
Menyusuri lantai kedua ada lebih sedikit orang yang menjaga. Sedikit orang namun banyak perangkap tersebar. Hal itu membuat lantai kedua lebih merepotkan ketimbang sebelumnya.
Terutama ketika seorang pasukan musuh melaporkan situasinya kepada atasan mereka. Sayang sekali Ray terlambat membunuhnya karena dia kerepotan menghadapi orang lainnya.
Terumi juga sama halnya. Dia begitu sibuk menutupi celah yang ditinggalkan Ray sehingga tak menyadari bahwa seseorang melapor.
“Kita tak bisa melakukan apa-apa tentang itu. Mari beristirahat selama beberapa waktu sebelum memulai.”
Ray yakin setidaknya ada beberapa orang kuat yang akan menghadangnya nanti. Andaikan mereka cukup peduli kepadanya maka setidaknya akan ada pembunuh dikirim untuk mereka.
Selagi mereka meminum air yang dibawa, Terumi menatap Ray dengan penasaran selama beberapa waktu.
Jika dipikir-pikir lagi, Ray benar-benar hampir tidak seperti orang asia. Pikirnya.
Tidak dengan alis tebal, bulu mata lentik dan warna matanya yang kebiruan. Tubuhnya mungkin tidak sebesar orang barat. Ray seperti memiliki bagian diri barat dan asia bercampur jadi satu.
“Ada apa, kamu melihatku terus sejak tadi.” Ray menyadari tatapan Terumi. Ia sudah cukup terganggu di awal. Berharap tatapan itu akan berakhir namun, tampaknya tidak demikian.
Terumi merasakan wajahnya sedikit memanas saat ketahuan memperhatikan. Dia menggelengkan kepala dan memberikan penyangkalan untuk itu.
“Tidak. Hanya saja aku penasaran apa kamu seorang blasteran atau sejenisnya.”
Ray pikir Terumi mengamatinya untuk mencari celah dirinya. Tampaknya dia memikirkan hal-hal tidak perlu. Itu memalukan namun apa daya yang bisa dia lakukan.
Jika pertanyaan Terumi apakah dia seorang blasteran atau bukan ... bahkan Ray sendiri tak memiliki kemampuan menjawab.
“Blasteran, ya. Aku sendiri tidak tahu namun memang wajahku tidak terlihat mirip orang asia di beberapa aspek.”
Mata biru tidak dimiliki orang asia pada umumnya. Hal itu jadi aspek besar yang memberikan perbedaan orang barat dengan asia.
“Kamu tidak tahu? Memangnya orang tuamu tidak memberitahu?” Entah apa alasannya namun harusnya tak ada masalah jika memberitahunya.
Terumi yakin bahwa di negara asia, menjadi keturunan blasteran adalah hal yang hebat. Selain unik mereka juga memiliki wajah yang rupawan.
Mayoritas takkan ada siapapun yang dikucilkan hanya karena blasteran.
“Tidak tahu. Bahkan aku tidak mengenal siapa orang tuaku.”
Terumi menutup mulutnya. Terguncang dan tidak enak hati. Wajahnya seakan baru menggali sesuatu yang tak sepatutnya digali.
“Maafkan aku jika ini pembahasan sensitif untukmu.”
“Tak masalah. Aku juga tidak peduli tentang itu.”
Ray tak pernah melihat atau tahu siapa Ibunya. Jika membahas tentangnya Ayahnya ... jika pria itu, orang yang tak pernah dia sukai, kemungkinan besar bisa disebut Ayah.
“Jika melihat kembali wajah pria itu, aku yakin setidaknya dia bukan orang asia.”
Tak mungkin dia melupakan wajah orang itu yang menempati posisi orang paling dia benci.
“Pria itu? Apa yang kamu maksud Ayahmu?” Terumi kembali bertanya. Meski tahu pembahasannya sensitif namun bila Ray tak keberatan mengatakannya. Dia juga tidak keberatan menggalinya.
“Kamu bisa menganggapnya begitu. Terlepas dari apakah kami terikat hubungan darah atau tidak. Orang itulah yang membesarkanku.”
Terumi menunjukkan senyuman lembut. Hangat dan penuh dengan kasih sayang. Seperti seorang Ibu yang melihat anaknya tengah menceritakan pengalaman di sekolah.
“Dia pasti orang yang baik, ya?”
Ray tak segera menjawab. Dia sedikit memikirkan apa yang dimaksud "Baik" dalam konteks ini.
Jika baik yang dimaksud adalah memenjarakan Ray di ruang kumuh bertumpuk buku. Mendorongnya ke jurang kematian untuk belajar segala kemampuan. Memaksanya bertarung dengan profesional untuk seni bela diri. Membuatnya belajar memutuskan ikatan dan membuang hati nuraninya. Menjadikannya manusia berdarah dingin yang tak mengenal kasih sayang. Dan, membuatnya terbiasa dalam pembunuhan.
Namun Ray sedikitnya tahu bahwa hal-hal itu tidak akan terjadi di lingkungan masyarakat pada umumnya.
“Kamu mungkin bisa menganggapnya begitu.”
Terumi tersenyum senang. Awalnya dia berpikir bahwa Ray adalah anak memprihatinkan yang tak mengenal kasih sayang orang tuanya.
Untungnya dia masih dibesarkan oleh seorang Ayah yang baik hati. Hal itu sedikit lebih menghangatkan hatinya.
“Maaf jika ini menyinggungmu. Aku sedikit penasaran mengapa kamu mampu membunuh orang-orang dan menggeledahnya dengan begitu gampang.”
Jika dia terbiasa soal pembunuhan dan menggeledah mayat sejak menjalani uji coba Secret, maka penyiksaan bukan sesuatu yang orang terbiasa dengannya.
Ray menatap Terumi. Berusaha menemukan niat sesungguhnya namun gerak-geriknya menyampaikan bahwa dia memang hanya penasaran.
Apakah bijak untuk menyampaikannya? Atau berbohong lagi dan lagi cukup untuk menyimpannya?
“Aku ...”
Tanpa pernah menyelesaikan kalimatnya. Kata-kata yang hendak dia sampaikan tertelan kembali ke dalam tenggorokannya.
Itu karena ledakan besar yang terjadi di luar gedung. Mereka tak tahu apa yang terjadi namun tampaknya sesuatu terjadi kepada Leo.
Meski mengkhawatirkan yang bisa dilakukan hannyalah berharap.
“Kita sudah terlalu lama beristirahat di sini. Sebaiknya mari lanjutkan perjalanan.”
Ray segera mendesak untuk bergegas maju. Terumi tak menolaknya sama sekali dan menyetujui opsi tersebut.
Hanya tersisa dua lantai untuk ditempuh. Entah apa yang akan ditemui selanjutnya namun mereka sudah lebih dari siap.
...[***]...
Duar!
Ledakan besar tiba-tiba terjadi dan Leo terhempas. Meski tubuhnya sedikit terluka namun tidak begitu parah sampai menghambat pergerakannya.
“Sial! Apa-apaan dengan orang ini!” Leo mengumpat dan mulai berlari menjauh.
Beberapa menit sebelumnya saat dia melanjutkan misinya, seseorang tiba-tiba datang dan melompat dari gedung yang sedang disusupi Ray.
Kedatangannya sendiri sangat mewah karena dia melompat dari tempat tinggi tanpa mengalami luka apapun.
Kejadian selanjutnya adalah orang itu menembakkan bazoka ke arah Ray dan menyebabkan ledakan besar sebelumnya.
Tak cukup sampai di sana. Pria tersebut mengambil satu bola kelereng besi dan melemparkannya.
Kecepatannya sangat tidak masuk akal dan hampir seperti meriam yang menembak.
Dengan kemampuannya Leo mampu melihat sedikit pergerakan kelereng besi tersebut. Dia menghindarinya dengan tipis.
Meski tampak tak berbahaya, pilihan tepat untuk menghindar. Ketika kelereng tersebut menabrak dinding batu, siapa yang akan menduga bahwa dinding batu akan hancur dan mampu ditembus. Kelereng tersebut bahkan menghancurkan sedikit tanah saat pendaratan.
“Bukan hanya kekuatan lemparannya yang tidak masuk akal. Tampaknya kelereng besi itu memiliki bobot yang tidak ringan.”
Pengamatan yang bagus, bocah. Berat benda ini hampir sepuluh kilogram. Dengan kecepatan dan bebannya, jika kamu kena, mungkin tulangmu akan patah.”
“Manusia biasa takkan bisa melempar benda seberat itu dengan kecepatan luar biasa gila!”
“Bahkan manusia biasa takkan menumbuhkan cakar sepertimu. Harusnya kamu tahu, semua yang ada di sini bukan lagi manusia biasa.”