
Satu menit menuju kehancuran mutlak dari tanah bernama Open World, mereka yang belum mencapai Shelter menggila, berlari liar dengan air mata, mengabaikan luka juga napas yang tersiksa, tergesa-gesa untuk nyawa mereka saat ini.
Sementara bagi mereka yang terluka parah, terkapar lemah dan menangis karena tak bisa melarikan diri ke manapun. Hanya keluhan dan air mata yang mampu menjadi penghibur mereka saat ini.
“Hiks! Mengapa seperti ini ... sungguh kejam kalian karena meninggalkanku!”
“Jadi inilah akhirnya ... aku harap aku tak pernah menerima undangan itu!”
“Sial! Siapapun tolong aku!”
“Aku tak mau mati!”
Rasa takut dan kesedihan tersebar diantara mereka. Semuanya tahu bahkan jika ada yang datang menyelamatkan, pada akhirnya orang itu hanya bunuh diri. Takkan sempat pergi ke Shelter dengan waktu satu menit saja.
Mereka harus menerima nasib keji ini, setiap makhluk hidup pada akhirnya akan mati. Baik mereka yang telah menang atas kehidupan, atau mereka yang terpuruk di kasta terendah kehidupan. Semuanya akan mati.
Shelter perlahan tertutup dan tampak tak mempedulikan orang-orang yang tertinggal ataupun dalam perjalanan ke Shelter.
Disaat-saat terakhir sebelum pintu tertutup, dua gadis kembar melompat masuk dengan selamat.
“Huh, syukurlah masih sempat. Kamu baik-baik saja, Rani?”
“Ya. Aku baik-baik saja Rina.” Rani bangkit dan merapihkan dirinya sebelum menggenggam tangan saudarinya, “Kita akan baik-baik saja. Baik sekarang ataupun di masa depan.”
“Ya.” Keduanya segera membaur dengan orang-orang dan menghilang dari pandangan Ray.
Ray hanya memandang hal tersebut dalam diam, bahkan di dalam Shelter sendiri tak ada satu orang yang membuat suara keras. Paling tidak mereka hanya berbisik tentang permintaan maaf atau semacamnya kepada rekan-rekan yang ditinggalkan.
“Mengenai percakapan sebelumnya, apa kamu menemukan sesuatu tentang wanita itu?” tanya Arthur berbisik kepada Mona.
“Sayangnya tidak. Hanya saja aku dapat melihat bahwa pria bernama Guren dan Hiroshi jujur tentang Degree-nya. Penipu dan Chuunibyou Samurai.” Mona menjawabnya dengan berbisik, ia kemudian menoleh untuk melihat wajah Arthur. “Apa kamu curiga tentang sesuatu, Arthur?”
Arthur hanya diam tanpa menjawabnya sama sekali. Bisa dibilang dia memiliki kecurigaan atas hal aneh ini, namun di sisi lain ia tak bisa memastikan apakah kecurigaannya benar.
“Aku tak bisa memastikannya. Hanya ... .”
“Ada apa?” tanya Mona saat Arthur tak menyelesaikan kalimatnya.
“Aku rasa wanita itu, Indri memiliki tujuan lebih dari menghancurkan Virgo. Aku ingat betul berada di tugas yang sama dengannya, juga Ray. Wanita itu penuh keanehan termasuk juga Degree-nya.”
Arthur menyaksikan sendiri bagaimana Indri beraksi melewati rintangan di tugas ke tiga. Baginya itu aneh karena orang-orang seakan-akan bergerak sesuai keinginan Indri. Entah apa yang terjadi namun hal tersebut jelas tak wajar.
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Tidak ada. Untuk saat ini aku akan diam dan menjadi pengamat. Selain itu, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan tugas ke enam.”
Tak ada yang mengetahui apa yang akan mereka temukan setelah tugas kelima, segalanya masih tampak abu-abu. Bisa jadi mereka akan terpisah seperti tutorial, atau bahkan dipecah menjadi beberapa kelompok kecil.
Saat itu, Shelter mulai bergerak dan mengejutkan semua orang. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi mengingat tidak ada jendela atau layar untuk mereka mengetahui situasi di luar.
“Apa kita bergerak ke bawah?” tanya Terumi.
“Tidak. Aku sangat yakin kita bergerak naik.” Ray segera menyangkal pertanyaan Terumi.
Ray mampu merasakan bahwa perasaan ini lebih mirip naik pesawat karena perutnya terasa sedikit sakit setiap kali naik. Lagi pula, termonuklir memiliki ledakan yang sangat besar.
Dengan waktu yang mepet seperti ini, turun ke bawah tanah adalah langkah ceroboh. Ray dengan yakin menyatakan bahwa fasilitas bawah tanah yang dibangun Secret pastinya akan dihancurkan bersama Open World.
“Aku tidak yakin tentang itu. Bahkan jika fasilitas bawah tanah hancur, dengan teknologi luar biasa Secret, aku takkan terkejut mereka memiliki banyak fasilitas bawah tanah.”
Memang tidak ada jaminan ke mana mereka akan pergi. Meski begitu, setidaknya Ray yakin tugas keenam dan seterusnya akan jauh menyulitkan ketimbang Open World yang penuh dengan konflik.
Sesaat kemudian getaran besar mereka rasakan dengan jelas. Beberapa kehilangan keseimbangan dan jatuh, namun tak sedikit juga yang berhasil berdiri tegak seperti Ray.
Bisa disimpulkan bahwa getaran tersebut berasal dari termonuklir ... yang baru saja menghancurkan Open World dengan ledakan yang pernah hampir memusnahkan umat manusia.
“Kapan semua ini akan berakhir ... .” Perkataan seseorang memecah keheningan yang berlangsung selama beberapa menit setelah ledakan besar.
“Aku telah membunuh ... banyak orang. Hanya untuk bertahan hidup.”
“Apakah tak ada satupun cara untuk keluar dari permainan ini? Aku sudah tidak tahan lagi.”
“Siapapun, tolong akhiri penderitaan ini! Aku menyesal menerima undangannya!”
“Bahkan dengan semua kekuatan dan keajaiban Serum D, jika uji cobanya seperti ini, siapapun takkan mau mengikutinya!”
“Jika di masa depan manusia bergantung pada Degree, maka kekacauannya akan lebih hebat dari ini!”
Keluhan, amarah, dan tangisan menggema. Banyak gejolak perasaan yang disimpan selama ini meledak. Orang-orang mulai menangis akan dosa di tangan mereka dan atas kematian teman-teman mereka.
Ray tak bisa berbuat apa-apa tentang mereka, hal yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan mendengarkan.
“Semuanya pasti merasa tersiksa. Bahkan aku ... kehilangan beberapa orang teman.” Terumi berkata dengan pahit dan sedih.
Leo yang selalu bersamanya di tutorial mengetahui rasa sakit tersebut. Mau bagaimanapun, teman Terumi adalah temannya juga.
“Ini memang uji coba yang menyakitkan.” Ray sepakat akan hal ini.
Dipermukaan Ray terlihat menderita akan rasa sakit di tangan maupun dadanya. Itu hanya dipermukaan saja. Tak pernah ada seorangpun akan mengetahui isi hati seseorang yang sebenarnya.
Pada kenyataannya, semua hal ini membuat jantung Ray berdebar dengan hebat, menantikan hal hebat apa lagi yang akan ia temui nantinya.
Ini bukan kisah tentang pertemanan dan kebersamaan yang indah, tetapi ini kisah menyakitkan di mana kehilangan dan pengkhianatan adalah hal yang biasa. Lingkungan seperti itu yang diciptakan oleh Secret, lingkungan di mana membunuh untuk tetap hidup, mengorbankan untuk membangun tangga menuju kemenangan.
‘Aku yakin sering mengatakan ini ... Secret, Degree, rekan, boneka, musuh, pengkhianat, bahkan kisah yang tragis. Semuanya berputar-putar di sekitarku layaknya kupu-kupu menari.’
‘Hal-hal macam apa yang akan aku temukan selanjutnya?’
Tak ada seorangpun yang melihat wajah Ray di tengah tangisan tersebut. Jika orang lain berduka dan menangis, maka Ray adalah orang aneh karena tersenyum lebar menantikan hal yang akan ia temui selanjutnya.
‘Tempat ini memang tidak akan membuatku bosan!’
...****************...
Arc 2 — Open World— End.
Ini Arc yang sangat panjang karena ada lebih dari 50 chapter pembahasan tentang Open World. Entah dengan Arc lainnya yang akan datang. Setidaknya akan tersisa dua sampai tiga Arc lagi untuk cerita ini tamat.
Saya ingin menyampaikan beberapa hal tentang Arc ini namun karena beberapa keadaan saya memutuskan menuliskannya di chapter selanjutnya.
Mengenai Arc selanjutnya, pada tahap ini takkan terungkap.
Kalian bisa menebak hal apa saja dan arc apa yang akan tiba selanjutnya. Saya menantikannya. Sampai jumpa