
Beberapa menit sebelum pertarungan Alexis dan Leo berakhir.
Di lantai tiga hampir tidak ada orang dan hanya ada perangkap kecil yang cukup berbahaya. Perangkap seperti tali yang akan menembakkan pistol jika tersenggol. Gagang pintu yang dialiri listrik dan membuat orang mati jika menyentuhnya.
Dan, hal-hal lain yang cukup berbahaya untuk diaktifkan. Bahkan Ray mustahil menjinakkan semuanya. Meski tak ada yang meledak namun keseluruhan perangkap mampu membunuh dengan menyakitkan.
Apa yang bisa dilakukan Ray hannyalah mengidentifikasi di mana keberadaan perangkap dan menghancurkannya dari jarak jauh.
Hal itu cukup membuang sumber daya berharga. Dengan semua hal gang terjadi, keduanya kehilangan granat yang mereka simpan.
“Selanjutnya apa?” Terumi tampak cukup lelah. Mengusap keringat di keningnya dan sedikit terengah-engah, dia menatap Ray yang mengamati lingkungan sekitar.
Dengan sedikit keraguan, wajah bermasalah dan lelah Ray menyampaikan berita:
“Tak ada apapun di lantai ke empat. Kita langsung menemukan satu-satunya tangga yang ada. Dan, satu-satunya jalan untuk ke atas.”
Terumi bernapas lega lantaran tak perlu melalui hal sulit lainnya. Akan tetapi rasa penasaran mendorongnya untuk melihat secara langsung.
Rasa senang yang dia miliki sebelumnya dengan mudah hilang. Hampir seakan, dia dibodohi oleh kata-kata penenang belaka. Ia tak memikirkan fakta bahwa kata-kata Ray sebelumnya ditujukan kearah lain. Pastinya bukan arah yang ia harapkan.
“Ini ... apa maksudnya?” Terumi benar-benar lelah. Meski secara fisik dia masih mampu berlari keliling lapangan beberapa kali, tetapi batinnya telah lelah.
Ray mengagumi betapa liciknya pemimpin Rebellion. Ketimbang menyerang secara fisik, mereka memilih serangan terhadap psikologis ataupun mental.
Setelah melalui rintangan-rintangan sulit hingga sampai ke sini. Dikejutkan dengan fakta bahwa mereka harus mendaki untuk naik.
Seluruh lantai empat ditutupi puing bangunan dan tak ada celah untuk lewat.
Hanya tersedia satu lubang yang terhubung dengan atap gedung. Di mana mereka harus tangga dari tali seperti yang ada di helikopter.
“Aku penasaran siapa yang membuat lantai setinggi ini. Lantai empat ini, seakan-akan sebenarnya dua lantai yang digabungkan.”
Terumi mulai terlihat enggan untuk mendakinya. Kesampingkan menaikinya, jarak antara tempat mereka dengan akhir tangga cukup tinggi. Tak diragukan lagi mereka yang menaikinya akan kehabisan tenaga untuk bertarung di atas sana nantinya.
“Ya. Selain kalah jumlah. Mereka cukup pintar untuk membuat kita lelah.”
Datang ke atas sana bisa dibilang bunuh diri. Dengan lelah dan napas yang sudah dipastikan akan terengah-engah. Akan sulit untuk memiliki pemikiran jernih nantinya.
Namun keduanya tak bisa berhenti. Jika tak ingin melalui kesulitan besar di masa depan, keselamatan Erina sangat diperlukan.
Andaikata serikat Redwest benar-benar jatuh ke tangan Rebellion, akan ada masa depan tidak pasti yang menyulitkan. Belum lagi aku tidak bisa melewatkan kesempatan membuka tugas ke-5 dan menyelesaikan tugas bonus. Pikirnya.
Andaikan mustahil mendapatkan keduanya maka setidaknya Ray akan mampu menyelesaikan satu.
Dengan informasi dari penemuan Leo sebelumnya membuat Ray jadi yakin tentang jawaban dari teka-teki yang ia, dan Terumi selesaikan.
“Entah apa yang akan menunggu kita. Tidak ada pilihan untuk mundur, kan? Aku siap kapanpun untuk pergi.” Terumi memantapkan tekad, menguatkan keyakinan bahwa dia akan baik-baik saja.
Ray mengangguk setuju. Bahkan jika Terumi akan absen di sini, ia takkan pernah melangkah di jalan yang sama dengannya.
“Lagi pula kita sudah sejauh ini. Aku takkan pernah berpikir untuk mundur setelah maju sejauh ini.”
Terumi mengangguk dan tersenyum masam, “Leo akan mengamuk jika kita kembali tanpa hasil apa-apa. Setidaknya ini takkan menyia-nyiakan usahanya.”
“Biar aku yang memimpin. Dengan Degree-ku, aku bisa langsung bertindak menyerang mereka andaikata mereka telah menunggu kita keluar.”
Meski hal itu benar adanya namun membiarkan wanita melakukannya cukup tak bisa diandalkan. Belum lagi fakta bahwa Terumi akan kelelahan saat mencapai puncak.
“Baiklah, namun sebelum menyerang perhatikan situasinya terlebih dahulu. Jangan sampai kamu ceroboh.”
Faktanya Ray tak menolak opsi tersebut. Itu keinginannya. Untuk apa menentangnya. Andaikan ada perangkap di atas sana maka yang jadi korban adalah Terumi. Bukan Ray.
Dalam hidup ini pengorbanan kerap dibutuhkan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Terumi naik lebih dulu. Setelah dia berada di delapan anak tangga pertama Ray baru naik menyusul. Dalam perjalanan tersebut dia memperhatikan sesuatu yang baru benar-benar dia sadar.
Bukan berarti dia memiliki pemikiran kotor, namun Ray baru mempelajari hal ini.
Saat Terumi sedikit melambat dan jarak keduanya tak begitu jauh. Terumi menyadari tatapan Ray. Yang seakan-akan mempelajari sesuatu.
“Apa yang sejak tadi kamu lihat, Ray? Kamu tampak seperti mahasiswa yang mengobservasi kotoran burung.” Terumi cekikikan atas leluconnya sendiri.
Namun Ray sama sekali tidak memperhatikan guyonannya dan menjawab dengan jujur.
“Aku baru kali ini menyadari satu hal. Ini mengejutkanku tentang betapa berbedanya pertumbuhan wanita dengan pria dalam beberapa aspek tertentu.”
Terumi tak mengerti apa yang coba Ray sampaikan dan meminta penegasan darinya, “Apa maksudmu?”
Ray yang menyentuh dagu layaknya berpikir. Mengangkat wajahnya dengan mata terbuka lebar seperti anak kecil yang baru mengetahui hal baru.
“Habisnya, seorang pria takkan menumbuhkan bokong besar. Aku terkejut bahwa proporsi tubuh antara pinggang wanita dengan bokongnya lebih besar bagian bokong—”
“Kamu terus mengamati bokongku sejak tadi?!” Terumi menyela dengan nada berbisik yang cukup keras dan sedikit serak. Wajahnya memanas merah dan hampir ada asap keluar dari kepalanya.
Ray menjawab dengan begitu polosnya. Dia yakin kata-katanya sama sekali tidak mengandung pelecehan verbal.
“Ya. Habisnya kamu memiliki tubuh yang mungkin ideal bagi wanita. Aku tidak pernah mengerti satu hal. Di luar aku pernah dengar bahwa wanita dengan bokong besar itu nikmat dan jago bergoyang di kasur—”
PLAK!
Terumi menginjak wajah Ray dengan marah dan wajah merah padam.
“Itu sakit. Mengapa kamu melakukannya?” Ray memegang hidungnya, yang untungnya baik-baik saja.
Andaikan genggamannya tak kuat maka Ray akan jatuh. Dia sama sekali tidak mengerti tindakan wanita.
“Kamu mesum, Ray!” Terumi berteriak. Mengabaikan fakta bahwa mereka coba menyusup.
Ray membatu karena dalam hidupnya. Baru kali ini dia mendapatkan julukan tersebut meski dia tidak melakukan apapun yang melecehkannya.
“Apa mungkin kata-kataku barusan sensitif, dan masuk ke kategori pelecehan verbal?”
Ray tak tahu sama sekali hak yang umum di masyarakat karena dia hanya beberapa bulan membaur di masyarakat.
Jika ada peraturan tak tertulis bahwa hal yang dia katakan sebelumnya adalah tabu. Maka tendangan tersebut mungkin pantas ia terima.