The Degree

The Degree
Rencana Negosiasi



Suara tembakan terdengar dari atap, Terumi yang sedang menarik tali yang tertimpa puing bangunan segera terkejut.


“Itu suara tembakan. Asalnya dari tempat Ray ... apa mungkin?!”


Terumi tak lagi mempedulikan tali tambang yang harusnya dia ambil. Bisa saja jika dia tetap berusaha keras menariknya dengan mengacuhkan tembakan tersebut. Sesuatu telah benar-benar terjadi kepada Ray yang ada di atas sana.


Ada dua opsi yang jelas muncul dalam kepalanya. Meski salah satunya adalah yang paling tak bisa dipercaya.


“Apa mungkin orang-orang dari Rebellion kembali dan memutuskan membunuh kami? Atau, mungkin ... Ray menembak Erina?”


Pilihan terakhir yang tak mau dia percaya. Terumi benci dirinya sendiri karena memikirkan hal itu. Hanya karena melihat sisi mengerikan Ray, dan apa yang dikatakan Virgo sebelumnya.


Ia menjadi berpikir bahwa Ray takkan memiliki keraguan apapun melakukan tindakan kejam seperti itu.


Lagi pula ia melihat sendiri kekejaman yang telah dilakukan Ray. Tindakan yang harusnya tak bisa dilakukan oleh manusia biasa. Bahkan pekerjaan kotor seperti algojo tak selamanya mampu menyiksa manusia tanpa keraguan.


“Aku harus bergegas dengan cepat!”


Melompat, salto, dan berguling diantara celah bangunan untuk sampai lebih cepat ke tangga menuju atap.


Terumi tiba dengan cepat dan merayap naik dengan tangga. Seakan-akan dia sedang merangkak naik karena kecepatannya cukup hebat.


Ia melewati beberapa anak tangga untuk melompat ke atap segera. Dengan khawatir dia melihat keadaan dan hal pertama yang dia lihat adalah tubuh Erina tergeletak. Sementara Ray berdiri tegak dan mengulurkan pistolnya ke udara.


Napasnya terengah-engah, Terumi mencoba tenang selagi berjalan mendekati Ray. Yang menyebalkan adalah Terumi merasa sedikit waspada.


Ketika dia menemukan bahwa tak ada bekas peluru atau darah segar mengalir dari Erina. Terumi menghela napas dengan benar-benar lega. Kekhawatiran yang dia miliki hannyalah sebuah delusi.


Pasukan Rebellion yang kembali untuk membunuh mereka juga tak ditemukan di mana pun.


Tampaknya Ray menembakkan pistolnya untuk tujuan lain.


“Apa sesuatu terjadi, Ray? Aku mendengar tembakan sebelumnya.”


Ray menoleh untuk menemukan Terumi yang lelah dan berkeringat. Tubuhnya juga kotor dan pakaiannya ditempeli debu. Tak ada keraguan bahwa dia bergegas ke sini setelah mendengar tembakan.


Apakah dia khawatir aku menembak Erina, atau dia menganggap ini tanda adanya musuh?


Tak ada kepastian namun untuk saat ini hal itu bisa dikesampingkan.


“Ya. Tembakkan itu milikku. Lihatlah di sana.” Ray menunjuk satu tempat yang memiliki pergerakan unik. “Aku ingin menunjukkan posisi kita kepada mereka.”


Di kejauhan sana terdapat pergerakan dari benda-benda yang bergerak dengan cepat. Ray awalnya terkejut karena bahkan Market menyediakan mobil pengangkut yang umum digunakan militer.


“Apa mereka dari Rebellion? Tidak, dari warnanya—”


“Mereka dari Blueeast. Seperti dugaanku setelah mendengar informasi dari Leo. Ordo bergerak karena tak mau Rebellion mengambil alih serikat Redwest.”


Jika itu terjadi maka Rebellion akan menempati posisi pertama sebagai serikat terkuat dan besar di Open World.


Tentunya Ray telah melakukan pertimbangan bahwa jika Ordo mampu mempertahankan status quo melawan Erina selama lebih dua tahun. Setidaknya orang ini cukup pintar, setara, atau bahkan lebih tinggi.


“Tapi, bukankah berbahaya menunjukkan lokasi kita? Bisa saja Ordo datang dan membunuh Erina. Bahkan kamu mungkin bisa jadi korbannya.”


Namun tak peduli jalan apa yang dia ambil nantinya. Pada akhirnya Ordo atau anggota serikatnya akan menemukannya cepat ataupun lambat.


Ketimbang melakukan pelarian diri tak berguna, Ray akan memilih menyerahkan diri. Dan, tentunya tidak secara cuma-cuma. Ia takkan melakukan tindakan yang membahayakan dirinya untuk orang lain.


“Tenang saja. Aku memiliki sebuah rencana kecil. Toh, rencana ini hanya berdasarkan asumsi belaka dan bisa dibilang aku bertaruh.”


Ini pertaruhan yang berbahaya namun tak ada opsi lain yang bisa dia ambil. Itu mungkin akan menjadi sebuah akhir baginya.


“Pertaruhan? Memangnya hal apa yang akan kamu lakukan? Jika kamu berencana bertarung dengannya menggunakan taktik gerilya. Maka urungkan saja. Kita hanya berdua, persenjataan minim, lelah, dan bagian terburuknya adalah tempat ini bisa dihancurkan.”


Terumi jelas tak akan menyetujui gagasan yang jelas-jelas mustahil untuk dilakukan. Tak peduli sepintar apapun seseorang, mereka takkan bisa selamanya menang.


Dan, tentunya Ray bukan orang sekaliber itu untuk mengambil langkah gegabah seperti memulai perkelahian.


Entah Leo selamat atau tidak. Ray hanya butuh keberadaan Terumi di sisinya untuk membuat semuanya mungkin.


“Tenang saja. Aku akan menggunakan sebuah cara lembut yang sudah dilakukan sejak berabad-abad lamanya. Cara ini selalu berjasa bagi dunia untuk menciptakan sebuah perdamaian.”


Ini adalah metode paling halus untuk mengatasi ketegangan yang terjadi sekaligus menjadi penyelamat.


Tingkat keberhasilan adalah 50:50 sehingga Ray memberanikan diri untuk bertaruh padanya.


“Apa yang akan kamu lakukan?” Terumi tampaknya masih belum memahami maksud Ray.


Ray menatapnya dengan senyuman canggung, keringat mulai muncul di pelipisnya.


“Aku akan coba bernegosiasi dengannya tentang ini. Selain itu, ada hal yang ingin aku pastikan melalui negosiasi ini.”


Banyak negara dan kerajaan di masa lalu berdamai dan menghentikan perang melalui negosiasi.


Alasan dari dua kubu saling berperang adalah untuk memenuhi kebutuhan mereka dan berusaha saling menjajah. Situasi Redwest dengan Blueeast hampir serupa.


Karena itu Ray ajan coba menjadi negosiator untuk menyatukan keduanya demi kepentingan yang sama.


“Aku akan menekankan kepada mereka; musuh yang harus kita hancurkan sekarang adalah Rebellion yang mengendalikan serikat kecil dan menjadi kesatuan yang besar.”


“Kamu yakin? Meski pria itu terlihat seperti pengangguran dan orang malas manapun. Dia sangatlah cerdas dalam bertindak dan mengambil keputusan.”


Terumi menekankan bahwa coba membodohi Ordo sama dengan tindakan bodoh.


Orang yang pintar takkan mudah untuk dibohongi. Mereka mampu menyembunyikan celah dengan baik.


“Tentunya aku sadar akan hal itu. Mau bagaimanapun takkan ada orang bodoh yang mampu mendirikan dan mempertahankan serikat besar selama dua tahun.”


Penilaian Ray terhadap pria bernama Ordo ini tak pernah rendah. Semakin banyak yang ia dengar tentangnya, semakin tinggi pula evaluasi yang ia berikan. Ray bahkan tak lagi menghitung berapa banyak dia mengubah evaluasinya terhadap Ordo.


“Aku tak percaya jika dua orang ini benar-benar saling membenci. Bahkan selama dua tahun tidak ada yang coba memulai langkah untuk peperangan. Aku curiga antara adanya konspirasi atau hal lain terjadi.”


Baik Ray atau Terumi takkan pernah tahu apa yang terjadi diantara keduanya. Mungkin saja hanya Ordo dan Erina sendiri yang mengetahuinya.