The Degree

The Degree
Kemunculan Tak Terduga



Ray menarik napas dalam-dalam dan memandang langit yang masih gelap. Namun dia yakin hanya butuh beberapa jam lagi untuk pagi hari tiba menyapu malam.


“Huh~ ... pengalaman pertama membunuh orang yang disebut teman.”


Tidak ada yang spesial untuk dirasakan. Rasanya sama seperti ketika membunuh pada umumnya. Ini tidak seperti yang Ray harapkan. Dia berpikir saat membunuh orang yang sudah lama bersamanya, maka akan menimbulkan perasaan bersalah atau sedih di hatinya.


Namun hal itu sama sekali tidak ada. Ray mulai bertanya-tanya apakah dia masih memiliki hati?


“Atau lebih tepatnya, sejak kapan semuanya seperti ini?” guman Ray sebelum mengalihkan perhatiannya ke sisi lain.


Pertarungan Roid dan Eric tetap berlanjut namun kemenangan sudah jelas siapa yang akan mendapatkannya. Eric telah menerima pukulan fatal di titik yang fatal seperti rahang, perut dan tulang kering.


Dia nyaris tidak bisa berdiri dengan benar, terhuyung-huyung seperti orang dalam pengaruh tinggi alkohol.


“Aku tak perlu meragukan Roid jika itu pertarungan tangan kosong,” gumam Ray selagi menganggukkan kepalanya.


‘Namun bajingan ini tidak bodoh. Aku tak bisa mengkhianatinya jika tak ingin hal merepotkan muncul.’


Ray tahu betul bahwa bawahan Roid sangat setia kepadanya. Jika mereka tahu Roid terbunuh oleh Ray, maka besar kemungkinan mereka akan membuat kekacauan. Mereka adalah bom waktu yang sulit diatasi.


Clap! Clap! Clap!


Tepuk tangan seseorang mencapai telinganya, Ray menemukan seseorang berjalan ke arahnya dengan santai. Wajah tampannya tak lagi tertutup topeng dan senyuman muncul di bibirnya.


“Luar biasa ... kamu melakukannya tanpa keraguan atau rasa bersalah. Justru sebaliknya, kamu terlihat kecewa akan sesuatu, Ray Morgan.”


Ray mengerutkan kening begitu menemukan pria itu datang ke arahnya. Dia tetap menjaga jarak yang pasti sebagai antisipasi.


“Apa maumu?” tanya Ray, dia tak mau basa-basi dengan pria di depannya sekarang ini.


Waktu terus berjalan, kondisi saat ini tidak memungkinkannya untuk membuang-buang waktunya.


“Tidak ada hal khusus. Aku telah membuat pilihan untuk menyaksikan semua ini sampai akhir. Sampai seseorang mendapatkan kunci emas.”


Kunci emas, untuk menyelesaikan semua tugas Secret, Ray membutuhkan kunci emas untuk mendapatkan teka-teki.


Dengan terbunuhnya Leo maka kunci terakhir sudah ditangannya. Ray siap menukarkan kelima kuncinya demi satu kunci emas untuk mendapatkan teka-teki terakhir.


“Apalagi yang kamu tunggu? Kamu bisa melakukannya sekarang dan jangan khawatir aku mengganggu.”


Ray hanya diam tanpa memberikan jawaban. Dia menatap pria di depannya dengan penuh rasa curiga. Tentu, mencoba membaca niat pria itu adalah alasan utamanya.


Saat itu juga Ray bisa mendengar pistol yang ditembakkan. Tak lama langkah kaki terdengar dan berdiri di sisinya. Orang itu adalah Roid yang sudah menyelesaikan pertarungannya.


Meski babak belur di beberapa tempat, Roid tampak tak kehilangan keseimbangannya meskipun terengah-engah. Dia menatap Ray dan pria lainnya yang menatap dengan penasaran.


“Siapa ... pria itu?” tanya Roid.


“Mata-mata Secret,” ujar Ray seakan itu sesuatu yang sangat jelas. “Ryouma Hisatsu.”


Roid segera terkesiap dan mewaspadai Ryouma. Mau bagaimanapun Ryouma adalah pengguna Degree yang cukup terkenal saat Rebellion masih berdiri.


“Kuku ... ada apa Ray? Mengapa kamu hanya diam?” tanya Ryouma sekali lagi.


Ray tetap tak memiliki jawaban. Meski mengakhiri tugas dapat dilakukan saat ini juga, tetapi Ray menolak melakukannya.


“Masih ada hal yang perlu dilakukan.”


Ryouma mengangkat alisnya, “Dan hal apakah itu?”


Ray telah memikirkan berbagai hal saat ini. Salah satunya adalah dia meyakini bahkan jika tugas telah diselesaikan, kekacauan ini tidak akan segera berakhir.


*****


“Apa yang kalian lakukan? Cepat menjauh dari sini!”


“Kuargh!”


Teriakan, tembakan peringatan hingga gas air mata segera berkolaborasi menciptakan kekacauan yang lebih besar. Mulai dari para demonstrasi yang memasuki lokasi evakuasi dan membuat warga sipil yang penasaran masuk ke dalamnya.


Tentu, orang media tidak ketinggalan untuk membuat berita tentang kekacauan yang terjadi saat ini. Berkat itu semua tentara menjadi sangat kerepotan.


Meski ada banyak yang mulai melarikan diri karena tembakan peringatan dan gas air mata, tetapi ada yang memberontak dengan melemparkan kembali gas air mata.


“Tetap waspada! Ada penyusup diantara warga sipil dan demonstran!”


Masalahnya tidak selesai oleh kekacauan demo, tetapi para pengguna Degree yang membaur diantara mereka dan membunuh tentara.


Arthur menerima sakit kepala luar biasa saat mendapatkan laporan tersebut. Dia mulai menendang tenda di sampingnya hingga runtuh.


“Sial! Mengapa semuanya terjadi disaat yang bersamaan?!”


Menyelamatkan Marshal Ardianto adalah prioritas utama, tetapi kemunculan demonstrasi yang ditunggangi oleh Ray mengacaukan semuanya. Saat ini dia telah mengirim Mona dan yang lainnya untuk menyelesaikan urusan itu.


Berpikir bahwa selesai dengan itu nyatanya kelalaian. Masalah lain muncul segera setelahnya.


“Komandan! Para ******* itu memulai serangan mereka!”


“Para tawanan tampak ditinggalkan di dalam monas— tidak. Mereka diangkut dengan kendaraan dan berniat meninggalkan tempat ini!”


“Dan juga ...” prajurit berhenti berbicara, hal itu membuat kemarahan Arthur meledak.


“Apa lagi?! Cepat bicara!”


Prajurit itu tersentak dan menyampaikan informasi yang tertinggal, “Y-ya! Si pria besar tampak bergerak sendirian bersama Marshal. Pria itu memberikan pesan untuk anda menemuinya!”


Arthur langsung memahami siapa si pria besar yang dimaksudkan. Hanya ada satu orang yang layak diberi gelar pria besar. Orang itu adalah Maa Dong Wok. Saat ini tindakannya itu yang sulit dimengerti Arthur.


‘Tidak mungkin dia menginginkan duel denganku, kan?’


Itu akan aneh, tindakan yang cukup bodoh. Jika Arthur menjadi mereka, maka melarikan diri segera adalah prioritas. Membuat tantangan duel seperti itu sekarang sama dengan membuang kesempatan mereka untuk melarikan diri.


‘Apa tujuan bajingan ini sebenarnya? Mungkinkah itu untuk kunci?’


Arthur nyaris melupakan tugas terakhir Secret lantaran semua kekacauan ini sungguh membuatnya sakit kepala.


Tentunya tidak mungkin Jung Haiyan dan Maa Dong Wok akan meninggalkan kesempatan untuk menyelesaikan tugas. Mengumpulkan lima kunci untuk mendapatkan kunci emas dan juga teka-teki terakhir.


“Apa yang harus kita lakukan, komandan?” tanya prajurit yang menatap Arthur dengan khawatir.


Arthur sama sekali tidak melihat prajurit itu dan hanya fokus pada pemikirannya. Ada beberapa hal yang akan menjadi masalah namun dengan membunuh Maa Dong Wok, ada kemungkinan ******* akan mulai terpecah.


Mau bagaimanapun salah satu strategi dalam peperangan adalah hancurkan kepala sehingga tubuh lainnya akan mulai mati langkah.


“Untuk saat ini aku akan menyerahkan komando pada orang lain. Aku akan pergi menyelamatkan Marshal Ardianto sendirian.”


“Apa? Sendirian?” prajurit itu tak bisa berhenti khawatir. “Apa tak masalah? Ada kemungkinan itu adalah perangkap, komandan!”


Itu tidak salah sama sekali. Arthur tahu bahwa ada kemungkinan besar Maa Dong Wok menyiapkan jebakan untuknya. Maka dari itu pilihan benar adalah pergi sendirian.


“Justru karena itu aku sendiri cukup karena takkan banyak kerugian jika itu benar perangkap. Selain itu—”


Para tentara jelas tidak tahu tentang Degree, mereka hanya tahu bahwa ada manusia-manusia yang spesial. Itu adalah batas aman untuk mengungkap tentang adanya manusia dengan kemampuan super.


Arthur tidak bisa mengatakan Degree akan menyelamatkannya pada tentara itu. Makanya dia mengganti kalimatnya.


“—aku percaya pada keberuntunganku.”