
Dalam waktu singkat keduanya telah mencapai tujuan dan menempati dua kursi. Meski begitu si pelayan Mein tidak memiliki tindak untuk duduk. Jam semua orang kembali berdering.
—Seseorang menduduki kursi. (1/6)—
Erina menatap semua orang dengan penuh merendahkan dan seakan melihat hiburan yang jarang ditemui.
“Apa kalian tidak ingin hidup? Jika hanya diam seperti monyet tolol tidak akan membuat kalian berhasil keluar dari sini hidup-hidup.”
Mendengar seruan Erina membuat orang-orang menjadi lebih bingung.
Saling menatap satu sama lain dan saling bertanya diantara mereka yang mungkin memahaminya. Kondisi partisipan di tempat ini semakin buruk. Bahkan lebih buruk dari sebelumnya.
“Tidakkah kalian menyadarinya dari tugas pertama? Kalian harus melalui rintangan menyakiti yang mana mungkin regu kalian mengalami kematian. Itu ketika kalian menemukan Market dan DP. Aku yakin kalian tidak cukup dangkal melupakan pengalaman tersebut.”
Tugas pertama masih begitu segar di dalam kepala mereka. Tidak ada yang cukup bodoh untuk bisa melupakan pemandangan yang masih begitu segar di dalam ingatan.
“Dia mulai mengatakan hal-hal yang tidak diperlukan.” Ray menghela napas dengan lelah.
Cukup mudah baginya tahu ke mana arah semua ini akan menuju. Tujuan Erina sudah cukup jelas bahwa dia berusaha menggiring semua orang ke situasi yang dia inginkan.
Dan sudah pastinya situasi tersebut bukan sesuatu yang indah.
“Tugas pertama hanyalah tutorial bagi kalian para pemula. Sebagai senior yang dua tahun telah berada di sini lebih lama, aku akan memberitahu kalian tentang tujuan Secret yang abu-abu.”
Erina sengaja bungkam untuk melihat apakah ucapannya cukup didengar semua orang atau ada beberapa yang tidak mempedulikannya.
Semua orang diam mendengarkan. Mereka pasti tertarik dan penasaran dengan ucapan Erina.
Dengan meninggalkan kalimat gantung dan memancing rasa penasaran seseorang, Erina dengan pintar mengarahkan pemikiran dan mengendalikan mereka sesuai keinginannya.
Di dalam pemikiran semua orang pastinya akan bertanya-tanya tentang tujuan mengapa Secret melakukan semua ini.
Apa tujuan mereka, mengapa ada tugas berbahaya, mengapa kita saling membunuh, siapa mereka, tujuan akhir macam apa yang ingin mereka capai, mengapa, mengapa dan mengapa.
Pertanyaan akan terus berputar-putar di dalam kepala mereka.
Banyaknya ketidaktahuan akan membuat mereka melupakan akal untuk mengindentifikasi apakah yang dikatakan Erina nantinya hitam atau putih.
Tentunya Ray tidak termasuk ke dalam kelompok tersebut.
“Sebelum kalian datang ke sini. Aku dan sepuluh ribu orang juga diundang oleh Secret. Semuanya mungkin sama dengan yang kalian alami di beberapa tempat namun bedanya kami tidak menerima DP dari menyelesaikan tugas.”
Erina memulai dengan sebuah cerita kecil. Tujuannya mungkin untuk mengulur waktu dan membuat pemikiran banyak orang semakin rumit.
Meski Ray tidak tertarik pada awalnya, tetapi fakta bahwa generasi sebelumnya tidak mendapat apapun dari tugas.
Maka mereka hanya memiliki dua cara lain untuk mendapatkan DP.
“Kami hanya bisa mendapatkan DP dengan tiga cara. Kalian pasti sudah mengetahuinya dengan jelas. Mencuri milik orang lain, menyelesaikan tugas dan menerima tugas bonus dari Secret.”
Cara terakhir adalah menerima tugas bonus.
Seperti yang dialami Tyson dan Misa sebelumnya. Mereka harus menunjukkan hubungan sepasang kekasih dan melakukan hal itu untuk mendapatkan DP.
Ray awalnya meragukan hal tersebut namun tampaknya tak lagi diperlukan keraguan.
“Merebut milik orang lain, itu cara termudah yang bisa dilakukan. Tugas bonus dari Secret, sesuatu yang tidak sering muncul. Hadiahnya juga berbagai macam bahkan tak selamanya DP sebagai hadiah. Tentunya, tugas yang diberikan akan tidak masuk akal dan sulit di terima.”
Erina berhenti sejenak dan mengobservasi ekspresi semua orang.
“Diantara kalian mungkin telah menerimanya secara diam-diam. Pastinya itu sesuatu yang tidak menyenangkan atau bisa menyenangkan. Tidakkah itu aneh? Jika tujuan mereka hanya mengembangkan Serum D dan meneliti sejauh apa Degree, maka tak perlu repot-repot membuat Market dan D Point.”
Jika Secret hanya menginginkan data tentang berbagai Degree maka mereka tak perlu melakukan hal lain yang justru menambahkan pekerjaan mereka.
Tugas dan rintangan yang ada bisa dimengerti karena masih sejalan dengan tujuan.
Namun lain halnya dengan D Point dan Market, seharusnya dua hal tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan Degree.
“Tujuan mereka bukan hanya menginginkan data tentang Degree. Secret menganggap kita hiburan baginya selagi mengeliminasi sedikit demi sedikit. Singkat saja, seperti aku dan rekan-rekanku. Diantara kalian semua hanya akan ada sedikit yang diizinkan mencapai Open World dan melanjutkan tugas.”
Erina menekankan bahwa jika ingin tetap hidup dan selamat mereka harus menyelesaikan setiap tugas.
Jika tak ada lagi tugas yang muncul atau tak ada tugas yang diselesaikan.
Maka Secret akan mengambil tindakan keras yakni membunuh dengan tangannya sendiri.
Selain itu ada sesuatu yang baru di telinga Ray. Tentang yang dimaksud Erina mengenai Open World, sebuah kalimat yang masih sangat asing baginya.
“Jika kalian ingin hidup maka selesaikan tugas hingga ke tingkat terakhir yakni tugas ke sepuluh. Bagi kalian yang ingin menyaksikan lebih jauh, kemarilah dan ikut bersamaku.”
Erina mengulurkan tangan dan bersikap angkuh seperti ratu.
Kata-katanya membuat semua orang menenggak air liurnya. Itu jelas memunculkan takut, khawatir dan ketidaksabaran.
Berbagai perasaan bisa saja muncul di manusia yang memiliki hati berbeda-beda.
Masa depan seperti apa yang akan mereka temukan di sini. Pengalaman seperti apa yang akan mereka alami. Tugas seperti apa yang menunggu mereka di depan.
Tak ada yang tahu akan jadi apa nasib mereka di tempat ini.
Secret, tujuan sebenarnya mungkin lebih dalam dan misterius dari yang dikatakannya.
Ray tak berpikir Erina mengatakan kebohongan karena pemikirannya sejalan dengan perkataan Erina.
Jika mereka tak mengungkapkan banyak hal tentang identitas maka mustahil mereka mengatakan dengan lantang tujuan sejati. Pikirnya.
Ray tak pernah mempercayai kalimat yang keluar dari Secret. Tidak. Dia sejak awal tidak pernah mempercayai siapapun.
Baik itu manusia, benda, hubungan pertemanan, sahabat, kekasih, hingga keluarga. Semua itu hanya delusi dan hal absurd yang tak bisa dipegang.
Kepercayaan adalah hal yang mahal untuk diberikan. Jika ada mereka yang bisa menerima kepercayaan dariku ... tidak. Itu mustahil. Pikirnya.
“Hanya ada empat kursi tersisa, maka dari kalian semua hanya empat orang yang akan selamat. Ini artinya adalah pertarungan yang mempertaruhkan nyawa kalian!” Erina berkata lantang dan membuat semua orang terkejut.
Jika nekat dan melewatkan rintangan sama dengan mendekati kematian, maka diam dan melihat sama dengan menunggu kematian.
“Itu artinya ... apapun yang kita lakukan akan berujung kematian?”
“Tidak ... aku tidak mau mati ... aku akan merebut kursi untuk diriku sendiri!”
Seorang pria menerobos jebakan, pembukaannya segera diikuti oleh yang lainnya. Seperti sekelompok monyet yang menginginkan sebuah pisang.
Jebakan aktif dan membunuh orang, sementara ada yang berhasil meloloskan diri namun gugur karena jebakan selanjutnya.
Ray dan beberapa orang lain hanya memperhatikannya. Neraka di mana semua orang menuju kematiannya sendiri.