
Virgo menatap jam di tangannya dan menemukan hanay tersisa lima belas menit lagi sebelum nuklir meledak. Itu bukan waktu yang banyak dan dia tak bisa bernegosiasi soal ini.
Pada akhirnya Virgo memilih menyerah dan menghubungi rekan-rekannya untuk mundur.
Setelah beberapa perdebatan dengan Alexis akhirnya Virgo menatap wanita itu. Meski tak diketahui wajah apa yang ia buat, bisa dipastikan ia tak senang oleh situasi ini.
“Katakan siapa namamu. Di lain tugas aku pasti akan membunuhmu.”
Wanita itu tersenyum tipis namun matanya menatap dengan tajam, “Indri Calista. Kamu boleh mengingatnya. Omong-omong Degree-ku tak berbahaya sehingga kamu tak perlu mewaspadainya.”
“Indri Calista ... aku pasti akan menghajarmu.”
“Fu fu, datang kapanpun kamu mau. Lagi pula aku tak berminat menjatuhkan harga diriku dengan dihajar monyet.”
Virgo tak berminat bertukar kata lebih banyak sehingga ia memilih pergi tanpa banyak bicara. Arthur hanya memandangnya dengan diam, ia tak berniat mengejarnya karena waktu tak memberikan dukungan.
Arthur kemudian menatap tajam Indri karena posisinya tidak diketahui apakah ia rekan atau lawan. Kepada orang yang mengaktifkan nuklir, Arthur jelas tidak bisa menurunkan kewaspadaannya meski lawannya wanita.
Seakan menyadari tatapan itu, Indri melebarkan mata dan mengangkat kedua tangannya, “Tenang saja, aku bukan teman atau musuh. Pada situasi ini aku akan kooperatif dan tak mencoba melukaimu serta kelompokmu.”
“Selain itu justru sebaliknya, aku memerintah orang-orangku untuk menyelamatkan rekanmu. Jika tak percaya, mari kita pergi ke Shelter untuk menemukan mereka.”
Arthur tak segera mempercayainya. Di tempat ini kepercayaan adalah hal yang amat mahal karena itu bisa menusukmu. Dari pada dirinya ditusuk maka Arthur akan melakukan berbagai seleksi untuk mempercayai.
“Aku tidak mau mati karena senjata yang aku aktifkan. Itu bahkan tak ada bedanya dengan orang kurang pintar sebelumnya yang mengejar-ngejarku seperti penguntit.” Indri membuat wajah jijik dan terkesan jengkel.
“Tak masalah kamu mau ikut atau tidak, hanya saja ada lebih banyak masalah timbul dengan membiarkan gembala idiot sepertimu mati.”
Arthur mulai mengerutkan alisnya karena tidak senang dengan penyampaian Indri, “Tak bisakah kamu bicara dengan lebih halus?”
Indri cekikikan saat mendengarnya, “Tentu saja mustahil. Ini sudah kebiasaanku untuk mengatakan hal-hal terkesan menyindir. Jika ada yang salah, maka kamu boleh menyalahkan pelacur yang dipanggil ibu karena telah melahirkanku dan tak pernah mendidikku jadi orang baik.”
Secara tidak langsung Indri menyampaikan bahwa ibunya seorang pelacur dan tak berminat mengurusnya. Setiap kalimat kasar yang ia ucapkan datang karena Indri tak pernah belajar caranya menjadi sopan.
“Yah, kesampingkan hal itu. Kamu sebaiknya ikut aku jika ingin bertemu domba-dombamu yang lain.” Indri mulai berjalan memimpin dengan acuh tak acuh.
Sejujurnya ia tak peduli dengan apa yang akan terjadi kepada Arthur, tetapi karena semua ini atas pengaturan seseorang ia tak bisa melepaskan Arthur begitu saja.
Pada akhirnya Arthur memutuskan untuk mengikutinya selagi tetap waspada. Tujuan mereka sama yakni Shelter terdekat sehingga tak ada keraguan mereka akan menempuh jalan yang sama dengan Virgo.
...****************...
Ray, Erina dan Ben tiba di suatu tempat yang bukan Shelter. Mereka ada dekat dengannya namun saat ini mereka berada di hutan yang gelap dan jauh dari lokasi terbakar.
“Tidak bisakah kamu diam sedikit, Erina?” Ray berkata sedikit jengkel dan melemparkan Erina ke tanah.
Mulut dan tangannya telah terikat sehingga Erina tak bisa berbicara ataupun berteriak. Tatapannya menunjukkan kemarahan yang luar biasa kepada Ray, ia juga tampak ingin menangis.
Ray kemudian melihat Ben yang memperagakan bahasa isyarat. Ia seakan menyampaikan mengapa Ray tak melepaskan ikatan di mulut Erina agar ia bisa bicara.
“Semuanya tak sederhana seperti itu. Wanita ini, Degree-nya ada pada mulutnya. Kamu mungkin takkan terpengaruh, tetapi aku yang sudah memiliki hutang akan terpengaruh.”
Erina melebarkan matanya dengan penuh kejutan, ia jelas tak mengharapkan Ray akan mengerti cara kerja Degree-nya.
Awalnya Erina yakin bahwa Ray memiliki beberapa spekulasi tentang Degree-nya, tetapi Erina yakin harusnya Ray takkan sampai ke kesimpulan itu.
“Name Card sangat berguna karena bahkan orang asing bisa menggerakkan tanganmu untuk membukanya.” Ray membocorkan cara agar ia mengetahui Degree Erina.
Saat pertama kali menemukan Erina terluka parah karena siksaan Virgo, dan ketika Terumi pergi mencari tali untuk menurunkan Erina. Ray memanfaatkan kesempatan itu untuk mengintip Name Card milik Erina.
Ray kemudian berjongkok dan memegang pipi Erina dengan kuat.
“Degree-mu adalah penagih hutang. Orang yang memiliki hutang budi padamu takkan menolak hal-hal yang kamu minta.”
Erina sungguh bergetar, ia tak bisa menjaga wajah pokernya dengan semua kejutan yang ada saat ini.
“Kamu bertanya-tanya apakah aku benar-benar sudah kamu jinakkan. Pada kenyataannya, aku amat benci digunakan oleh orang lain. Takkan ada ampunan bagi mereka yang melakukannya.”
Ray takkan memaafkan mereka yang menggunakannya. Namun untuk kasus Erina ada hal yang membuatnya tidak bisa melepaskan Erina.
“Kamu memang orang yang kejam seperti yang dikatakan kak Indri.”
Seorang remaja kisaran lima belas tahun muncul dari gelapnya hutan. Di sisinya ada wanita lain yang seumuran dan memiliki wajah yang sama dengannya.
Wanita pertama menggunakan sweater pink dan memakan permen, sementara kembarannya menggunakan jaket hitam dengan rok pendek dan kaos kaki hitam panjang.
“Kalian terlambat, Rina, Rani.” Ray beranjak bangun dan menatap dua bocah kembar itu, “Bisakah kalian menggunakan Degree kalian untuk mencuci otak dan menghipnotis wanita ini? Aku tak bisa membunuhnya karena ia masih bisa berguna.”
Ray tak membunuh Erina pada tahap ini karena ia merasa yakin bisa menggunakannya. Awalnya ia ingin menjinakkan Erina dengan premis bahwa Ray berhasil membuat situasi di mana Ordo tewas.
Namun sebelum rencananya dieksekusi, siapa sangka bahwa Sebastian akan mendahuluinya sehingga Ray mengubah rencananya. Lalu, andaikan Indri tak datang menghubunginya maka situasi sekarang ini takkan pernah terjadi.
“Ya, karena permintaannya datang dari orang tampan, aku tak bisa menolaknya.”
“Jika kamu mau memberikan kami hadiah, maka akan kami lakukan.”
“Ya, apapun itu akan aku kabulkan.” Ray tak berpikir remaja seperti mereka akan meminta hal yang aneh karena itu ia takkan ragu.
Mengorbankan beberapa DP untuk mereka adalah harga murah dari pada manfaat besar yang akan Ray dapat setelah mengendalikan Erina.
...****************...
Nama: Erina Queen.
Umur: 22 tahun.
Asal: Australia.
Degree: Penagih Hutang.
Mampu meminta apapun dari orang yang memiliki hutan budi padanya. Permintaannya akan seperti perintah mutlak sehingga tak ada cara apapun untuk menghindar selama perintahnya di dengar. Kekuatannya akan aktif jika target mengakui bahwa ia memiliki hutang pada pemilik, atau setidaknya mengucapkan terima kasih.
Yo, pembacaku yang sedikit!
Belakangan ini saya jarang up, atau setidaknya, update tak berjalan setiap hari. Itu karena ada hal lain yang saya jalankan. Memang seperti biasa, saya tak bisa konsisten terhadap sesuatu.
Saya sedang mengerjakan novel lain dengan judul Sleeping Prince. Novel itu ada di salah satu platform bernama F1zz0.
Sekarang sudah ada 7 bab, dan akan update setidaknya setiap hari.
Hal lainnya, tentang The Degree. Ada beberapa perubahan rencana dalam arc yang saya jalankan. Salah satunya adalah pengungkapan Degree Erina yang saya percepat. Selebihnya, akan aman. Tenang, tak ada Degree siapapun yang akan saya ubah.
Yah, sekian dulu dari saya, sayonara.