
Ledakan terjadi di penjuru kota dan baku tembak tak terhindarkan. Semua orang saling curiga satu sama lain terhadap orang yang tak pernah mereka jumpai atau orang dari serikat yang berbeda.
“Bajingan rendahan! Berani-beraninya kalian membuat kekacauan di sini!”
“Jangan melemparkan kesalahan kalian kepada kami! Justru bukankah kalian yang menjadi penyebab semua ini?!”
“Apa-apaan itu! Aku sedang minum saat tiba-tiba semuanya jadi ramai karena ledakan ini!”
“Mabuk di siang hari sudah sangat mencurigakan, dasar kepala ******!”
“Hah?! Ngajak ribut kau, jidat lapang!”
“Akan kuhadapi kau, maju sini!”
Hiruk pikuk keramaian dari kota yang dalam sekejap menjadi liar. Melupakan aturan dan meninggalkan kemanusiaan, orang-orang yang tinggal di dalamnya tak lagi mempedulikan apa yang namanya keramahan.
Manusia adalah makhluk lemah yang bisa hilang kendali dengan hal-hal kecil.
Meski bertingkah kuat lantaran berada di puncak rantai makanan sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat rentan.
“Semua menjadi seperti ini dalam waktu yang sangat singkat.” Terumi berkata selagi berlari di sisi Ray.
Ray bersyukur bahwa Terumi cukup atletis untuk mampu berlari dalam waktu yang cukup lama.
“Ya. Peristiwa ini pasti sangat mengejutkan bagi mereka sehingga membuat akal sehat kabur.”
Nyatanya situasi di sekitar mereka hampir serupa. Hanya ada baku tembak dan baku hantam antara pengguna Degree.
Ray menebak bahwa orang yang melakukan baku tembak adalah generasi pertama sementara yang menggunakan Degree adalah generasi kedua.
“Apa kita akan membiarkannya begitu saja? Tak bisakah kita turun tangan untuk memisahkan mereka?”
Masih memiliki rasa kemanusiaan seperti itu meski tempat ini tidak mengharapkan kemanusiaan apapun. Rat cukup terkesan bahwa Terumi bisa bertahan dengan perasaan seperti itu.
Bahkan jika dia memaksakan diri untuk menolong orang lain maka itu adalah tindakan sia-sia.
“Cara terbaik memadamkan api adalah dengan langsung menyiram sumbernya. Jika kita menemukan titik tengah dari semua kekacauan ini maka aku yakin semuanya akan berhenti nantinya.”
Rencana awalnya Ray hanya akan diam dan mengamati situasi saja. Namun ada beberapa alasan kursial yang mendorongnya untuk mengambil tindakan segera.
“Aku mengerti. Jadi kita akan mencari penyebab semua kekacauan ini dan menghentikannya dari sana? Namun bagaimana jika itu sama sekali tidak berpengaruh?”
“Jika itu terjadi maka aku akan memikirkan hal lain. Titik paling penting dari semua ini adalah menghentikan bencana lanjutan yang lebih besar lagi ...”
Ray tak ingin membuang napasnya untuk menjelaskan namun gelagat Terumi mengatakan bahwa dia bisa menjadi nekat dan menentang Ray.
“Bayangkan apa yang akan terjadi jika dua pemimpin serikat besar saling bertarung dan salah satunya mati. Tentunya pihak yang kehilangan pemimpinnya akan marah besar dan memulai perang habis-habisan.”
Tak peduli siapa yang akan mati karena akhir ceritanya akan sama. Jika memang ingin menghindari korban jiwa lebih lanjut maka sebaiknya hentikan dari pusatnya langsung.
Setidaknya Terumi harus memahami hal ini meskipun hanya sedikit. Ray tak hanya membutuhkan kehadirannya namun dia juga ingin melihat Degree-nya.
“... jadi begitu. Kalau begitu, aku akan mengikutimu.”
Apakah dia bisa jadi orang yang berguna atau tidak ke depannya akan ditentukan nantinya.
Saat tiba ke kota di bagian barat, pemandangan yang mereka temukan hanyalah sesuatu yang menyedihkan. Orang-orang terluka dan mayat berserakan di jalanan.
Tanah dan kota yang dulunya indah kini hanya tampak seperti tempat sisa-sisa bekas peperangan.
“Ini sangat mengerikan.” Terumi terguncang dan menutup mulutnya dengan tak percaya.
Tak butuh waktu lama baginya bergegas ke sana dan menemui Mein tengah bertarung dengan tiga orang pria.
Pertarungan tersebut jelas berat sebelah karena kondisi awal Mein sudah terluka sedemikian rupa. Kakinya juga terlihat terkilir bahkan patah, ia tak yakin bahwa hal itu disebabkan oleh pertarungan yang saat ini dijalaninya.
“Ke he he he, wanita ini boleh juga. Tidak hanya cantik namun kamu cukup kuat, aku yakin kamu mampu bertahan di ranjang dalam waktu lama!”
“Ya! Usahakan untuk tidak melukai tubuh dan wajahnya. Kita cukup patahkan tangan dan kakinya saja. Malam ini akan menjadi hari yang menyenangkan.”
“Fu fu, aku akan jadi yang pertama! Milik kalian lebih kecil jadi sebagai pemilik tongkat terbesar aku akan memberikan jalan pembukaan di terowongan yang sempit itu!”
“Hah?! Aku tak mau menggunakan wanita yang digunakan olehmu. Sebaiknya aku yang pertama!”
“Tidak! Aku yang harus—”
“Kalian banyak bicara, aku lebih memilih mati ketimbang menjadi mainan kalian!”
Mein mengulurkan tinjunya dengan kuat. Meski begitu gerakannya cukup lambat sehingga Ray percaya tak ada orang bodoh manapun yang akan terkena pukulannya.
Pria botak berkulit hitam yang menjadi sasaran Mein menangkap pergelangan tangannya. Mein berusaha menariknya namun sama sekali tidak bisa, seakan-akan ada sesuatu yang membuatnya tak bisa lepas.
“Datanglah ke pelukanku, sayang!” Pria botak segera menarik Mein ke pelukannya dan memegang bokongnya dengan tangannya yang lain.
“Ha ha ha, kamu mendapatkannya!”
“Kerja yang bagus! Mari patahkan tangan dan kakinya lebih dulu!”
Dua pria lainnya berjalan ke sisinya dan tertawa dengan riang.
“Degree-ku mampu membuat semua yang aku sentuh tidak bisa lepas tanpa izinku. Tentunya aku tidak bisa mengungkapkan Degree-ku karena tempat seperti ini membuatnya tidak mungkin.”
“Kergh! Mati saja, keparat!”
“Ku ha ha ha, kamu sangat manis, sayang—”
Ketika pria botak dan teman-temannya berniat melakukan hal tidak senonoh lainnya lalu mematahkan tangan dan kaki Mein, disaat itu juga Ray dan Terumi masuk tanpa peringatan apapun.
Ray memukul kuat tepat di rahang dari orang yang lebih sering tertawa, sementara Terumi menggunakan kung fu-nya dan memukul pria lainnya tepat di perut.
Satu pukulan dari mereka membuat dua orang pria tersebut tidak sadarkan diri.
Mein terkejut saat melihat Ray datang dan gadis yang tidak dia kenal.
“Apa-apaan kalian ini-!”
“Tutup mulutmu dan tidurlah selamanya.” Ray tidak menunggu dan menodongkan pistolnya tepat ke pelipis pria botak tersebut.
Dalam waktu tersebut Ray segera menembaknya tanpa perlu menunggu pria itu mengatakan apapun.
Tubuhnya segera jatuh lemas dengan wajah yang membeku, segera dia melepaskan Mein lantaran orangnya juga tidak lagi bernapas.
“Kalian datang di waktu yang tepat, aku berterima kasih.” Mein menghela napas dengan lega dan menatap Terumi yang sedang mengikat dua orang yang tidak sadarkan diri.
“Siapa wanita itu?”
“Tidak perlu dipikirkan, sekarang jelaskan situasinya kepadaku secara ringkas. Kita tidak punya waktu untuk basa-basi.”
Mein tahu dengan jelas hal itu namun dia masih penasaran dengan Terumi. Toh, jika begitu adanya maka Mein akan melewatinya untuk saat ini.