
Ray memberikan instruksi kepada Terumi untuk menggunakan Erina jika saja kelompok tersebut tidak tergerak hanya dengan uang.
Meski begitu diluar harapan tampaknya Terumi tidak bisa memberikan lampu hijau begitu saja. Seperti yang diperkirakan oleh Ray tentunya Terumi.
“Dia bukan orang yang mampu melakukan hal-hal kotor,” bisik Roid, sedikit menghela napas.
Ray hanya diam sampai suara dari balik handphone bertanya.
“Apa kamu sungguh tega untuk melakukan sesuatu seperti itu, Ray? Yang kita bicarakan adalah Erina, teman kita sendiri!”
Ray menjauhkan sedikit handphonenya dari telinga, itu karena Terumi berkata dengan nada yang keras.
Alasan inilah mengapa Ray menginginkan rekan seperti Roid dan Yan Hoki untuk melakukan tindakan kotor. Dia saat ini tak bisa memastikan keberadaan Leo dan Eric, oleh karena itu dibutuhkan keberadaan pengganti.
“Kamu tampaknya salah menerjemahkan maksudku, Terumi,” ujar Ray, untungnya dia sudah menyiapkan jawaban ini. “Aku tidak mungkin sekejam itu untuk menumbalkan seseorang.”
“Apa maksudmu?”
“Kita hanya akan menawarkan Erina, tetapi bukan berarti dia harus benar-benar melakukannya. Cukup buat situasi di mana mereka memiliki rasa terima kasih ataupun hutang budi kepada Erina.”
Degree Erina bekerja dengan cara seperti itu, bisa dibilang Degree-nya menuntut untuk memberikannya balasan. Degree-nya memungkinkan untuk memberi dan membalas.
“Saat mereka berhutang budi maka Erina bisa membuat tuntutannya sebagai balasan. Tentu saja dia tak perlu menyerahkan tubuhnya jika kondisi itu tercapai.”
Ray tidak benar-benar peduli kepada apa yang akan terjadi dengan Erina nantinya, selama Degree-nya masih bisa digunakan dan hasil yang diinginkan tercapai maka Ray akan menganggapnya sebagai keberhasilan.
Di satu sisi tindakannya mungkin terkesan berdarah dingin karena meminta wanita melakukan sesuatu seperti itu, tetapi apa boleh buat. Tak ada jalan pintas yang mudah selain pilihan tersebut.
“... begitu. Jadi maksudmu, selama hasilnya adalah kelompok tersebut bergerak maka Erina tak perlu melakukan sesuatu seperti itu?” tanya Terumi.
Ray sedikit terkejut karena Terumi memahami poinnya dengan jelas dan cepat. Seperti yang dikatakannya, hasil akhir adalah yang terpenting.
“Ya. Terlepas dari caranya, hasil tersebut adalah yang penting. Aku akan mengakhiri semua ini, dan karena itu aku membutuhkannya.”
Tidak ada orang bodoh yang percaya diri melawan ratusan bahkan ribuan orang sendirian. Sekalipun Ray pintar namun ada batasan yang bisa dia raih.
Ray sendiri sulit untuk menembus situasi sekarang ini karena tak hanya melibatkan pengguna Degree, tetapi juga tentara dan seisi negara ini.
Jung Haiyan, militer, dan juga pengguna Degree lainnya. Dari ketiga kelompok yang bisa dibilang musuhnya, bagian terburuk adalah Ray sama sekali tidak mengetahui apa yang mereka masing-masing rencanakan.
Tak ada gambaran ataupun prediksi. Ray tidak bisa meramalkan situasi seperti apa yang akan terjadi ke depannya. Oleh karena itulah dia mengambil jalan lain.
“Kalau begitu sebenarnya ada banyak cara untuk melakukannya, kan?” tanya Terumi, suaranya entah mengapa seakan mengecil.
“Ya namun memikirkan dirimu, aku tak bisa membiarkanmu melakukan pekerjaan kotor. Tentu, menjadikan Erina tawaran tetap sesuatu yang kotor namun tidak sampai menimbulkan pembunuhan tak berarti.”
Ray sangat mengenal wanita bernama Terumi. Gadis dengan hati yang besar dan juga menentang keras kematian yang menghasilkan kesia-siaan.
Sebagai orang yang telah hidup di lingkungan keras seperti para pengguna Degree lainnya jalani, dapat dengan tegas dikatakan bahwa Terumi masih sangat naif. Oleh karena itu Ray tak banyak melibatkannya dalam rencana besar.
“Begitu. Lalu, bisakah aku menggunakan cara lain untuk meraih hasil tersebut? Tentu aku berterima kasih karena kamu memikirkan aku. Namun, tetap saja sulit untukku melakukannya.”
Ray menghela napas panjang, terkesan lelah menghadapi semua ini.
“Mulai dari mencari keberadaan Leo dan Eric yang hilang entah ke mana, menyelesaikan urusan dengan Arthur dan bahkan menyelesaikan permainan bodoh Secret.”
Tentunya sebagian hannyalah bualan belaka, tetapi poin pentingnya adalah membuat dirinya merasa terbebani. Ray berusaha memainkan peran sebagai orang yang benar-benar memiliki banyak hal rumit untuk ditangani.
Meskipun sebenarnya tidak semuanya benar-benar Ray pedulikan.
“Aku tidak ingin kamu melakukan sesuatu yang akan mengacaukan segalanya, Terumi. Tentu bukan masalah jika kamu memiliki cara yang lebih baik. Aku terbuka untuk itu.”
“Tenang saja. Aku tidak akan mengacaukannya, percaya padaku. Lalu, maafkan aku karena telah menambahkan beban di bahumu.”
Panggilan dimatikan sepihak, Ray tidak tahu mengapa namun dia merasakan atmosfer Terumi dari balik panggilan terkesan begitu tertekan. Meski Ray tak memusingkannya namun itu mengkhawatirkan.
“Tampaknya kamu sudah mencapai batas di mana bisa terus memanipulasi wanita itu, ya?” ujar Roid dengan sedikit ejekan.
Ray tak pernah membuat pernyataan memanipulasi Terumi, tetapi dia tak menentang kesimpulan Roid tentang itu.
“Yah, setidaknya dia orang yang terampil sehingga tak banyak meninggalkan jejak kekhawatiran. Bagaimana situasinya? Apa ada hal baru yang disampaikan benda itu?”
Sebelumnya saat mereka menyekap tentara dan mencuri pakaiannya, Ray dan Roid menemukan walkie talkie yang digunakan militer untuk berkomunikasi.
“Saat kamu tengah berbincang dengan Terumi, aku mendengar sebuah pesan darinya.”
Ray tidak menyadarinya lantaran suasana di sekitar begitu sunyi sehingga dia hanya fokus untuk berbincang dengan Terumi.
Jaraknya dengan Roid saat ini memang terpaut beberapa meter namun itu tidak menjadi alasan Ray tidak mendengar apapun. Mungkin saja Roid sengaja mengecilkan volumenya demi keamanan mereka.
“Apa yang dikatakannya?” tanya Ray.
Baginya ini adalah hal yang berharga untuk mengetahui kondisi di pihak lain. Dari hal ini saja sudah jelas terlihat bahwa betapa besarnya Informa dalam segala hal.
Ray sangat kekurangan informasi baik tentang Haiyan, militer ataupun Arthur. Dan, jika harus jujur Ray khawatir pertemuannya dengan Arthur takkan menunggu waktu lama lagi.
Toh, mustahil protagonis utama tidak memiliki peran besar di insiden yang besar. Dan, seperti yang diharapkan. Kemungkinan terburuknya menjadi kenyataan.
“Kamu takkan percaya dengan ini. Ada pengguna Degree yang bersekutu dengan pihak militer dan mendapatkan posisi tinggi sebagai penasehat strategi pada situasi ini. Orang itu adalah Arthur, dengan kekuatan besar di belakangnya dari dukungan Marshal Ardianto.”
Segalanya selalu saja memburuk namun Ray tidak terkejut dengan hal itu. Malah dia lebih tertarik dengan fakta orang sepenting Ardianto bisa terhubung dengan Arthur.
Tidak mungkin benang merah yang tipis muncul tiba-tiba, semestinya ada sesuatu yang mengaitkan satu sama lainnya.
“Tak hanya itu. Tampaknya pihak militer mencoba bernegosiasi dengan Jung Haiyan.”
Ray mengangkat alisnya, “Negosiasi?”
Itu opsi mengejutkan dari banyaknya pilihan yang memungkin. Ray sama sekali tidak berekspektasi bahwa aparat negara akan memunculkan gagasan negosiasi dengan *******.
“Bagaimana hasilnya? Apa yang coba mereka capai dari negosiasi itu?” tanya Ray, sedikit tergesa-gesa.
“Yah, rinciannya tidak begitu dijelaskan di sini namun ... hasilnya adalah kegagalan.”