The Degree

The Degree
Ruang Bawah Tanah III



Ray dan Indri melakukan beberapa latihan sebelum menekan tombol secara bersamaan. Meski Indri mengeluh begitu banyak karena Ray terlalu khawatir, tetapi pada akhirnya dia tetap mau melakukannya.


Kurang dari sepuluh menit berlalu bagi keduanya untuk berlatih. Mereka akhirnya dapat menyesuaikan waktu untuk menekan tombol. Ini bukan sebuah kisah fiksi yang mana orang akan langsung berhasil melakukannya.


Ray perlu menaruh perhatian pada perbedaan waktu saat menekan, ada kemungkinan ledakan diatur saat ada perbedaan sepersekian detik saat menekan dua tombol tersebut. Meski hanya dugaan namun Ray tetap khawatir.


Keduanya menekan tombol di waktu yang bersamaan dan berhasil karena tak ada ledakan yang dikhawatirkan terjadi.


“Gila ... sungguh-sungguh ada ruang rahasia di sini,” gumam Indri, dia tampak terkejut dan sedikit berkeringat.


Ray juga mengamatinya dengan saksama ketika langit-langit di atas kepala mereka mulai terbuka dan memperlihatkan lorong gelap.


“Kamu bilang ruang bawah tanah namun pintunya ada di atas. Bagaimana cara kita mencapainya?” tanya Indri.


Ray mengeluarkan tangannya dari paruh elang dan tersenyum untuk menjawab keingintahuan Indri.


“Tentu saja, kita akan turun ke bawah.”


“Caranya?”


Saat Indri bertanya, Ray meletakkan tangannya pada paruh burung elang dan menekannya sampai elang tersebut tampak menutup mulutnya.


Seketika lantai tempat mereka berpijak mulai turun ke bawah secara perlahan, mereka tak bisa melihat apa-apa dikarenakan gelap yang luar biasa. Sama sekali tidak ada penerangan sampai akhirnya Indri menggunakan jamnya. Dia menyoroti wajah Ray selagi berbicara.


“Sudah waktunya untukmu mengatakan apa yang ada di bawah sana, Ray. Aku bosan menunggu mengetahuinya sendiri karena lift ini berjalan sangat lambat.”


Ray tidak mau menceritakannya karena merepotkan dan tak ada bedanya jika ia memberitahukan sekarang atau menunggu Indri tahu sendiri setelah melihatnya.


Namun pada akhirnya dia memilih menyerah dan menyampaikannya.


“Tepat di bawah sana adalah fasilitas pengembangan manusia sempurna dan juga tempat dilaksanakannya riset teknologi.”


Indri terkejut dan bingung di waktu yang sama. Di satu sisi dia paham maksud dari riset teknologi yang sudah umum dilakukan. Riset teknologi bisa diartikan cara untuk mengembangkan teknologi tertentu dan menemukan benda yang benar-benar baru.


Indri tahu akan hal itu, tetapi satu hal yang tidak begitu dia pahami adalah tentang ‘Pengembangan manusia sempurna’ yang dimaksud oleh Ray.


Ada banyak institusi yang berusaha mengembangkan manusia untuk menjadi lebih baik dengan berbagai cara seperti pendidikan atau hal gila seperti yang dilakukan oleh Secret.


“Pertama kali aku mendengar pengembangan manusia sempurna. Apa yang dimaksud dengan itu?” tanya Indri.


Ray diam cukup lama sebelum ia menghela napas dengan lelah dan mengusap lehernya.


“Karena itu aku ingin kamu menyaksikannya sendiri,” ujar Ray. “Singkatnya itu adalah penelitian bodoh dan gila untuk menentukan metode terbaik dalam mendidik manusia.”


Tak ada manusia yang bisa menguasai semua bidang yang ada. Beberapa mungkin ahli dalam biologi dan matematika, tetapi sangat payah di bidang lain seperti hukum dan ekonomi. Bahkan jika ada yang menguasai keempat hal tersebut, orang itu akan memiliki kelemahan lain seperti payah dalam teknologi dan lainnya.


“Manusia sempurna bertujuan untuk menghasilkan metode yang akan membuat seseorang bisa berdiri di puncak semua bidang yang penting untuk mendorong maju peradaban manusia.”


“Sungguh, itu mimpi yang terlalu gila, kan?!” ujar Indri yang tercengang.


Ray mengangguk, ia setuju di satu sisi dan menentangnya juga. Pada kenyataannya, kegilaan adalah bagian penting yang mendorong umat manusia untuk membangun peradaban sejak jaman prasejarah sampai sekarang.


Dulunya orang akan tertawa jika mendengar seseorang bermimpi untuk terbang, tetapi sekarang manusia bisa terbang dengan teknologi. Berkat kegilaan tersebut, udara ditaklukkan


Pada masanya terbang menembus langit adalah hal yang terlalu mustahil untuk dilakukan, tetapi berkat kegilaan manusia, langit ditaklukkan.


Berkat kegilaan manusia, menempuh perjalanan jauh dalam waktu singkat, berkomunikasi dua arah atau lebih dari jarak yang jauh, dan berbagai kenyamanan lainnya tercapai berkat kegilaan manusia.


Kegilaan bukanlah keanehan tetapi keunggulan. Dengan menjadi orang yang gila akan sesuatu, maka mereka akan mencapai sesuatu dengan cara yang benar-benar gila.


“Itu mungkin memang gila, tetapi bukan mustahil.”


Di waktu yang jauh di masa depan, mungkin saja pengembangan manusia sempurna akan benar-benar terjadi dan diakui oleh dunia.


“Aku selalu percaya diri dalam menghadapi berbagai hal karena aku percaya ... sesuatu yang terlihat gila dan mustahil pada akhirnya akan diraih hanya jika kegilaan tersebut dimulai.”


Indri sedikit diam dan mendalami perkataan Ray. Memang, pernyataan bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini benar adanya. Bahkan di jaman sekarang, bukan mustahil bagi manusia menghancurkan bumi atau rasnya sendiri.


“Yah, kamu mungkin benar. Yang diperlukan bagi setiap orang adalah memulai langkah pertama. Sebuah langkah yang sangat sulit dilakukan. Sama seperti ketika manusia mulai berjalan dan berbicara. Kita akan memulai dengan menyeret tubuh, merangkak dan berdiri.”


Indri mulai tertawa kecil karena memikirkan kalimat yang menurutnya kuno. Itu memang lucu karena kalimat tersebut benar adanya.


“Takkan ada yang dimulai jika tidak ada yang memulainya.”


“Aku mengerti akan hal itu,” Indri mengangguk atas perkataannya sendiri. “Meski begitu aku ragu apakah percobaan gila ini telah membuahkan hasil.”


Ray tidak tahu apakah Indri berpura-pura bodoh atau dia memang tidak menyadarinya. Jika harus menebak tampaknya itu yang terakhir.


Indri menatap Ray dengan terkejut. Dia tidak memikirkannya, seluruh tempat itu bisa dibilang rumah Ray. Harusnya sangat mungkin bagi Ray menjadi subyek percobaannya.


Hanya saja Indri tak memikirkannya karena dia yakin tidak mungkin seorang ayah begitu tega menggunakan anaknya sebagai bahan penelitian.


“Maksudmu ...” Indri berniat menyampaikan sesuatu namun Ray tahu apa yang akan dia katakan.


“Ya, ruangan yang kamu lihat sebelumnya adalah salah satu bagian dari kurikulum manusia sempurna.”


Ruangan tempat Ray pernah putus asa adalah yang terberat dari semua kurikulum yang dialaminya. Tempat itu menuntut untuk seseorang membunuh egonya dan memperkuat mental seseorang agar tidak gila.


“Bukankah itu ... terlalu ekstrim?” gumam Indri. “Ayahmu ini tertarik untuk membuat manusia berkembang, bisa dibilang evolusi. Mungkin dia akan jadi teman yang akrab bagi Secret.”


Ayah Ray dengan Secret bisa dibilang memiliki visi yang sama tentang ini.


Ray tidak menolak ataupun mengiyakan hal tersebut. Lagi pula sekarang eksperimen tersebut hanya bagian dari masa lalu.


“Sama dengan pengembangan manusia sempurna.Aku adalah yang pertama dan yang terakhir mengalami semua itu.” Ray tidak akan bisa melupakan semua hari menyedihkan itu.


...****************...


Setelah beberapa waktu mereka akhirnya berhenti bergerak dan tampak tiba di sebuah ruangan yang cukup dingin. Mereka masih tidak bisa melihat apapun karena tak ada pencahayaan sampai beberapa detik berlalu, lampu perlahan menyala dengan sendirinya.


“Tampaknya tempat ini masih baik-baik saja. Listrik dari panas matahari juga bekerja dengan baik,” ujar Ray saat mengamati ruangan di depannya.


Sebuah ruang dengan atap, lantai dan dindingnya memiliki keramik berwarna hijau tosca, ada banyak dinding kaca di setiap ruang yang berbeda.


Keseluruhan tempat itu berbentuk persegi panjang dengan banyak ruang berbeda. Ruangannya beragam, ada tempat di mana robot berbentuk manusia tergeletak, mesin bahkan komputer yang tak pernah digunakan dalam waktu yang lama.


“Ini sungguh luas, tampaknya juga ada banyak macam penelitian,” gumam Indri selagi berjalan perlahan dengan kagum, dia kemudian melirik gantungan di sisinya.


Ada sebuah jas putih, sesuatu yang akan digunakan dokter dan ilmuwan. Indri cukup tertarik, dia mengambil satu untuknya dan satu lagi untuk Ray.


“Hey, gunakanlah ini. Tak banyak kesempatan di mana kita bisa bertingkah seperti ilmuwan jenius.”


Ray tidak tahu apa yang menyenangkan dari melakukan hal tersebut, tetapi dia menurutinya karena tidak ingin membuang-buang waktu.


Keduanya berjalan melewati berbagai ruangan. Ray tampak tidak peduli dengan ruangan lainnya karena dia pernah berada di dalam setiap ruangan tersebut.


“Bahkan di sini ada ruang belajar, laboratorium dan banyak lainnya. Aku penasaran seberapa kaya orang tuamu, Ray,” ujar Indri yang tiada henti-hentinya kagum. “Sungguh, apa itu ruang khusus untuk menembak? Bahkan ada senjata dan peluru di sini!”


Ray mengabaikan Indri yang seperti anak TK bertamasya, mungkin bagi orang luar seperti Indri tempat dengan banyak hal seperti itu sulit ditemui, berbeda dengan Ray yang cukup muak untuk melihat semua hal itu.


Dia terus berjalan sampai akhirnya mereka tiba di akhir ruangan. Ada pintu otomatis yang memerlukan pin untuk membukanya.


“Apa itu ruang rahasia yang memerlukan kata sandi dari pemiliknya? Jika kamu tak bisa membukanya maka biarkan aku menendangnya sampai rubuh!” Indri menyarankan hal yang luar biasa ekstrim.


Ray bertanya-tanya ke mana perginya sifat tenang dan kalem Indri yang biasanya namun untuk saat ini dia perlu menghentikan wanita barbar tersebut.


“Tidak perlu. Aku yakin tidak ada satupun tempat di ruangan ini yang aku tidak bisa masuki.”


Ray mengingat semua pin untuk memasuki setiap ruangan yang membutuhkan akses tersebut dengan jelas. Dia mengunjungi ruang bawah tanah ini bukan sekali dua kali, tetapi ratusan bahkan hingga ribuan kali.


Memasukkan pin yang diperlukan, pintu mulai terbuka secara otomatis. Patut disyukuri bahwa. segala sistem operasi di fasilitas itu berfungsi sepenuhnya.


Asap putih mulai berhembus keluar, ruangan yang awalnya begitu gelap kini mulai dipenuhi oleh pencahayaan.


“Yah, kita bisa menggunakan segala hal di dalam sini untuk keperluan menyelesaikan tugas akhir.” Ray memandang ruangan itu di pintu masuk dengan diam.


Sementara di sisi lain, Indri berjalan masuk dengan terhuyung-huyung, dia tercengang karena kekaguman yang berbeda dari sebelumnya. Tentu saja, itu karena di balik semua ruangan sebelumnya, ada ruangan lain yang cukup luas di depannya.


Terlepas dari ukuran ruangannya, bagian paling menarik adalah apa yang ada di dalamnya.


“Fu fu, ini benar-benar luar biasa.”


Apa yang ada di dalamnya tidak salah lagi bisa dikatakan sebuah harta karun. Harta karun yang benar-benar berharga baik itu menyelesaikan ujian dari Secret ataupun tidak.


“Aku tidak tahu apakah barang-barang ini dikumpulkan untuk pengembangan lebih lanjut dan modifikasi atau mungkin orang itu hobi mengoleksinya.”


Ray tidak pernah melakukan pembicaraan mendalam dengan mendiang ayahnya tentang semua hal itu. Saat Ray melakukan pembicaraan dengan ayahnya hanya ketika pergantian kurikulum atau saat Ray depresi dan putus asa.


Bahkan sekalipun mereka berbicara, percakapannya hanya berada dalam lingkup tentang apa yang Ray lakukan dan apa yang akan dia lakukan ke depannya.


“Nah, Ray. Bagaimana jika kita mencobanya?” tanya Indri dengan sedikit bersemangat.


Ray hanya menatapnya dan mengangkat alis, memang bukan hal buruk untuk melakukannya, tetapi Ray tidak memiliki alasan apapun untuk pergi sekarang.