
Ray tengah coba membantu beberapa orang dari para orang gila yang membakar manusia secara sembarangan. Tentunya Ray tak memiliki kewajiban untuk melakukannya namun hal ini penting dilakukan untuk menjaga image-nya.
‘Jika bukan karena tak ingin dicurigai lebih awal, aku takkan melakukannya.’
Ray tak masalah jika kebusukannya diketahui oleh Arthur dan yang lainnya. Namun pada saat ini Terumi, Leo bahkan Eric tidak boleh mengetahui apapun tentang dirinya.
“Semuanya menjauhlah dari mereka, jangan dekati orang yang sudah terbakar,” ujar Ray, memperingati semua orang yang berlindung di belakangnya.
Meski begitu Ray masih tak menyangka kalau ini adalah bagian dari rencana Virgo. Orang itu benar-benar berencana membunuh Arthur tak peduli seberapa banyak korban yang dibutuhkan.
Dia bahkan tak ragu bekerja sama dengannya untuk membuat situasi seperti ini.
‘Harusnya dengan ledakan bom saja sudah cukup memojokkan Arthur. Orang itu memiliki kemanusiaan yang tinggi, jika Virgo mengambil kesempatan tersebut untuk membawa Mona maka semuanya akan berakhir.’
Meskipun sebagiannya sesuai dengan ramalan Ray, peristiwa pembakaran ini di luar ekspektasinya. Virgo mungkin tidak benar-benar menaruh harapan kepada rencana yang dirancang Ray. Sungguh orang yang tidak sopan.
Ray menjauhkan dirinya dari kekacauan, ia pergi ke tempat yang mampu membuatnya melihat panggung utama. Panggung yang sudah susah payah ia siapkan selama ini.
“Apa-apaan itu?” gumam Ray dengan wajah terkejut.
Hal pertama yang ia lihat adalah pemandangan Eric sedang terkapar karena kakinya tertembak, mengabaikan darah yang terus mengalir Eric hanya berusaha bangkit dengan penuh amarah.
Di lain sisi Ray menemukan kalau Virgo menjadikan Chelsea dan Mona sebagai tawanan, hal tersebut jelas akan menjadi belenggu erat untuk Arthur dan Eric.
“Namun aku bertanya-tanya mengapa Virgo memilih bertarung dengannya ketimbang membunuhnya langsung.”
Bagian yang paling mencolok adalah pertarungan Arthur dengan Virgo yang sangat brutal. Keduanya bertujuan untuk membunuh satu sama lain namun bedanya Arthur masih ragu untuk melakukannya. Tentu, alasannya adalah Mona yang menjadi tahanan.
“Jika dari data yang diberikan, harusnya Arthur mampu mengubah situasi putus asa. Hal tersebut seperti ia memiliki keberuntungan yang sangat tinggi di pihaknya,” Ray mengelus dagunya dan mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Pada akhirnya Ray hanya bisa mengambil satu kesimpulan paling mungkin, ia sedikit mengangkat alisnya saat mengetahui hal tersebut.
“Apa Virgo berencana membuktikannya?”
“Jika hanya ingin mengetahui Degree-nya, dia cukup memaksa Ray menunjukkannya dengan mengancam Mona.”
Ray kemudian berpikir kalau Virgo tidak sesederhana itu. Dia adalah orang yang telah berkali-kali mengacaukan rencananya sehingga tidak mungkin memiliki pemikiran sederhana.
“Maka jawabannya hanya satu. Pembuktian.”
Pembuktian dari kekuatan Arthur yang terlihat tidak masuk akal. Keberuntungan tinggi bukan hal yang sangat spesial, namun Arthur jelas tidak masuk akal. Bagaimana bisa keberuntungan biasa membuatnya selamat dari ledakan yang menghancurkan gedung?
Hal itu harus memiliki pembuktian nyata dengan mata kepala ketimbang kata-kata. Ray sudah melihatnya sekali dan ingin melihatnya lagi.
“Siapa di sana?” Ray tersigap karena kehadiran seseorang yang tiba-tiba muncul datang dari belakangnya. Ia sudah menodongkan pistol dan menyiapkan pisaunya kalau perlu.
“Tenang saja, aku tak berniat melakukan apa-apa padamu,” Seorang pria bertopeng keluar dari bayang-bayang dan mengangkat tangannya.
Ray pernah melihat pakaian orang ini yang identik dan juga senjatanya.
“Ryouma Hisatsu kalau aku tidak salah ingat,” ujar Ray.
“Ya,” pria itu mengangguk. “Kamu pasti Ray Morgan.”
“Apa tujuanmu?” Ray tak berniat basa-basi dengan musuh.
Ryouma dengan diam melemparkan sebuah buki kecil yang bisa dimasukkan ke saku dan kemudian dia berbalik pergi.
“Semua yang kamu mau ada di dalamnya. Aku harap kamu mau mengerti.”
“Apa isinya?”
“Lihat sendiri. Aku menantikan hari di mana kita bertemu lagi. Sampai waktunya tiba, anggap hari ini tak pernah terjadi.” Ryouma mengangkat tangannya sebagai perpisahan sebelum menghilang ke dalam kegelapan.
Ray tak tahu apa tujuan orang tersebut namun dia tak terlihat akan membantu Virgo juga. Mungkin saja ada masalah internal yang dialami Virgo dengan orang itu namun Ray tak peduli apa yang terjadi dengan mereka.
“Ini ...” Ray membalik halamannya tanpa membacanya dengan benar. Buku tersebut memiliki kurang lebih seratus halaman berisikan informasi yang penting.
Terlepas apakah validasi dari informasi tersebut bisa dipercaya atau tidaknya, Ray tetap akan membaca dan menyimpannya. Mau bagaimanapun, setiap judulnya ditulis dengan sangat menarik. Ray yakin orang idiot sekalipun akan tertarik pada isinya.
“Penelitian Degree: Sonata Seirama.”
“Penelitian Degree: Alexis Sanchez.”
“Penelitian Degree: Erina Queen.”
“Penelitian Degree: Mona.”
“Penelitian Degree: Chelsea.”
“Penelitian Degree: Eric.”
“Penelitian Degree: Leo.”
“Penelitian Degree: Ben.”
“Penelitian Degree: Guren.”
“Penelitian Degree: Rani.”
“Penelitian Degree: Rina.”
“Penelitian Degree: Sebastian.”
“Penelitian Degree: Mein.”
“Penelitian Degree: Maa Dong Wok.”
“Penelitian Degree: Roid Floch.”
Ada beberapa nama lain yang Ray tidak ketahui siapa mereka namun hal terakhir yang tertulis adalah bagian terakhir yang tampaknya spesial karena ditulis dengan tinta merah.
Selain itu, informasi yang tercantum di nama dengan tinta merah lebih detil dan tampak sangat informatif. Ray mulai bertanya-tanya mengapa Ryouma memberikan sesuatu seperti ini kepada musuh sepertinya. Virgo mustahil akan melakukannya.
‘Apa tujuannya? Mungkinkah membuatku bingung dengan segala informasi yang tertera di sini? Tidak. Mau bagaimanapun itu tindakan bodoh. Selain itu, ada beberapa bagian yang hanya aku yang tahu. Validasinya ... sulit dikatakan kalau ini palsu.’
Ray mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa semua informasi di buku itu adalah fakta dan benar adanya. Kesampingkan alasan Ryouma memberikannya, fakta bahwa ia bisa mengetahui hal-hal ini patut dipertanyakan.
Dari beberapa informasi yang tercantum harusnya bersifat pribadi dan mungkin saja tak pernah ditunjukkan di permukaan.
“Tampaknya ada banyak hal menarik yang tidak pernah aku sadari. Bahkan, aku tak tahu dia juga mengintaiku diam-diam,” Ray tersenyum, merasa bodoh karena ia tak tahu dirinya pernah diawasi.
Alasan Ray yakin buku itu bukan kebohongan bodoh sangatlah sederhana. Itu karena namanya tercantum dalam tinta merah. Yang mana informasi di dalamnya harusnya tidak mungkin diketahui oleh orang luar karena Ray tak pernah mengatakan Degree-nya pada siapapun di dunia ini.
Berikut adalah nama-nama yang tercantum dengan tinta berwarna merah:
“Penelitian Degree: Sakura Terumi.”
“Penelitian Degree: Indri.”
“Penelitian Degree: Yan Hoki.”
“Penelitian Degree: Virda Gracius Orloff.”
“Penelitian Degree: Jung Haiyan.”
“Penelitian Degree: Retsuji Arthur.”
“Penelitian Degree: Ray Morgan.”