The Degree

The Degree
Pola Pikir Sama



“Membunuh keluarganya sendiri? Arthur??” Terumi bergumam dengan terkejut, ia sedikit menatap Ray karena ada beberapa bagian mirip dari kisah tersebut.


Ray sendiri tidak menduga hal tersebut. Ia tak tahu bagaimana kisahnya namun besar kemungkinan Arthur memiliki Degree yang tidak jauh berbeda dengannya.


“Apa untungnya hanya dengan mengetahui latar belakangnya?” Leo memiringkan kepalanya dengan bingung dan merasa aneh. “Itu tidak berguna dalam hal apapun. Kamu harus memikirkan hal yang lebih baik dari itu.”


Leo tentunya tidak akan menerima hal tersebut. Ia tidak tahu hal apa saja yang bisa didapatkan dari mengetahui latar belakang seseorang. Terutama Arthur, Ray berharap menemukan sesuatu dari masa lalunya ini.


“Kamu mungkin berpikir demikian, tetapi bagaimana yang lain? Tak semua orang meyakini ada cerita tanpa nilai.” Eric dengan lembut menjawab Leo.


Tatapan Eric tertuju kepada Terumi kemudian Ray. Ia menatap Ray dalam waktu yang sedikit lebih lama. Ada maksud tertentu dari tatapan tersebut.


‘Orang ini cerdas dan mungkin berguna. Aku tak tahu apa Degree-nya namun mungkin saja... .’


Ray memiliki beberapa pemikiran tertentu. Orang ini mungkin akan jauh lebih berguna dari yang ia harapkan dalam aspek apapun.


“Bahkan aku bersedia membayar dalam bentuk DP.”


Eric menambahkan tawarannya, mungkin dia juga menyadari tentang betapa berharganya DP di masa depan nanti.


“Bukan tawaran yang buruk. Si pembunuh ini mungkin juga akan membawa masalah di masa depan,” ujar Ray.


Tidak ada kerugian untuk mencari si pembunuh berdarah dingin ini. Selain itu hal ini juga akan menguntungkan Ray dalam beberapa hal.


“Kamu akan menerimanya, Ray?” tanya Leo.


“Ya,” Ray mengangguk, “Aku membutuhkan DP tambahan. Belakangan ini aku sangat boros.”


Terumi dan Leo kemudian saling menatap satu sama lain. Mereka tak mengerti apa alasan Ray memilih menerimanya dengan benar. Orang ini bukan jenis manusia yang akan bekerja hanya karena DP semata.


Selain itu, Terumi yakin kalau Ray tidak mungkin tergerak hanya karena masa lalu Arthur mirip dengannya.


Tidak ada yang tahu jalan pikiran orang ini. Apakah ia tertarik sesuatu tentang Arthur. Apakah ia sungguh membutuhkan D Point. Apakah ia memang khawatir akan keberadaan si pembunuh ini.


Berbagai hal bisa jadi kemungkinan namun tidak ada yang benar-benar menjawab.


“Aku takkan meminta kalian berdua untuk ikut. Namun, aku akan senang jika kalian melakukannya,” ujar Ray dengan wajah apatis.


Terumi tersenyum lembut, “Kamu tidak perlu malu meminta bantuanku, Ray!” Terumi memukul lembut bahu Ray.


‘Bahkan setelah tahu perasaanku padamu. Kamu masih tetap seperti dulu, tidak ada yang berubah.’


Itu mungkin sedikit mengecewakan namun di sisi lain Terumi senang karena Ray tidak mengalami perubahan berarti dalam bersikap kepadanya.


“Yah, apa boleh buat. Aku juga akan ikut bersama kalian. Sudah lama sejak aku tidak merasakan adrenalin.” Leo tersenyum seakan mengatakan 'Apa boleh buat'.


Ray tak mengharapkan Leo juga akan ikut bersamanya. Bantuannya akan membantu, selain itu Ray tak lagi membutuhkan alasan untuk membuat keduanya keluar.


“Terima kasih karena mau membantu. Mari kita bahas rencananya.” Eric memulai diskusi serius untuk rencana yang akan segera dijalankan.


...****************...


Rencana untuk berjaga adalah jam tiga pagi hari. Ray dan yang lainnya berpisah untuk beristirahat dan mempersiapkan beberapa hal yang dibutuhkan. Sebelum pergi ke kamarnya, Ray pergi ke perpustakaan untuk mencari buku secara acak.


Biasanya jika ia pergi ke tempat sepi seperti ini akan ada momen klise di mana orang datang menghampirinya. Alasan Ray tahu bahwa hal itu akan terjadi karena Ray tahu dirinya sedang diikuti.


Ray mengambil sebuah buku yang menarik minatnya. Ia tak pernah membaca novel fantasi karena dalam hidupnya Ray hanya membaca buku seperti ensiklopedia. Mumpung ada kesempatan membacanya, Ray memiliki minat yang cukup besar membaca buku tersebut.


“Tujuh Kunci Pleiades ... seingatku ini nama salah satu rasi bintang. Tampaknya judulnya sendiri memegang poin penting dalam cerita ini,” gumam Ray.


“Tokoh utamanya Arcadia Orionels. Orion, kah? Penamaan dari bintang. Cukup menarik.”


Ini mungkin kisah yang umum karena bertemakan pembalasan dendam. Namun yang membuatnya berbeda adalah bagaimana cerita tersebut dieksekusi dan juga bagaimana berbagai kisah berbeda diterapkan.


“Tak aku sangka kamu menyukai cerita berbau fantasi.”


Suara wanita datang dari sisi lain rak dinding. Berbeda dari suara-suara yang ia kenal, suara ini terdengar aneh. Bukan karena pengubah suara melalui alat, tetapi lebih seperti suara asli yang dibuat-buat.


Ray tak tahu siapa orang ini hanya dari suaranya. Dia tentunya bisa pergi ke sisi lain untuk mengetahui siapa itu namun Ray memilih tidak melakukannya.


“Kamu juga tidak berbeda. Ini rak khusus untuk fantasi.” Ray membalasnya dengan acuh tak acuh.


“Ya,” jawabnya dengan acuh tak acuh. “Bagaimana dengan rencanamu? Kamu menyampaikannya setengah-setengah sehingga aku harus waspada kapan akan dilakukan.”


Rencana setengah-setengah? Hanya satu kelompok yang Ray tahu betul akan hal itu. Siapa lagi kalau bukan Rebellion?


Namun Ray tak tahu siapa orang ini. Apakah dia Alexis atau mungkin pemimpinnya langsung? Jika harus menebak maka kemungkinan terakhir yang paling mungkin.


Ini mungkin kesempatan bagus untuk mengetahui wajah Virgo mengingat suaranya tak diubah menggunakan alat. Dalam artian Virgo tidak menggunakan topengnya. Meski begitu, Ray tak berniat melakukannya.


“Itu karena aku tahu kamu akan melakukan hal yang sama. Meski benci mengakuinya namun kita memiliki pemikiran serupa.”


Ray telah melihat beberapa pola pergerakan Virgo selama rencana besar-besarannya. Beberapa bisa terpikirkan oleh Ray dengan mudah namun ada juga hal yang tersembunyi sehingga Ray tak bisa memahaminya.


“Untuk kali ini aku sependapat,” Bahkan Virgo tak lagi memiliki kalimat yang bertolak belakang akan hal ini. “Jadi kapan situasi yang kamu katakan akan terjadi?”


Ray sebenarnya tidak ingin mengatakannya pda tahap ini namun firasatnya mengatakan kalau Mona dan Arthur lebih mendesak untuk dilenyapkan ketimbang Virgo sendiri.


Selain itu, bahkan jika Virgo gagal Ray tetap akan mendapatkan keuntungan yang berarti. Disaat seperti inilah nantinya Erina akan sangat berguna. Kartu yang ia simpan selama ini akan dimainkan dengan benar.


“Pagi hari saat matahari mulai terbit. Aku harap kamu melakukan persiapan dengan matang karena rencanaku tidak sederhana.”


Virgo takkan bisa menebaknya dalam tahap ini karena dia tak tahu jika Ray terhubung dengan Indri. Rencananya bisa dibilang seratus persen tidak diketahui orang ini.


“Aku tak tahu apa yang akan kamu lakukan. Namun bisakah kamu menggiring dua orang itu ke tempat tertentu? Aku tak mau membuang tenaga mencarinya.”


“Bahkan jika aku tak bisa melakukannya, aku yakin kamu telah mengetahui keberadaan dua orang itu, atau setidaknya salah satunya.”


Virgo tidak akan bicara soal hal tersebut. Dikarenakan keduanya memiliki pola pikir yang sama, bukan mustahil melakukan tindakan yang sama seperti yang dipikirkan Ray.


“Kamu tak perlu khawatir tentang keberadaan mereka nantinya. Aku telah menyiapkan panggung untukmu beraksi. Pemain, panggung hingga penonton. Selain itu, kamu tidak cukup bodoh untuk tidak mengetahui lokasi panggungnya.”


Ini akan menjadi teater pembunuhan dalam rangka hiburan terakhir sebelum pembukaan tugas baru dari Secret.


“Aku tak tahu apa rencanamu namun berusahalah untuk tidak menghalangiku nantinya.”


Suara Virgo semakin menjauh saat ia menyampaikan tersebut. Jelas ia berjalan pergi dan tentunya Ray tidak berniat mengejarnya untuk mengetahui siapa dia.


Bagi Ray siapa Virgo dan seperti apa wajahnya tidaklah penting. Sama sekali tidak penting untuknya.


“Tak peduli siapa yang akan gagal dan bertahan. Aku akan memastikan setidaknya salah satu dari pemeran teater ini akan gugur.”


Ray diam-diam tersenyum selagi membaca buku yang sejak tadi ada di tangannya. Ada sebuah kalimat yang menarik dikatakan oleh antagonis dari kisah di buku tersebut.


Hanzo menatap rendah Arcadia yang terkapar lemah. Tatapan itu, telah berkali-kali menghancurkan kebanggaan para pejuang, “Pemenang sesungguhnya adalah orang yang bermain dari belakang panggung.”


Kalimat itu cukup berkesan bagi Ray. Tak peduli seberapa keras mereka bertarung, jika situasinya diatur oleh dalang, pada akhirnya dalang itu sendiri seorang pemenang.


Ray menutup buku di tangannya, tubuhnya bergetar hebat. Entah berapa lama, entah kapan terakhir kali ia merasakan perasaan seperti ini.


“Tempat ini memang tidak membosankan. Aku tak sabar menantikan hal seperti apa saja yang akan terjadi!”