The Degree

The Degree
The Degree



Waktu berlalu dengan cepat, kekacauan dibereskan berkat Secret dan robot-robot canggih miliknya.


Ray tak tahu sudah berapa kali ia bertanya-tanya tentang seberapa maju teknologi yang dimiliki Secret. Mereka seakan memiliki teknologi yang lebih canggih dari peradaban bumi. Bukannya tidak ada robot seperti itu namun yang secanggih dan serba guna seperti Secret mungkin saja masih dalam tahap percobaan.


Mereka masuk ke ruang rahasia yang telah dibebaskan dari reruntuhan.


“Kira-kira apa yang akan kita temui selanjutnya, ya?” tanya Terumi dengan sedikit khawatir.


Lukanya sudah dirawat meski begitu Terumi kesulitan berjalan dan Erina memapahnya. Meski telah diobati namun Terumi belum membangun kekuatannya dengan benar. Luka hasil tembakan mampu membuat tubuhnya syok berat dan kehilangan tenaganya.


“Entahlah. Aku pikir kita akan mengalami sesuatu yang semacam dengan Open World,” ujar Leo.


Mereka akan diadu atau semacamnya karena Secret mengatakan akan memilih ketua dari kelompok atau semacamnya.


Ada beberapa hal yang tentunya sangat mengkhawatirkan, bahkan Ray sendiri merasa cukup tegang untuk mengetahui apa yang ia temui nantinya. Secret sendiri mengatakan telah melakukan perubahan pada tahap akhir tugas.


Ray sedikit takut tentunya karena sesuatu yang tidak diketahui adalah hal yang menakutkan. Namun bahkan jika ia sedikit takut, Ray sungguh-sungguh menantikan hal apa yang akan disajikan oleh Secret.


“Untungnya dia memberikan kita hak untuk memilih ke mana kita akan pergi.” Ray tentunya merasa diberkati karena tak harus terpisah dengan orang-orang yang sudah susah payah dikumpulkannya.


Kemungkinan terburuk jika mereka terpisah dalam kelompok adalah Ray akan bersama Arthur. Dia tak memiliki hubungan baik tentu saja setelah semua ini.


Ray awalnya ingin meminta Arthur bunuh diri dengan perintah Erina di waktu tertentu namun hal itu tidak dimungkinkan. Bajingan itu memiliki Degree yang sangat dan teramat perlu untuk diwaspadai.


“Aku harap kita akan bertemu dengannya ... aku bersumpah akan menghabisinya dengan tanganku!” Eric yang berjalan di papah Leo berkata dengan penuh tekad dan kemarahan.


Ray sedikit meliriknya selama beberapa saat, “Memang itu akan membantu ketika kita satu kelompok dengannya. Dia sedang terluka, setidaknya kita memiliki sejuta kesempatan untuk membunuhnya.”


Berkat pembunuhan Chelsea, Eric menjadi sangat marah, bahkan mungkin dia bisa saja gila dan bertindak liar jika tidak dijinakkan. Ray seperti memungut anjing yang jadi liar karena kehilangan keluarganya.


Mungkin akan sulit untuk menggunakannya namun perlahan tapi pasti. Pada suatu waktu nantinya, Ray mungkin akan menggunakan orang ini untuk sebuah pengorbanan jika diperlukan.


“Ya ... aku tak percaya Arthur dan Mona adalah bajingan seperti itu.” Bahkan Leo masih memiliki kemarahan terpendam di dalam dirinya.


“... apakah sungguh mereka sejahat itu?” gumam Terumi dengan wajah yang sedih. “Aku tak percaya ... Mona adalah orang yang bisa melakukan sesuatu seperti itu. Dia bahkan menembakku.”


Terumi berteman baik dengan Mona, perasaannya tentu sangat tersakiti oleh penembakan tak terduga tersebut. Sudah beberapa kali Terumi menolak mempercayai hal tersebut namun kenangan ketika Mona menembaknya mematahkan penolakannya sendiri.


“Kamu harus ingat bahwa tempat ini penuh dengan orang-orang licik, bersiasat dan bahkan membuang kemanusiaan. Secret menciptakan lingkungan di mana para bajingan dan sampah masyarakat bersinar layaknya berlian.”


Pembunuh, penipu bahkan orang-orang licik yang hidup sebagai sampah masyarakat akan sangat kuat posisinya di tempat ini. Mereka tak lagi memiliki belas kasih atau rasa takut dari melakukan hal-hal yang kejam.


Ray setuju untuk hal itu meskipun secara tidak langsung ia mengakui dirinya termasuk bagian sampah masyarakat.


“Mereka yang terlihat baik di luar belum tentu memiliki cover sama di dalamnya. Seringkali sampul bagus memiliki isi mengecewakan,” ujar Ray.


“Ini benar-benar menyakitkan,” Terumi berkata lemah, air matanya mulai mengalir. “Apa yang akan didapatkan Secret dengan menciptakan semua tragedi ini?”


Kehancuran, pembunuhan dan tragedi di tempat ini tentunya akan dilimpahkan kepada Secret. Tanpa sosok itu, semua hal yang terjadi sekarang tidak akan pernah ada.


Ray menatap langit-langit dengan diam, dia menatap hal yang jauh seperti berharap bahwa Secret akan memperhatikannya juga.


“Ya. Tak ada yang tahu apa sebenarnya tujuan organisasi ini.”


Setelah berjalan beberapa menit, mereka tiba di sebuah aula besar yang sama persis dengan tempat pertama kali mereka datang ke tempat ini.


Ray memiliki perasaan nostalgia yang asing. Dia mulai bertanya-tanya apakah ini tempat yang sama dengan pertama kali ketika ia tiba, atau mungkin sebuah tempat yang berbeda dengan tampilan serupa.


Memandang sekitarnya, Ray menemukan Indri dan kelompoknya berada di bagian pojok ruangan. Wanita itu lagi-lagi menyadari tatapan Ray dan melambaikan tangannya.


Ray mengabaikannya dan mengamati tempat lain. Wajah yang penuh kemarahan terus saja menatapnya, orang itu sudah diramalkan akan memiliki kebencian tidak wajar kepadanya. Ray sudah mengharapkannya.


Orang itu adalah Arthur. Arthur tampaknya sudah sampai pada kesimpulan bahwa Ray adalah dalang dari semua hal-hal yang penuh konspirasi ini.


Untuk meresponnya, Ray mengamati rekannya dulu sebelum akhirnya memandang Arthur lagi. Sejak awal, Ray selalu ingin melakukan ini.


Ia tersenyum lebar, alisnya berkerut selagi menatap Arthur. Senyuman dan wajah ejekan Ray yang memprovokasinya, disertai tangan Ray yang seakan memotong lehernya sendiri.


“Kamu pecundang yang mudah dibunuh.” Ray bergumam pelan, meski suaranya takkan sampai, dia tahu Arthur akan paham dari gerak bibirnya.


Arthur tampak geram dan jalan terpincang-pincang untuk menghampiri Ray, tetap Mona dengan kuat menghentikannya. Wanita itu sadar, menampakkan diri kepada Ray dan yang lainnya secara langsung adalah tindakan berbahaya.


Keduanya bisa saja dibunuh sekarang juga. Lagi pula Secret sama sekali tak melarang pembunuhan sekarang ini.


Suasana belum memanas dan Secret muncul di waktu yang tepat. Seperti biasanya, dia datang dengan megah menggunakan drone besar tersebut.


“Pertama-tama kami ucapkan selamat karena telah bertahan dan mencapai tugas akhir. Meski kami merancang perubahan besar dan menghapus beberapa tugas yang harusnya dijalankan. Pada akhirnya hasil yang kami inginkan akan tetap tercapai.”


Tak ada suara yang mencoba menyela perkataan Secret. Hal itu karena semua orang sudah merasa lelah, marau dan juga tegang. Ini adalah tugas terakhir dari hari-hari yang penuh neraka.


Entah hal mengerikan seperti apa yang akan disajikan organisasi rahasia ini. Seakan menjawab semua rasa penasaran, Secret lanjut bicara.


“Tahap akhir ujian ini. Mari kita mulai tugas terakhir yang kami sebut, The Degree.”


...****************...


Final Arc — The Degree.