
Ray dan Indri menuju suatu tempat. Indri hanya mengikuti Ray yang tampaknya ingin mengunjungi suatu tempat tertentu.
“Aku telah penasaran sejak lama, ke mana kita akan pergi?” tanya Indri.
Ray sejak awal hanya diam tanpa menjelaskan apa-apa karena menurutnya itu bukan sesuatu yang penting untuk diketahui olehnya.
“Sebuah tempat membosankan yang membawa nostalgia.”
Indri mengerutkan alisnya, dia tidak bisa memahami makna tersirat yang disampaikan oleh Ray.
Tempat membosankan yang membawa nostalgia, apa yang ditangkap Indri adalah itu tempat yang berhubungan dengan Ray di masa lalu. Lebih tepatnya waktu sebelum dia masuk ke fasilitas.
“Apa kita punya waktu untuk itu? Game Bonus memilih tenggat waktu. Meski tak ada konsekuensi dari mengabaikannya, tetapi sungguh sia-sia untuk melewatinya.”
Game Bonus, sesuatu yang baru saja muncul dua jam yang lalu. Memang bahwa tak ada konsekuensi apapun jika tidak ikut berpartisipasi, namun sungguh sia-sia jika harus melewatinya.
“Kita tidak perlu terburu-buru tentang itu. Konten permainannya masih belum aku pahami.”
Ray masih berusaha mengerti dengan baik isi kontennya karena Secret tak memberikan penjelasan dengan rinci.
—Game Bonus. Treasure Hunt. Kami menyediakan beberapa titik poin yang bisa kalian temukan di berbagai tempat. Pertahankan poin selama 24 jam dan dapatkan dua ribu DP. Tak ada konsekuensi atas kegagalan ataupun tak berpartisipasi.—
Dua ribu adalah jumlah yang besar untuk dimiliki. Ray tentunya tidak ingin melewati kesempatan untuk mendapatkan DP tambahan karena masih tidak diketahui apakah fungsi DP hanya untuk penukaran saja.
Selain itu jika dirupiahkan maka itu adalah jumlah yang begitu luar biasa. Mereka tak lagi perlu bergantung kepada Market yang telah disediakan oleh Secret. Dengan uang sebanyak itu hampir tidak ada yang tidak bisa dikendalikan.
“Kamu ada benarnya. Titik poin, kemungkinan ini sama seperti di game konsol atau sejenisnya saat berniat melakukan save pada game. Hanya saja, aku tidak mengerti apa yang dimaksud Secret tentang mempertahankannya.”
Ada dua kemungkinan masuk akal. Pertama adalah mereka harus melindungi titik poin tersebut yang artinya adalah tempat tertentu selama 24 jam atau yang kedua adalah mereka mendapatkan sesuatu dan harus membawanya agar tak dicuri.
“Kamu tampak tahu banyak soal game,” ujar Ray dengan tertarik.
“Ya, aku memainkan cukup banyak.”
“Begitu. Yah, tentang permainan bonus ini bisa menunggu. Kita tak memiliki informasi apapun tentang lokasi titik poin ini. Dari pada melakukan hal-hal yang rendah kemungkinan, aku akan melakukan sesuatu yang sudah jelas.”
Untuk menemukan lokasi yang bahkan tidak ada petunjuknya sama sekali dibutuhkan keberuntungan di tingkat yang tertinggi. Memang disayangkan bahwa Ray bukan Arthur yang memiliki keberuntungan yang luar biasa.
Meski begitu ada hal yang Ray miliki namun tidak dimiliki oleh Arthur.
“Yah, itu masuk akal.” Indri tidak mengejar pembicaraan lebih jauh.
Pada akhirnya mereka tiba di suatu tempat. Pemukiman yang tampaknya telah ditinggalkan karena terbakar dan penuh kehancuran meski sudah ada tanda-tanda akan ada pembangunan ulang.
“Apa ini tujuan kita?” tanya Indri, melihat Ray yang tampak diam.
“Tidak. Tujuan kita ada di depan sana.”
Ray tidak memberikan penjelasan lebih lanjut dan terus berjalan. Hal tersebut tentunya membuat Indri bertanya-tanya tentang tempat seperti apa yang sedang Ray tuju, namun dia tak berniat menanyakannya karena tahu Ray takkan mengatakan apapun.
Saat dia mulai memikirkan berbagai hal, Ray akhirnya berhenti berjalan dan menatap sebuah rumah.
Rumah yang tampak besar, meski di sekitarnya penuh dengan jejak terbakar, hanya rumah itu yang masih berdiri dengan kokoh.
“Tempat apa ini?” gumam Indri selagi mengamati sekitarnya.
Dari luarnya tampak seperti sebuah panti asuhan karena memiliki luas yang megah bahkan hingga halamannya. Dindingnya juga kokoh, meski terlihat tidak terawat namun itu tempat yang layak untuk ditinggali.
“Bahkan hanya tempat ini yang tersisa setelah semua kekacauan itu,” gumam Ray. “Aku kagum bahwa tempat ini masih berdiri dengan kokoh.”
Ray tidak akan melupakan tempat itu seumur hidupnya. Bahkan jika dia ingin melakukannya, Ray takkan pernah bisa melupakannya. Itu karena memori tentang tempat tersebut terukir kuat dalam ingatannya.
“Apa mungkin ... kamu pernah tinggal di sini?” tanya Indri dengan sedikit terkejut.
“Ya,” Ray mengangguk. “Inilah sangkar yang mengikatku, tempat yang disebut sebuah rumah.”
“Aku tak menyangka bahwa kamu orang yang tajir.”
“Ya, aku juga terkejut,” ujar Ray.
Indri mungkin tidak akan pernah tahu kehidupan yang Ray jalani di rumah tersebut. Terkunci di dalam ruangan yang berisi tumpukan buku dan harus dipelajari seluruhnya, tak pernah memiliki banyak waktu untuk keluar dan menikmati kehidupannya.
Ray tidak pernah menyadari dirinya diberkati dengan kekayaan yang luar biasa saat itu. Jika memiliki banyak harta dan wewenang dalam banyak hal namun sama sekali tak merasa bahagia, maka itulah yang dinamakan miskin sesungguhnya.
“Tempat ini tampaknya sudah ditinggalkan dan lama tak ditempati. Bahkan lingkungannya juga buruk. Apa yang akan kita lakukan di sini?”
Indri tidak berharap Ray akan mencari orang tuanya atau semacamnya. Meski tak tahu cerita tentang masa lalu Ray, namun dengan melihat kondisi rumah tersebut sudah memperjelas banyak hal. Indri tentunya tidak akan menyinggung hal sensitif seperti menanyakan apakah Ray masih memiliki orang tua.
“Terlepas dari tampilan luarnya, di dalamnya memiliki beberapa tempat yang nyaman. Entah denganmu namun aku akan tinggal di sini untuk menghemat pengeluaran.”
Mereka butuh tempat untuk tinggal. Menyewa hotel ataupun membeli rumah adalah pilihan namun Ray tak mau mengambil pilihan tersebut. Dia ingin menekan pengeluaran semaksimal mungkin tanpa menyiksa dirinya.
Selain itu, ada beberapa hal yang takkan bisa didapatkan Ray dari hotel ataupun rumah lain selain tempat ini.
“Aku akan ikut denganmu. Bahkan jika itu tidur di lantai dingin sama sekali bukan masalah untukku,” ujar Indri dengan senyuman tipis.
Ray hanya memandang rumah itu dari atas ke bawah selagi membiarkan kenangan di masa lalu terlintas di kepalanya.
Tentang bagaimana Ray di didik untuk ambisi besar pria yang dipanggil ayah, sebuah tempat yang berusaha mendidik manusia agar berpengetahuan luas dan menjadi ruang penelitian.
Ray masih ingat tentang bagaimana di tempat ini dia besar, dan bagaimana tentang dirinya membakar seluruh tempat ini.
“Bagaimana kalau kita masuk?” ujar Indri. “Aku cukup penasaran tentang seperti apa bagian dalamnya.”
“Ya, tidak ada gunanya berdiam diri di sini.” Ray mulai melangkah masuk dan membuka pintu yang separuh hancur. “Pada saat seperti ini, harusnya aku bilang ... aku pulang, ya?”