The Degree

The Degree
Deklarasi Mona!



Dalam perjalanan mencari Terumi, Ray bertemu beberapa orang yang ia kenal dari serikat sebelumnya. Ia menanyakan tentang Terumi namun tampaknya tidak satupun dari mereka melihatnya.


“Tempat ini terlalu luas untuk mencari satu orang.”


Ini tugas yang mustahil, tidak mungkin Ray mau menjelajahi seluruh tempat ini tanpa ada jaminan untuk menemukannya.


Disaat situasi seperti ini cara terbaik mencari orang adalah menemukan kebiasaan orang itu sendiri. Ke mana dia pergi, tempat apa yang sering dia kunjungi.


Hal-hal semacam itu cukup penting untuk diketahui. Jika Ray ingin mencari Terumi maka dia harus mengetahui kebiasaan seperti apa yang dimilikinya dan tempat apa yang sering dikunjunginya.


“Masalahnya adalah aku tidak mengetahui apa-apa tentangnya ataupun tempat yang ia sukai.”


Ray sudah mengenal Terumi sejak pertama kali datang ke tempat ini, tetapi keduanya terpisah sampai akhirnya bertemu kembali di tugas ke lima.


Bahkan di tugas ke lima keduanya tidak banyak bercengkrama, hanya ketika tiba waktu di mana Ray menceritakan masa lalunya, dan ketika aliansi dengan Blueeast tercapai, Ray baru mau memahami wanita bernama Terumi.


“Jika ada orang yang mungkin memahaminya, maka hanya pria itu saja.”.


Diantara banyak orang Ray beruntung mengenal orang yang memahami Terumi dengan baik. Di tempat ini, mungkin pria itulah yang paling lama bersama Terumi. Bahkan Terumi sendiri sudah menganggapnya seperti adik laki-laki sekaligus sahabat baik. Pria itu adalah Leo.


Ray mengganti tujuannya dan mencari Leo ke beberapa tempat yang mungkin orang itu ada di sana. Ray pergi ke taman hingga ke mall namun berakhir dengan kekecewaan belaka.


Mencari keduanya jauh lebih sulit dari yang ia harapkan. Saat berniat meninggalkan mall, Ray tak sengaja bertemu dengan orang yang ingin ia hindari pada tahap ini.


“Ray? Sudah lama tidak berjumpa!” Mona menyapa dengan senyuman riang dan melambaikan tangannya.


Di belakangnya ada Arthur yang berjalan santai dan terlihat tidak bersemangat dalam hal apapun. Meski ia tidak menunjukkannya di permukaan, tampaknya orang ini sedang tertekan akan sesuatu.


Beberapa detik kemudian Ray memahami apa yang mungkin membuatnya tertekan setelah melihat banyaknya tas belanjaan yang ia bawa. Bahkan Ray sendiri merasa aneh, itu bukan jumlah yang normal karena tas-tas belanja benar-benar memenuhi kedua lengan Arthur.


“Tampaknya kalian bersenang-senang.” Ray mengucapkannya setengah hati, kalimatnya justru membuat Arthur sedikit tidak senang.


‘Apanya yang bersenang-senang? Ini penyiksaan!’ Wajah Arthur seakan mengatakan demikian.


“Ya! Arthur telah berjanji akan menemaniku selama satu hari. Dan, seperti yang kamu lihat. Kami berbelanja tanpa membuang-buang waktu.” Mona tersenyum ceria, meski begitu dibeberapa tempat ia terkesan sengaja membuat Arthur menderita seperti itu.


“Ini bahkan belum jam delapan dan kalian sudah membeli sebanyak itu. Aku kagum dengan kecepatan kalian dalam berbelanja.”


Dan, Ray kagum dengan kecepatannya menyia-nyiakan DP.


“Omong-omong apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Arthur, mengalihkan pembicaraan.


“Aku sedang mencari Leo dan Terumi. Apa kalian melihat salah satunya?” Ray tidak menyembunyikan tujuannya.


Lebih sulit menyembunyikannya ketimbang mengatakannya dengan jujur. Belum lagi Arthur adalah variabel yang merepotkan untuk diatasi.


“Leo? Aku belum melihatnya sama sekali. Dia mungkin sama sepertimu dan Erina yang mengurung diri untuk pulih.”


Memulihkan diri? Itu cukup aneh mengingat Leo tidak memiliki luka apapun untuk dipulihkan. Bahkan jika ia ingin menyehatkan mentalnya, mengurung diri jelas tindakan bodoh.


“Aku melihat Terumi sebelumnya. Dia tampak berlari tergesa-gesa menuju kebun yang ada di bagian utara.” Arthur berkata dengan datar.


Hanya ada satu tempat di bagian utara yaitu kebun teh. Memang aneh karena ada kebun teh yang tumbuh di ruang tertutup, tetapi teknologi Secret tampaknya membantu teh untuk tumbuh.


“Benar juga, berbicara tentang Erina. Kira-kira bagaimana kabarnya, ya?” Mona terlihat simpatik saat membahasnya, “Dia telah kehilangan kakak laki-lakinya, itu pasti sangat menyakitkan.”


“Apa kamu sudah mengunjunginya, Ray?” tanya Arthur, menyelidiki.


Ray mengangguk, “Ya, aku mengunjunginya. Namun tidak peduli seberapa keras aku mengetuk, Erina tidak mau membuka pintunya.”


“Aku awalnya berniat menghancurkannya, tetapi ada kemungkinan wanita itu tidak menyukainya dan menggunakan Degree-nya.”


Menghancurkannya sendiri membawa risiko bagi si pelaku. Ray coba menanamkan stigma seperti itu kepada keduanya. Mau bagaimanapun, semua yang Ray katakan pada detik ini hannyalah omong kosong.


“Begitu, sepertinya kamu juga mengalami kesulitan,” kata Mona.


“Juga?” tanya Ray.


“Bukan apa-apa,” Arthur menyela pembicaraan dengan jengkel. “Aku tidak masalah jika kamu mau berbicara dalam waktu lama, tetapi tidak bisakah kita pergi dan membuang barang-barang ini terlebih dahulu?!”


Tampaknya Arthur cukup menderita karena barang bawaan tidak masuk akal itu.


“Jika kamu memasukkan semuanya ke tempat sampah, maka selanjutnya kamu yang akan berada di tempat sampah, Arthur.” Mona berkata jengkel dan menjewer kedua pipi Arthur.


“Kalian bersenang-senanglah. Aku akan pergi, sampai nanti.” Ray berbalik dan melambaikan tangannya dengan acuh.


”Ya, sampai jumpa!” Mona membalas dengan riang, “Aku lapar. Arthur, mari kita pergi membeli sedikit pancake! Sudah lama aku tidak mencobanya.”


“Yang benar saja?! Pagi ini kamu makan pizza ukuran besar sendirian dan sekarang pancake? Bukankah itu makanan yang terlalu berat di pagi hari?”


“Tentu saja tidak! Aku memiliki prinsip untuk makan sebelum tidak bisa makan lagi.”


“Aku kagum bahwa kamu mampu mempertahankan badan kecil itu.”


“Fu fun! Aku memiliki kemampuan spesial yang diinginkan banyak orang.”


Mona berdiri di depan layar lebar, ia menunjuk langit-langit dan dengan bangga Mona mendeklarasikan:


“Aku takkan gemuk hanya karena makan banyak!”


Duar!


Bersamaan dengan deklarasi tersebut layar di belakangnya menampilkan ledakan besar yang memukau. Banyak orang di sekitarnya menyaksikan hal tersebut dan anehnya bertepuk tangan.


Ray yang mendengar hal-hal semacam itu di belakangnya hanya menghela napas lelah dan menunjukkan sedikit simpatik kepada Arthur yang sekarang mulai berteriak.


“Aku bersyukur tidak memiliki orang yang terlalu ceria seperti itu di sisiku. Namun meski begitu, bukannya aku lebih baik darinya.”


Posisi Ray sama dengan Arthur namun juga berbeda. Jika Arthur hanya menanggung malu dan lelah oleh kelakuan Mona. Maka Ray harus menanggung beban besar untuk mempertahankan hubungannya dengan Terumi, bahkan kelompok lain yang merepotkan.


“Leo tidak pernah terlihat ... ini cukup membuatku tertarik. Aku pikir dia tipe pria yang mirip-mirip dengan Mona. Menjelajahi berbagai tempat sesuai kemauannya.”


Ray tidak tahu apa yang sedang dilakukan orang itu, tetapi untuk saat ini tidak mengetahuinya adalah yang terbaik.