
“Akhirnya dia mencapai Guardian, Nona. Apa yang perlu kita lakukan? Haruskah membantunya?”
Tersenyum tipis dan menyandarkan kepala di tangannya, Erina menatap Ray dengan penuh minat.
“Tak ada gunanya, Mein. Jika dia membutuhkan bantuanku maka dia tak cocok berdiri di sampingku sebagai suami. Memang bagus jika dia berterima kasih padaku namun aku tak ingin menjadikannya semudah itu.”
Sebagai seorang wanita yang cantik dan idaman, Erina memiliki kriteria tinggi untuk pria yang dia ingin ada di sisinya.
Hanya orang berkelas saja yang cocok untuk orang berkelas lainnya. Faktor wajah menjadi pendukung besar bila ingin mendapatkan wanita yang sempurna.
Dunia ini sangatlah tidak adil bagi orang jelek. Kata-kata itu sangatlah benar adanya. Keadilan hanya didapatkan dari mereka yang memiliki aset wajah dan faktor lain yang bagus.
“Apa yang membuatmu tidak puas, Nona?” Mein tampak tidak mengerti suatu hal. Wajah dingin nan apatis tidak berubah namun alisnya terlihat sedikit meruncing.
“Hanya penasaran saja. Selama ini dia tidak menggunakan Degree sama sekali.”
Mein melebarkan matanya dan menatap Erina dengan tak percaya, “Itu tidak mungkin ... artinya dia berhasil bertahan tanpa menggunakan Degree?”
Sulit dipercaya bahwa seseorang menyelesaikan tugas selama ini tanpa menggunakan Degree-nya.
Bahkan jika Degree yang dimiliki tidak berguna untuk tugas, seharusnya mustahil seseorang bisa bertahan hingga ujian ke tiga.
“Aku tidak bisa menjaminnya namun sepertinya memang begitu. Tanpa Degree sekalipun pria itu memiliki pengetahuan luas dan kemampuan. Ada kemungkinan bahwa memang itu Degree-nya namun bisa juga bukan.”
Tidak menutup kemungkinan bahwa Ray diberkati Degree tentang kecerdasan namun bukannya tidak mungkin bahwa Ray memang pintar tanpa Degree.
Erina kesulitan menebaknya karena akan ada banyak kemungkinan muncul jika dia tidak memiliki clue apapun untuk menebaknya.
“Entah sengaja ingin menyembunyikannya atau tak bisa menggunakannya ... yang manapun itu, kita harus menariknya ke pihak kita.”
Erina memiliki tujuan dan alasannya sendiri untuk mengulangi tugas yang sudah pernah dia lakukan. Tujuannya tentu saja untuk kepentingannya sendiri.
“Nona benar. Jika dia bisa bertahan tanpa memanfaatkan Degree maka kemampuannya jelas di atas rata-rata. Bahkan mungkin setara dengan Nona.”
“Tidak. Dikarenakan dia pria kekuatan fisiknya lebih besar dariku. Setidaknya untuk saat ini dia unggul soal itu. Aku benar-benar tidak salah memilihnya.” Erina merona dan tersenyum penuh kasih sayang kepada Ray. “Ini mungkin juga yang disebut cinta pada pandangan pertama.”
Mein melirik Erina dengan perasaan campur aduk, “Aku penasaran apa Nona ingin membawanya karena bakat atau karena cinta.”
“Entahlah. Mungkin keduanya. Dia pastinya tipe pria bermuka dua di mana aku sangat lemah dengannya.”
Sampai akhir Mein tak mengerti perkataannya. Selagi mereka bercakap-cakap orang lain yang telah menduduki kursi tampaknya memiliki minat.
Tentu ada satu yang terlihat tidak peduli dan hanya memejamkan mata. Orang seperti itu jelas paham bahwa lebih baik tak mencampuri urusan orang lain.
“Hei, Nona cantik sekalian. Tampaknya kalian sedang membicarakanku, ya?”
Erina melirik pria yang berbicara kepadanya dengan percaya diri.
Dia adalah orang yang mencapai kursi setelah aku dan Mein. Aku sama sekali tak mengamatinya namun dia pasti berkemampuan. Pikir Erina.
“Jangan sok akrab, orang udik. Nona Erina mustahil membicarakanmu. Dia bahkan tidak pernah tahu kalau kamu bernapas.” Mein berkata sinis dan menatap dengan dingin.
Meski mendapat reaksi dingin namun pria itu tampak tidak peduli dan meringis, “Jutek banget, sih. Meski terlihat seperti ini aku orang hebat yang langsung berhasil dalam sekali coba, loh.”
Untuk pertama kalinya Erina terlihat tertarik dengan pria itu.
“Ho? Entah kamu cuma sombong atau memang percaya diri. Tampaknya kamu mendapatkan Degree yang unik, ya?”
“Ke he he, tentu saja. Tak mungkin pria hebat sepertiku mendapat Degree ecek-ecek.” Pria itu membelai rambutnya dengan gaya narsis menjijikkan.
“Jadi begitu adanya. Kalau berkenan bolehkah aku mengetahui namamu?” Erina tersenyum dari balik kipas lipatnya.
“Sebelum menanyakan nama orang perkenalkanlah dirimu terlebih dahulu.”
Mein terlihat marah saat pria itu mengatakannya, “Bajingan—”
Erina segera mengangkat tangannya dan menghentikan Mein untuk tidak bertindak gegabah.
“Kamu benar juga. Panggil aku Erina.”
“Ke he he, aku Ronald Franklyn. Kamu boleh memanggilku Ronald, sayang.”
“Ronald, kah. Tampaknya kamu menjaga tubuhmu dengan baik. Aku tak pernah membenci otot yang dimiliki pria.”
“Begitu, ya? Aku juga selalu mencintai wanita yang memiliki aset terbaik sepertimu.”
Keduanya saling memuji namun Mein tahu bahwa Erina hanya basa-basi. Dari caranya saja sudah jelas tujuan apa yang ingin dicapai olehnya.
“Aku senang atas pujiannya. Karena kamu tampan dan kuat, aku tak masalah jika kamu kemari dan menyentuhnya dibeberapa tempat.” Erina sedikit merona dan sedikit mengguncang dadanya.
Ronald hampir tak berkedip ketika melihatnya dan tersenyum senang, “Itu bagus, sayangku. Namun sayangnya aku tak bisa melakukannya sekarang.”
“Apa alasannya?” Erina membuat wajah seolah terkejut campur kecewa.
Ronald memejamkan matanya dengan tenang, “Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika aku bangkit dari kursiku. Kamu mungkin lebih senior di sini, sayang. Namun jika kamu mengatakan takkan ada apa-apa aku tak percaya karena tak ada pembuktian.”
Seperti halnya pisau bermata dua. Menaruh kepercayaan pada seseorang bisa jadi berguna dan bisa juga menikam dari belakang.
Barangkali Erina menjebaknya dan membuatnya dieliminasi karena bangkit dari kursinya.
“Kamu terlalu waspada namun itu bagus. Sebagai senior aku memuji sikapmu yang tak mempercayai siapapun.”
“Ke he he, aku bersyukur atas pujianmu, sayang. Maaf karena aku menolak ajakan menggiurkannya itu.” Meski begitu Ronald tak terlihat menyesal sama sekali.
Itu kontradiksi dengan kata-katanya namun Erina tak lagi mengejarnya.
“Tak masalah. Ketika keluar dari sini akan ada jeda waktu sebelum tugas selanjutnya. Jika kamu masih tertarik aku tak masalah meluangkan waktu dan tempat untuk kita bersenang-senang.”
“Kamu wanita dengan kemauan kuat. Aku sama sekali tidak membencinya. Jika itu yang kamu mau maka aku akan menerimanya sepuas hati. Terima kasih untuk itu.”
Disaat itu juga Erina tersenyum dan sedikit tertawa. Senyumannya berbeda dari yang biasa. Kali ini dia membuat senyuman mengerikan dan menatap Ronald seakan-akan menatap orang bodoh.
“Fu fu fu, justru aku berterima kasih kepadamu ... idiot.” Dia menambahkan kalimat akhir dengan suara yang tak bisa di dengar orang lainnya.
“Lalu bisakah kamu memberitahuku Degree milikmu?” lanjutnya.
“Tentu saja. Tidak ada penolakan atas setiap keinginanmu. Degree-ku sangat hebat dan sesuai dengan diriku yaitu, Parkour.”
“Jadi begitu. Pantas saja kamu mampu menghindari rintangan yang ada dengan begitu mudah. Apa tak masalah membeberkannya padaku?” Erina tersenyum lembut dan terlihat puas.
“Tak masalah. Aku tak memiliki rasa takut untuk mengungkapkannya.”
“Baguslah. Kalau begitu mari diam dan menyaksikan orang-orang yang berusaha mencapai tempat ini.”
“Seperti keinginanmu.”
Percakapan mereka berjalan begitu lancar tanpa kendala. Itu akan tampak mencurigakan karena Ronald yang sebelumnya sangat hati-hati dalam berbicara tiba-tiba menjadi gegabah.
Tak ada yang akan memahami anomali tersebut selain Erina dan Mein.
Erina kemudian menatap pria lainnya yang duduk tenang selagi memejamkan matanya.
“Untuk pria pendiam di sana, apa kamu ingin bergabung bersama kami? Jika mau kamu bisa bermain dengan pelayanku.”
Mein ingin memprotes kata-kata Erina namun dia memilih diam. Lebih dari siapapun Mein tahu sejatinya Erina. Di generasi mereka, hanya Erina yang memiliki kata-kata sebagai senjata. Lagipula begitulah cara kerja Degree-nya.
Pria itu mulai membuka mata. Sebelum menatap Erina dia menatap Ronald yang benar-benar diam dan mengamati partisipan lainnya. Dia memiliki kecurigaan tertentu kepada Erina.
“Aku lewat. Kalian bisa melakukan atau mengatakan apapun dengan syarat tak menggangguku dalam hal apapun.”
“Pria cuek tidaklah populer, loh.” Erina menyipitkan matanya selagi mengatakannya dengan sedikit ejekan.
“Aku tahu itu. Lagi pula tujuanku ke tempat ini bukan untuk jadi populer.”
“Lalu apa tujuanmu?”
“Apa pantas mengatakannya kepada orang asing?”
Suasana di sekitar mereka kian menjadi berat. Pria itu menatap tajam Erina. Tatapannya yang seakan tak memiliki rasa takut atau emosi apapun cukup membuat Erina mewaspadainya.
“Selain itu sepertinya kamu memiliki Degree merepotkan, ya.” Pria itu kembali berbicara dan menatap Ronald sebentar sebelum kembali memejamkan matanya.
“Apa maksudmu?” Erina bertanya curiga.
Seandainya pria itu menebak Degree-nya sampai batas tertentu maka tak ada jalan selain melakukan pembersihan.
“Entahlah. Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan namun kenyataan bahwa pria itu benar-benar diam setelah kamu suruh sudah cukup menjadi kecurigaan. Meskipun aku tak peduli selama kamu tak mencobanya padaku.”
Dia menekankan bahwa jika Erina tak mengganggunya maka dia Takkas menggali lebih dalam atau peduli.
“Kamu pria yang unik. Tak ada masalah jika memberikan namamu, kan? Aku Erina.” Untuk pertama kalinya Erina merasa benar-benar waspada kepada seorang pemula.
Pria itu membuka matanya dan menatap sesuatu yang jauh dengan wajah apatis. Bibirnya kemudian bergerak dan menyampaikannya kalimat:
“Arthur ... namaku Retsuji Arthur.”
...[***]...
**Nama: Ronald Franklyn.
Usia: 24 tahun.
Asal: Prancis.
Degree: Parkour.
Tak ada rintangan yang tidak bisa dia lewati. Mampu memiliki pergerakan yang cepat dalam hal apapun dan saraf motorik yang baik. Memiliki feeling kuat terhadap sesuatu baik itu rintangan atau bukan**.