
Saat ini Arthur sedang menyusun strategi dan mengamati situasinya sebaik mungkin. Ada banyak hal yang perlu untuk ditangani, terutama adalah tentang pencarian bom yang masih berlangganan.
“Aku tak tahu angka pasti tentang jumlah bom tersebut namun pencarian terus saja menemukan beberapa.”
Bom tersebut bukan bom yang diatur dengan waktu adalah sebuah keberuntungan. Meski begitu bagian merepotkannya adalah mereka tak bisa menyinggung Haiyan saat ini.
Orang itu akan dapat dengan mudah mengancam akan meledakkan bom jika Arthur bertindak sekarang juga. Oleh karena itulah mereka memilih situasi stagnan, sampai akhirnya muncul gagasan negosiasi.
“Jika mereka menerima negosiasi ini maka tak ada keraguan mengambil langkah lebih jauh. Prioritas saat ini adalah tidak membiarkan warga sipil terlibat.”
Alasan negosiasi diminta adalah untuk itu. Dengan adanya bom tersembunyi di sekitar Jakarta maka sama artinya penduduk kota ini menjadi sandra Haiyan.
Arthur telah menggunakan banyak waktunya untuk memikirkan situasi ini secara mendalam. Ada begitu banyak hal untuk ditangani, terutama tentang Ray yang dia yakini akan segera bergerak.
Saat kepalanya dipenuhi oleh berbagai pikiran, seseorang menerobos masuk ke tendanya. Para prajurit tampak berusaha menghentikannya namun mereka tampak tak siap sehingga gagal melakukannya.
“Arthur!”
Suara yang tergesa-gesa namun juga begitu lemah untuk beberapa alasan. Arthur meminta tentara untuk membiarkannya dan meninggalkan mereka.
“Indri, Ben. Apa yang kalian inginkan?”
Arthur tidak tahu mengapa keduanya datang dengan tergesa-gesa, namun yang membuatnya penasaran adalah tentang Indri yang tampak begitu kelelahan.
Itu membingungkan, mereka seharusnya tak bisa sembarangan pergi tanpa Arthur ketahui.
“Bagaimana keadaannya saat ini?” tanya Indri, tergesa-gesa namun tampak begitu kelelahan sampai sulit berbicara dengan jelas.
“Apa maksudmu?” Arthur tidak tahu apa yang coba dimaksud oleh Indri.
“Negosiasinya ... bagaimana dengan itu?”
Arthur sendiri belum mengetahui tentang itu, begitu pembahasan tersebut datang kabarnya datang di waktu yang sama.
Handphonenya berdering dan menyampaikan panggilan tentang hasil negosiasi. Tentunya, Arthur tidak percaya bahwa itu adalah kegagalan total tentang negosiasi.
Namun bagian yang terburuk adalah perwakilan Haiyan menolak untuk menerima negosiasi dan malah menantang Ardianto untuk berduel.
“Berduel? Apa yang dilakukan jendral? Tidak mungkin dia akan menerimanya, kan?”
Menerima duel tersebut di saat ini bukan pilihan yang bijak. Prioritas adalah mengamankan bom yang sudah ditebarkan. Membuat pertempuran pecah sekarang adalah langkah yang buruk bagi Arthur.
“Tidak, sebaliknya ... Jendral menerima tantangan tersebut dan saat ini sedang bertarung tangan kosong dengannya. Jendral berpesan bahwa dia akan memenangkannya dan menyelamatkan presiden.”
Arthur lekas mematikan panggilan tersebut dan menggebrak meja dengan kesal.
“Sial! Mengapa beliau begitu terburu-buru?!” Arthur sampai melupakan kehadiran Indri dan Ben di depannya.
“Sial, jadi sudah dimulai, ya?” ujar Indri. “Aku benci mengatakannya namun aku akan membantumu tentang situasi ini, Arthur. Mari hentikan semuanya sebelum segalanya pecah!”
Pecah yang dimaksud Indri adalah kekacauan yang akan terjadi. Tampaknya tidak hanya Arthur, tetapi Indri juga memahami betul apa yang akan terjadi mulai dari detik ini.
Segalanya tidak hanya akan menjadi pertempuran tentara melawan *******, tetapi juga diantara pengguna Degree. Benar, ini adalah perang habis-habisan.
Dan, Arthur khawatir peperangan ini akan berlangsung dengan penuh tragedi yang dia tidak inginkan.
“Aku sudah tentu akan melakukan apapun untuk melakukannya, tetapi aku tidak tahu apa alasanmu menyarankan itu. Apa niatmu?” tanya Arthur dengan sinis.
Meski saat ini mereka bisa dibilang sebagai kolega namun Arthur tak semudah itu menerima uluran tangannya. Sejak awal mereka adalah musuh, dan sulit menempatkan kepercayaan kepadanya.
“Aku tidak bisa menyebutkan alasannya namun aku bersumpah akan membantumu untuk hal ini. Ada hal yang tak bisa aku biarkan.”
Indri terus berbicara, di sisi lain Ben cukup banyak diam. Mungkin karena dia sedang dalam fase bersiap untuk menggunakan Degree-nya. Dari yang Arthur ketahui, Ben butuh beberapa waktu untuk bisa menggunakan Degree-nya lagi.
“Aku takkan bisa menyetujui tanpa alasan yang jelas. Bisa saja ada orang yang menggerakkanmu untuk melakukan tindakan seperti ini.”
Jelas bahwa besar kemungkinan Indri dan Ray terhubung. Bisa saja semua ini sudah masuk dalam skenario yang direncanakan. Oleh karena itu Arthur tak berusaha melibatkan Indri tentang operasi di lapangan langsung.
“Kamu tahu bahwa tidak sedang berada di posisi meminta sesuatu, kan?” lanjut Arthur.
Indri tampak bermasalah karena dia jelas begitu enggan menyatakan alasannya. Semakin jelas raut wajah tersebut maka semakin tidak ingin Arthur melibatkannya.
Bukan karena takut kehilangannya, kekhawatiran Arthur adalah akan ada yang menikamnya dari belakang.
“Aku hanya bisa mengatakan ... ada orang-orang yang aku tidak ingin kehilangannya lagi. Sudah cukup bagiku kehilangan tiga rekan berharga, selebihnya jangan.”
Arthur mengerutkan alisnya dengan tidak senang, “Maksudmu beberapa orang-orangmu berada di pihak sana?”
Indri menggelengkan kepalanya dan menjelaskan tentang Hiroshi yang ditangkap Haiyan karena memata-matai. Dia juga memberikan penjelasan jika pertempuran pecah sekarang maka akan sulit bagi Hiroshi untuk bisa tetap hidup.
Arthur sulit mempercayainya namun dia tidak menemukan alasan apapun Indri membuat kebohongan seperti itu. Bisa dikatakan cerita tersebut bisa dipercaya.
“Kita tidak punya waktu lagi, kumpulkan orang-orangmu sebelum situasi di sini semakin menyedihkan!”
“Aku tahu ini akan memburuk namun mengapa kamu begitu tergesa-gesa? Apa yang mendorongmu sejauh ini?”,
Arthur juga mempertanyakan alasan mengapa Indri tampak begitu lelah dan menderita. Baginya tidur segala hal tersebut sangat mencurigakan.
“Jangan bilang kamu tak bisa mengatakannya. Aku takkan pernah menerima alasan seperti itu.”
Indri tampak menggigit bibirnya dengan kesal dan sedikit jengkel. Arthur merasa wanita itu seakan-akan berdiri di puncak dan tiba-tiba seseorang menodongnya untuk berdiri di tepi jurang.
Keunggulan yang dia dan kelompoknya miliki dengan ajaibnya hampir jatuh seperti saat ini.
“Kergh,” Indri menggertak giginya. “Anggap seperti ini. Aku telah mengetahui semua yang akan terjadi mulai dari sini. Meski tidak secara lengkap namun aku melihat beberapa insiden yang akan terjadi.”
Arthur mengerutkan alisnya semakin dalam, dia mulai berpikir mengenai makna kalimat tersebut. Jawabannya sudah ada namun dia tidak percaya itu mungkin.
“Itu mustahil ... kamu bilang melihat? Melihat insiden yang akan terjadi?”
“Tentunya aku tidak menjamin mengetahui segalanya. Yang aku lihat hannyalah sesuatu seperti cuplikan film saja. Aku tidak tahu alasan situasi tersebut muncul, namun ...,”
“Jika sudah seperti ini aku bisa dengan tegas mengatakannya ... Marshal akan kalah dalam duel, dan api akan berkobar karena pertempuran. Darah akan tumpah.”
Arthur diam seribu bahasa, kekalahan Ardianto tidak bisa diprediksi. Dia adalah jendral besar dengan bintang lima, jika dihadapkan oleh pertarungan maka sulit membayangkan sosok sepertinya dikalahkan.
Hanya saja keyakinan tersebut dapat dipatahkan jika yang dihadapinya adalah pengguna Degree. Arthur tentunya sangat memahami bahwa Degree lebih dari sekedar gelar belaka.
“Aku telah mendapatkan gambaran tentang Degree-mu itu. Meski tidak masuk akal aku akan coba mempercayainya,” ujar Arthur, tidak mengejar lebih jauh. “Jika kamu ingin bekerjasama, maka beritahu padaku apa yang akan terjadi nanti. Aku yakin bisa mengubah setidaknya beberapa hal.”
Jika Degree benar-benar bekerja sesuai dengan fungsinya maka Arthur yakin dirinya mampu mengubah masa depan yang dilihat oleh Indri. Toh, dalam banyak cerita, tokoh utama mampu melampaui segalanya.
Meski begitu Arthur menemukan bahwa Indri tidak memiliki wajah yang yakin soal itu. Dia seakan-akan enggan mengatakan apapun yang dia lihat.
“Aku tak bisa melakukannya. Ini sudah menjadi sumpahku untuk tak mengatakan pada siapapun tentang semua hal yang aku lihat dengan detil.”
“Mengapa demikian?” tanya Arthur.
Indri menjelaskan bahwa masa depan terbentuk melalui berbagai tindakan manusia yang dilakukan seseorang dan menciptakan masa depan, buah hasil tindakannya.
“Aku menganggap percakapan, rencana dan hal lainnya adalah peristiwa kecil.”
Melalui banyaknya peristiwa kecil yang terjadi tersebut terciptalah peristiwa besar hasil dari setiap peristiwa kecil tersebut. Seperti halnya benang-benang yang terpisah mulai membentuk sebuah benang yang sangat kuat.
“Aku pernah mencoba melakukan beberapa hal, mengubah sedikit hal dan kamu tahu? Segalanya tidak lagi berjalan dengan apa yang aku ketahui.“
“Apa maksudmu?” tanya Arthur.
“Jika salah satu benang kecil yang mencipta peristiwa yang aku lihat terputus, maka semua bagian dari peristiwa itu akan berubah. Aku tidak akan lagi tahu seperti apa masa depan itu terkecuali melihat lagi untuk yang kedua kalinya.”
Arthur mulai menangkap apa yang Indri sampaikan. Singkatnya perubahan sekecil apapun dapat mengubah masa depan. Hanya saja itu ambigu, tidak ada kepastian apakah masa depan berubah menjadi lebih baik atau justru sebaliknya.
“Aku telah melakukan banyak uji coba, dan terakhir kali yang membuktikannya adalah insiden terakhir di Open World, di mana kalian berperang melawan Virgo.”
“Aku telah melakukan beberapa hal kecil dan hasilnya masa depan yang aku lihat menyimpang karena ada beberapa peristiwa kecil yang tidak berjalan seperti seharusnya.”
Arthur menyilangkan tangannya dan mengangguk memahami, “Kamu menghindari orang-orang tahu detil lengkap tentang apapun yang terjadi di masa depan untuk menghindari paradoks. Sampai sini aku memahaminya.”
“Ya, oleh karena itu aku harus menjadi seorang pengamat yang baik dan mulai memprediksi ke mana peristiwa kecil ini mengalir. Biasanya aku akan membuat peristiwa besar terjadi namun mengubah sedikit hasilnya. Seperti halnya perdebatanmu dengan Ray.”
Arthur sudah lama curiga tentang itu. Saat dia berusaha mengungkap kasus pembunuhan sebelum pelepasan, dia sudah sangat yakin bahwa Ray dan mungkin Erina adalah dalangnya.
Namun entah bagaimana caranya dengan ajaibnya orang itu adalah Indri dan Ben. Arthur merasa dirinya seakan-akan menyaksikan trik sulap.
‘Jadi harusnya saat itu aku berhasil menguak Ray, tetapi wanita ini melakukan tindakan untuk mengubahnya.’
Selain itu, Arthur merasa tahu bahwa Indri begitu kelelahan mungkin karena Degree-nya. Kekuatan yang besar dapat menimbulkan risiko yang tidak kecil. Itu adalah keyakinan Arthur.
“Segala sesuatu harus berjalan seperti seharusnya, ya. Aku takkan mengejar itu lebih jauh. Namun, aku akan menempatkanmu di posisi di mana kamu tak bisa melakukan sesuatu yang buruk. Terutama untuk rekan-rekanku.”
Arthur memiliki sebuah cara untuk melakukannya, di mana pengkhianatan tidak akan terjadi. Meski agak menyakiti hatinya, tetapi demi kebaikan semuanya maka tidak ada pilihan.
Arthur melakukan panggilan kepada seseorang dan memintanya segera datang ke tempatnya. Selagi menunggu kehadiran orang itu, Arthur mengadakan pertemuan untuk rapat strategi dengan beberapa pengguna Degree yang bergabung dengannya, juga militer.
Indri dan Ben dibiarkan untuk bergabung dan mendengarkan. Seperti yang Indri katakan, dia hanya akan mengambil sikap sebagai pengamat. Sumpahnya untuk tidak menginterupsi apapun saat mengubah hasil di masa depan membuat setiap peristiwa kecil berjalan seperti seharusnya.
“Kita akan mulai rapatnya. Menurut sumber terpercaya, Jendral Ardianto berkemungkinan besar akan dikalahkan oleh perwakilan para *******. Kita harus memikirkan rencana dan tindakan yang harus kita ambil nantinya.”
Arthur menjabarkan situasinya dengan jelas dan ringkas, tanpa ada kalimatnya yang sia-sia. Tentu, sampai beberapa orang menentangnya.
“Marshal dikalahkan? Jangan bercanda! Apa kamu meremehkan Marshal Ardianto? Dia adalah tentara nomor satu di negara ini dan mustahil dikalahkan!”
“Meski kamu dan teman-temanmu ini adalah bocah yang begitu dipercaya oleh jendral, bukan berarti kamu bisa mengatakan berbagai hal sesukamu!”
“Jangan menghina jendral kami, kamu bocah ingusan! Kamu masih begitu muda, belum tahu apa-apa.”
Arthur diam sampai mereka terus berbicara. Tentunya, beberapa hal tak bisa dibantah.
“Bocah kencur sepertimu tidak tahu bagaimana rasanya berada di medan perang dan berada di situasi hidup mati!”
BRAK!
Arthur menggebrak meja dengan kuat, menciptakan suasana hening di sekitarnya. Para tentara terdiam atas tindakannya yang mungkin dianggap tidak sopan.
Namun para pengguna Degree lainnya menatap dengan tajam kepada para tentara. Hal terakhir yang diucapkan salah satu dari mereka adalah sesuatu yang tidak bisa diterima.
Tak hanya oleh mereka, tetapi juga Indri, Ben, dan Arthur sendiri.
“Aku ... kami tahu bagaimana neraka.”
“Hah?”
“Kami sangat mengenal neraka di mana kematian bisa datang saat kamu sedang tertidur lelap ataupun menyantap makan malam. Kami tahu betul bagaimana rasanya berada di situasi seperti medan perang. Meninggalkan orang-orang yang terluka demi nyawa sendiri.”
Kesedihan, kemarahan, tekad yang kuat, harapan, dan pengkhianatan. Tidak ada satupun pengguna Degree yang tidak memahami perasaan itu.
Jika para tentara ini menyombongkan diri tentang pengalaman mereka menghadapi berbagai situasi menyedihkan seperti pertempuran.
Hanya saja, Arthur dan para pengguna Degree di tenda ini juga memiliki pengalaman serupa. Bahkan mungkin milik mereka lebih menyakitkan.
“Berbeda dengan Jendral, kalian sangat tidak memahami bahwa segalanya mulai berubah. Bukan hanya peradaban, tetapi manusia juga mulai berubah.”
Perubahan bukan sesuatu yang mudah untuk diterima ataupun disadari. Arthur memahami sedikit-banyaknya hal ini.
“Di masa depan kalian mungkin akan mengerti dan tahu, neraka macam apa yang kami jalani.”
Berbincang tentang hal-hal seperti ini bukan sesuatu yang baik ataupun bisa dibanggakan. Bagi Arthur sendiri, menceritakan ini adalah cara dia menyakiti dirinya sendiri.