The Degree

The Degree
Karma?



Leo dan Ray terus bertukar pukulan dan tendangan. Awalnya Leo tampak mendominasi karena dia berhasil memberikan banyak sayatan di tubuh Ray.


Ray kini memiliki banyak luka cakaran di sekitar tubuhnya. Baik badan maupun wajahnya memiliki luka cakaran karena serangan Leo yang sengit.


Dia memang seekor singa namun Ray yakin itu bukan singa tidur. Yah, tak peduli apa Degree-nya karena Ray telah memahami kemampuan Leo.


Oleh karena itu situasinya perlahan berbalik. Ray dengan gesit meningkatkan kecepatan dan akurasi serangannya.


Leo perlahan mulai terdorong mundur, beberapa tendangan Ray berhasil mengenai lutut dan pinggangnya.


‘Ugh! Bajingan ini mengincar tempat yang menyakitkan!’


Setiap serangannya sangat menyakitkan, Leo beberapa kali kehilangan pijakan dan nyaris jatuh. Tidak, sebenarnya dia sudah didorong jatuh sekarang.


Ray berusaha menginjak Leo, tetapi bajingan itu berguling-guling dan menjaga jarak. Dengan sigap Ray melemparkan pisau ke udara, dia mengambil pistolnya dan menembak beberapa kali.


Dua peluru meleset namun satu tepat mengenai bahunya. Leo berteriak kesakitan dan berusaha bangkit. Kejutan dari timah panas yang menembus bahunya jelas memberikan guncangan yang kuat bagi tubuhnya.


Leo mulai terengah-engah, saat dia berniat menoleh ke arah Ray. Tepat di depan matanya sepatu kulit berada, menghantam wajahnya dengan kuat.


Darah mengalir melalui hidung yang sedikit bengkok, mungkin saja telah patah oleh tendangan tersebut.


Ray segera mencengkram kerah Leo dan membuat wajahnya sejajar dengan bajingan itu.


“Urgh—” Leo mengerang sakit dan menatap Ray penuh kebencian.


Ray menarik napas panjang dan menghantamkan kepalanya dengan Leo. Benturan keras mengguncang visi keduanya namun Ray masih baik-baik saja.


Sebaliknya Leo tampak kacau dan lemas. Ray melepaskan cengkeramannya dan segera menangkap lehernya sebelum membantingnya ke tanah.


“Khak!”


“Kamu cukup menguras tenaga dan ini sangat menyebalkan, Leo.”


Ray mungkin terlihat baik-baik saja di luar namun nyatanya Leo memberikan kerusakan lebih banyak dari yang diharapkan. Berkat sayatan di tubuhnya yang cukup dalam dan tendangan Leo yang kuat, Ray merasa lemah.


Kepalanya mulai pusing karena kekurangan darah. Meski Serum D mampu mempercepat kemampuan pemulihannya, tetap dibutuhkan waktu untuk pulih.


“Kamu ... bajingan. Aku akan ... menghancurkanmu ... tebuslah semua dosamu, Ray Morgan!” Sampai akhir Leo menunjukkan tatapan penuh kebencian terhadap Ray.


“Padahal dulu kita adalah rekan,” ujar Ray membuat wajah sedih.


Leo memandang Ray dengan penuh kebencian dan berkata, “Kamu tak pernah benar-benar menganggap aku— kami sebagai teman-!”


Meski Ray tak mengatakan apa-apa namun Leo memiliki keyakinan kuat apa yang dikatakannya adalah kebenaran. Ray sejak awal hanya memperalatnya, Terumi bahkan Erina.


“Apa yang kamu katakan?” Ray berkata dengan suara pelan yang hanya bisa di dengar oleh Leo. “... aku selalu menganggap kalian.”


Ray tidak sekejam itu untuk menyatakan bahwa manusia adalah alat. Karakter seperti itu tidka cocok untuknya, bahkan jika ada kemungkinan besar hanya fiksi.


Tak peduli seberapa keras dan dingin lingkungan di mana manusia lahir dan dibesarkan, mereka akan tetap memiliki sesuatu yang takkan bisa dirubah. Hal itulah yang membuatnya tetap dianggap manusia.


“Sangat menyenangkan saat bersama kalian. Aku tidak pernah merasa bosan. Setiap harinya terasa seperti angin segar yang aku tak pernah ingin menghindarinya. Sesuatu yang terasa nikmat dan membekas seperti ciuman pertama.”


Ray berkata jujur dari lubuk hatinya yang terdalam. Dia tak pernah merasakan kebosanan sejak bergabung ke dalam fasilitas ini. Rasa bosan tak pernah datang menemuinya dalam waktu lama sejak Ray membangun kelompoknya.


Dia tidak pernah membenci berada di sekitar mereka. Ray sangat menghargai keberadaan mereka baik itu Leo, Eric, Erina, Indri, Ben, bahkan Terumi.


“Itu selalu terasa menyenangkan karena setiap kali aku melihat kalian —”


Meski begitu, Leo memandangnya dengan cara yang agak mengerikan.


Ray melanjutkan tanpa kehilangan senyum.


“—aku senang mengumpulkan budak yang menarik kereta untukku.”


Ray sangat menghargai keberadaan orang-orang yang menarik keretanya layaknya kuda besi tanpa tahu lelah. Jika salah satunya tak bisa digunakan maka dia bisa membuangnya dan mendapatkan yang baru.


Semakin lama kuda yang bertahan semakin Ray menghargai keberadaannya.


“Namun sayang kamu membelot. Dengan perasaan sedih dan terluka, sebagai pemilik aku harus menyingkirkan yang tak patuh.”


Ray akan menyingkirkan Leo sebelum bajingan kecil ini berulah lebih jauh lagi. Dia juga tak punya waktu karena kekacauan ini tidak mereda. Sebaliknya, tempat ini perlahan menjadi neraka berdarah-darah.


“Mau bagaimanapun kamu tak bisa mengalahkan Degree-ku. Ini hebat karena berkatmu aku memahami kemampuanku.”


Ray tidak percaya akan sesuatu yang tidak masuk akal sampai akhirnya dia bertemu Degree. Bahkan saat ini dia memahami hak tidak masuk akal yang ada dalam dirinya.


Awalnya Ray bertanya-tanya mengapa Degree-nya tampak tak sesuai dengan dirinya. Bagaimana tidak? Ray tidak merasa dirinya melakukan sesuatu yang sangat buruk. Dia hanya selalu melakukan apapun untuk dirinya sendiri.


Lantas mengapa Degree miliknya menjadi sesuatu seperti itu?


Melalui kejadian ini Ray memahaminya. Nyatanya, Degree miliknya lebih dari sekedar cocok.


“... kamu ... tak tahu, cara ... menggunakan Degree selama ini?” Leo tampak terguncang karena informasi itu.


Ray kemudian menginjak lengan Leo yang berusaha bergerak dan dia mencekik lehernya dengan kuat.


“Aku takkan kesulitan seperti ini jika memahaminya. Yah, waktu terus berjalan. Bagaimana jika kita akhiri pembicaraan ini untuk selamanya?”


Cengkeraman Ray semakin menguat, Leo kesulitan bernapas. Dia tahu nyawanya takkan selamat namun Leo bersikeras untuk terus berbicara.


“Kamu pasti ... akan menerima karma-!”


Karma, sesuatu tidak logis yang menyatakan dewa akan membalas orang jahat dengan nasib buruk. Itu adalah yang disebut karma.


Ray tidak memiliki kepercayaan tentang hal-hal tanpa penjelasan ilmiah seperti dewa maupun karma. Dia tidak peduli apakah mereka benar-benar ada atau tidak.


Jika eksistensi seperti dewa benar hadir? Mengapa tak menunjukkan diri untuk menunjukkan keagungannya selagi melemparkan karma ke orang jahat?


“Jika karma adalah balasan atas perbuatan buruk dan sesuatu yang menyebabkan kehidupanku menderita dengan nasib jelek. Maka mungkin aku sudah menerimanya—”


Ingatan dirinya yang nyaris gila di fasilitas melayang di benak Ray layaknya film yang diputar.


“—aku telah menerima karma jauh sebelum dosa dibuat.”


Sampai akhir Leo memandang tatapan dingin Ray yang tak mengendur sama sekali. Saat melihatnya, untuk pertama kalinya dia merasa benar-benar ketakutan.


Leo mungkin berlebihan mendefinisikannya. Namun dia merasa tatapan Ray sama seperti veteran perang yang telah menghadapi banyak jalan maut dalam kehidupannya.


Cengkeraman di lehernya semakin erat dan erat sampai suara renyah terdengar.


Krek!


Cengkraman Ray sangat kuat sampai mampu mematahkan leher Leo.