


“Sejujurnya, kini aku memahami bahwa kalian benar-benar kakak-beradik. Meski sama-sama keras kepala, kalian memiliki kemiripan dalam aspek lainnya.”


Ordo menatap Ray dengan terkejut. Ia baru kali ini mendengar seseorang mengatakan sesuatu tentang itu. Biasanya, selain keras kepala, bentuk fisik dan cara bicara, orang lain takkan menjadikannya acuan untuk meyakini bahwa keduanya benar-benar kakak adik.


“Aspek apa yang kamu maksud?” tanya Ordo.


“Baik kamu ataupun Erina sangat cerdas. Dan, meski keras kepala, kalian tetap memikirkan baik-baik perkataan orang hingga menciptakan kontradiksi antara pikiran dan tubuh.” kata Ray. “Kalian mungkin akan bisa membangun serikat terkuat dan absolut jika bekerja sama. Andaikan ada salah satu dari kalian mau mengalah, maka masa depan itu pasti akan terjadi.”


Ray tak memiliki keraguan akan hal itu. Masa depan idealis yang ia pikirkan adalah, Erina jadi otak dan Ordo menjadi otot.


Meski keduanya tak memiliki kekurangan dalam pemikiran kritis, namun ada kesenjangan besar dari kekuatan fisik.


Andaikata Ordo ataupun Erina mengalah dan memilih jadi otot maka ini takkan terjadi. Akan tetapi sayangnya, keduanya lebih memilih menjadi otak.


Ordo tampaknya mengerti apa yang coba disampaikan oleh Ray. Ia mendengus dan tersenyum masam.


“Kamu mungkin benar. Ada juga istilah yang mengatakan kakak harus mengalah pada adiknya. Tampaknya ini bukan karena aku keras kepala, namun keegoisanku belaka.” kata Ordo. “Terima kasih, Ray, karena telah mau jadi temanku berbicara.”


“Bukan masalah.” Ray menatap langit dalam diam. “Sama sekali bukan masalah.”


Ada satu hal yang sengaja Ray tak katakan kepada Ordo. Itu adalah hal yang membuat keduanya terlihat seperti saudara.


Baik kamu atau Erina sama saja. Kalian kakak-beradik yang cerdas, namun tak cukup cerdas untuk menyadari bahwa aku tengah coba mengendalikan kalian. Di masa depan, kalian mungkin akan jadi boneka kesayanganku.