The Degree

The Degree
Kekacauan



Ledakan, ada banyak ledakan terjadi di waktu yang sama. Penyebabnya adalah manusia yang melakukan tindakan bodoh, bom bunuh diri.


Banyak korban langsung berjatuhan, bahkan para pengguna Degree di pihak Haiyan memulai kekacauan sehingga baku tembak terjadi.


Arthur yang berada cukup jauh dari lokasi ledakan tetap terkena dampaknya, dia memiliki tulang rusuk yang retak karena serpihan batu yang menghantamnya.


“Sial ... jadi ini yang dimaksud Indri.”


Dia tak berharap akan ada serangan bunuh diri seperti itu. Arthur mulai mencari Dong Wok. Pria itu melangkah kembali ke monas dengan santai, tanpa khawatir terkena tembakan.


“Bajingan ... dia membawa paman Ardi.”


Arthur merasa situasinya semakin terdesak. Mengapa? Padahal dia adalah tokoh utama, tetapi keadaan seakan tak lagi berpihak kepadanya.


“Atur formasi! Jangan ragu lagi dan tembak mereka adalah musuh!”


Mendengar itu tentara yang awalnya memiliki keraguan memulai serangan. Dalam waktu singkat tempat ini menjadi medan tempur yang berdarah-darah.


Beruntung bahwa dia telah memerintahkan perluasan wilayah bahaya. Dengan ini setidaknya dia bisa sedikit bernapas lega.


Arthur kemudian meraih walkie talkie dan memberikan perintah kepada korps lainnya.


“Perang telah pecah. Kalian cepat menyusup ke dalam barikade tersebut, prioritas adalah menyelamatkan tahanan. Pasukan udara, kerahkan helikopter untuk memantau situasinya. Pastikan tak ada musuh yang meloloskan diri.”


Meski situasinya mengkhawatirkan namun Arthur memiliki banyak pasukan di bawah tangannya. Beruntung bahwa Ardianto telah mengenalkannya kepada pasukan sehingga tak ada pertentangan melalui perintahnya.


“Komandan Arthur!” Seorang prajurit datang kepadanya dengan tergesa-gesa.


“Ada apa?” tanya Arthur dengan sedikit kesal, “Situasinya mendesak jadi katakan dengan jelas!”


“Siap! Ini terkait garis belakang. Terjadi demonstrasi dari ormas!”


“Hah? Demo? Tentang apa?” Arthur mendadak tak bisa mengolah pikirannya.


Demo disaat seperti ini, dan ke tempat berbahaya saat ini. Sebuah tindakan yang begitu bodoh dikala situasinya sulit.


“Ya! Mereka mengatakan bahwa kita sedang melakukan sesuatu yang membahayakan negara. Mereka menganggap bahwa ini adalah konspirasi yang kita buat!”


Tidak peduli berapa kali dipikirkan, alasan yang diajukan untuk demonstrasi tersebut amatlah tidak masuk akal. Lalu, timingnya terlalu pas dan Arthur bertanya-tanya mengapa kelompok itu bisa bergerak cepat seperti ini.


Pasti ada yang mengendarai kekacauan tersebut, Arthur teramat yakin. Jika harus menebak tentunya pengguna Degree akan menjadi tersangka utama karena hanya mereka yang berani melibatkan warga sipil.


“Siapa yang memimpin demo?”


“Dia bilang “utusan Morgan”.”


Di antara pengguna Degree Arthur yakin hanya ada satu sosok yang memiliki nama Morgan. Seorang bajingan yang terus-menerus menjeratnya ke dalam jebakan.


Arthur menggertak giginya dan memukul tanah, dengan kuat berteriak.


“RAY MORGAN!”


...****************...


Indri dan Ben berlari menjauh dari lokasi terjadinya ledakan besar. Beruntung bahwa Indri tahu masa depan di mana orang-orang akan meledak.


Dia tak lagi bisa mengubah sesuatu seperti itu. Toh, jika ingin mengubahnya maka harus dilakukan sebelum Ardianto menerima duel dengan Dong Wok.


“Kita harus bergegas secepat mungkin. Ini bukan pertempuran, tetapi perang.”


Dari mimpinya, Indri melihat banyaknya demonstrasi di garis belakang dan hal itu akan membuat warga sipil masuk ke wilayah Monas. Saat itu terjadi maka kekacauan akan benar-benar pecah.


“Masih butuh lama agar Degree-mu kembali aktif, ya?” tanya Indri kepada Ben.


“Setengah jam, ya? Aku harap itu sempat.”


Indri menyiapkan senjata dan rompi anti peluru yang dia dapatkan dari mayat tentara. Meski senjata laras panjang cukup berat baginya karena dia masih begitu kelelahan berkat mimpinya.


Meski begitu itu merupakan tindakan yang tepat karena apa yang dia dapatkan setimpal.


“Ingat ini, Ben. Mulai dari titik ini situasinya akan menjadi tidak terkendali. Berusahalah untuk tidak lengah dan jangan biarkan dirimu terbunuh.”


Ben menggunakan jarinya seakan mengatakan "oke", Indri kemudian mengangguk dan memimpin jalan.


‘Ini semua masih belum seberapa. Dari mimpi yang aku lihat, segalanya jauh lebih kacau.’


Yang bisa Indri katakan pertempuran ini akan melibatkan tentara, pengguna Degree bahkan warga sipil. Ini bukan pertempuran yang sama seperti sebelumnya, tetapi dalam lingkup yang benar-benar berbeda.


“Aku bertanya-tanya apakah Secret akan diam saja selagi menyaksikan kehancuran ini?”


Indri berharap bahwa setidaknya Secret memberikan sesuatu lewat tugas untuk meredam kekacauan ini. Meski Indri biasanya akan mengambil keuntungan melalui situasi seperti sekarang, tetapi hanya untuk kali ini dia tidak mampu berbuat apapun.


Pilihannya sangatlah terbatas. Untuk saat ini yang Indri pikirkan adalah mencari dua rekannya sebelum mulai mengumpulkan kunci.


“Besar kemungkinan gerakan demonstrasi itu dikendarai oleh Ray. Dia pria yang seperti itu, mengandalkan faktor luar.”


Selain itu Ray harusnya sangat memahami kondisi masyarakat negara ini sehingga dia bisa dengan percaya diri melakukan sesuatu seperti ini.


Ray bukan orang yang akan bermain di permukaan secara langsung, meski begitu sekarang Indri meragukan hal itu. Jika Ray bisa melakukan banyak hanya dengan mengontrol beberapa hal, bagaimana jika dia yang turun tangan ke lapangan?


Indri takut hal yang tidak diinginkan akan terjadi. Tidak hanya untuknya, tetapi untuk semuanya.


“Aku harap hanya sampai sini kekacauan yang kamu buat, Ray. Ini sudah cukup buruk.”


Meski Indri tahu akan seperti apa situasi ke depannya, tetapi masih ada kemungkinan kecil itu akan berubah. Dan, dia hanya bisa berharap pada kemungkinan yang kecil itu.


Tok! Tok!


Ben menjentikkan jarinya dan menunjuk ke langit. Indri berhenti bergerak dan bersembunyi di bawah pepohonan selagi melihat ke atas.


“Itu ... pasti Arthur sangat waspada, ya?” gumam Indri.


Di situasi ini hanya Arthur yang bisa memerintahkan militer negara untuk bertindak mengingat dia diberikan kuasa penuh oleh Ardianto.


Saat ini ada tiga helikopter yang sedang memantau situasi melalui udara, bahkan Indri bisa melihat ada beberapa tentara yang menembaki orang.


“Jika asumsiku benar, perintah Arthur adalah membunuh siapapun yang berkeliaran di dalam wilayah evakuasi. Itu artinya kita juga termasuk target.”


Terdengar kejam namun itu pilihan yang sangat masuk akal. Tidak ada orang bodoh yang akan bisa berkeliaran di wilayah yang telah dikosongkan.


Saat Indri mulai memikirkan cara bergerak tanpa diketahui, dia menemukan sebuah benda terbang ke arah helikopter.


“Itu-!”


Benda— atau lebih tepatnya serangan yang meluncur seperti kembang api di tahun baru datang ke arah helikopter, menghantamnya dan menyebabkan kehancuran bagi helikopter tersebut.


“Bazoka?! Dari mana datangnya?”


Indri mencari asalnya dan itu datang tidak jauh dari tempatnya. Ben kemudian menarik perhatiannya dan menunjuk ke arah lain.


Sekali lagi itu mengejutkan, tetapi yang mengguncang Indri bukan karena hal tersebut namun yang lainnya.


“Bagaimana mungkin? Ini ... tidak ada dalam mimpiku.”


Ada masa depan yang rupanya tidak dapat dia lihat.