The Degree

The Degree
Tiga menit



—Datang dari timur membawanya kebahagiaan. Namun ketika datang dari barat menjadi akhir dari segalanya.—


Teka-teki yang harus Ray pecahkan jika ingin keluar dari rintangan di depannya.


“Tiga ratus detik, kah. Kami hanya diberikan kesempatan lima menit saja untuk menjawabnya. Ini teka-teki yang rumit karena tak diberitahukan konteksnya.”


Ray tak bisa sembarang menjawabnya karena dia membutuhkan setidaknya sedikit clue untuk menuju jawaban benar. Ada setidaknya empat hal yang muncul dalam pemikirannya tentang jawaban dari teka-teki.


Namun sayangnya Ray tak tahu mana yang benar.


Salah menjawab akan dieliminasi. Benar menjawabnya akan diloloskan. Tak menjawab apapun akan menunggu pertanyaan lainnya.


Ray berpikir untuk melewati teka-teki dan menunggu pertanyaan selanjutnya. Namun selagi menunggu dia harus menyelesaikannya tugas lainnya.


Dia menatap Edward dan kelompok yang telah sedikit berpisah darinya. Wajar saja karena mereka tak pernah mempercayai Ray dan menjauh darinya adalah pilihan terbaik.


“Mari pikirkan cara terbaik untuk melakukannya.”


Rencana dibutuhkan untuk membereskannya secara sempurna. Jangan sampai sesuatu yang tidak mengenakan dan membuat semuanya kacau terjadi.


Asal menyerang secara blak-blakan memiliki kemungkinan gagal yang tinggi. Ray ingin bermain bersih di mana semuanya selesai dalam satu kali eksekusi.


“Diantara mereka hanya Edward dan Jack yang harus aku waspadai. Maka kedua orang itu adalah yang perlu dibereskan di tempat pertama. Namun Steve juga akan jadi masalah.”


Bila Edward ataupun Jack tewas maka tak diragukan lagi Steve akan murka dan menganggap Ray sebagai pembunuhnya.


Jika itu terjadi akan dibutuhkan usaha lebih untuk membereskan semua masalah yang timbul nantinya.


“Haruskah aku menggunakan benda ini? Namun sayangnya hanya ada satu kesempatan untuk menggunakannya.”


Ray tak memiliki banyak dan hanya bisa menggunakannya satu kali. Tujuan awalnya membeli benda itu adalah untuk saat terdesak.


Namun Ray harus mempertimbangkan kembali tentang penggunaannya.


“He he ... ada idiot sedang bengong, sebaiknya aku serang!”


Seseorang melompat seperti kodok menuju Ray. Lompatannya begitu tinggi sampai harus menengadah untuk melihatnya.


Sayangnya targetnya adalah Ray. Melompat setinggi itu adalah tindakan bodoh yang membuatnya menjadi sasaran mudah.


“Selamat tinggal.”


Dor!


Pistol ditembakkan tepat menembus dadanya. Orang dengan lompatan tinggi tersebut menatap dadanya yang berlubang dengan tak percaya.


Tubuhnya jatuh dengan keras dan terbujur kaku.


Tampaknya suara tembakan yang keras tersebut cukup kuat untuk didengar oleh orang lain sehingga suasana menjadi sangat sepi.


Mereka menatap Ray dengan tatapan yang benar-benar terguncang.


“Dia memiliki pistol ... .”


“Bagaimana ... bisa?”


“Bukankah Market tak bisa diakses selama tugas kali ini? Lalu mengapa dia bisa mendapatkannya?”


“Antara dia sudah menyiapkannya atau mendapatkannya dari tugas bonus. Hindari dia jika tak mampu membunuhnya!”


Keberadaan pistol memang mengejutkan namun tampaknya tak menciutkan nyali semua orang. Pada kenyataannya mereka masih memiliki semangat bertarung yang besar.


Ada orang yang bertarung karena telah putus asa, ada yang bertarung bermodalkan tekad untuk tetap hidup dan ada juga yang menyukai pertarungan tersebut.


“Mereka akan mulai mendekatiku dengan hati-hati. Baik atau buruknya adalah tergantung dengan bagaimana aku memanfaatkannya.”


Lima orang mendekat, mereka terlihat menjaga jarak dan bergerak dengan cepat untuk menghindari bidikan pistol Ray.


Meski sia-sia namun tampaknya mereka memahami bahwa Ray tak bisa asal menembak karena sebuah pemborosan peluru.


Bukan harga yang murah membeli pistol dan pelurunya.


“Tamatlah riwayatmu!”


“Serahkan semua yang kamu miliki!”


“Kamu takkan bisa berkutik jika menghadapi lima orang!”


“Hajar dia sekaligus!”


“Ya!”


Ray tetap tidak bergeming meski dikepung oleh lima orang sekaligus.


Dia tak bisa mengambil gerakan ceroboh jika disituasi seperti ini.


Mengamati ke lima orang tersebut Ray meraih seseorang yang menggunakan kakinya dan berusaha menendangnya.


“Bajingan!”


Ray beralih ke orang di depannya dan menangkis tiga pukulan cepat yang datang ke arahnya.


“Kung fu?!”


Tak berhenti sampai di situ Ray memotong jarak dan meraih kepalanya lalu menghantamkannya ke dengkulnya.


Hidungnya berdarah dan mulai terhuyung-huyung, Ray segera mengambil pistol dan menembak tepat di keningnya.


“Pria ini berbahaya, berhati-hatilah!”


“Keparat! Berani-beraninya kau membunuhnya!”


Ray segera menghampiri orang itu dan mengayuh kakinya dengan kuat ke pinggangnya hingga terjatuh dengan menyedihkan.


Memanfaatkan kesempatan kecil tersebut Ray menembaknya di leher.


“Mereka yang membunuh harus siap untuk dibunuh!”


Sangat lucu ketika orang yang coba membunuh namun tak siap untuk dibunuh.


Ray tahu bahwa kalimat itu juga berlaku untuk dirinya. Karena itulah jika waktunya tiba seseorang datang membunuhnya maka dia akan menerimanya dengan lapang dada.


“Dua telah menuju akhirat.”


Kini ada tiga orang di depannya berbaris dan terlihat ingin mundur.


Edward dan yang lainnya juga menyaksikan aksi Ray dengan rahang terbuka lebar. Mereka pastinya tidak menduga bahwa Ray memiliki banyak kemampuan.


Tak ada petunjuk apapun yang mengindikasikan tentang Degree apa yang Ray miliki.


“Dia ... berbahaya. Sebaiknya kita mundur.”


“Ya ... Edan dan Pante telah tewas. Orang ini jelas-jelas monster.”


“Bagian terburuknya dia tidak mengandalkan Degree!”


Jika mereka ingin mundur itu hal yang bagus namun jangan pernah berharap bahwa Ray akan melepaskannya begitu saja.


“Sayangnya sejak kalian menjadi musuhku takkan ada kesempatan lepas hidup-hidup. Entah aku yang mati atau kalian yang binasa, sampai ada hasil pertarungan takkan berakhir.”


Tiga orang tersebut perlahan melangkah mundur namun Ray menembak diantara kaki. Dia sengaja meleset sebagai tanda bahwa dirinya bisa saja mengakhiri ketiganya.


“Tidak! Tolong ampuni kami! Kami akan melakukan apapun untukmu!”


“Kumohon! Aku tidak ingin mati!”


Ketiganya merangkak bersamaan dan berlutut tepat di depan kaki Ray.


Mereka menangis dan memohon untuk hidupnya, Ray hanya menatap diam ketiganya dengan acuh tak acuh.


Dia berpikir ingin membereskan ketiganya karena khawatir jika mengampuninya kelak mereka akan menusuk dari belakang.


Namun ketika menatap kelompok Edward yang sedang bertarung sengit dengan kelompok lainnya, sebuah rencana terlintas di dalam kepalanya.


Mereka bidak yang bagus untuk digunakan. Tergantung bagaimana kekuatan yang dimiliki ketiganya Ray bisa sedikit bergantung kepadanya.


—Waktu untuk menjawab tersisa 180 detik. Sedikit kunci jawaban akan diberikan.—


— Kepercayaan dari religius tertentu yang telah dibuktikan secara ilmiah.—


Ray terkejut melihat notifikasi lain dari jamnya. Kunci yang diberikan cukup absurd namun sebuah jawaban terlintas dalam benaknya.


Namun daripada menjawabnya segera, ada hal lebih krusial yang perlu dilakukan.


“Jika kalian ingin tetap hidup maka turuti aku tanpa banyak bertanya.”


“Apapun itu, kami akan melakukannya!”


Ray tersenyum tipis. Tiga menit waktu tersisa untuk menjawab tugas, di waktu tipis tersebut sudah cukup membereskan Edward dan yang lainnya.


“Aku ingin kalian menghabisi suatu kelompok. Sebagai gantinya aku akan memberikan kalian jawaban dari ujian ini dan menuju kursi.”


...[***]...


**Nama: Edward.


Usia: 23 tahun.


Asal: Amerika.


Degree: Taekwondo.


Menguasai berbagai macam gerak taekwondo dan berhak disebut Master Taekwondo. Memungkinkannya membuat variasi baru dalam gerakan. Meningkatkan saraf motorik dan refleks tubuhnya sampai tahap bisa melihat anak panah melesat**.