
Ini hanya chapter double, tolong lewati sampai pembaharuan lebih lanjut.
Endruid yang gerakannya kaku seperti robot mulai menangis lagi, “Mengapa ... apa aku melakukan ... kesalahan ... sampai mengirim pembunuh itu ... untukku ... .”
Tak berani menyentuhnya, Ray memastikan Endruid melihat langsung ke matanya.
“Sebutkan bos-mu atau orang-orang yang berhubungan dekat dengannya. Aku bersumpah akan membunuh mereka untukmu.”
Endruid merasa yakin akan kata-kata tersebut. Habisnya, orang macam apa yang mampu mengatakan akan membunuh dengan begitu ringannya dan tatapannya itu, hampir sedingin angin kematian.
Namun masalahnya adalah apakah ia bisa menyampaikannya? Ditambah dengan generasi kedua, ada sekitar lebih dari lima belas ribu orang di tempat ini.
Akan sulit mencari orang tertentu dari banyaknya orang lainnya.
Selain itu Endruid sendiri tak tahu pasti siapa bosnya. Dia tak pernah melihat wajah bahkan wujudnya, bahkan orang itu menggunakan alat untuk mengubah suaranya saat berbicara melalui radio.
Hanya ada beberapa orang saja yang Endruid tahu dekat dengan bosnya.
“Alexis Sanchez ..., Sonata Seirama ... Ryouma ..., Hisat ... su ... .” Endruid menghembuskan napas terakhirnya kala itu juga.
Ray tak percaya bahwa dia dibunuh di waktu-waktu krusial. Meski gagal mendapatkan identitas dalang namun setidaknya dia menerima hal sepadan yakni orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan dalang dari pemberontakan ini.
“Ray!” Terumi yang membawa pelastik es dan handuk datang dengan tergesa-gesa, mungkin dia melihat kejadian ini dari kejauhan, “Apa yang baru saja terjadi? Pria itu ... apa kamu—”
“Aku tak membunuhnya. Tetapi orang yang mengendalikannya mengirimkan pembunuh untuknya.”
Ia tahu apa yang ingin disampaikan Terumi dan sebelum kesalahpahaman jadi merepotkan maka lebih bijak menyelesaikannya sedari awal.
“Mengapa ... orang bisa begitu kejam?” Terumi tampak sedih dan prihatin akan hal itu, “Bukankah mereka teman? Harusnya teman tidak saling menyakiti. Apalagi membunuh.”
Ray menatap Terumi dalam diam. Jika apa yang dia maksud orang seperti itu kejam maka Ray akan berada di kategori tersebut.
Terumi masih tak memahami bahwa di tempat ini mempercayai seseorang dalam waktu singkat sangatlah tabu.
“Hatimu yang tulus dan suci tak pantas di sini, Terumi. Untuk saat ini mari pedulikan hal-hal yang masih kita miliki dan merawat orang itu adalah salah satunya.”
Terumi tertegun seakan terkejut. Dia segera mengangguk dan bergegas mengompres luka bakar milik Arthur.
Tak lupa juga dia mengoleskan salep sebelum membalut lukanya dengan perban.
“Untuk saat ini semua akan baik-baik saja. Namun dia tidak akan sadar dalam waktu dekat.”
Arthur tak menunjukkan tanda akan bangun sehingga kesimpulan diambil. Ray mulai memikirkan langkah yang seharusnya dia lakukan mulai dari titik ini.
Dengan kebaikan hatinya Terumi takkan setuju jika meninggal Arthur yang terluka parah sendirian.
Maka hal yang bisa mereka lakukan hanya berpisah atau menunggu bersama.
Namun aku tak bisa diam menetap. Ada kemungkinan Erina dalam bahaya. Pikirnya.
Bukan berarti perasaannya berubah, ada beberapa hal tertentu yang membuatnya tak bisa kehilangan Erina.
Meski Ray akan senang bila belenggunya terlepas namun ada beberapa hal yang tak seharusnya terlepas dari tangannya saat ini.
“Apa yang harus kita lakukan, Ray?” Terumi khawatir lantaran Ray tak kunjung mengatakan apa-apa. “Kita tak bisa meninggalkannya sendirian di sini.”
“Urgh ...”
Erangan terdengar dari Arthur. Pria itu membuka matanya dan menemukan Terumi juga Ray bersamanya.
Melihat bahwa keduanya tenang cukup bagi Arthur memahami bahwa situasinya sudah baik-baik saja.
“Sebaiknya kamu tak bergerak dulu.” Terumi memberikan peringatannya.
Untuk beberapa aspek dia terlihat mirip dengan Ray yang tak peduli dengan sesuatu yang sudah hilang.
Arthur tentu telah menyadari bahwa orang-orang yang menyerangnya telah dibunuh, bahkan yang sebelumnya hanya tak sadarkan diri kini takkan bangun untuk selamanya.
Aku enggan membagikan hal yang aku temui kepada mereka namun tampaknya pertarungan ke depannya akan sulit. Tak ada ruginya membagikan informasi, mari anggap ini investasi. Pikir Ray.
Dengan adanya kelompok tertentu yang bergerak di belakang layar akan membuat lawan baru. Tugas bukanlah satu-satunya rintangan yang akan dihadapi, tetapi kini ada keberadaan yang perlu diwaspadai.
Ada masa depan yang tidak pasti menanti. Bila mana ia tak yakin mampu menghadapi sendiri maka jawabannya sudah jelas.
Aku membutuhkan rekan.
“Tentu aku akan membagikannya. Ini mungkin sesuatu yang perlu kalian ketahui ... bahwa tak hanya satu orang namun ada satu kelompok yang selama ini bermain di belakang layar.”
“Satu kelompok?” tanya Terumi sembari memiringkan kepalanya.
Arthur bersandar perlahan di dinding dekatnya dan memandang serius Ray, “Ceritakan rinciannya kepadaku.”
Sesaat sebelum Ray memulai ceritanya dia dikejutkan dengan kehadiran orang tambahan. Tak perlu baginya waspada karena orang itu cukup akrab.
“Bisakah aku bergabung dengan percakapan kalian?” ujarnya selagi napasnya kembang-kempis karena berlari dalam waktu lama, keringat juga tampak menetes dari rambut coklat keemasannya.
“Leo? Sedang apa kamu di sini? Bukankah seharusnya kamu beristirahat karena masuk angin?” Terumi terkejut karena kemunculannya.
“Maaf. Aku berbohong padamu. Ada beberapa hal yang perlu aku selidiki. Sebelum itu lebih baik kita dengarkan cerita Ray.”
Mari lupakan sejenak tentang apa yang Leo lakukan dan selidiki. Untuk sekarang lebih baik fokus terhadap hal yang ada di depan mereka saat ini.
...[***]...
Di bagian barat yang mana kehancuran dan pertarungan sangat intens terjadi.
Banyak sekali baku tembak, baku hantam, saling serang antar Degree dan pembunuhan terjadi di mana-mana.
Jeritan keputusaan, ratapan, kesedihan, takut, pasrah, berserah diri pada kematian. Semua hal itu terjadi dalam satu waktu, hampir persis seperti kondisi rakyat yang jadi korban peperangan.
“Beginilah kelihatannya.” Seorang manusia pendek dengan pakaian tentara berwarna hitam lengkap memandang dari kiri ke kanan dari puncak rumah empat lantai. Toh, meski begitu tempat ini adalah yang tertinggi di kota.
Pemandangan di mana kota-kota hancur dan terbakar. Pemandangan di mana orang saling membunuh dan mati.
“Beginilah rasanya.” Orang itu mengangkat kepalanya ke langit seakan-akan terbang karena habis memakan makanan mewah.
“Dan, beginilah aromanya.” Dia menarik napas dalam meski dari balik topengnya tak memungkinkannya menghirup apa-apa.
Suaranya seperti robot karena dia menggunakan alat pengubah suara yang disediakan oleh Market.
“Kekacauan ini hanyalah awal dari masa depan kelam yang menanti kita.”
“Kamu pasti gila, suatu saat akan tiba di mana kamu mati menyedihkan!” Suara dari wanita yang terdengar marah namun lemah karena rasa sakit dan hampir hilang kesadaran.
Orang yang tampak menikmati kehancuran berbalik dan berjalan melewati empat orang rekannya.
Dia berjalan menuju wanita yang berbicara sebelumnya, wanita yang menyebalkan baginya.
“Kamu berkata kuat namun lihatlah kondisi menyedihkan ini. Pakaianmu compang-camping dan nyaris telanjang. Andai aku kejam, akan kubuat para pria menidurimu di tempat terbuka namun sayangnya itu mustahil dilakukan. Mau bagaimanapun Degree-mu sangat merepotkan sehingga hal-hal seperti itu tak bisa dilakukan.”
Dia mengangkat wajah wanita itu dengan memegang bibirnya. Wanita itu berkerut marah dan ingin menghajarnya namun apa daya. Tangan dan kaki dirantai sehingga mustahil melakukannya.
“Ah, lihatlah wajah menyedihkan ini. Ke mana wajah sombong yang biasa kamu tampilkan, Erina Queen?”
Wanita yang telah kalah dan dipukuli adalah Erina. Pemimpin mutlak Open World bagian barat. Ketua dari serikat, Redwest, Erina Queen.