
“Kemampuan yang bisa menciptakan wajah? Aku tidak mengerti apa maksudmu.”
Hiromi mungkin belum mengetahuinya bahwa ada Degree yang bisa melakukan hal itu. Ryouma yakin karena dia telah menyelidiki dan mengkonfirmasi Degree yang dimiliki Virgo.
Orang itu memiliki Make up sebagai Degree-nya, hal itu bisa membuatnya menutupi wajahnya yang cacat dengan sesuatu seperti kulit tipis. Ryouma tak tahu namun kemungkinan itu adalah bagian dari kosmetik.
Meski tak ada dua orang dengan kemampuan yang sama, namun beda jadinya jika itu serupa. Serupa tetapi tidak sama.
“Kamu pasti ingat dengan pemimpin Rebellion yakni, Virgo. Wanita itu memiliki Degree yang membuat wajahnya menjadi berbeda dari aslinya. Dia menggunakan Degree-nya, Make up. Hal itu mampu mengubah wajah orang yang kurang bagus menjadi luar biasa.”
Ryouma telah memastikannya langsung dengan matanya. Orang itu, meski dia telah lama bersamanya namun sedikitpun Ryouma tak memiliki ekspektasi tentang itu.
Untuk alasan itu Ryouma membunuhnya lantaran jengkel padanya karena Degree-nya tak benar-benar berguna. Awalnya Ryouma memiliki keyakinan bahwa Indri akan menjadi orang yang tepat untuk menduduki singgasana, tetapi nyatanya tidak.
Untuk alasan itu juga Ryouma sekarang memilih mengamati situasi dan menunggu siapa yang akan cocok dengan orang yang dicarinya.
“Kamu tahu sampai sejauh itu,” Hiromi terkejut dan mulai merasa takut. “Siapa kamu sebenarnya?”
Ryouma tak berbalik, dia hanya diam dan menyusun kalimatnya sendiri. Dia bisa mengungkapkan dirinya seperti yang biasa dilakukannya, tetapi sekarang ini ada hal menarik terpikirkan olehnya.
Dia tersenyum dengan penuh misteri, “Siapa aku? Itu pertanyaan unik yang pernah aku dengar. Benar, siapa aku, ya?”
Hiromi mengerutkan alisnya, pria di depannya terlihat aneh karena berperan seperti tak kenal dirinya sendiri. Dia tidak mungkin amnesia karena masih bisa berbicara banyak hal dan bahkan mengingat segala hal terkait Degree.
Orang itu jelas tidak memiliki kelumpuhan ingatan ataupun sejenisnya, namun maksud dia menanyakan diri itu aneh. Patut dipertanyakan kewarasannya.
“Benar, bagaimana jika aku mengatakan kalau aku ada mata-mata milik Secret?” dengan santai Ryouma menyatakan.
Hiromi tak menganggap perkataan itu serius karena itu adalah kebohongan yang buruk.
“Kebohonganmu sungguh jelas, bahkan anak kecil takkan bisa terperdaya,” Hiromi tersenyum ketir dan menganggap Ryouma seperti orang bodoh.
Ryouma hanya dengan tenang tersenyum dan terus berbicara, “Kalau begitu biarkan aku bertanya ... berapa banyak rencana Secret atau tindakannya yang berhasil kalian tebak?”
Jika pengguna Degree dihadapkan oleh pertanyaan seperti itu maka seratus persen tidak ada yang bisa menjawabnya dengan tegas. Bahkan Hiromi terbungkam lantaran faktanya Indri sekalipun tak bisa menebak alur buatan Secret.
Secret tidak membuat sesuatu yang bisa ditebak dengan mudah, entah berapa kali Hiromi melihat Indri sering mengumpat saat ia pertama kali bergabung dengannya.
Keringat dingin mulai mengalir di punggungnya, dia juga menemukan kalau Ryouma tak memiliki keraguan dalam kalimatnya. Firasatnya menjadi buruk. Andaikan benar Secret menyusupkan mata-mata diantara para pengguna Degree, maka itu cara yang buruk.
“Secret lebih liar dalam menggapai ambisinya. Kamu mungkin takkan pernah tahu hal ini bahwa bagiku Secret seperti seorang dewa.”
Hiromi tak bisa menerima kalimatnya, meskipun dia seorang agnostik namun sudah keterlaluan menganggap kehadiran seperti Secret sebagai dewa.
“Kamu sedang bercanda, tidak mungkin sosok seperti itu adalah dewa!” bentak Hiromi.
Ryouma masih sama, tersenyum tipis dan bisa menjawab setiap argumen Hiromi semudah bernapas
Definisi tentang keberadaan seperti dewa sendiri tak memiliki batasan definisi. Setiap orang dapat menyimpulkan sendiri definisi dewa menurut versi mereka.
Ryouma menganggap Secret sebagai dewa karena kehadirannya yang membawa teknologi, pengetahuan bahkan obat ajaib seperti Serum D adalah bukan sesuatu yang bisa dicapai manusia.
Meski tak bisa mengatakannya dengan lantang, tetapi Ryouma yakin manusia sekarang takkan bisa membuat apa yang diciptakan oleh Secret. Dibutuhkan setidaknya beberapa abad lagi agar manusia bisa membuatnya.
“Kamu pasti sudah gila!” Hiromi tak lagi bisa berdebat dan hanya bisa memberikan umpatannya.
“Tidak ada orang waras di dunia yang sakit,” ujar Ryouma, mulai merentangkan tangannya. “Pikirkanlah seberapa luar biasanya Degree yang diciptakan oleh Secret. Kehadirannya diyakini akan mengubah manusia di bumi ini.”
Ryouma menyampaikan bahwa setiap negara sedang perang dingin dan bisa pecah kapanpun jika ada tindakan bodoh seperti penyerangan ke wilayah negara lain.
Jika perang dingin berakhir dan menjadi perang dunia, manusia diyakini tidak ajan lagi bisa bertahan hidup. Para negara superior takkan pernah membiarkan negaranya jatuh sendirian.
Jika itu terjadi maka pastinya senjata pemusnah masal, nuklir akan menghancurkan bumi. Hal itu akan membuat manusia punah di tangan manusia.
Namun dengan munculnya Degree maka semuanya akan mulai berubah. Negara yang awalnya berusaha menghancurkan satu sama lain akan berpikir dua kali.
Keberadaan pengguna Degree sangat menentukan keberlangsungan umat manusia.
“Negara besar yang berencana mengembangkan persenjataan sewaktu perang tiba akan mulai mengubah haluannya dan berusaha memahami Serum D serta pengguna Degree.”
Semua negara akan mulai bergantung pada Degree nantinya. Memang bukan berarti mereka menghindari perang, tetapi mengubah nuklir tidak menjadi pilihan pertama yang digunakan untuk berperang.
“Ada skema besar yang telah berjalan di sini. Kamu, Indri, bahkan aku tak memahami apa yang berusaha dicapai Secret. Apakah dia menginginkan kedamaian? Tidak ada yang tahu. Memikirkannya saja membuatku hampir gila.”
Hiromi tidak lagi memiliki tenaga untuk menghadapi Ryouma, dia jelas sudah tenggelam begitu dalam sampai tak lagi mampu terselamatkan.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan padaku?” tanya Hiromi dengan sinis. “Jika benar kamu adalah mata-mata Secret, maka pilihannya hanya membungkamku selamanya, kan?”
Hiromi tahu bahwa dia takkan bisa melakukan tipuan dengan janji ataupun sejenisnya. Sejak jaman purba lamanya, lisan manusia tidak pernah bisa dipercaya selamanya.
Manusia diberkati dengan mulut bukan hanya untuk berkomunikasi, tetapi berguna untuk mengucapkan dusta.
“Membungkammu? Yang benar saja, aku takkan melakukan hal itu. Selain itu, bukan hal mudah menyelamatkanmu dari para mafia.”
Tidak lucu jika Ryouma menyelamatkan orang yang akan mati untuk dia bunuh dengan tangan sendiri. Seperti yang sudah disampaikan, Ryouma takkan mau mengambil tindakan yang risikonya tak setimpal dengan balasannya.
“Lalu apa?” tanya Hiromi. “Jika kamu ingin tetap membiarkanku di sini dan menjadi boneka pemuas nafsu, maka aku lebih memilih kematian.”
Bukannya terlalu membanggakan diri, tetapi Hiromi yakin dirinya tak cukup buruk sehingga mampu membuat pria jatuh hati padanya.
“Itu memang tak buruk untuk bersenang-senang, tetapi tujuanku tak seremeh itu,” ujar Ryouma.