
Saat ini Terumi berada di luar barikade di mana para tentara berjaga. Ada banyak orang yang berusaha mendapatkan informasi terkait situasi yang terjadi di TKP.
Wartawan dan media massa berbondong-bondong mewawancarai beberapa tentara untuk mendapatkan informasi meski sejauh ini tidak ada yang berguna.
“Ini situasi yang menyedihkan,” ujar seorang pria dengan rambut mohawk, tato luka di pelipisnya dan tinggi badan yang terbilang pendek. Bahkan orang itu jauh lebih pendek dibandingkan Terumi dan Leo.
“Tak hanya itu, aku khawatir akan ada korban jiwa hanya karena pertempuran pengguna Degree.”
Terumi bisa mentoleransi jika korbannya adalah pengguna Degree. Toh, mereka yang membunuh harus siap untuk dibunuh. Hal itu sudah dimengerti oleh Terumi sekalipun.
Namun berbeda dengan warga sipil. Mereka tak melakukannya dosa apapun sampai harus menerima kematian yang tidak seharusnya.
“Itu tidak akan terelakkan, justru sulit membuat situasi di mana orang-orang ini tidak terluka, selain itu ... ada beberapa pengguna Degree diantara para tentara.”
Sesuai perkataan Yan, pengguna Degree berada di dalam satuan tentara. Mudah menemukan mereka hanya dari jam tangannya, meski ada beberapa yang coba menyembunyikannya, tetapi tidak menutup kemungkinan akan terungkap.
Terumi tidak tahu ada di pihak mana mereka, tetapi tampaknya mereka berusaha meredam keributan.
“Mungkin saja ada pengguna Degree di jajaran pemerintahan. Selain itu entah mengapa mereka tampak resah.”
Tidak tahu apa yang menjadi keresahan mereka namun tampaknya Terumi tidak bisa mengabaikan hal itu.
“Ray dan Roid masih belum memberikan kabar lebih lanjut? Kita telah melakukan pemborosan tentang pengeluaran anggaran.”
Atas permintaan Ray, Terumi melakukan banyak pembelian dan penukaran tentang DP. Dia hanya mengatakan bahwa semuanya akan berakhir di tempat ini namun tidak memberikan detil lainnya.
Selain itu ada permintaan tidak masuk akal di mana Ray meminta Terumi memberikan uang kepada beberapa kelompok masyarakat tertentu. Terumi belum melakukannya lantaran masih menunggu permintaan lebih lanjut dari Ray.
“Kita tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Untuk saat ini beri arahan kepada yang lainnya untuk tetap bersiaga dan menyiapkan barang-barang pesanan.”
Untuk berjaga-jaga Terumi mengumpulkan semua barang pesanan di tempat yang cukup jauh dari tempatnya saat ini.
Tentu saja itu karena keberadaan aparat pemerintah menjadi ancaman besar bagi mereka jika barang-barang itu ditemukan. Mengingat senjata api di negara ini membutuhkan izin atas kepemilikannya.
“Baiklah. Namun jika begitu bagaimana cara kita akan memindahkannya saat dibutuhkan nantinya?”
“Aku sendiri belum tahu, tetapi ini permintaan Ray.”
“Yah, apa boleh buat. Kalau begitu sampai nanti. Kabari aku jika kamu membutuhkan sesuatu.”
Yan pergi mempersiapkan segalanya sementara Terumi tetap diam di tempatnya selagi memantau media masa dari kejauhan.
Saat semuanya berjalan lancar begitu saja, handphonenya berdering dan menunjukkan panggilan datang dari Ray.
Meski begitu ada etika tertentu yang telah ditetapkan oleh Ray sebelum mengangkat panggilannya. Terumi harus menunggu selama beberapa detik dan menyampaikan beberapa hal terlebih dulu.
“Halo? Siapa di sana?”
“Aku di sini.”
“Apa yang kamu inginkan, Ray?”
Ray mulai menjelaskan tentang rencananya dan apa yang dia prediksi akan terjadi nantinya. Tentu, Terumi tidak mempertanyakan atas dasar apa yang terjadi.
Terumi hanya akan bertanya tentang hal-hal yang tidak dia mengerti dan dia ragukan. Meski rencana Ray sendiri meragukan saat ini namun dia tak bertanya apapun. Hanya ada satu hal yang membuatnya bingung.
Terumi juga menjelaskan tentang keberadaan pengguna Degree di pihak militer namun reaksi Ray datar dan dia tampak tak terkejut. Justru anehnya Ray tahu akan hal itu.
“Itu tidak mengejutkan. Aku sudah menduga bahwa akan ada pengguna Degree diantara pihak militer. Kemungkinan besar Arthur ada di sana, pergerakan mereka begitu kompleks. Mustahil aparat negara yang belum berurusan dengan pengguna Degree dapat sangat waspada ini.”
Jika dipikirkan lagi itu sangat mungkin terjadi. Sejauh ini pengguna Degree memang banyak membuat ulah, tetapi tidak satupun yang tertangkap basah atau baku hantam secara langsung dengan kepolisian ataupun tentara.
“Arthur ... apa kita akan berhadapan dengannya?” ujar Terumi dengan sedikit sedih.
Tentu saja, jika Arthur berada di sana maka Mona tentunya akan bersamanya. Meski mereka adalah penjahat yang keji namun Terumi masih memiliki perasaan ambigu untuk memusuhi atau tidak.
Tak peduli sebusuk apapun tindakan mereka, dulunya mereka pernah berteman. Bertukar cerita hingga bahkan berbagi perasaan. Terumi tidak menyangkal jika semua itu pernah dia lalui bersama Mona.
Saat-saat mereka bekerjasama di Open World juga begitu membekas, Terumi mungkin takkan pernah bisa menodongkan senjata kepada mereka.
“Ya. Cepat atau lambat kita akan berhadapan dengan mereka. Akan aku ingatkan, jangan ragu sedikitpun Terumi. Mereka ... bukan lagi teman kita.”
Perkataan yang begitu dingin dan terdengar menyakitkan namun begitulah realitanya.
“Tenang saja. Aku akan menguatkan diriku. Kalau begitu kembali lagi ke masalah bagaimana kami menerobos masuk.”
“Itu mudah saja. Sebelumnya, apa ada banyak wartawan dan warga sipil yang mencoba menyaksikan secara langsung ke TKP?”
Terumi memandang sekitarnya dan faktanya ada begitu banyak orang yang berbondong-bondong berusaha menyaksikan insiden ini dengan mata kepalanya sendiri.
Bagi Terumi itu aneh sekaligus menakjubkan. Ini adalah insiden serius yang mana nyawa bisa saja hilang namun mengapa orang-orang ini dengan beraninya berusaha melihat langsung?
“Ya, ada sangat banyak orang. Setelah dipikir-pikir lagi, mengapa ini justru menarik dan didekati mereka ketimbang dijauhi?”
“Begitulah negara ini. Aku tidak bisa menjelaskannya, tetapi kamu bisa mengatakan bahwa orang-orang di sini menyukai keributan.”
Terumi enggan menerima penjelasan sederhana seperti itu namun Ray sama sekali tidak terdengar salah. Faktanya di depan matanya saat ini itu semua terjadi.
“Kita akan memanfaatkan mereka dan beberapa kelompok yang aku sebutkan sebelumnya untuk menerobos barikade pemerintahan. Gunakan uang yang telah aku minta kamu siapkan untuk membayar beberapa kelompok itu.”
Terumi sedikit mengerutkan alisnya, “Membayar? Bagaimana jika mereka menolaknya, Ray?”
“Gunakan Erina.”
Mendengar itu membuat Terumi terguncang. Bagaimana tidak? Kondisi Erina saat ini memilukan, dia telah kehilangan ingatannya dan juga tak mengerti dengan baik memanfaatkan Degree-nya.
Terumi telah turun tangan untuk merawatnya dan mengajarkannya kembali tentang Degree. Meski begitu, hal tersebut tak membuat Erina berada dalam performa terbaiknya.
“Bagaimana?”
“Aku telah memastikan bahwa pemimpin kelompok masyarakat itu adalah pria. Kamu harus memahami apa yang akan terjadi kepada pria jika ditawarkan wanita secantik Erina.”
Terumi tak bisa berkata-kata, hanya diam mendengarkan apa yang Ray katakan.
“Buatlah penawaran. Jika mereka menolak uang, gunakan Erina untuk alat tawar-menawar. Katakan pada mereka bahwa aku akan meminjamkannya satu minggu. Mereka bebas melakukan apapun selain membunuhnya.”
Bagi Terumi saat ini, itu adalah ide paling kejam yang pernah ditawarkan oleh Ray kepadanya.