
Di sisi lain Arthur dan Mona pergi berkeliling untuk memastikan bahwa tidak ada penyusup lain yang tersisa.
Mereka tentunya tidak melakukan pekerjaan yang mudah mengingat identifikasi benar-benar amat melelahkan terutama saat banyak orang mulai memakai perlengkapannya.
“Ada apa ini? Mengapa aku mencium aroma daging hangus?” Mona mulai bertanya-tanya dan seketika itu ia mendengar sorakan gembira dari orang-orang. Di aula tempat seharusnya mayat dibereskan terdapat kobaran api yang besar.
“Kira-kira apa yang terjadi di sana? Tidak mungkin mereka melanjutkan pesta disaat seperti ini'kan, Arthur?” Mona terlihat penasaran dan melihat Arthur yang entah mengapa membuat wajah ketakutan. “Ada apa denganmu? Kamu bukan orang yang akan takut dengan hantu atau sejenisnya.”
Arthur segera memandang Mona dengan kejutan dan melihat wajah polos tersebut membuatnya tak bisa menyampaikan, bahwa bau hangus dan kobaran besar api itu berasal dari mayat serta penyusup yang dibakar hidup-hidup.
Siapapun akan bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan orang-orang yang buta oleh kemarahan. Arthur awalnya berpikir bahwa semua orang takkan sampai pada kesimpulan untuk membakarnya hidup-hidup.
Tampaknya ada dugaan kuat bahwa seseorang menambahkan bahan bakar lain ke api yang sedang membara.
“Tidak ada apa-apa. Sebaiknya kita melanjutkan pekerjaan kita. Kurang dari dua jam hingga serangan besar lainnya akan terjadi.”
Arthur saat ini lebih mengkhawatirkan tentang hal seperti apa yang akan terjadi di masa depan ketimbang hal-hal yang sudah terjadi saat ini.
Bahkan jika Arthur muak dan marah karena orang-orang ini membuang kemanusiaannya namun tak banyak yang bisa ia lakukan untuk sekarang ini. Menjadi penonton adalah hal paling menyakitkan baginya terutama menyaksikan manusia kehilangan kemanusiaannya.
Aku tak tahu siapa yang berulah dan menyebabkan semua ini terjadi namun tujuannya sudah sangat jelas. Pikir Arthur.
Tujuannya hanya satu yaitu membuat orang-orang ini tidak takut akan kematian karena buta oleh kemarahan. Itu trik kecil yang luar biasa berbahaya dan sangat kejam.
...****************...
“Aku masih tidak mengerti maksudmu, apa jangan-jangan kamu juga penyusup, Mein?” Ray berkata dengan dingin selagi melihat bilah pisau yang siap mengoyak tenggorokannya.
Bahkan Ray sendiri takkan bisa selama jika tenggorokannya terpotong. Ia bukan malaikat apa lagi dewa yang takkan mati dengan luka separah apapun.
“Jangan bercanda! Aku mendengar percakapanmu sebelumnya dengan seseorang.” Mein berkata dingin dan menempelkan pisaunya ke kulit tenggorokan Ray. “Dengan siapa kamu bicara? Apa yang kamu rencanakan? Apa mungkin kamu bermain di belakang layar?”
Ray menghela napas dalam, “Sepertinya kamu tidak mendengar rinciannya dengan baik, ya? Pantas kamu mencurigaiku.”
“Apa maksudmu? Jelas-jelas kamu mengatakan perkataan yang sudah jelas pengkhianatan.”
“Lalu di bagian mananya yang merupakan pengkhianatan?” Ray berusaha melihat reaksi Mein namun tatapannya menusuk sehingga Ray menyerah. “Baiklah. Aku mengaku memang melakukan panggilan dengan seseorang. Namun kamu salah paham akan satu hal.”
Mein mengangkat alisnya, “Salah paham? Apa maksudnya?”
“Ray menghela napas panjang, “Sudah kuduga.” katanya dengan sedikit kelegaan, “Kamu pasti tidak mendengarkannya dari awal sehingga kamu tak memahaminya dengan jelas.”
Mein menyipitkan matanya dengan tatapan curiga. Ia berpikir bahwa Ray sedang berusaha membual kepadanya. Meski begitu tentang Mein takkan mempercayai apapun tanpa alasan dan bukti yang jelas.
“Aku memang tak mendengar awalnya namun aku ingat kamu mengusik kerja sama dan tak saling mengganggu. Dari hal-hal itu sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan posisimu.”
Ray tahu bahwa membodohi Mein tidak pernah menjadi suatu pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Ia sedikit menyesali kebodohannya melakukan panggilan di tempat terbuka seperti ini dengan asumsi tidak ada siapapun yang mendengarnya.
“Kesimpulanmu itu salah karena pada kenyataannya tindakanku berhubungan erat dengan moral tanpa takut kematian yang dimiliki setiap anggota sekarang. Apa kamu sudah tahu situasi di lapangan sana?”
Mein mengerutkan dahinya, ia hanya mendengar jeritan menyakitkan dan sorakan penuh kebahagiaan. Selain itu di beberapa tempat dirinya mencium aroma daging hangus yang membuat pemikirannya memahami dengan mudah.
“... apa mungkin mereka membakar penyusup?” Mein terlihat ketakutan saat membayangkan neraka seperti apa yang sedang terjadi di kejauhan sana.
Ray mengangguk penuh kepastian, “Ya, aku harus melakukan pekerjaan kotor ini demi kalian semua. Dan, aku tidak menyangka seseorang yang harusnya paling berjasa disangka-sangka menjadi pengkhianat.” Tatapan Ray tajam tertuju kepada Mein.
Meski berharap Mein akan segera melepaskannya namun wanita itu jelas tidak cukup bodoh untuk melakukannya.
“Bahkan jika begitu, dengan siapa kamu berbicara sebelumnya? Aku ingin menyangkal ini namun besar kemungkinan kamu meletakkan diri di tempat yang sama dengan Sebastian.”
“Kamu pikir aku bekerja sama dengan Sebastian ataupun Virgo?” Ray mengangkat alisnya terkejut, “Itu sebuah konspirasi yang menarik namun kau tahu? Aku tak pernah menyukai bekerja jadi bawahan seseorang.”
Ray tak pernah suka diperintah seseorang karena itu akan mengingatkan semua hal kejam yang diperintahkan ayahnya di masa lalu. Alasan Ray mengikuti Erina, jika bukan karena belenggu Degree-nya maka Ray takkan pernah tunduk padanya.
Ray tahu jika ia bungkam akan membuat kecurigaan besar tertuju pada dirinya. Mein bisa dengan mudah membunuhnya terutama perang berlangsung tak lama lagi.
Sangat mudah baginya membual bahwa Ray tewas di medan perang ataupun oleh penyusup yang tersisa.
“Aku membuat kesepakatan dengan seseorang. Tentunya kesepakatan ini terjadi karena inisiatif kami berdua.”
“Kesepakatan seperti apa?”
“Aku tidak ingin mengatakannya.” Perkataan Ray membuat Mein bereaksi namun sebelum ia berlebihan Ray kembali menekankan, “Namun akan aku beritahu kamu.”
Melihat Ray menghela napas sangat panjang membuat Mein merasa khawatir karena tak biasanya Ray bersikap demikian.
“Aku akan melakukan pekerjaan yang luar biasa hina dan menjijikan yaitu, ini.” Ray menunjuk kepulan asap dan kobaran api di kejauhan, “Aku akan membuat api kemarahan mereka semakin besar dan mengarahkan kebencian mereka kepada Virgo dan pasukannya.”
Ray juga menjelaskan bahwa dirinya membuat orang-orang itu membakar para penyusup dan jika bisa pada korban karena tak ada waktu untuk membuat pemakaman.
Lagi pula tempat ini akan hancur. Baik mengubur mayat atau membakar mayat takkan ada bedanya.
Mendengar itu Mein lekas mengambil langkah menjauh dan melupakan untuk mengancam Ray. Ia menjatuhkan pisaunya dan tak peduli lagi karena isi perutnya mulai naik dan wajahnya terlihat menyakitkan.
Ray hanya tersenyum pahit, “Ini menyeramkan dan menjijikan, kan? Kesepakatan ini kubuat dengan Arthur. Sebagai gantinya aku menerima DP yang besar jumlahnya dan memintanya untuk tak mengusik hal ini lagi.”
Mein harusnya mengerti bahwa mengungkit hal ini hanya akan mendatangkan petaka di masa depan.
“Kamu ... benar-benar bisa melakukannya? Bagaimana bisa kamu baik-baik saja?” Mein menatap Ray seperti menatap sesuatu yang menakutkan.
Ray mengambil pisau milik Mein dan berjalan mendekat untuk menyerahkannya. Wajahnya sendiri terkesan seperti orang yang baru saja menelan hatinya sendiri.
“Ini harusnya menyakitkan tak peduli sekejam apapun seseorang, membuat peristiwa ini terjadi adalah tindakan iblis tanpa hati.”
Mein menatap sedih pada Ray dan iba. Ia ingin mengambil pisau yang diulurkan oleh Ray. Namun satu dari seribu kesempatan Mein tak membayangkan bahwa pisau itu akan melewati tangannya, terus bergerak dan menembus perutnya.
Darah keluar dari perut dan mulutnya. Tatapannya tertuju kepada Ray yang dengan wajah apatisnya.
“Andaikan aku masih memiliki hati, mungkin aku takkan berminat melakukan hal ini. Ah, dan sayangnya bukan Arthur orang yang membuat kesepakatan ini denganku. Tetapi orang asing yang belum memperlihatkan dirinya.” Ray menggeser pisaunya dan membuat luka di perut Mein semakin besar.
“Me ... ngapa?” Mein masih tidak percaya dan dengan marah ia berusaha meraih Ray. Namun gerakan Ray sangat cepat.
Ia melepaskan pisaunya dan menggunakan beban tubuhnya untuk menjatuhkan Mein. Ray duduk mengangkanginya selagi kedua tangannya mencekik leher gadis itu agar tak mengeluarkan suara.
Akan gawat jika orang lain mendengarnya karena Ray tak bisa lagi membuat kebohongan ataupun alasan yang bisa diterima.
“Aku juga ingin tahu mengapa alasanku melakukannya. Mungkin karena aku sudah mulai bosan.”
Mein yang terus mengeluarkan darah dengan lemas berusaha melepaskan tangan yang mencekik lehernya.
“Hanya ... karena bosan?”
Sulit dipercaya baginya bahwa semua tindakan ini disebabkan oleh kebosanan seseorang. Ini bukan tingkat yang bisa dibilang manusia.
“Anggap saja begitu.” kata Ray. “Degree-mu mampu membuatmu menjadi peran apapun yang bisa kamu ambil. Untuk berjaga-jaga, aku akan mematahkan lehermu dan memastikan kematianmu.”
Ray mengerahkan seluruh tenaganya pada genggaman tangannya hingga terdengar suara 'Krek' yang cukup keras. Mata Mein melotot dan menangis, napasnya kian mengecil serta tubuhnya yang mulai mendingin menjadi tanda kepastian dirinya tewas.
Melepaskan genggamannya, Ray tidak menyadari sama sekali bahwa api dari hasil pembakaran mayat entah bagaimana mulai menyebar. Tak hanya ke beberapa perkemahan namun hutan tempatnya berada saat ini tak bisa dibilang aman karena api mulai merambat.
Sebelum melarikan diri Ray memilih menelanjangi Mein sepenuhnya dan membuatnya tanpa busana sama sekali. Tentunya Ray tak memiliki dorongan kepada mayat. Tindakannya dilakukan untuk membuat kematian Mein seperti bukan sebuah pembunuhan melainkan kecelakaan.
Tak lupa Ray mengambil batang yang cukup besar dan menancapkannya ke perut Mein. Selesai membakar bajunya di tempat lain dan memastikan tubuh Mein mulai terbakar, Ray berjalan pergi dengan acuh.
“Akhirnya, semuanya telah dimulai. Meski begitu aku penasaran mengapa mereka memulai sebelum Rebellion menyerang.”