The Degree

The Degree
Pertanyaan Untuk Secret



“Ahh! Mataku, mataku sangat sakit!”


“Aku tak bisa melihat apapun, aku buta!”


“Tolong, siapapun tolong aku!”


“Tenanglah! Kamu akan bisa melihat setelah beberapa waktu!”


Hanya Edward dan beberapa orang asing lainnya yang bisa melihat dengan jelas. Mereka berhasil menutup matanya tepat waktu sebelum flashbang meledak.


Meski begitu waktunya sudah cukup untuk menghabisi beberapa.


Dor!


Pistol ditembakkan dan mengenai seseorang tepat di kepalanya. Tentunya tidak ada jeritan atau sejenisnya karena orang itu langsung mati.


“Steve!” Edward meraih Steve yang mulai mendingin.


Dia mulai menangis karena teman yang sudah dia kenal sejak sangat lama kini menemui ajalnya.


“Keparat kau, Ray!”


Ray mengabaikannya dan memberikan tendangan kuat tepat diantara tenggorokan Edward. Tendangannya cukup kuat untuk membuat kesadaran Edward melayang.


Meski begitu Edward masih sempat sadar beberapa detik sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya.


Ray menendangi satu persatu orang yang mengkhianatinya. Toh, tanpa harus membunuhnya mereka pasti akan mati karena tak memiliki kesempatan menduduki kursi. Orang seperti mereka akan dieliminasi atau singkatnya dibuang dari organisasi.


Dengan acuh Ray berjalan menuju kursi yang tersisa. Dalam perjalanannya dia menembak beberapa orang yang cukup dekat untuk naik.


“Hanya orang yang pantas saja memiliki hak untuk duduk di sini.” Erina berkata senang dengan nada yang sulit dimengerti.


Ray sama sekali tak mengidahkannya sampai dia mendapatkan sebuah notifikasi.


—Tugas Bonus berhasil diselesaikan. 150DP akan dikirimkan dan anda berhak mengajukan satu pertanyaan kepada organisasi.—


“Sepertinya menghancurkan kelompok Edward adalah tujuan akhir dari tugas bonus.”


Mengabaikannya dan memilih mengurusi untuk nanti, Ray berjalan terhuyung-huyung menuju kursi terakhir yang kosong. Lima orang lain yang sudah berada di sana menatap Ray dengan wajah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


“Kamu terlihat seperti seorang Raja yang hendak naik takhta.” Erina menggoda sekali lagi dan menatapnya dengan penuh kasih sayang juga minat besar.


Ray sama sekali tak mempedulikannya dan duduk di kursi dengan acuh.


—Enam kursi telah terisi. Tugas ketiga telah berakhir, mereka yang tak menduduki kursi akan segera dieliminasi.—


—Enam orang yang berada dikursi akan dipindahkan ke lokasi selanjutnya.—


Ray tak tahu ke mana dia akan pergi selanjutnya namun dia berharap setidaknya ada waktu baginya untuk istirahat.


Semua kelelahan yang dia miliki saat ini telah bertumpuk dan rasa sakit mulai menyerang. Bahkan Ray sekalipun takkan bisa bertahan lama dengan banyaknya rasa sakit di tubuhnya.


“Yah, ini perpisahan singkat kita. Aku akan menunggumu di tugas ke lima, Ray. Jangan khawatir, aku yakin tugas keempat bisa kamu selesaikan tanpa banyak masalah. Semoga beruntung.” Erina kemudian beralih ke seseorang yang hanya diam, “Kamu harus menyelesaikan tugas keempat sebaik mungkin, Ronald.”


“Jika itu untukmu maka tentu saja.”


Erina dan Mein menghilang lebih dulu ke tempat yang tidak diketahui oleh Ray.


Berpikir bahwa dirinya akan berada di tempat yang banyak orang namun siapa sangka bahwa Ray akan tiba di tempat yang benar-benar berbeda dari harapannya.


Sebuah tempat dengan banyak monitor di dinding dan menampilkan banyak sekali adegan dan situasi.


Tak perlu bertanya tempat apa itu. Sekali lihat Ray tahu bahwa ruangan tersebut digunakan untuk memantau para partisipan.


“Selamat datang, peserta. Kamu satu dari sedikit orang beruntung dapat mengajukan pertanyaan kepada kami. Kami berjanji takkan mengatakan kebohongan apapun kepadamu.”


Ray cukup terganggu bahwa Secret menggunakan "Kami" ketimbang "Saya" hal itu membuat berbagai kemungkinan muncul di pikirannya.


Seperti yang diketahui bahwa kata "Kami" menunjukkan ada lebih dari satu orang dan bukan pernyataan yang digunakan untuk individu.


Ray khawatir bahwa sebenarnya Secret tidak hanya satu namun ada sangat banyak dari mereka. Meski dia bisa menanyakannya namun sangat disayangkan karena hanya ada satu kesempatan.


Jika bisa dia juga ingin menanyakan secara lengkap tentang Degree. Ada begitu banyak hal ganjil tentangnya termasuk Degree yang dimiliki Ray. Degree-nya sama sekali tidak menggambarkan apapun tentang dirinya.


Meski begitu ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting dari itu.


Pertanyaan yang selama ini ada di kepala Ray sejak pertama kali datang ke tempat ini.


Sebuah pertanyaan yang terus-menerus, lagi dan lagi mengganggunya. Apa dan mengapa, tentang alasan dan tujuan.


“Kalian mengatakan bahwa tujuan kalian adalah mendorong manusia untuk berevolusi. Degree memang luar biasa manfaatnya namun jika tujuan kalian hanya evolusi maka tak perlu susah payah menciptakan lingkungan yang keras untuk hidup.”


Akan ada begitu banyak kerusuhan yang bisa saja terjadi. Bahkan dampak negatifnya lebih besar ketimbang manfaatnya.


“Selain evolusi manusia ... tujuan akhir seperti apa yang kalian harapkan dari semua uji coba ini?


Bagian terpenting yang perlu ditanyakan di tempat pertama adalah tujuan dari organisasi Secret.


Sekalipun mereka mengatasnamakan evolusi manusia, Ray takkan mempercayai kebohongan itu degan mudah.


Degree hampir seperti ilusi. Selain mengubah penggunanya menjadi seorang cenayang, orang yang menggunakan Degree juga akan awet muda dan panjang umur.


Selain itu tidak diketahui sejauh mana kemampuan Degree. Ada lebih banyak kekhawatiran yang bisa terjadi jika bahkan penciptanya tak tahu Degree seperti apa saja yang bisa dimiliki seseorang.


“Diantara partisipan yang kami undang hanya ada sedikit orang yang cerdas. Baik generasi kalian atau pertama, hanya ada kurang dari seribu orang cerdas. Namun kali ini berbeda. Kami telah mengawasimu sejak awal dikarenakan kamu anomali yang tak pernah kami temukan.”


Ray tidak tahu harus menganggapnya pujian atau bukan. Namun untuk saat ini sebaiknya dia diam dan mendengarkan kata-katanya.


“Kami sangat tertarik kepadamu sehingga memutuskan untuk memberikanmu kesempatan menanyakan satu pertanyaan. Daripada coba memahami Degree yang kamu miliki, kamu justru menanyakan tujuan akhir yang kami miliki. Itu cukup menjelaskan betapa rumitnya isi kepalamu.”


“Itu mudah saja. Meski aku tak bisa menggunakan Degree-ku, aku percaya diri mampu bertahan hidup.”


Kepercayaan diri tersebut didasari oleh kemampuan Ray. Tidak hanya Secret, Ray memiliki rahasianya sendiri. Secret hanya mengenal Ray ketika masuk ke percobaan, Secret takkan mengenal Ray sebelum bergabung dengan uji cobanya.


“Kami yakin kamu akan berkata demikian dan karena itu kami yakin kamu tak memahami Degree-mu sama sekali. Sejak awal tugas berjalan kamu telah menggunakannya. Kami tak tahu Degree yang kamu miliki namun kami akan menerima data setiap kali kamu menggunakannya. Selain itu, kepercayaan dirimu akan hancur ketika menyelesaikan tugas keempat.”


Ray sangat terkejut ketika tahu bahwa dia menggunakan Degree-nya sejak awal.


“Bagaimana bisa aku menggunakan Degree yang bahkan sejak awal tidak aku pahami sama sekali?”


Ray tak memahami apa manfaat Degree-nya. Meski gambaran umumnya mudah diambil namun sulit memastikannya jika itu Degree.