
“Huh, ini tidak mudah. Memiliki banyak orang di dalam kelompok membutuhkan perjuangan untuk mencarinya,” ujar Mona yang akhirnya duduk di kursi taman.
“Ini adalah tanggung jawab yang perlu kita emban dengan memegang banyak nyawa.” Arthur tersenyum lembut kepada Mona.
Mona hanya menghela napas selagi memandang pemandangan di depannya. Lapangan luas yang dipenuhi orang berbahagia dan penampakan monumen nasional yang memanjakan mata, kaya akan sejarah.
“Ini kali pertama aku ke sini. Awalnya agak membingungkan karena aku tidak bisa membaca apapun di sini.”
Berkat teknologi Secret, bahasa asing yang masuk ke telinga mereka akan ditransmisikan agar mereka mengerti maknanya. Hanya saja, apa yang mereka katakan tak di terjemahkan ke orang-orang yang tidak menerima teknologi Secret.
Percakapan dua arah di mana bahasa ditransmisikan oleh teknologi anehnya hanya dapat dilakukan dengan sesama pengguna Degree.
“Ya, karena itulah betapa pentingnya mempelajari bahasa seperti inggris dan lainnya.”
Arthur sendiri mengalami kesulitan saat pertama kali tiba di sini. Dia mungkin bisa berbahasa inggris, tetapi ada berbagai macam budaya yang membuatnya terkejut. Salah satunya adalah ketika ia menatap orang lain dengan seksama, anehnya orang itu akan tersenyum ramah padanya.
Bahkan Arthur sebelumnya menjumpai orang yang mau mentraktirnya makan atau sesuatu, meskipun mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
“Saat pertama kali tiba aku terkejut bahwa banyak orang ingin foto bersama meskipun aku bukan artis atau semacamnya,” ujar Arthur dengan wajah yang lelah.
Mona tertawa kecil, “He he, mungkin karena kamu terlihat memiliki darah barat ataupun eropa. Tampaknya orang luar negeri dianggap spesial di kota seperti ini.”
Arthur merasa dirinya seperti selebriti saat itu dan diwaktu yang sama dia mempelajari sesuatu. Menjadi orang terkenal bukan sesuatu yang menyenangkan karena kemanapun tidak bisa damai.
“Ya, jika mengesampingkan lingkungan dan berbagai hal lainnya, ini tempat yang indah.”
“Kamu benar,” ujar Mona. “Omong-omong bagaimana dengan mereka yang berada di kelompok Indri? Beberapa jam yang lalu pemberitahuan tentangnya muncul.”
Arthur lekas mengerutkan alisnya. Situasinya di luar prediksi, bahkan dia yakin kalau Indri tidak menduga kejadian seperti ini. Awalnya Arthur juga sangat mengkhawatirkan situasinya, beruntung bahwa dia telah membuat titik pertemuan dengan Mona sebelum turun.
Dan, Arthur telah memberikan arahan kepada anggotanya untuk pergi merawat diri di tempat berbeda, tentunya dengan uang pribadi mereka.
“Aku khawatir jika Indri lambat bertindak, bahkan mungkin mengabaikannya. Mereka berkemungkinan besar telah tereliminasi.
Secret hanya memberikan waktu 40 menit bagi anggota kelompok yang kehilangan kunci dan ketuanya untuk bergabung dengan grup lainnya. Andaikan Indri tak muncul saat itu, besar kemungkinan orang-orang itu telah tiada.
“Begitu,” ujar Mona dengan wajah sedih. “Aku harap mereka baik-baik saja.”
“Semoga saja.”
Arthur tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika harus berasumsi, mungkin ada penyusup diantara kelompok tersebut dan melakukan pembunuhan terhadap ketua kelompok enam.
Tak ada hal lain yang memungkinkan selain itu.
“Terlepas dari situasinya, sekarang apa yang akan kita lakukan, Arthur?” tanya Mona, mengganti topik. “Kamu berkata tidak ingin membayar Indri terus-menerus. Apa kamu berencana mendapatkan ketua kelompok lainnya?”
Jika memikirkan kemungkinan maka itu tindakan yang masuk akal, tetapi masalahnya adalah tidak mungkin semudah itu menemukannya. Bahkan Arthur dan Mona butuh tiga jam agar bisa berkumpul seperti ini.
“Itu sulit, belum lagi kita diharuskan bergerak dengan tidak mencolok. Keberadaan Degree harus tersembunyi atau Secret akan meletakkan bounty di kepala kita.”
Tak ada izin menggunakan Degree di tempat umum, alhasil pertarungan tentunya akan sulit. Jika sampai terjadi pembunuhan maka tidak hanya dengan sesama pengguna Degree, tetapi mereka juga akan berhadapan dengan aparat keamanan negara.
Jika seseorang tertangkap maka mereka akan berakhir sebagai subjek penelitian ataupun Secret akan membuatnya meledak seperti balon.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Mona.
Arthur seakan sudah menunggu pertanyaan tersebut, dia menatap Mona penuh arti dan tersenyum.
“Mudah saja. Kita tak perlu tergesa-gesa dalam bertindak. Untuk sekarang mari kita bangun markas dan posisi kuat.”
Mona terlihat mengerti maksud membangun markas, tetapi dia jelas tidak paham apa yang dimaksud Arthur dengan membangun posisi.
“Apa maksudnya? Tidak mungkin kamu ingin memiliki tempat di dalam pemerintahan, kan?” Mona terkejut dengan dugaannya sendiri.
Membangun posisi di dalam pemerintahan suatu negara memang sangat menguntungkan, tetapi sangat disayangkan bahwa Arthur tak bisa melakukannya. Selain dia bukan warga negara Indonesia, menjadi bagian dari pemerintahan memiliki kerugian besar bagi pengguna Degree.
“Sayangnya aku tidak begitu suka terhadap politik karena dinamikanya yang luar biasa. Ada cara lain yang bisa membantu kita memiliki posisi, meski tak begitu kuat namun ini patut dicoba.”
“Jika kita melakukannya maka kita bisa mengumpulkan DP dan uang di waktu yang sama. Tak perlu khawatir terhadap pemborosan.”
“Apa mungkin ...” Mona memahami apa yang coba dilakukan oleh Arthur.
”Ya,” ujar Arthur dengan senyum percaya diri. “Kita akan membangun sebuah perusahaan.”
Tujuan yang mungkin terlalu besar namun dengan pengetahuan memumpuni, bukannya mustahil mendirikan suatu perusahaan.
“A-apa kamu yakin?” Mona terlihat sedikit takut dengan tujuan yang tinggi seperti ini.
“Ya. Untuk sekarang mari kita tukarkan beberapa DP ke tunai sebagai modal awal.”
Untuk menukarkan DP menjadi tunai, terdapat cara tertentu yakni, membuat sebuah rekening bank dan mencantumkannya ke jam untuk mengkonversi DP. Dan, nantinya nominal uang akan langsung dikirimkan ke rekening tanpa kekurangan.
Meski sedikit sulit membuatnya karena mereka telah kehilangan identitas pada awalnya, namun setelah melewati beberapa hal seperti membuat surat kehilangan atau semacamnya rekening berhasil dibuat.
“Apa kita akan melakukannya sekarang?!” Mona menjerit, tentunya dia terkejut karena Arthur begitu tergesa-gesa untuk memulainya.
“Semakin cepat semakin bagus, toh, aku ingin mengatakan itu awalnya, tetapi sekarang kita lihat dulu situasi market saat ini. Hanya orang bodoh yang asal membangun sesuatu tanpa mencari celah di pasar.”
...****************...
“Hey, apa kantor pemasaran sungguh masih jauh?” tanya Leo dengan wajah kesal. “Sial! Aku merasa seperti orang gila!”
“Kau pikir aku bagaimana, sialan?!” ujar Eric dengan kesal. “Kamu beruntung hanya memiliki sobek di baju dan celana, lihatlah aku!”
Saat pertama kali tiba, Leo tiba di sebuah kebun yang tampak tidak terawat dan penuh dengan rumput. Berkat itu pakaiannya sobek-sobek karena tergores oleh ranting tajam. Meski begitu Leo bisa dikatakan beruntung, nasibnya lebih baik daripada Eric yang jatuh ke dalam kolam.
Tak hanya mengeluarkan bau busuk, tetapi juga penuh dengan lumpur. Saat ini separuh tubuh Eric penuh lumpur dan seluruh tubuhnya basah juga bau. Bisa dibilang Eric sangat sial saat ini.
“Untung saja perban di kakiku cukup tebal sehingga tak perlu khawatir infeksi.”
Alasan Eric tak mengganti pakaiannya karena saat ini mereka kesulitan dalam hal finansial.
“Mengapa baru diberitahu bahwa menukarkan DP memerlukan rekening bank?! Kita tak punya identitas sehingga tak bisa membukanya.”
Mereka tentunya punya saat sebelum masuk fasilitas, tetapi tak mungkin itu masih bertahan. Selama tugas-tugas yang mereka jalani, barang bawaan telah berganti. Dari yang membawa uang dan kartu kredit, berubah menjadi pistol dan bom.
Selain itu, mereka tidak berasal dari negara ini. Mereka perlu pulang ke tanah airnya sendiri jika ingin mengambilnya.
“Berkat itu kita menjadi gelandangan saat ini.”
Mereka tak memiliki uang ataupun tempat tinggal, apalagi kalau bukan gelandangan namanya?
Untuk saat ini keduanya pergi ke sebuah tempat ibadah agar Eric bisa membersihkan dirinya dan beristirahat selama beberapa waktu. Selagi menunggu Eric, Leo mulai sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“Ah~, masih ada dua bulan untuk berkumpul dengan Terumi dan Ray. Tidak mungkin aku harus seperti ini. Besar kemungkinan kami mati kelaparan daripada terbunuh karena pengguna Degree.”
Leo merasa menghadapi beberapa pengguna Degree lebih baik ketimbang hidup susah dan mati kelaparan di jalanan.
Sudah lebih dari setengah hari sejak pembebasan para pengguna Degree ke Jakarta. Bisa dibilang sekarang mungkin sebagian kelompok telah berkumpul bersama anggotanya.
Meski begitu yang mengejutkan adalah sudah ada kelompok yang gugur, yakni kelompok enam. Leo tak tahu apa yang mungkin saja terjadi namun dia yakin setidaknya ada musuh dalam selimut.
“Jika tidak begitu, mustahil seseorang bisa menemukan kelompok lainnya dalam waktu yang singkat. Meski ada beberapa cara, aku yakin tidak ada ketua kelompok yang cukup bodoh untuk membiarkan dirinya terbunuh.”
Harusnya pembunuhan hingga menggunakan Degree di tempat umum adalah kesulitan terbesar dan rintangan yang harus mereka lalui. Jika seseorang menjadi sasaran, maka mudah untuk berteriak meminta pertolongan bahkan membuat kerusuhan untuk memancing perhatian.
Dengan cara itu maka siapapun yang menggunakan Degree pada akhirnya akan menerima bounty di kepala mereka yang akan diberikan langsung oleh Secret.
“Sepertinya tak ada cara selain ...”
Ketika Leo berniat melakukan tindakan daruratnya, sebuah pesan muncul dari jamnya. Sebuah pesan yang takkan bisa diabaikan oleh para pengguna Degree.
—Peraturan Lanjutan Dari The Degree. Dan, Game Bonus.—
Ada beberapa hal yang perlu ditanyakan namun untuk saat ini keberadaan Game Bonus cukup bermasalah. Secara tak langsung Secret menganggap semua uji coba ini adalah sebuah permainan.