
“Gah! Tolong aku, siapapun tolong aku!” Si gendut mulai berguling-guling bak bayi yang menangis merindukan asi.
Tak ada satupun suara yang menyahut padanya lantaran sekutu di sekitar telah dikalahkan. Baik terbunuh, tak sadarkan diri, hingga dipukuli.
Bagian tersisa yang dimiliki olehnya hanyalah sekelompok pecundang yang dipukuli dan dihancurkan.
“Jangan bunuh dia, Terumi.”
Arthur datang dengan kondisi super menyedihkannya. Tak hanya pakaiannya benar-benar terbakar dan hampir telanjang.
Luka bakar di bahu kirinya sangat memprihatinkan dan wajah tampan tersebut sedikit rusak karena kulit yang terpanggang.
“Tenang saja ... aku takkan mau melakukannya lagi,” jawabnya dengan wajah takut dan sedih, tertunduk dengan sakit dalam arti tertentu.
Mereka yang memasuki tempat ini dipastikan pernah membunuh setidaknya satu orang.
Ray tahu betul bahwa pada umumnya manusia tidak membunuh manusia. Sekali membunuh maka hati akan diikat oleh rasa takut akan dosa terburuk yang diperbuat manusia.
Takkan ada orang yang bisa terbiasa dengan sebuah pembunuhan.
“Untungnya orang-orang ini membawa borgol sehingga kita tak perlu mengeluarkan DP lebih.” Ray membentangkan borgol dari rantai yang dia ambil dari mayat orang. Yang baru saja dia bunuh.
Tanpa kata lanjutan Ray mengambil inisiatif untuk memborgol si pria gemuk lantaran hanya dia yang bisa diwaspadai. Sementara rekannya yang lain ... ya, bunuh saja.
Arthur mengangguk dengan sedikit kepuasan, dia amat bersyukur karena keduanya cepat tanggap tanpa perintah.
“Mengikat si gendut itu dengan tali takkan berhasil karena dia bisa melakukan banyak hal dengan gumpalan lemak itu.” Arthur jalan terhuyung-huyung, seperti pria dewasa yang minum alkohol hingga memerah dan tak kuasa mempertahankan kesadarannya, “Aku ... .”
Arthur kehilangan tenaganya, benar-benar lemas, kolaps, terjatuh.
Terumi dengan sigap menahan tubuhnya lalu membaringkannya dengan hati-hati. Tak lupa dia memperhatikan caranya membaringkan untuk mencegah luka bakar tersebut kotor oleh tanah.
Ray datang dengan wajah serta perasaan yang rumit.
Satu hal yang tak dia pahami adalah kesedihan dan empati masih tersisa di hatinya. Sesuatu yang tak percaya masih dia miliki.
“Orang ini sangatlah aneh ... aku merasa bahwa aku harus selalu mengikutinya ... sebisa mungkin aku tak ingin terlibat lebih jauh dengannya.”
Terumi mengatakan kesannya tentang Arthur secara gamblang dan anehnya Ray memiliki kesan yang sama.
“Apakah dia orang spesial dengan bakat tertentu atau Degree menjadi alasan hal ini. Tak peduli apapun itu dia satu-satunya yang paling aneh dari orang yang pernah aku temui.”
Apakah Degree sungguh maha kuasa sampai mampu mempengaruhi hati seseorang? Tak ada yang tahu termasuk pembuatnya sendiri.
Untuk mencari batas sejauh mana Degree memberikan pengaruh, semua tugas ini entah bagaimana, meski tak masuk akal, kini jadi cara yang masuk akal dan bagus.
Selain itu sulit dipercaya jika seseorang terlahir dengan kharisma atau wibawa yang membuatnya mampu mempengaruhi hati seseorang.
Apapun itu tak ada yang benar-benar bisa dipercayai.
“Untuk sekarang setidaknya kita harus mengobatinya. Terlepas dari semua hal ganjil tentangnya, dia lima puluh persen bukan orang jahat.”
Ray tak bisa mengatakan seratus persen lantaran dia hanya tahu nama dan orang dari tugas yang sama. Hubungan keduanya seperti bagian depan dan belakang buku yang hanya berisi satu halaman. Sangat tipis hingga mampu hancur, rusak dan terlupakan.
Sangat mudah terbaca, wajahnya yang panik dan gelisah telah mengatakan lebih banyak hal dari mulutnya.
Ray dapat tahu betul hal itu dan pengobatan yang salah akan membuat Arthur menderita. Ia mulai memberikan pengarahan kepada Terumi sebagai pertolongan pertama.
“Lukanya memang besar namun tak sampai menghancurkan daging, hanya kulitnya melepuh. Carilah air dingin atau semacamnya di sekitar sini. Jika kamu memilikinya oleskan salep terlebih dahulu sebelum memberi perban pada lukanya.”
Untuk beberapa alasan Terumi amat bersemangat mendengar penjelasannya. Matanya seakan-akan berubah jadi bintang dan seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat permen lollipop.
“Jadi begitu, syukurlah bahwa kamu orang jenius! Aku akan melakukannya sesuai arahan!” Terumi berdiri tegak sebelum membungkuk dan pergi.
“Apa seperti itu cara orang Jepang pergi? Yah, aku tak perlu memikirkan, sekarang ...,” Ray menoleh ke si gemuk yang coba melarikan diri tanpa membuat suara, “Dengan tubuh besar itu, aku mampu mendengar lemak yang bersuara seperti kantung es.”
Ray menarik pistol dan menembak tepat di bokongnya. Walau tak mampu melukai panasnya tetap luar biasa.
“Argh! Sakit sekali, mohon ampuni aku. Lepaskan aku. Jangan bunuh aku!”
Berjalan dengan santai dan tatapan dingin juga merendahkan, Ray menginjak tubuhnya dengan kekuatan yang cukup untuk mengembalikan rasa nyeri dari kulit yang terbakar.
Lagi-lagi dia menjerit dan menangis kesakitan. Mengemis akan hidupnya dan bersedia menjilat kotoran di sepatunya.
“Merangkak seperti ini membuatmu terlihat seperti babi gemuk yang menjijikan.”
Ray takkan memiliki belas kasih kepada orang yang menjadikannya musuh. Baik secara sengaja atau tidak, musuh, tetaplah musuh. Dan, musuh hanya memiliki satu cara untuk ditangani, musnahkan.
“Aku ingin kamu menjawab beberapa pertanyaan dan jika bisa katakan semua hal yang kamu ketahui tentang sosok bos bagi kalian ini.”
Ray mulai menaiki punggungnya dan berjongkok, menunjukkan tatapan tajam yang berisi perintah serta semua kegelapan yang ia miliki.
Mata yang hanya dimiliki setelah seseorang melalui berbagai hal hingga tiba di titik memahami kebusukan manusia.
“Bos ... jangan pikir aku akan mengatakan apa-apa tentangnya! Bahkan jika kamu menyiksaku, kamu takkan bisa membunuhku jika—”
Seketika pria itu menunjukkan wajah bangga seakan dia menang atas sesuatu yang mustahil dia menangkan. Seketika itu juga Ray mengambil langkah memotong perkataannya.
“— wanita itu tidak ada di sini ... itu yang ingin kamu katakan, kan? Sayang sekali bahwa kamu terlalu meremehkanku.”
Faktanya menusuk takkan memberikan pengaruh apapun kepadanya. Tubuhnya— lemaknya yang berlebihan sangat elastis hingga mampu memantulkan benda tajam hingga menahan timah panas yang harusnya mampu menembus tubuh manusia.
Meski begitu kulit dan tubuhnya mampu merasa sakit oleh panas, atau mungkin juga sebenarnya dia merasakan sakit saat ditembak atau ditusuk namun dampaknya tak sebesar yang diperkirakan.
“Tidakkah kamu memahami bahwa Degree-mu penuh celah. Degree itu hanya berlaku untuk lemak di tubuhmu, sementara yang tidak terdapat lemak sama sekali rentan seperti halnya manusia normal.”
Tanpa banyak kalimat Ray mengeluarkan jarum yang selama ini dia simpan. Tangan lainnya menjambak rambut pria gemuk dan membuatnya mengangkat wajahnya.
Ray kemudian duduk dengan posisi kaki mengunci lehernya sementara tangan kiri sibuk menarik kepalanya untuk mendongak, tangan kanannya yang memegang jarum diletakkan tepat di mata pria itu.
“Mata adalah salah satu bagian tubuh yang rentan. Tidakkah kamu membayangkan seperti apa rasanya matamu ditusuk oleh jarum seperti ini?”
“Hik!”
“Jika kamu tahu betapa mengerikannya, jangan menentang. Turuti aku dan ungkapkan semua yang kamu ketahui.”